Sabtu, Oktober 31, 2020

Perspektif Masyarakat terhadap Sarjana Hukum

Hijrah Digital Kala Pandemi Global

Dalam sebulan terakhir ini, ada realitas baru dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Banyak orang mulai bergerak menggunakan perangkat digital sebagai senjata kebaikan. Mulai dari mengadakan...

Nasib Eks ISIS dan Presiden Jokowi

Kontroversi di ruang publik tentang pemulangan warga Indonesia (eks ISIS) di luar negeri sudah menemui hasilnya. Pemerintah dengan tegas menolak dan menutup pintu kedatangan...

Kartini, Nyai Ahmad Dahlan, dan Ibu Sinta Nuriyah

Seorang Ibu dan seorang wanita adalah yang pertama kali memperkenalkan kita pada dunia, pertama kali mengajari tentang keragaman dan aneka warna-warni benda. Tanpa keuletan...

Eksistensi Fintech dan Rendahnya Literasi Masyarakat

Zaman semakin modern, berbagai kemudahan didapatkan manusia dalam memenuhi kebutuhannya. Jika dahulu kita sering menjumpai orang-orang saling menukarkan hasil bumi mereka, atau datang ke...
Adi Fauzanto
Law Student at Brawijaya University

“Eh.. Lu kan anak Hukum hafal dong undang-undang ini..”.

Perkataan yang selalu menyasar kepada sarjana hukum. Perspektif yang tumbuh dimasyarakat adalah sarjana hukum berkaitan langsung dengan undang-undang. Padahal tidak selalu sarjana hukum menggeluti undang-undang, dalam bahasa lainya disebut aliran legisme.

Legisme merupakan paham yang berkembang dalam positivisme hukum. Secara sederhana, legisme memandang bahwa satu-satunya sumber hukum adalah undang-undang yang dibentuk oleh penguasa. (Theo 2012:128)

Jika berbicara aliran, dipastikan terdapat tesa-anti tesa. Sociolegal atau Sociological Jurispudence  merupakan perbedaan yang mencolok dari legisme, dimana memandang pendekatan hukum ke masyarakat. (Laot 2013:68)

Cara pandang ini, diperdebatkan hingga saat ini. Contoh, beberapa universitas di Indonesia memiliki karakteristik condong terhadap salah satu aliran.

Jika menarik lebih umum lagi, terdapat satu teori tujuan hukum menurut Gustav Radbruch, yaitu Keadilan, Kepastian Hukum, Kebermanfaatan. Sering kali ketiga unsur tersebut bertabrakan dalam membentuk suatu produk hukum.

Contoh, peraturan KPU tentang mantan narapidana korupsi dilarang menjadi anggota legislatif.  Secara kepastian hukum, bertentangan dengan undang-undang Pemilu, namun dalam unsur kebermanfaatan untuk masyarakat tentunya sangat dibutuhkan peraturan tersebut.

Berbicara Kebermanfaatan, madzhab ini merujuk kepada Jeremy Bentham yang mengemukakan bahwa tujuan hukum yakni the greatest hapiness of the greatest number (kebahagiaan yang sebesar-besarnya untuk sebanyak-banyak orang) (Teguh 2012:111-112)

Lalu dengan apa itu Keadilan? “Adil menurut A, belum tentu menurut B”. Mari kita bedah dengan Teori Aristoteles yang menekankan pada perimbangan atau proporsi. Hal tersebut dapat dilihat dari apa yang dilakukannya bahwa kesamaan hak itu haruslah sama diantara orang-orang yang sama. (Rapar 2019:82)

Aristoteles juga membagi dua konsep keadilan, yaitu distributif dan komutatif. Sederhananya, distributif ialah setiap orang mendapat apa yang menjadi haknya (proporsional), dan komutatif ialah penentuan hak diantara beberapa orang yang setara.

Kembali lagi kepada perspektif masyarakat terhadap sarjana hukum.

“Hukum tajam kebawah, tumpul keatas”. Kata-kata ini juga yang sering terdengar untuk orang hukum. 

Hal tersebut muncul karena ketidakpuasan masyarakyat terhadap penegakan hukum.

Mari kita bedah penegakan hukum. Menurut Lawrence M. Friedman seorang ahli sosiologi hukum (1977), berhasil atau tidaknya penegakan hukum bergantung kepada subtansi hukum, struktur hukum, budaya hukum.

Pertama, subtansi hukum berkaitan dengan produk hukum. Sederhananya penegakan hukum bisa baik apabila undang-undang atau putusan-putusan itu baik pula. Tentunya undang-undang atau putusan-putusan dikeluarkan oleh yang berwenang.

