OUR NETWORK

Perkara Suara Khas Papua dan Hal-hal yang Luput Dibicarakan

Sebelum lagu Rumah Kita dari God Bless itu dinyanyikan sebagai penutup Debat Pertama Capres, Ira Koesno dan Imam Priyono menyambut Dorkas Waroy.

“..mari kita sambut bintang Radio RRI yang cantik suaranya…”

“…sangat khas Papua.”

“ya sangat khas Papua…”

“Dorkas.”

Sebelum lagu Rumah Kita dari God Bless itu dinyanyikan sebagai penutup Debat Pertama Capres, Ira Koesno dan Imam Priyono menyambut Dorkas Waroy. Dorkas–yang berasal dari Papua, dipersilakan untuk ke atas panggung oleh kedua MC dengan embel-embel “suara khas Papua”.

Saya sempat agak heran mendengar kata-kata penutup kedua MC itu. Istilah suara-khas-Papua itu terus terngiang-ngiang di benak saya selama beberapa waktu. Ada yang kurang tepat rasanya dari sambutan terhadap Dorkas Waroy ini.

Dengan pikiran yang agak terganggu karena perkataan kedua MC tersebut, saya jadi terus bertanya-tanya: “Memang ada ya suara khas Papua? Kenapa untuk penyanyi lain, misal Raisa yang berasal dari Bandung tidak pernah disambut dengan kata-kata suara khas Sunda?

Atau Siti Nurhaliza yang dari Malaysia tidak disebut suara khas Melayu begitu? Kenapa cuma Papua?” Lantaran penasaran saya coba cari-cari informasi mengenai hal ini, ya mungkin saja saya salah dan memang secara teknik vokal ada yang disebut suara-khas-Papua.

Saya hanya menemukan dua berita yang diturunkan perkara suara-khas Papua-ini, keduanya muncul di pencarian teratas, keduanya sama-sama tidak membicarakan mengenai teknik vokal, dan keduanya sama-sama dimuat oleh media yang kami puja–Tribunnews–yakni “Mengenal Sosok Dorkas, Pemilik Suara Emas Khas Papua yang Tutup Debat Capres 2019 Pertama” dan “Inilah Pemilik Suara Emas Khas Papua yang Tutup Debat Capres 2019 Pertama”.

Beberapa berita lain yang merujuk pada pencarian suara-khas-Papua memuat informasi mengenai sosok Dorkas Waroy, penyanyi wanita yang berasal dari Papua bukan suaranya yang khas Papua–dan suara cantiknya.

Lantas kenapa Ira Koesno dan Imam Priyono menyambut Dorkas Waroy dengan embel-embel suara-khas-Papua? Bukan dengan penyanyi yang berasal dari Papua?

Saya jadi mengira-ngira, agaknya penyambutan yang dilakukan oleh kedua MC tersebut bukan dilandasi atas soalan teknik vokal tapi karena adanya tendensi stereotipikal yang memang ada di benak kita, masyarakat Indonesia–secara tidak sadar.

Dan ironisnya hal tersebut ada di Debat Capres yang membahas soal Hak Asasi Manusia.

StereotipKita agaknya masih terjebak dalam stereotipikal etnik—yang kendati tidak kita sadari–

Mahasiswa Program Studi Sejarah Unpad. Tertarik dengan sastra dan kucing. Tidak suka pemotor dengan knalpot yang berisik.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…