Selasa, Oktober 20, 2020

Perlawanan Akar Rumput Kader Golkar

Cahya Mentari, Tak Pamrih, Tak Pilih Kasih

Setiap pagi, ia datang, menyapa dan membawa kehangatan. Dinginnya malam perlahan tersapu aroma wewangian daun segar sisa mimpi indah, menunggu cahya. Hangat dan semakin...

Jokowi Membuka Ruang Publik Milineal Membatasi Status Quo

Di era Orde Baru hingga akhir pemerintahan SBY. Mereka yang duduk dikekuasaan berdasarkan pada kedekataan (nepotisme). Sebuah keharusan konstestan Pilpres 2019 membuka  ruang publik...

Putra Kepala Negara dan Pelaporan yang Sia-sia

Sejak kemarin, anak Jokowi yang bernama Kaesang menjadi perbincangan hangat di dunia sosial media karena diduga telah menodai Agama seperti halnya yang dilakukan oleh...

Kritik Penghentian Tugas Komisi Penanggulangan AIDS

Kasus HIV-AIDS di Indonesia hingga saat ini belum menunjukkan indikasi penurunan. Berdasarkan data Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Kementerian Kesehatan Republik Indonesia...
Aming Soedrajat
Pegiat Media Sosial

Dimuara publik kader-kader Partai Golkar memang tidak ada duanya. Mereka begitu militan dan berkualitas. Tidak ada kader lain yang taat dan patuh terhadap Pancasila dalam menjaga marwah dan kewibawaan Partai

Di Jawa Barat misalnya, kader-kader potensial tumbuh subur diantra rindangnya pohon beringin pedesaan. Perbedaan antara akar Rumput partai Golkar dengan para pengurus di DPP jauh lebih berkualitas dan lebih loyal dalam menjaga marwah serta wibawa Partai.

Ketika di pusat sibuk berpolitik untuk memperbesar perut, maka di akar rumput sibuk menggemukan suara partai.

Kekompakan serta kebersamaan Kader partai Golkar tidak perlu di pertanyakan lagi. Mereka bukan hanya solid dalam jargon, tapi solid dalam menyamakan visi.

Sebelum nahkoda Partai Golkar Partai Golkar di Nahkodai Oleh Dedi Mulyadi pada tahun 2016, Golkar di Jawa Barat dalam keadaan galau dan ketidak jelasan.

Bagimana tidak, Golkar Jabar yang pada saat itu harus menanggung malu karena ketuanya Irianto MS Syafiuddin alias Yance terkena kasus korupsi pembebasan lahan PLTU Sumuradem Kabupaten Indramayu.

Dedi Mulyadi yang terpilih menggantikan Yance, memimpin Partai Golkar yang saat itu sedang keadaan karam, kalah di Pilgub Jabar 2013 dan terkena kasus Korupsi juga. Wibawa dan marwah Partai jelas sangat menghawatirkan pada saat itu.

Dedi menumbuhkan kembali kepercayaan Partai Golkar kepada Publik, soliditas terbangun kuat kesetiap pelosok desa di 26 kabupaten dan Kota di Jawa Barat.

Tidak mudah membangun kembali kepercayaan terhadap publik ketika Mesin Partai dalam keadaan mati dan tingkat kepercayaan rendah.

Berkat kerja kerasnya dan di dukung oleh segenap elemen akar rumput, Pohon beringin yang sempati mati tersebut kembali tumbuh subur. Kepercayaan, popularitas dan elektabitas partai menempati urutan pertama menyalip pemenang Pemilu tahun 2014 PDIP.

Ketika Partai Golkar di tempat lain mengalami trend menurun karena Ketua DPP Setya Novanto menjadi tersangka kasus Korupsi yang merugikan negara, di Jawa Barat berbeda. Trend Partai Golkar cendrung Positif.

Akar Rumput Kader Militan.

Seperti yang sudah di singgung diatas, kalau kader-kader Partai Golkar Merupakan kader yang militan dan berkualitas, marwah tersebht tetap di jaga.

Yang membuat Golkar tumbuh besar di Jawa Barat bukanlah hasil kerja dari orang Jakarta atau orang-orang DPP. Melainkan hasil kerja keras dari kader golkar di Jawa Barat.

Yang merusak trend Golkar yang semakin merosot justru bukan karena tidak berjalannya mesin partai, tetapi karena elit Partainya berorganisasi hanya untuk memperbuncit perut dan rekening.

Hari ini di DPD Partai Golkar Jawa Barat, Ratusan kader dari DPD Kabupaten/kota, kecamatan dan Desa/kelurahan menduduki kantor tersebut. 

Tujuannya apa?

Pertama, Mereka kecewa kepada para elit Partai Golkar yang tinggal di DPP tidak mendengar aspirasinya. Gerakan mereka ada bentuk kecintaan pada partai pada saat elit partai tersebut diduga melakukan Politik ‘Transaksional’ untuk kepentingan pribadi.

Partai di jual serta di gadaikan kepada para pemegang materi untuk kepentingan pribadi.

Sedangkan yang kedua, kekecewaan mereka semakin meningkat seketika Calon Gubernur yang telah sepat jauh-jauh hari mereka usung ternyata di abaikan. Malahan di tukar dengan calon lain yang belum tentu bisa menjaga wibawa dan marwah partai.

