Kamis, Maret 4, 2021

Perlawanan Akar Rumput Kader Golkar

Raja Ampat dan Mereka yang Tak Dapat Bersekolah

Sejak krisis 1998, angka kemiskinan di Indonesia per Maret 2018 diklaim merupakan keberhasilan Pemerintah mengentaskan kemiskinan sejak dua dasawarsa terakhir. Berdasarkan survey yang dilakukan...

Akhir Kontestasi Pemilu 2019

Semenjak awal mula kontestasi pemilu 2019 di mulai sampai di umumkannya hasil pemilu 2019, drama demi drama masih saja terus berlanjut, belum selesai drama...

Jenderal Merah, Jenderal Hijau, dan Jenderal Merah Putih

LB Moerdani, Ali Moertopo dan Sudomo adalah 3 sekawan yang menjadi operator politik Soeharto yang paling ganas. Mereka sering dikelompokan dalam "jenderal-jenderal merah". Di...

Mendorong Multilateralisme Vaksin

Vaksin Covid-19 telah menjadi 'barang' paling berharga, paling dicari, dan paling diperebutkan oleh berbagai negara pada saat ini. Betapa strategisnya vaksin itu sehingga disebut...
Aming Soedrajat
Pegiat Media Sosial

Dimuara publik kader-kader Partai Golkar memang tidak ada duanya. Mereka begitu militan dan berkualitas. Tidak ada kader lain yang taat dan patuh terhadap Pancasila dalam menjaga marwah dan kewibawaan Partai

Di Jawa Barat misalnya, kader-kader potensial tumbuh subur diantra rindangnya pohon beringin pedesaan. Perbedaan antara akar Rumput partai Golkar dengan para pengurus di DPP jauh lebih berkualitas dan lebih loyal dalam menjaga marwah serta wibawa Partai.

Ketika di pusat sibuk berpolitik untuk memperbesar perut, maka di akar rumput sibuk menggemukan suara partai.

Kekompakan serta kebersamaan Kader partai Golkar tidak perlu di pertanyakan lagi. Mereka bukan hanya solid dalam jargon, tapi solid dalam menyamakan visi.

Sebelum nahkoda Partai Golkar Partai Golkar di Nahkodai Oleh Dedi Mulyadi pada tahun 2016, Golkar di Jawa Barat dalam keadaan galau dan ketidak jelasan.

Bagimana tidak, Golkar Jabar yang pada saat itu harus menanggung malu karena ketuanya Irianto MS Syafiuddin alias Yance terkena kasus korupsi pembebasan lahan PLTU Sumuradem Kabupaten Indramayu.

Dedi Mulyadi yang terpilih menggantikan Yance, memimpin Partai Golkar yang saat itu sedang keadaan karam, kalah di Pilgub Jabar 2013 dan terkena kasus Korupsi juga. Wibawa dan marwah Partai jelas sangat menghawatirkan pada saat itu.

Dedi menumbuhkan kembali kepercayaan Partai Golkar kepada Publik, soliditas terbangun kuat kesetiap pelosok desa di 26 kabupaten dan Kota di Jawa Barat.

Tidak mudah membangun kembali kepercayaan terhadap publik ketika Mesin Partai dalam keadaan mati dan tingkat kepercayaan rendah.

Berkat kerja kerasnya dan di dukung oleh segenap elemen akar rumput, Pohon beringin yang sempati mati tersebut kembali tumbuh subur. Kepercayaan, popularitas dan elektabitas partai menempati urutan pertama menyalip pemenang Pemilu tahun 2014 PDIP.

Ketika Partai Golkar di tempat lain mengalami trend menurun karena Ketua DPP Setya Novanto menjadi tersangka kasus Korupsi yang merugikan negara, di Jawa Barat berbeda. Trend Partai Golkar cendrung Positif.

Akar Rumput Kader Militan.

Seperti yang sudah di singgung diatas, kalau kader-kader Partai Golkar Merupakan kader yang militan dan berkualitas, marwah tersebht tetap di jaga.

Yang membuat Golkar tumbuh besar di Jawa Barat bukanlah hasil kerja dari orang Jakarta atau orang-orang DPP. Melainkan hasil kerja keras dari kader golkar di Jawa Barat.

Yang merusak trend Golkar yang semakin merosot justru bukan karena tidak berjalannya mesin partai, tetapi karena elit Partainya berorganisasi hanya untuk memperbuncit perut dan rekening.

Hari ini di DPD Partai Golkar Jawa Barat, Ratusan kader dari DPD Kabupaten/kota, kecamatan dan Desa/kelurahan menduduki kantor tersebut. 

Tujuannya apa?

Pertama, Mereka kecewa kepada para elit Partai Golkar yang tinggal di DPP tidak mendengar aspirasinya. Gerakan mereka ada bentuk kecintaan pada partai pada saat elit partai tersebut diduga melakukan Politik ‘Transaksional’ untuk kepentingan pribadi.

Partai di jual serta di gadaikan kepada para pemegang materi untuk kepentingan pribadi.

