Senin, April 12, 2021

Permainan-permainan Partai Politik di Indonesia?

Sedekat Unicorn, Selekat Unikop

Populasi masyarakat virtual kian tak terbendung dengan perkembangan digitalisasi segala lini. Fenomena di masyarakat saat ini dikenal dengan istilah populer “internet of all things”, dimana...

Ramadhan dan Jihad Melawan Radikalisme

“Kalian baru saja pulang dari jihad terkecil menuju jihad terbesar,” ujar Nabi Muhammad SAW. Para Sahabat pun heran lalu bertanya, “Wahai Rasulullah! Apakah gerangan...

Mengenal Karl Marx Melalui Literasi

Siapa yang tidak mengenal Karl Marx? Tokoh komunis satu ini telah melahirkan banyak perubahan melalui bukunya yang berjudul "Das Kapital". Tidak boleh kita pungkiri,...

Habib Rizieq dan Kegagalan Menjadi Imam Besar

Hari Senin, 29 Mei 2017. Polisi menetapkan Imam Besar Front Pembela Islam (FPI), Habib Rizieq Syihab sebagai tersangka kasus chat mesum dengan Firza Husein....

Politik Indonesia itu bagai angin puting beliung. Berubah sangat cepat, tak bisa diduga. Terkadang bisa menimbulkan suhu emosional masyarakat makin meningkat. Politik Indonesia itu hampir tidak memiliki pola. Sulit ditebak dan diprediksi. Itulah yang membuat mengapa pengamat politik lebih banyak dari pengamat ekonomi, bahkan dari pengamat sepakbola.

Ketidakpastian politik membuat siapa saja bisa bicara apa saja. Fakta itulah yang membuat ilmu politik lebih rumit dari matematika dan kimia. Dalam politik, kepastian memang bukan merupakan nilai utama. Justru itulah menariknya.

Politik Indonesia semakin hari kian menarik dibahas dan dibicarakan, mengalahkan tayangan Opera Van Java dan Mata Najwa. Politik Indonesia mirip betul dengan air sabun, tak pernah jernih dalam waktu yang agak lama. Keruh dan penuh lendir dan busa. Licin dan menggelincirkan. Seperti anak kecil, sebentar bisa teman, sebentar lagi bisa musuh. Demikianlah Nusa Putra (2015) menggambarkan tentang politik Indonesia.

Sistem demokrasi yang multipartai membuat partai politik memiliki andil yang kuat untuk memiliki kekuasaan. Partai politik memang harus diperhitungkan, namun jangan pernah tunduk pada tuntunan mereka yang hanya berorientasi kepada kepentingan partai. Rakyat pun akan meninggalkan partai yang hanya asyik dengan dirinya. Karena itu, akrobatik partai politik harus selalu diperhadapkan pada kekuatan rakyat yang nyata.

Ketika partai politik memutuskan seseorang menjadi calon kepada daerah baik calon bupati atau calon gubernur, pastilah ada maksud, tujuan dan kepentingan menyertainya. Kepada rakyat tentulah dikatakan semua yang dilakukan partai politik adalah untuk kepentingan dan sesuai dengan aspirasi rakyat. Jika tidak demikian, mana ada rakyat yang mau memilih.

Persoalannya adalah apakah partai politik konsisten dengan janji dan keberpihakannya pada rakyat saat menang menjadi pemimpin di daerah masing-masing? Dalam konteks politik Indonesia, rasanya belum pernah ada yang konsisten betul. Dalam situasi seperti inilah berbagai anomali seringkali terjadi. Ada benturan keras antara kepentingan partai politik yang berkuasa dengan aspirasi dan rasa keadilan rakyat.

Politik bagaimana pun berkutat dengan berbagi dan transaksi. Karena isu silaturahmi, komunikasi, saling menyambangi menjadi penting. Penjara ego, persoalan masa lalu, dan persoalan pribadi harus dikelola dengan baik agar saling memahami dan menghormati bisa terus di bangun.

Wajar jika kondisi perpolitikan Indonesia mengalami masalah yang mendalam, susah untuk diselesaikan. Harus diakui, keadaan partai politik saat ini dalam posisi sulit dalam konstelasi politik yang sangat kental dengan suasanan menang dan memenangkan. Oleh sebab itu, partai politik mau tidak mau, suka tidak suka akan mengerjakan berbagai strategi untuk memenangkan pilkada serentak.

Selain itu, peran para ketua umum partai politik memengaruhi pergerakan para calon, sekaligus penentu strategi yang akan dibuat. Peran ketua umum bagai air dengan beras yang selalu bersama dalam menghasilkan popularitas, sehingga tidak sedikit para calon bupati dan calon gubernur menggandeng ketua umum partai dalam spanduk pada saat kampanye dan lainnya.

