Jumat, Maret 5, 2021

Persekusi Ahmadiyah dan Negara yang Alpa

Nafsu Wakil Rakyat

Nafsu Wakil RakyatOleh Bene DalupePemerhati PolitikAda dua dari empat arti kata ‘nafsu’ yang terdapat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI edisi IV, 2016:947) yang...

Freeport Di Mata Rocky Gerung, Profesor Ahli Kedunguan

Gambar di atas mungkin bagi sebagian orang dianggap lucu. Bagi saya, bila Rocky Gerung berpendapat begini, saya menyatakan bahwa Rocky Gerung benar-benar merupakan seorang...

Surat Terbuka untuk Romo Franz Magnis-Suseno

Sudah sejak SMA, saya membaca tulisan-tulisan Romo, baik dalam buku Romo maupun yang dimuat di koran atau majalah. Saat kuliah, puji Tuhan, saya berkesempatan...

Quo Vadis Pancasila: Menyoal Polemik RUU HIP

Pancasila adalah dasar ilmu atau sumber ilmu yang harus digali baik secara epistemologi, ontologi maupun pembahasan aksiologinya. Sejarah Pancasila tertuang di dalam Rancangan Undang-Undang...
Akhmad Reza
Memiliki Background Jurnalistik, aktivis Aliansi Kerukunan Antar Umat Beragama (AKUR) (2005-2008), Aktivis Jaringan Kerja Antar Umat Beragama (JAKATARUB) (2008-2013)

“Banyak orang hari ini, tampaknya lebih ingin menjadi benar daripada penuh kasih”

(Karen Armstrong)

Peristiwa di Lombok Timur, NTB pada Sabtu (19/05/18) yang terulang pada Minggu pagi (20/05/18), membuat kita menoleh kembali kepada komunitas Ahmadiyah. Kita sering alpa, tapi mudah-mudahan tidak amnesia. Ada saudara kita yang masih harus diperjuangkan nasibnya di negara yang sesungguhnya telah mereka turut perjuangkan di awal-awal kemerdekaan.

Jejak Ahmadiyah tak lepas dari sepak terjang para founding fathers bangsa ini di era 1920-an. Haji Agus Salim bahkan harus berdebat dengan sejawatnya di Sarekat Islam (SI) bahwa dari segala tafsir, tafsir Ahmadiyahlah yang paling baik untuk memberi kepuasan kepada pemuda-pemuda Indonesia terpelajar. Ketua Sarekat Islam sendiri, H.O.S. Tjokroaminoto diam-diam menterjemahkan karya Maulana Muhammad Ali, presiden Ahmadiyah Lahore, berjudul The Holy Qur’an, ke dalam bahasa Melayu (historia.id).

Ahmadiyah memang bukanlah pendatang baru. Kehadirannya jauh sebelum kemerdekaan. Ia setahun atau bahkan dua tahun lebih tua dibanding Nahdlatul Ulama (NU), ormas Islam terbesar di tanah air. Pada 1924, Ahmadiyah Lahore (GAI) mengirim utusannya, Mirza Wali Baig dan pada 1925 giliran Ahmadiyah Qadian (JAI) mengirimkan utusannya, Maulana Rahmat Ali.

Bung Karno (BK) sendiri menjalin hubungan persahabatan dengan tokoh-tokoh Ahmadiyah, seperti Mirza Wali Baig dan Maulana Rahmat Ali. Bahkan BK banyak membahas Ahmadiyah dalam tulisan-tulisannya yang masih bisa kita baca hari ini. Lihat misalnya di kumpulan tulisan yang dirangkum dalam buku tebal Di Bawah Bendera Revolusi Jilid 1. BK mengulas tentang organisasi yang lahir dari tanah Hindustan ini.

“Ahmadiyah adalah salah satu faktor penting di dalam pembaharuan pengertian Islam di India, dan satu faktor penting pula di dalam propaganda Islam di benua Eropa khususnya, di kalangan kaum intelektuil seluruh dunia umumnya. Buat jasa ini – cacad saya tidak bicarakan di sini – ia pantas menerima salut penghormatan dan pantas menerima terima kasih..”