Kedua, struktur hukum berkaitan dengan penegak hukum. Sederhananya penegakan hukum bisa baik apabila penegak hukum seperti kepolisian, jaksa, hakim itu baik pula. Tentunya penegak hukum berkaitan dengan organisasi tersebut.

Ketiga, budaya hukum berkaitan dengan kesadaran hukum dimasyarakat. Sederhananya jika masyarakatnya sadar terhadap hukum, maka akan baik pula. Tentunya budaya hukum harus tumbuh disetiap lapisan masyarakat, termasuk pihak yang berwenang atau penguasa.

Ketiga unsur tersebut harus saling berkesinambungan untuk menciptakan penegakan hukum yang baik. Tentunya menjawab pertanyaan masyarakat akan “tajam ke bawah, tumpul keatas”.

Selain dua ucapan masyarakat terhadap sarjana hukum, terdapat sesuatu yang perlu diketahui oleh masyarakat yaitu Politik Hukum.

Sederhananya, Politik Hukum merupakan suatu cita untuk membentuk produk hukum yang ditunjukan untuk masyarakat dan negara.

Menurut Satjipto Rahardjo (2000:35) suatu aktivitas memilih dan cara yang hendak dipakai untuk mencapai suatu tujuan sosial dan hukum tertentu dalam masyarakat.

Masyarakat menjadi objek sasaran utama dalam politik hukum. Tetapi tidak hanya masyarakat, tergantung kepada pemerintahan sebagai pembuat kebijakan, praktisi/akademisi hukum sebagai pembuat teori, perkembangan hukum nasional dan internasional. (Sunarti 1991:23)

Mengutip buku Mahfud MD (2009:9), politik hukum memberikan landasan terhadap proses pembentukan hukum yang lebih sesuai, situasi dan kondisi, kultur serta nilai yang berkembang di masyarakat dengan memperhatikan kebutuhan masyarakat terhadap hukum itu sendiri.

Lalu apa hubungan Masyarakat dan Hukum? “Ubi societas ibi ius” perkataan yang dikeluarkan Cicero pada tahun 1600-an. Bermakna “dimana ada masyarakat, disitu ada hukum”. Teori ini mengungkapkan bahwa hukum tidak dapat dipisahkan dari masyarakat.

Pada intinya masyarakat-lah yang menjadi fokus utama dalam perkembangan hukum, baik meninjau Tujuan Hukum, selanjutnya Penegakan Hukum, yang terkahir Politik Hukum.

Adi Fauzanto
Law Student at Brawijaya University
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Menjaga Kesehatan Tubuh dari Covid-19

Menjaga kesehatan menjadi hal yang penting dilakukan semua kalangan. Apalagi dengan kondisi alam yang semakin merabahnya virus covid 19. Terkadang hal sederhana yang rutin...

Kesehatan Mental dan Buruh

Kerja adalah cerminan kesehatan jiwa. Semakin baik tempat kerja, semakin kecil kemungkinan kita mengalami masalah kejiwaan. Adam Smith dalam bukunya Wealth of Nation secara...

Charlie Hebdo, Emmanuel Macron, dan Kartun Nabi Muhammad

Majalah satir Charlie Hebdo (CH) yang berkantor di Paris kembali membuat panas dunia. CH merilis kartun Nabi Muhammad untuk edisi awal September 2020. Padahal...

Imajinasi Homo Sapiens Modern dalam Menguasai Dunia

  Foto diatas ini mewakili spesies lainnya yang bernasib sama, tentu bukan hanya Komodo, masih ada dan masih banyak lagi hewan yang bernasib sama sebut...

TBC Mencari Perhatian di Tengah Pandemi

Pada awal Maret, Indonesia melaporkan kasus Coronavirus Disease-2019 yang dikenal sebagai COVID-19, terkonfirmasi muncul setelah kejadian luar biasa di Wuhan, Cina. Penyakit ini disebabkan...

ARTIKEL TERPOPULER

Sandiwara Dibalik Pernikahan Raja Majapahit Bali

Belakangan di Bali ramai pemberitaan mengenai acara pertunangan Raja Majapahit Bali bernama lengkap Abhiseka Ratu Dr Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Pandangan 2 Mazhab Hukum Terhadap Putusan MA Soal Eks Napi Koruptor

Pertengahan tahun 2018 ini publik dikagetkan dengan hadirnya PKPU No. 20/2018 yang dalam Pasal 4 ayat (3) menyatakan bahwa Pengajuan daftar bakal calon anggota...

KDRT Saat Pandemi

Severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) atau yang lebih dikenal dengan nama COVID-19 adalah jenis baru dari coronavirus yang menular ke manusia. Virus ini...

Menyerupai Suatu Kaum: Hadits, Konteks Budaya, dan Tahun Baru 2018

Hanya dengan satu hadits ini, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR Abu Daud dan Ahmad), banyak ustaz yang lantang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.