Sedangkan yang kedua, kekecewaan mereka semakin meningkat seketika Calon Gubernur yang telah sepat jauh-jauh hari mereka usung ternyata di abaikan. Malahan di tukar dengan calon lain yang belum tentu bisa menjaga wibawa dan marwah partai.

Dalam Mars Partai Golkar di sebutkan, ‘kalau Golkar merupakan benteng pancasila’ penjang pancasila sejati.

Ketika Pancasila sebagai Ideologi Partai tersebut, dipimpin oleh anak Ideologis Presiden Republik Indonesia pertama Ir. Soekarno, akan ada kesamaan visi, tindakan serta pemikirannya.

Dedi Mulyadi yang menahkodai Golkar dengan nilai-nilai Pancasila secara kultural yang melebur diantara para kader partai golkar yang berhaluan Nasionalis tentu, akan melekat kuat dalam menjung-jung tinggi kewibawaan Partai.

Kenapa Bung Para kader akar rumput begitu loyal terhadap Dedi Mulyadi? Tanya temanku sambil mebaca media online yang bertebaran hari ini.

Sudah saya katakan tadi, karena ada kesamaan visi dan kesamaan rasa yang kuat diantara mereka.

Menjaga dan mengusung Dedi Mulyadi sama saja dengan menghidupkan kembali spirit Pancasila di Jawa Barat. 

Saya meyakini, Perlawanan kader akar rumput terhadap elit DPP Partai Golkar bukan hanya akan terjadi di Jawa Barat, melainkan juga akan terjadi di berbagai daerah lain di Indonesia karena kekecewaan yang sama seperti yang dialami oleh kader partai di Jawa Barat.

Kader Golkar Jawa Barat sudah memulainya lebih dulu, kita lihat saja perlawanan tersebut akan merembet keberbagai daerah lain.

Khusunya di Jawa Barat, ancaman mereka untuk menguasai dan mengepung DPP Golkar apabila tidak segera mengeluarkan surat rekomendasi untuk Dedi Mulyadi bukanlah sebagai gertakan biasa, melainkan sebagai pernyataan yang sebenarnya yang akan terjadi, hanya waktu saja yang akan menjawabnya. 

Acaman siap melepaskan seragam Partai pun bukanlah ancaman biasa, melainkan itu juga kepastian yang akan terjadi.

Bayangkan bagaimana jadinya ketika kader 26 kabupaten/kota Kader Partai Golkar melepaskan baju, bagaimana nasibnya? Sulit sekali membayangkannya.

Pahitnya, kalau sampai tidak di usungnya Dedi Mulyadi oleh Partai Golkar, justru Partai Golkar lah yang paling di rugikan. Selain karena kehilangan kader terbaiknya, juga akan kehilangan mimpi menjadi pemenang pada Pilgub Jabar tahun depan mendatang.

Kuncinya, akar rumput Kader Partai Golkar bukan objek limpahan keputusan DPP Golkar. Melainkan, akar rumput juga  merupakan subyek dalam mengambil keputusan

Aming Soedrajat
Pegiat Media Sosial
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Tanah dan Transmigrasi

Peliknya urusan pertanahan dipadukan dengan samarnya transmigrasi di Indonesia menjadikan perpaduan masalah yang sulit diurai. Pasalnya permasalahan terkait tanah bukan sekedar konflik kepemilikan dan...

Idealisme Mati Sejak Mahasiswa, Apa Jadinya Bangsa?

Hidup mahasiswa! Hidup rakyat Indonesia! Tampaknya sudah sangat sering mahasiswa mendengar slogan perjuangan tersebut. Apalagi mahasiswa dengan cap "organisatoris" dan "aktivis". Organisatoris dan aktivis adalah...

Demitologisasi SO 1 Maret

Menarik bahwa ada kesaksian dari Prof. George Kahin tentang SO 1 Maret 1949. Menurutnya, SO 1 Maret bukanlah serangan balasan pertama dan terbesar dari...

Polwan Yuni Purwanti yang Terjebak Mafia Narkoba

Publik terkejut. Jagad maya pun ribut. Ini gegara Kapolsek Astana Anyar, Kota Bandung, Kompol Yuni Purwanti Kusuma Dewi terciduk tim reserse antinarkoba Polda Jabar....

Stop Provokasi, Pelegalan Miras? Mbahmu!

Lampiran Perpres yang memuat izin investasi miras di daerah tertentu, baru saja dicabut oleh Presiden. Ini disebabkan karena banyak pihak merasa keberatan. Daripada ribut...

ARTIKEL TERPOPULER

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Artidjo Alkostar, Sebuah Kitab Keadilan

Gambaran apa yang muncul di benak Anda setiap mendengar profesi pengacara dan kepengacaraan? Apapun citra itu, Artidjo Alkostar menghancurkannya berkeping-keping. Sebagai pengacara hingga akhir 1990an,...

Demitologisasi SO 1 Maret

Menarik bahwa ada kesaksian dari Prof. George Kahin tentang SO 1 Maret 1949. Menurutnya, SO 1 Maret bukanlah serangan balasan pertama dan terbesar dari...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.