Pada awal-awal kemerdekaan BK bahkan berterima kasih terhadap Imam Jema’at Ahmadiyah Internasional, Hazrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad yang menyerukan kepada pemimpin negara Islam di seluruh dunia agar serentak mengakui berdirinya pemerintah Indonesia. Pada Desember 1946, Ia juga menginstruksikan agar seluruh anggota Ahmadiyah di seantero dunia melakukan puasa Senin Kamis dan memohon do’a kepada Allah SWT guna menolong bangsa Indonesia dalam perjuangannya. Dukungan ini terekam baik dalam Surat Kabar Kedaulatan Rakjat, edisi Selasa Legi, 10 Desember 1946.

Di sisi lain, pihak Ahmadiyah sendiri memiliki catatan historis mengenai hubungan mereka dengan “founding fathers” bangsa ini.  Pada masa perjuangan beberapa tokoh seperti Bung Karno, Syahrir, bahkan Tan Malaka pernah mendatangi Rahmat Ali –utusan Ahmadiyah Qadian- untuk mendiskusikan berbagai hal. Juga di masa lalu, Haji Agus Salim sering merekomendasikan orang-orang yang ingin mendalami Islam agar datang ke mesjid Al-Hidayah, tempat tinggal Maulana Rahmat Ali (Suryawan,2005:187).

Pada 1953 pemerintah Soekarno memberikan Badan Hukum terhadap Jema’at Ahmadiyah Indonesia melalui SK Menteri Kehakiman RI No. JA 5/23/13 Tgl. 13-3-1953, sehingga keberadaannya dilindungi oleh hukum.

Ahmadiyah banyak aktif di bidang sosial. Donor darah adalah aktivitas yang sering kita temui di masjid-masjid milik JAI. Banyak anggota JAI yang sudah diganjar penghargaan dari pemerintah karena sedemikian aktifnya melakukan donor darah. Bahkan, anggota JAI yang sudah wafat pun masih berguna bagi warga sebangsanya. Pasalnya, mereka kerap mewakafkan agar matanya bisa didonorkan. Jaya Suprana dari Museum Rekor Indonesia (MURI) baru-baru ini memberikan penghargaan kepada JAI sebagai organisasi paling aktif mendonorkan mata. Bahkan rekor yang mereka pecahkan, bukan rekor Indonesia, tapi rekor dunia ! (merdeka.com, 23/07/17).

Di dunia internasional nama Ahmadiyah tidak asing lagi. Tokoh semacam Abdussalam, muslim pertama peraih Nobel Fisika pada 1979 adalah seorang Ahmadi. Begitu pula dengan Sir Muhammad Zafrullah Khan, Menteri Luar Negeri Pakistan, dan mantan Ketua Majelis Umum PBB sekaligus mantan ketua Mahkamah Internasional PBB adalah seorang Ahmadi.

Organisasi ini sudah melebarkan sayapnya di 200 lebih negara, dengan jumlah yang terkonfirmasi sebanyak 10 juta anggota. Pada 2018 ini, Ahmadiyah sudah berusia 129 tahun. Didirikan pada 23 Maret 1889, oleh Hazrat Mirza Ghulam Ahmad. Beliau berasal dari sebuah desa kecil lagi terpencil, Qadian, Punjab India. Untuk memantapkan dakwahnya, Ahmadiyah memiliki MTA (Muslim Television Ahmadiyya) sebuah jaringan televisi internasional yang mengudara 24 jam tanpa iklan.

Imam Jema’at Ahmadiyah dan Gus Dur

Di era reformasi, kiprah Ahmadiyah semakin berkembang. Puncaknya, pada Juni 2000 Imam Jema’at Ahmadiyah Internasional, Hazrat Mirza Thahir Ahmad berkunjung ke tanah air dan berkesempatan beraudiensi dengan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan Ketua MPR pada waktu itu, Amien Rais.

Berbalik 180 Derajat

Lima tahun kemudian, yakni pertengahan Juli 2005 suasana berbalik 180 derajat. Kehidupan para anggota JAI yang selama puluhan tahun terbilang rukun dan damai di tanah air mulai terusik. Pertemuan Tahunan JAI yang setiap tahun diadakan dan sudah mengantongi izin dari aparat keamanan tiba-tiba saja diserbu ribuan massa intoleran.

