Kamis, Januari 21, 2021

Perkembangan Teknologi Komunikasi: It Takes Two to Tango

Menanggapi istilah Go green, mindset salah kaprah (Revisi)

Go green, istilah yang akhir-akhir ini ramai dibincangkan. Istilah go green pada dasarnya merupakan istilah untuk mengkampanyekan menggunakan produk-produk dari alam dan yang tidak dapat...

Instabilitas Negara, Guncangan dari Dalam, dan Kepentingan Nasional

Sebagai negara yang merdeka dan berdaulat, Indonesia memiliki tujuan nasional sebagaimana yang termakhtub didalam pembukaan UUD 1945. Tujuan nasional sebuah negara, menjadi kepentingan nasional...

Agamaku, Labelku

Menjadi mayoritas di negeri majemuk yang indah ini tentu menjadi sebuah kebahagiaan tersendiri. Seseorang tentunya akan bahagia ketika apa yang dipercayainya menjadi kepercayaan orang...

Newsdifabel, Media yang dari Umum ke Khusus

Mari bicara soal stigma difabel. Labelisasi kaum difabel tentunya sudah menjamur bagi banyak masyarakat awam. Jahatnya lagi, kaum difabel sudah terlalu lengket dengan pekerjaan...
putrisonia
Mahasiwa Ilmu Komunikasi

Kemajuan zaman sangat berkaitan erat dengan perkembangan teknologi komunikasi. Bukan sebuah hal yang baru untuk menyadari bahwa teknologi komunikasi sedikit banyak mempengaruhi peradaban. Bukan sebuah hal yang baru pula, bahwa saat ini hampir seluruh manusia bergantung pada teknologi komunikasi. Kemudahan dan kepraktisan yang tidak dapat dihindari oleh siapa saja.

Berbicara mengenai kemudahan dan kepraktisan, teknologi memang diciptakan untuk memudahkan. Pada dasarnya, teknologi ada untuk membantu. Menurut Nuruddin, teknologi adalah alat bantu.

Secara arti sempit, teknologi memang berarti mesin dalam bahasa sehari-hari. Secara sempit teknologi hanyalah alat keras (hardware) secara luas bisa berarti hardware dan software. Dari pengertian tersebut dapat dimengerti mengapa teknologi begitu digandrungi oleh banyak orang.

Namun, tentu saja teknologi yang bertujuan untuk membantu memiliki dampak negatif dan positifnya. Beberapa orang begitu terbuai dengan fitur-fitur dalam teknologi, yang dalam satu kali klik, semua urusan bisa terselesaikan.

Beberapa yang lain bahkan merasa resah jika satu hari dalam hidupnya terlewati tanpa teknologi komunikasi dan informasi. Saat kita terbiasa dengan kemudahan, kita terkadang menjadi lupa, bahwa hasil adalah buah dari rangkaian proses.

Dahulu, untuk menemukan informasi, seorang mahasiswa perlu membaca literasi dan berkunjung ke perpustakaan. Tetapi saat ini, jika diminta untuk membuat rangkuman, maka dengan mudah, mahasiswa akan menemukannya di google dan menyalin seluruh isinya tanpa rasa ingin membaca seutuhnya.

Tak hanya itu, kabar berita yang ada di media sosial atau media online seringkali menarik perhatian penggunanya. Tetapi, banyak dari mereka yang lantas menyebarkan tanpa membaca seluruhnya.

Dampak positifnya, informasi, inovasi, dan inspirasi seakan mengalir begitu saja tanpa bisa dibendung. Seseorang bisa sangat berguna bagi orang lainnya melalui tulisannya, videonya, musiknya, gambarnya, atau apa saja karyanya. Muncul istilah-istilah baru seperti influencers, content creator, buzzer, selebgram, paid promote, endorse, dan lain sebagainya. Umumnya, hal-hal tersebut sering dijumpai di Instagram. Walau tak dapat dipungkiri, setiap media sosial memiliki ciri khasnya masing-masing,

Beberapa waktu yang lalu, sebuah akun tanpa nama di twitter mengunggah pricelist endorse beberapa nama influencers dan selebgram Indonesia. Endorse adalah kegiatan promosi untuk menarik konsumen baru. Influencers adalah sebutan bagi mereka yang dinilai dapat mempengaruhi orang lain dengan content nya.

Dan selebgram biasa diberikan kepada mereka yang memiliki banyak followers karena unggahan fotonya. Menariknya, harga untuk sebuah unggahan endorse di instastory bisa mencapai 6 juta rupiah. 15 detik yang begitu menghasilkan rupiah.

