Rabu, Maret 3, 2021

Pertaruhan Moralitas Warga NU: Akal dan Keberpihakan Pilkada

Karakter Anak dan Permainan Tradisional

Dalam menjelang libur panjang akhir tahun, sangat banyak kegiatan bermanfaat yang dapat dilakukan oleh anak-anak. Ada berbagai macam permainan yang dapat meningkatkan kreativitas, salah...

Cinta dari Rusia: Antara Politik dan Sepak Bola

Kompleksitas hubungan antara sepak bola dan politik membelit Piala Dunia 2018 menyusul ancaman boikot diplomatik Inggris dan sejumlah negara lain. Rusia membutuhkan dialog dan...

Lebaran: Fashion On The Street

I speak through my cloth ~ Umberto Eco Lebaran di Indonesia identik dengan perayaan hari kemenangan yang dirayakan secara besar-besaran setelah berlelah-lelah dan menahan segala...

Kritik terhadap Media Massa

Sejak reformasi bergulir tahun 1998 lalu, pers telah mengalami suatu tahapan metamorphosis yang luar biasa. Institusi ini telah menemukan wahana kebebasan, terutama setelah diluncurkannya...
munir
Pengamat politik amatiran, tukang ngopi sana-sini, gak suka rasan-rasan

Apa sesungguhnya hakekat moralitas itu? Sudah tepatkah keberpihakan kita pada kandidat pilihan kita?

James Rachels dalam bukunya Filsafat Moral menjelaskan bahwa ada dua hal utama untuk menjelaskan hakekat moralitas; pertama, keputusan moral harus didukung oleh akal yang baik. Kedua, moralitas menuntut pertimbangan tak berpihak dari setiap kepentingan individual.

Perasaan emosi yang tinggi sering merupakan tanda dari seriusnya masalah moral dan karennya patut dikagumi. Tetapi perasaan kuat semacam ini juga dapat menjadi penghambat untuk menemukan kebenaran.

Jikalau kita merasakan emosi yang kuat terhadap suatu isu, maka akan muncul dugaan bahwa kita “tahu” manakah kebenaran yang sesungguhnya, bahkan tanpa harus mempertimbangkan argumentasi dari sisi lawan.

Sayang, kita tidak dapat mengandalkan perasaan-perasaan kita, betapapun kuatnya perasaan ini. pertama, karena mungkin hal itu irasional; semua itu bukan apa-apa selain hasil kecurigaan, penekanan kepentingan diri, ataupun hanya pengondisian kultural.

Jadi bila kita mau menemukan kebenaran, kita harus mencoba membiarkan perasaan kita dibimbing sejauh mungkin oleh akal budi, atau argumentasi, yang bisa diberikan untuk melawan pandangan-pandangan itu. Moralitas, pertama-tama dan terutama, merupakan soal yang berkaitan dengan akal; hal yang secara moral benar untuk dilakukan, dalam lingkup apapun juga, ditentukan oleh alasan-alasan terbaik yang ada untuk melakukannya.

Hal yang demikian itu tidak hanya berlaku untuk lingkup pandangan moral yang sempit, melainkan merupakan tuntutan umum dari logika yang harus diterima oleh setiap orang tak peduli posisi mereka dalam isu moral khsusus mana pun.

Pokok yang paling sangat dasar bisa dirumuskan dengan sangat sederhana; andaikata seseorang berkata bahwa Anda harus melakukan hal ini atau hal itu, atau mendukung paslon nomor satu atau nomor dua (atau bahwa melakukan ini atau itu adalah salah), maka Anda berhak untuk bertanya “mengapa” Anda harus melakukan itu (atau mengapa itu keliru), dan jikalau tak ada alasan yang baik yang diberikan, Anda boleh menolak anjuran itu sebagai sesuatu yang tak berdasar.

Dengan cara demikian, keputusan-keputusn moral bisa dibedakan dari sekedar ungkapan dari selera pribadi. Seperti ketika seseorang berkata “saya suka kopi,” ia tidak perlu mempunyai alasan, dia hanya sedang membuat suatu pernyataan mengenai dirinya, dan tak lebih dari itu, pun pula kesukaan pada masing-masing paslon di pilkada Jatim esok.

Tuntutan untuk Tidak Berpihak

Hampir setiap teori penting dari moralitas meliputi pula gagasan untuk tidak berpihak. Gagasan dasarnya adalah bahwa setiap kepentingan individual mempunyai kepentingan yang sama; dari sudut pandangan moral, tidak ada orang yang istimewa (entah ia cicitnya ini atau cucunya itu).

Oleh karena itu, setiap dari kita harus mengenal bahwa kesejahteraan orang lain sama pentingnya dengan kesejahteraan kita. Tetapi pada saat yang sama, tuntutan untuk tidak berpihak mengecualikan skema apapun yang bisa mengancam anggota kelompok yang kurang beruntung (karena kurang dukungan) dan dianggap sebagai yang lebih rendah (inferior) secara moral, sebagaimana memberikan restu diantara kedua anak yang lahir dari Rahim yang sama).