Aset-aset Kampus Mubarak -markas JAI- di Parung Bogor yang menjadi pusat kegiatan semenjak awal 1980-an dirusak dan dihancurkan. Kampusnya sendiri disegel. Ironisnya, yang turut menyegel adalah aparatur daerah seperti Satpol PP dan aparat Kepolisian yang sebelumnya justru telah memberikan izin.

Peristiwa paling mutakhir adalah terjadinya penyerangan terhadap JAI di Dusun Grepek Tanak Eat, Desa Greneng, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat di awal Ramadhan ini, yakni pada Sabtu (19/05/18) dan diulangi keesokan harinya (20/05/18). Sekelompok massa tak dikenal merusak rumah, menjarah harta dan mengancam jiwa anggota JAI di sana. Sebagian besar penghuni yang terdiri dari ibu-ibu dan anak-anak –karena kebanyakan suami mereka merantau-mengungsi hingga ke hutan-hutan.

Kejadian di NTB bukan kali pertama. Bagi anggota JAI di sana, NTB menjelma menjadi tempat yang tidak aman. Sudah 12 tahun, ratusan anggota JAI mengungsi di Asrama Transito Mataram dan Praya tanpa suatu kejelasan hingga kini. Keduanya menjadi tempat pengungsian paling panjang di Indonesia (2006-sekarang).

Ahmadiyah dan Tuduhan Sesat

Dengan seabrek kiprah positif tentang keberadaan Ahmadiyah, organisasi ini difatwakan sesat oleh sebagian ormas Islam lainnya, termasuk Majelis Ulama Indonesia (MUI) melalui fatwanya.

Ahmadiyah pun dituduh sesat di negara asalnya. G.H. Jansen, dalam bukunya “Islam Militan” menjelaskan ironi ini. “Ironisnya, gerakan yang telah bekerja begitu keras untuk menyebarkan Islam ini telah dinyatakan sebagai sekte nonmuslim di Pakistan, tempat pusat kegiatannya” (Jansen, 1983: 123).

Lalu, di mana peran Negara? Sekali lagi, jangan sampai negara alpa, dan mudah-mudahan tidak amnesia terhadap persoalan ini. “Those who forget history are doomed repeat it” ujar Goerge Santayana.

Akhmad Reza
Memiliki Background Jurnalistik, aktivis Aliansi Kerukunan Antar Umat Beragama (AKUR) (2005-2008), Aktivis Jaringan Kerja Antar Umat Beragama (JAKATARUB) (2008-2013)
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Apa Hubungannya Toleransi dan Kearifan Lokal?

“Hai seluruh manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya...

Lubang Hitam Narasi Teroris Selama Pandemi

Sudah lima hari sejak saya terkonfirmasi positif Covid-19. Rasanya begitu berat, alih-alih sekedar menyerang fisik, rupanya virus ini juga menyerang mental. Untuk itu, saya...

Pendidikan yang Berkebudayaan, Mencipatakan Manusia Kreatif dan Otonom

Review Buku: Yudi Latif, Pendidikan yang Berkebudayaan: Histori, Konsepsi dan Aktualisasi Pendidikan Transformatif, (Jakarta: Gramedia Pustaka, 2020). Pendidikan nasional sudah seharusnya tidak meninggalkan akar-akar...

Tanah dan Transmigrasi

Peliknya urusan pertanahan dipadukan dengan samarnya transmigrasi di Indonesia menjadikan perpaduan masalah yang sulit diurai. Pasalnya permasalahan terkait tanah bukan sekedar konflik kepemilikan dan...

Idealisme Mati Sejak Mahasiswa, Apa Jadinya Bangsa?

Hidup mahasiswa! Hidup rakyat Indonesia! Tampaknya sudah sangat sering mahasiswa mendengar slogan perjuangan tersebut. Apalagi mahasiswa dengan cap "organisatoris" dan "aktivis". Organisatoris dan aktivis adalah...

ARTIKEL TERPOPULER

Pendidikan yang Berkebudayaan, Mencipatakan Manusia Kreatif dan Otonom

Review Buku: Yudi Latif, Pendidikan yang Berkebudayaan: Histori, Konsepsi dan Aktualisasi Pendidikan Transformatif, (Jakarta: Gramedia Pustaka, 2020). Pendidikan nasional sudah seharusnya tidak meninggalkan akar-akar...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.