Partai politik memang menjadi ajang popularitas dan pencitraan, apaun ceritanya hak popularitas menjadi bahan pertimbangan bagi para kader politik untuk dicalonkan. Popularitas yang dibalut dengan pencitraan menjadikan kader partai politik untuk membuat sensasi politiknya dalam mengikuti permaian politik oleh partai politik.

Ada yang aneh dalam partai politik saat ini, di saat pilkada sibuk melakukan cara dan strategi untuk merayu rakyat supaya memilih calon yang dipilih. Pada saat pilkada rakyat di puja-puja dan diagungkan, setelah terpilih sibuk bagi-bagi jatah. Ada yang berbau kompromis dan bagi-bagi proyek. Setelah itu rakyat menjadi korban kurang perhatian dan korban penderitaan dari berbagai kegaduhan pemangku kepentingan.

Dalam demokrasi rakyat memiliki kekuatan yang besar, karena sistem demokrasi merupaka suatu sistem yang dibangun dari rakyat, oleh rakyat untuk rakyat. Dalam hal ini kekuatan ada ditangan rakyat. Hanya bagaimana kekuatan rakyat ini bisa di kelola dengan baik. Rakyat bisa menentukan bukan saja melalui partai politik, tetapi rakyat bisa menciptakan calon independen.

Bila partai politik tidak menunjukkan kinerja dan kualitas calonnya, rakyat bisa membuat calonnya sendiri melalui jalur indefenden. Dengan demikian partai politik tidak akan berbuat dan menentukan sekehendak rasa dan kepentingan saja. Media massa juga bisa menggunakan kekuatannya untuk mengontrol secara ketat partai politik.

Partai politik yang tampil beda, berani mewujudkan janji–janji, memilih calon-calon kepala daerah bukan dari banyaknya mahar politik melainkan melihat kualitas dan kinerja calon. Partai politik hebat jika melaksanakan aspirasi rakyat bukan aspirasi partai politik. Setia pada konstitusi, dan rakyat menjadi pilihan partai politik.

Demokrasi hanya bisa dibangun jika partai bersinergi dengan rakyat. Sinergi itu bisa dikerjakan jika partai politik tidak menghianti hati rakyat, kedaulatan ada ditangan rakyat. Maka, dengan demikian rakyat yang menentukan permainan-permainan politik yang sedang dimainkan partai politik saat ini. Pemilih cerdas adalah solusi untuk permainan itu.

Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Bertahan Disegala Kondisi

Pandemi COVID-19 membawa beragam nilai positif. Bagi dunia pendidikan, selain orangtua mengetahui betapa susahnya Pendidik (guru/dosen) mengajar anak didik, pendidik juga bisa belajar secara...

Bagaimana Cara Mengatasi Limbah di Sekitar Lahan Pertanian?

Indonesia merupakan negara agraris yang mayoritas warganya bermata pencaharian sebagai petani. Pada bidang pertanian terutama pertanian konvensional terdapat banyak proses dari penanaman hingga pemanenan,...

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Kebebasan Berpendapat Masih Rancu

Kebebasan berpendapat merupakan sebuah bentuk kebebasan yang mutlak bagi setiap manusia. Tapi belakangan ini kebebasan itu sering menjadi penyebab perpecahan. Bagaimana bisa kebebasan yang...

Laporan Keuangan? Basi?

Berbicara soal laporan keuangan, tentu sudah tidak asing lagi di telinga orang ekonomi, apalagi yang bergelut dalam dunia akuntansi. Secara singkat, laporan keuangan adalah...

ARTIKEL TERPOPULER

Jihad Versi Kristen?

Kamus Besar Bahasa Indonesia menuliskan arti kata jihad sebagai usaha dengan segala upaya untuk mencapai kebaikan. Mengamati definisi ini paling tidak kita memiliki pengertian...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Umat Kristiani Bukan Nashara [Kaum Nasrani]

Dalam bahasa Arab, kata "nashara" merupakan bentuk jamak dari "nashrani". Sebutan "umat Nasrani" secara salah-kaprah digunakan untuk merujuk pada umat Kristiani, penganut agama Kristen....

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Mengenang Hans Küng (1928-2021), Tokoh Dialog Antar Agama

Bagi para pegiat dialog antar agama, sosok dan pemikiran Hans Küng tak asing lagi. Namanya kerap disebut seiring dengan pemikirannya tentang upaya mewujudkan perdamaian...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.