Dalam Mars Partai Golkar di sebutkan, ‘kalau Golkar merupakan benteng pancasila’ penjang pancasila sejati.

Ketika Pancasila sebagai Ideologi Partai tersebut, dipimpin oleh anak Ideologis Presiden Republik Indonesia pertama Ir. Soekarno, akan ada kesamaan visi, tindakan serta pemikirannya.

Dedi Mulyadi yang menahkodai Golkar dengan nilai-nilai Pancasila secara kultural yang melebur diantara para kader partai golkar yang berhaluan Nasionalis tentu, akan melekat kuat dalam menjung-jung tinggi kewibawaan Partai.

Kenapa Bung Para kader akar rumput begitu loyal terhadap Dedi Mulyadi? Tanya temanku sambil mebaca media online yang bertebaran hari ini.

Sudah saya katakan tadi, karena ada kesamaan visi dan kesamaan rasa yang kuat diantara mereka.

Menjaga dan mengusung Dedi Mulyadi sama saja dengan menghidupkan kembali spirit Pancasila di Jawa Barat. 

Saya meyakini, Perlawanan kader akar rumput terhadap elit DPP Partai Golkar bukan hanya akan terjadi di Jawa Barat, melainkan juga akan terjadi di berbagai daerah lain di Indonesia karena kekecewaan yang sama seperti yang dialami oleh kader partai di Jawa Barat.

Kader Golkar Jawa Barat sudah memulainya lebih dulu, kita lihat saja perlawanan tersebut akan merembet keberbagai daerah lain.

Khusunya di Jawa Barat, ancaman mereka untuk menguasai dan mengepung DPP Golkar apabila tidak segera mengeluarkan surat rekomendasi untuk Dedi Mulyadi bukanlah sebagai gertakan biasa, melainkan sebagai pernyataan yang sebenarnya yang akan terjadi, hanya waktu saja yang akan menjawabnya. 

Acaman siap melepaskan seragam Partai pun bukanlah ancaman biasa, melainkan itu juga kepastian yang akan terjadi.

Bayangkan bagaimana jadinya ketika kader 26 kabupaten/kota Kader Partai Golkar melepaskan baju, bagaimana nasibnya? Sulit sekali membayangkannya.

Pahitnya, kalau sampai tidak di usungnya Dedi Mulyadi oleh Partai Golkar, justru Partai Golkar lah yang paling di rugikan. Selain karena kehilangan kader terbaiknya, juga akan kehilangan mimpi menjadi pemenang pada Pilgub Jabar tahun depan mendatang.

Kuncinya, akar rumput Kader Partai Golkar bukan objek limpahan keputusan DPP Golkar. Melainkan, akar rumput juga  merupakan subyek dalam mengambil keputusan

Aming Soedrajat
Pegiat Media Sosial
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Flu Indonesia

“Indonesia sedang sakit, tapi cuma flu biasa....” Di pojok gemerlapnya kota metropolitan, jauh dari bising suara knalpot kendaraan, dan bingar-bingar musik dugem, tentu ada masyarakat...

K-Pop dalam Bingkai Industri Budaya

Budaya musik Korea atau yang biasa kita sebut K-Pop selalu punya sisi menarik di setiap pembahasannya. Banyak stigma beredar di masyarakat kita yang menyebut...

Hitam Putih Gemerlap Media Sosial

“Komunikasi adalah inti dari masyarakat kita. Itulah yang menjadikan kita manusia.” Setidaknya begitulah yang dikatakan Jan Koum, pendiri aplikasi Whatsapp yang kini telah mencapai...

Mahasiswa Dibutakan Doktrin Aktivisme Semu?

Aktivisme di satu sisi merupakan “alat” yang bisa digunakan oleh sekelompok orang untuk melakukan reformasi atau perbaikan ke arah baru dan mengganti gagasan lama...

Prekariatisasi Global dan Omnibus Law

"Setuju", dengan intonasi panjang penuh kebahagiaan peserta sidang secara serentak merespons pimpinan demi ketukan palu UU Cipta Kerja atau akrab dikenal sebagai Omnibus Law. Tok,...

ARTIKEL TERPOPULER

Tanggapan Orang Biasa terhadap Demo Mahasiswa dan Rakyat 2019

Sudah dua hari televisi dihiasi headline berita demonstrasi mahasiswa, hal yang seolah mengulang berita di TV-TV pada tahun 1998. Saya teringat kala itu hanya...

Hitam Putih Gemerlap Media Sosial

“Komunikasi adalah inti dari masyarakat kita. Itulah yang menjadikan kita manusia.” Setidaknya begitulah yang dikatakan Jan Koum, pendiri aplikasi Whatsapp yang kini telah mencapai...

Cara Mahasiswa Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Teknologi selalu mengalami perubahan-perubahan seakan tidak pernah ada ujungnya. Seperti halnya saat ini teknologi sudah sangat berkembang dengan pesat terutama dalam bidang teknologi informasi...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Legacy Jokowi, UU Cipta Kerja dan Middle Income Trap

“Contohlah Jokowi. Lihatlah determinasinya. Visinya. Ketegasannya ketika berkehendak menerapkan UU Cipta Kerja. Ia tak goyah walau UU itu ditentang banyak pihak. Ia jalan terus...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.