OUR NETWORK

Persipura, Krisis Pemain Timnas, dan Garam Impor

Bagaimana bisa memantau pemain-pemain muda maupun senior yang berbakat di ujung timur Indonesia ini, ditayangkan di televisi saja sudah jarang.

Memang kurang sedap kalau memasak tanpa garam. Walaupun bercampur banyak bumbu dalam racikan garam tetap sulit ditinggalkan. Garam merupakan penguat rasa andalan dapur pada umumnya.

Garam juga mempunyai kemampuan khusus meningkatkan rasa manis dan mengurangi rasa pahit. Namun sayangnya pada awal tahun 2018 ini, pemerintah harus mengimpor penguat rasa andalan ini untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Sama seperti dalam sepakbola, walau mengandalkan kekompakkan tim atau yang dalam sepakbola modern disebut possesion football tapi peran playmaker tak bisa dikesampingkan. Baik, apa itu playmaker?

Ada yang berpendapat bahwa playmaker adalah gelandang tengah yang mempunyai kemampuan mengendalikan ritme permainan. Playmaker harus mampu memainkan tempo permainan. Kapan harus menahan bola,kapan harus mengoper. Ada juga yang berpendapat playmaker adalah pemain yang paling banyak menyentuh bola.

Di Indonesia, bicara liga indonesia kita selalu disuguhkan penampilan playmakerplaymaker jempolan, baik asing maupun lokal. Untuk lokal Indonesia pernah punya Ronny Pattinasarany, Firman Utina, Ponaryo Astaman, Imanuel Wanggai hingga Evan Dimas. Namun kali ini saya akan membahas klub sepakbola peserta liga 1 yang mempunyai kekompakkan dan penerapan konsep possesion football yang baik. Ya, Persipura Jayapura.

Tim yang bermarkas di Stadion Mandala, Jayapura ini selalu memainkan sepakbola indah dengan passing-passing pendek ala barcelona dan tentu ini tak terlepas dari peran gelandang tengah (playmaker) yang bertenaga dan pintar mengatur ritme.

Imanuel  Wanggai, selalu tampil enerjik dengan determinasi dan daya jelajah yang tinggi selalu menjadikan dia pilar penting Persipura. Kita tau pada Liga 1 musim 2017 lalu pemain ini sering tidak bisa dimainkan karena terkena cedera dan terbukti tidak begitu solidnya lini tengah persipura waktu itu.

Pada musim 2018 ini persipura harus ditinggal exodus oleh banyak pemainnya karena persoalan finansial club yang sempat bermasalah, namun bukan persipura namanya jika tidak ada pemain-pemain muda siap pakai yang juga punya teknik dan kemampuan diatas rata-rata. Untuk posisi Gelandang tengah ada Gunansar Mandowen, adik kandung dari mantan punggawa persipura, Lukas Mandowen.

Ditubuh timnas sendiri kita selalu bertumpu pada diri seorang evan dimas. Ini terjadi karena salah satu faktor dimana banyak tim menggunakan pemain import seperti garam tadi dengan klaim membutuhkan playmaker berkualitas. Seolah-olah kita sangat kekurangan playmaker sama seperti klaim kekurangan garam.

Beberapa waktu terakhir ini kita dihebohkan dengan kurangnya penyerang di tubuh timnas. Menurut beberapa pihak ini terjadi karena kurangnya jam terbang Penyerang Lokal di tim mereka masing-masing.

Boaz salossa yang sempat mengumumkan untuk pensiun dari Timnas setelah piala AFF harus memikirkan ulang dan pada akhirnya harus mengurungkan niat baiknya yang ingin pensiun agar Timnas segera bisa menemukan talenta muda baru untuk mengisi posisinya. Dan bukan pemain muda baru yang ditemukan tetapi dinaturalisasinya Ilija SpasojeviĆ.

Terakhir Luis Milla harus Menempatkan Ilham Udin yang posisi naturalnya sebagai sayap menjadi striker. Memang ini menjadi pilihan yang menurut saya tidak bisa disalahkan karena timnas sudah memiliki sayap-sayap yang melimpah dengan persaingan tempat utama yang ketat. Tentu mereka tampil dengan permainan yang menarik dan sangat terlihat perkembangannya dari waktu ke waktu.

Ini lagi-lagi disebabkan karena di klub mereka memiliki jam terbang yang sangat tinggi. Melihat rata-rata tim yang berlaga di liga 1 selalu mengandalkan kecepatan pemain-pemain sayap untuk membongkar pertahanan lawan. Memakai umpan-umpan silang sebagai salah satu senjatanya. Konsekuensinya adalah diperlukannya Striker dengan postur tinggi, yang memang susah ditemukan pada pemain-pemain lokal Indonesia.

Namun sepertinya jajaran pelatih Timnas lupa bahwa tidak semua tim memakai skema menyerang seperti itu. Persipura menjadi tim yang mengandalkan kekompakan pemain-pemainnya. Namun memang ini akan selalu luput dari pandangan Pelatih Timnas.

Bagaimana bisa memantau pemain-pemain muda maupun senior yang berbakat di ujung timur Indonesia ini, ditayangkan di televisi saja sudah jarang. Kita tunggu saja kapan laga persipura akan ditayangkan di perhelatan Liga 1 musim ini dan apakah Luis Milla akan tertarik melihat pemain-pemainnya.

Nah loh, apa hubungannya dengan impor garam, coba?

Pegiat Kristen Hijau Malang dan Gerakan Melek Literasi (GALERI) Kupang

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

    Processing files…