Dari media harian detiknews menggambarkan bahwa pasca Azwar Anas mundur pada detik-detik terakhir pendaftaran Cagub-Cawagub Jatim digantikan Puti Guntur menjadi ‘blessing in disguise’ bagi elektabilitas Gus Ipul. Puti Guntur dianggap bisa menjadi pendongkrak elektabilitas Gus Ipul yang dari sejumlah lembaga riset konsisten menempati urutan yang tertinggi.

Beberapa bumbu-bumbu manis dan penyedap selalu disematkan dalam hampir semua postingan dan meme dalam media sosial; tak terkecuali dari partai pengusung utama, jumhur anggotanya adalah orang Nadhiyin, PKB dengan slogannya “Gus Ipul-Puti pasangan Cicit Pendiri NU dan Cucu Pendiri RI”.

Sekilas slogan yang mulia ini akan mampu menghipnotis para konstituen yang ada di Jawa Timur. Namun buat masyarakat awam seperti kami dan yang lainnya, yang seolah takkan pernah punya harapan untuk menujukkan karya pada dunia sebab semacam ada pesan yang tersembunyi, “jika kakek-nenekmu tak pernah berjuang, janganlah kamu ikut berperang.”

Seandainya nama besar pendahulu menjadi sebuah keniscayaan mutlak, kekayaan masih menjadi tunggangan utama maka dalam merebut simpatik dan dukungn, kami merasakan bahwa negeri kami belum merdeka, pahlawan pun akan menangis bila mendengar kabar ini.

Karena kemerdekaan bangsa kita adalah kemerdekaan seluruh rakyat Indonesia. Bagaimana nasib para pejuang yang berada dilingkungan kampus, daerah, kota atau organisasi bila tak pernah mempunyai pijakan untuk bisa berdiri lebih tinggi lagi.

Maka secara konstitusional pada ajang pilkada Jatim, mereka yang mencalonkan atau dicalonkan mempunyai hak yang sama selama tidak melanggar aturan hukum dan konstotusi yang ada.

Namun pendidikan politik yang adil juga harus disertakan dalam setiap ajang agar kontruksi pembangunan bangsa tidak menjadi sebuah puzzle yang terpisah-pisah dari tujuannya, serta agar kelak para generasi paham bagaimana menghargai pahlawan, perjuangan dan pengetahuan yang lebih baik.

Sikap netral yang berasional dengan pertimbangan dan argumen yang lebih baik akan menjadi sebuah pilihan bijak dalam menetukan kepala daerah yang akan datang, tidak sekedar pencarian keuntungan individual atau golongan belaka.

Inilah semangat kebangsaan yang harus diajarkan oleh para kader politisi, kader yang berpengetahuan tinggi, yang tidak sekadar memikirkan perutnya sendiri tapi tentang hal pendidikan, keamanan, kesehatan, dan pembangunan.

munir
Pengamat politik amatiran, tukang ngopi sana-sini, gak suka rasan-rasan
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Polwan Yuni Purwanti yang Terjebak Mafia Narkoba

Publik terkejut. Jagad maya pun ribut. Ini gegara Kapolsek Astana Anyar, Kota Bandung, Kompol Yuni Purwanti Kusuma Dewi terciduk tim reserse antinarkoba Polda Jabar....

Stop Provokasi, Pelegalan Miras? Mbahmu!

Lampiran Perpres yang memuat izin investasi miras di daerah tertentu, baru saja dicabut oleh Presiden. Ini disebabkan karena banyak pihak merasa keberatan. Daripada ribut...

Beragama di Era Google, Mencermati Kontradiksi dan Ironi

Review Buku Denny JA, 11 Fakta Era Google: Bergesernya Pemahaman Agama, dari Kebenaran Mutlak Menuju Kekayaan Kultural Milik Bersama, 2021 Fenomena, gejala, dan ekspresi...

Artijo dan Nurhadi di Mahkamah Agung

In Memoriam Artijo Alkostar Di Mahkamah Agung (MA) ada dua tokoh terkenal. Artijo Alkostar, Hakim Agung di Kamar Pidana dan Nurhadi, Sekjen MA. Dua tokoh MA...

Gangguan Jiwa Skizofrenia

Kesehatan jiwa adalah kondisi dimana individu dapat berkembang secara fisik, mental, spiritual dan social sehingga individu tersebut menyadari kemampuan diri sendiri. Dapat mengatasi tekanan,...

ARTIKEL TERPOPULER

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

Artidjo Alkostar, Sebuah Kitab Keadilan

Gambaran apa yang muncul di benak Anda setiap mendengar profesi pengacara dan kepengacaraan? Apapun citra itu, Artidjo Alkostar menghancurkannya berkeping-keping. Sebagai pengacara hingga akhir 1990an,...

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.