Sabtu, Oktober 31, 2020

Permainan Petak Umpet sebagai Pembentuk Karakter Bangsa

Melecehkan Pendidikan, Bikin Tersengat!

Education is not preparation for life. Education is life itself John Dewey  Terasa tersengat ketika seorang teman nyeletuk: “Tetanggaku yang hanya lulusan SMA jadi buruh pabrik gajinya malah...

Bumi Manusia dan Identitas Paska Kolonial

Salah satu catatan kritis Prof. Ariel Heryanto saat mengulas film-film tanah air ialah, perihal stereotype orang kulit putih atau bule, atau dalam hal ini...

Antara Machiavelli DPR Hingga Produk Legislasi

Dikisahkan pada abad pencerahan lahir seorang pemikir sekaligus filsuf yang fenomenal dan kontroversial, dia adalah Niccolo Machiavelli (1469-1527). Salah satu magnum opusnya yang banyak...

Narasi – Narasi Seputar G-30S 1965

Hingga hari ini, masih banyak masyarakat awam yang percaya bahwa dalang utama dibalik peristiwa G30S adalah PKI. Kepercayaan tersebut tidak bisa dilepaskan dari kampanye...
Jantan Putra Bangsa
Nusantarawan yang menekuni dunia Media Digital dan Kebudayaan Indonesia

Sebagai orang Indonesia tentu pernah memainkan atau setidaknya mengenal permainan yang bernama Petak Umpet. Sebuah permainan anak-anak yang sangat populer dan menyenangkan. Karena tidak perlu biaya mahal dan dapat dinikmati oleh semua kalangan masyarakat dari status sosial apapun.

Permainan ini juga merupakan bentuk sosialisasi awal si anak dengan anak yang lain dalam suatu kelompok masyarakat. Hal ini juga merupakan kesempatan anak untuk mengenal lingkungan tempat tinggalnya serta karakter manusia yang satu dengan yang lain—baik disadari ataupun tidak—tentu akan dipahami secara perlahan ketika ia tumbuh menjadi dewasa.

Pembentukan karakter seseorang tidak dapat dilepaskan dari mana seseorang itu tumbuh dan berkembang dalam suatu lingkungan. Tentu akan berbeda karakter seorang yang tumbuh dan berkembang di pesisir pantai dengan anak yang tumbuh dan berkembang di lereng pegunungan. Itulah barangkali kebenaran pepatah yang mengatakan “Lain ladang lain belalang”. Artinya di setiap tempat pasti ada perbedaan kebiasaan, adat-istiadat serta pola kehidupan bermasyarakatnya.

Dengan berkumpul dalam satu kelompok tentu terjadi negosiasi kepentingan antara yang satu dengan yang lain. Contoh sederhananya, tidak mungkin semua anak langsung menyepakati sebuah permainan yang akan dimainkan, tentu ada negosiasi kecil di dalamnya.

Ada anak yang menginginkan permainan ini, ada yang menginginkan itu, dan lain sebagainya. Tapi karena terbiasa berkelompok, maka permasalahan kecil itu dapat diatasi tanpa ada yang merasa dikalahkan kepentingannya. Hal ini terbukti anak-anak selalu bermain dengan gembira dan ikhlas tanpa sakit hati karena kepentingannya dikalahkan.

Mari kita mencoba lebih mengerucut pada salah satu permainan tradisional, yaitu permainan Petak Umpet. Syarat bisa berjalannya permainan Petak Umpet harus diikuti lebih dari dua orang, bahkan sangat menarik jika semakin banyak yang ikut main.

Dari sini kita bisa lihat bahwa si anak harus mengumpulkan teman-temanya agar berkumpul menjadi satu. Bukankah hal ini merupakan proses berorganisasi. Ketika sudah berkumpul, si anak juga harus bernegosiasi dengan teman-temannya agar kepentinganya untuk bermain Petak Umpet dapat disepakati bersama.

Saking banyaknya permainan anak, tentu tidak mudah meyakinkan teman-temanya bahwa hari ini adalah hari yang asyik untuk bermain Petak Umpet. Maka terjadilah musyawarah yang menghasilkan sebuah mufakat untuk menyepakati bermain Petak Umpet.

Untuk itu, jika sejak kecil terbiasa melakukan musyawarah tentu tidak akan terjadi konflik-konflik akibat perbedaan kepentingan yang tajam karena semua persoalan diselesaikan secara musyawarah dalam proses-proses dialog yang sehat. Sehingga mampu menghargai kepentingan sosial untuk sedikit mengeyampingkan kepentingan individunya.