Tetapi, dengan 15 detik tersebut, adakah pengaruh yang dirasakan oleh pengguna Instagram selain perasaan ingin membeli? Label “influencers” yang sering disematkan kepada seseorang seringkali menimbulkan rasa penasaran, apakah influence yang telah ia sebarkan? Tentu tidak mudah bagi seorang influencer untuk menimbulkan langkah kilat demi tercapainya perubahan yang lebih baik.

Juga, mungkin saja sebetulnya ia tak pernah melabeli dirinya sebagai “influencers” dan justru label tersebut hadir dari khalayak? Pun begitu, menjadi influencers yang meningkatkan kesadaran akan jauh lebih baik daripada melahirkan individu-individu yang konsumtif. Beli, beli, beli dan beli yang mungkin harus segera kita sudahi. Inovasi, inspirasi, serta informasi yang telah kita dapatkan, tentu bisa kita maksimalkan dengan kreatifitas tanpa batas.

Fenomena lain yang sempat mencuat ialah anggapan bahwa Instagram adalah media sosial yang toxic. Ungkapan yang kini sering digunakan untuk mendeskripsikan sesuatu yang berakibat buruk. Instagram dinilai tidak baik untuk kesehatan mental beberapa penggunanya.

Instagram dinilai sebagai media sosial yang paling membangkitkan rasa minder, iri, rendah diri, dan lain sebagainya. Hal tersebut muncul karena Instagram adalah tempat dimana semua orang bebas menunjukkan kemampuan dan gaya hidupnya.

Padahal, fitur mute dan hide sudah diciptakan oleh Instagram. Mute digunakan agar kita tidak melihat unggahan foto / instastory sebuah akun. Sedangkan hide digunakan agar orang lain tidak bisa melihat unggahan kita. Jika 2 hal tersebut masih belum cukup, mungkin Instagram bukanlah media sosial yang toxic.

Namun kita sebagai pengguna yang kurang bisa memilih dan memilah apa-apa saja yang akan mempengaruhi hidup kita. Jika dengan mengikuti beberapa akun membuat kesehatan mentalmu tidak baik, maka berhentilah. Masih banyak akun-akun yang menawarkan hal-hal baik dan patut ditiru.

It takes two to tango. Sebuah ungkapan yang mungkin bisa kita terapkan dalam ber media sosial. Butuh rasa “saling” untuk mencapai tujuan. Tidak perlu menyalahkan media sosial, influencers di dalamnya, atau bahkan, menyalahkan diri sendiri. Jika teknologi dibuat untuk mempermudah, mengapa kita yang menjadikannya susah?

putrisonia
Mahasiwa Ilmu Komunikasi
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Apa Itu Teo Demokrasi dan Nasionalisme?

Apa itu Konsep Teo Demokrasi? Teo demokrasi terdiri dari gabungan kata yaitu teologi yang berarti agama dan demokrasi yang terdiri dari kata demos berarti rakyat dan...

Menilik Superioritas Ras dalam Film Imperium

Film Imperium yang ditulis dan disutradarai oleh Daniel Ragussis adalah sebuah film thriller yang menampilkan usaha seorang karakter utama yang mencoba untuk “masuk” ke...

Pandangan Mochtar Lubis Terhadap Kemunafikan Manusia Indonesia

Pernyataan Mochtar Lubis dalam naskah pidato Manusia Indonesia (kemudian diterbitkan menjadi buku) sampai sekarang pidato ini masih relevan untuk dibahas, baik kalangan awam maupun...

Revolusi Mental Saat Pandemi

Vaksin Sinovac memang belum banyak terbukti secara klinis efektifitas dan efek sampingnya. Tercatat baru dua negara yang telah melakukan uji klinis vaksin ini, yakni...

Bencana Alam: Paradigma Ekologi dan Aktivisme

Ekologi sebagai kajian ilmiah tentang hubungan antara makhluk hidup dengan makhluk tidak hidup telah memberikan perspektif baru tentang sistem keterkaitan. Namun, sebagian besar pemerhati...

ARTIKEL TERPOPULER

Pandangan Mochtar Lubis Terhadap Kemunafikan Manusia Indonesia

Pernyataan Mochtar Lubis dalam naskah pidato Manusia Indonesia (kemudian diterbitkan menjadi buku) sampai sekarang pidato ini masih relevan untuk dibahas, baik kalangan awam maupun...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Bencana Alam: Paradigma Ekologi dan Aktivisme

Ekologi sebagai kajian ilmiah tentang hubungan antara makhluk hidup dengan makhluk tidak hidup telah memberikan perspektif baru tentang sistem keterkaitan. Namun, sebagian besar pemerhati...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Bagaimana Masa Depan Islam Mazhab Ciputat?

Sejak tahun 80-an Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jakarta dikenal "angker" oleh sebagian masyarakat, pasalnya mereka menduga IAIN Jakarta adalah sarangnya orang-orang Islam liberal,...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.