Dengan begitu si anak sejak kecil sudah diajari proses-proses untuk saling menghargai dan tidak menjadi egois dan individual, sebab begitu dia egois tentu akan dijauhi teman-temannya.

Contoh konkritnya begini, jika ada seorang anak yang dibenci oleh teman-temannya, biasanya di dalam sebuah permainan akan dijendilke oleh teman yang lain. Dari sisi ini lagi-lagi ada sebuah rapat kecil untuk mempengaruhi teman yang lain untuk mencurangi anak yang dibenci. Tentu saja seorang anak kecil akan merasa kapok jika dia selalu dicurangi dalam permainan. Hal ini juga merupakan salah satu kontrol sosial atau sanksi sosial kepada orang yang berbuat nakal sehingga dibenci oleh teman-temannya.

Sebuah aturan yang tidak tahu berasal dari mana, namun sangat ditaati oleh anak-anak dalam memainkan sebuah permainan. Jika ada salah seorang yang melanggar, maka permainan terasa tidak menyenangkan. Yang membuat permainan menjadi tidak menyenangkan akan diberi saksi sosial seperti yang disebut di atas. Sehingga sejak kecil anak-anak sudah mendapatkan pelajaran mengenai etika bermasyarakat.

Dari sini dapat kita tarik kesimpulan bahwa permainan Petak Umpet tidak sekedar permainan. Ada proses yang sebenarnya rumit tetapi terlihat santai dan menyenangkan jika dilakukan oleh anak-anak.

Inilah vitalitas yang ada dalam permainan anak-anak di Indonesia yang akan membentuk karakter bangsa dengan kokoh tak tergoyahkan. Sehingga jangan pernah menghilangkan atau mengganti permainan-permainan tradisional dengan permainan modern yang hanya bisa dinikmati individu.

 

 

 

Jantan Putra Bangsa
Nusantarawan yang menekuni dunia Media Digital dan Kebudayaan Indonesia
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Menjaga Kesehatan Tubuh dari Covid-19

Menjaga kesehatan menjadi hal yang penting dilakukan semua kalangan. Apalagi dengan kondisi alam yang semakin merabahnya virus covid 19. Terkadang hal sederhana yang rutin...

Kesehatan Mental dan Buruh

Kerja adalah cerminan kesehatan jiwa. Semakin baik tempat kerja, semakin kecil kemungkinan kita mengalami masalah kejiwaan. Adam Smith dalam bukunya Wealth of Nation secara...

Charlie Hebdo, Emmanuel Macron, dan Kartun Nabi Muhammad

Majalah satir Charlie Hebdo (CH) yang berkantor di Paris kembali membuat panas dunia. CH merilis kartun Nabi Muhammad untuk edisi awal September 2020. Padahal...

Imajinasi Homo Sapiens Modern dalam Menguasai Dunia

  Foto diatas ini mewakili spesies lainnya yang bernasib sama, tentu bukan hanya Komodo, masih ada dan masih banyak lagi hewan yang bernasib sama sebut...

TBC Mencari Perhatian di Tengah Pandemi

Pada awal Maret, Indonesia melaporkan kasus Coronavirus Disease-2019 yang dikenal sebagai COVID-19, terkonfirmasi muncul setelah kejadian luar biasa di Wuhan, Cina. Penyakit ini disebabkan...

ARTIKEL TERPOPULER

Sandiwara Dibalik Pernikahan Raja Majapahit Bali

Belakangan di Bali ramai pemberitaan mengenai acara pertunangan Raja Majapahit Bali bernama lengkap Abhiseka Ratu Dr Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Pandangan 2 Mazhab Hukum Terhadap Putusan MA Soal Eks Napi Koruptor

Pertengahan tahun 2018 ini publik dikagetkan dengan hadirnya PKPU No. 20/2018 yang dalam Pasal 4 ayat (3) menyatakan bahwa Pengajuan daftar bakal calon anggota...

KDRT Saat Pandemi

Severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) atau yang lebih dikenal dengan nama COVID-19 adalah jenis baru dari coronavirus yang menular ke manusia. Virus ini...

Menyerupai Suatu Kaum: Hadits, Konteks Budaya, dan Tahun Baru 2018

Hanya dengan satu hadits ini, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR Abu Daud dan Ahmad), banyak ustaz yang lantang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.