Rabu, Desember 2, 2020

Perjanjian Kuno yang Bisa Menyatukan Jokowi dan Probowo

Pemberantasan Korupsi dan RUU Masyarakat Adat

Negeri ini paling kaya di dunia, tapi sekarang menjadi melarat karena para koruptor tidak ditindas dengan tegas ~ Gus Dur. Pernyataan Presiden RI periode 1999-2001...

Pilkada 2018: Daulat Rakyat Mencari Pemimpin Baik (I)

Tulisan ini adalah tulisan pertama dari dua tulisan tentang perhelatan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2018 yang sudah di depan mata. Segala upaya persiapan dimatangkan...

Membersihkan Radikalisme dari Kampus

Kampus telah menjadi lahan subur bagi perkembangan gerakan radikalisme. Fenomena ini sebenarnya sudah berlangsung lama. Setidaknya sejak dekade 1990an ketika pertama kali gerakan ini...

Maaf untuk Mahfud MD

Belum lama ini, Prof. Mahfud MD menjadi sasaran bully yang dilakukan oleh masyarakat dari berbagai tingkatan. Hal tersebut terjadi setelah beliau melontarkan kalimat provinsi...
AmryAl
Masyarakat Sipil I Penggiat Seni

Semenjak diumumkannya kembali Joko Widodo dan Probowo Subianto kandidat calon presiden 2019, mungkin banyak orang yang mulai malas mengikuti pemilu tahun ini. Karena terkesan seperti mengulang kembali perseteruan keduanya di pemilu 2014.

Perseteruan keduanya sudah tak terelak lagi atau bahkan sudah bisa ditebak jauh sebelum tahun 2019. Banyak media yang sudah menduga keduanya akan bertarung kembali di pemilu kali ini. Mungkin yang membedakanya hanya calon wakil presiden yang memang sama-sama nama baru. Jokowi memilih Ma’ruf Amin sedangkan Prabowo memilih Sandiaga Uno.

Peseteruan antara Jokowi dan Prabowo seakan tak pernah usai, bahkan setelah Pemilu 2019 selesai. Setelah KPU telah menyatakan Jokowi menang dengan persentase 55% sedang prabowo hanya mendapatkan 44% suara.

Hasil dari kekalahan pun dibawa Badan Pemenang Nasional (BPN) Prabowo-Sandi ke Mahkamah Konstitusi karena dinilai banyak kecurangan yang tersistematis dalam penyelenggaraan Pemilu.

Pada akhirnya kita sama-sama tahu bahwa Mahkamah Konstitusi menolak semua gugatan sengketa Pemilu 2019 yang dilayangkan BPN.

Rekonsiliasi Jokowi dan Probowo gagal?

Mungkin salah satu alternatifnya adalah dengan membawa keduanya berkunjung ke Saparua, Maluku Tengah. Jokowi dan Probowo bisa kembali mengingat sejarah perjanjian kuno, Palas Pena.

Palas Pena adalah sumpah mengangkat persaudaraan dengan cara saling menusuk jari hingga keluar darah. Kemudian darah masing-masing pihak yang bersepakat dicampur disebuah cawan berisikan air, lalu diminum.

Dalam sejarahnya pada tahun 1817 di Gunung Saniri Ketika itu, dua kapitang (panglima) dua negeri yakni Thomas Matulessi (berasal dari Haria) dan Said Perintah (berasal dari Tori-tori Islam) menjalin persaudaraan.

Perdamaian itu tercipta setelah Said Perintah mengobati kaki Thomas Matulessi yang terluka. Thomas Matulessi kini lebih kita kenal sebagai Kapiten Pattimura.

Usai sumpah darah tersebut, hubungan kedua negeri menjadi semakin erat. Sejak perjanjian itu, segenting apapun kondisi yang ada. Kedua negeri tak pernah saling serang. Bahkan dituntut saling melindungi antara satu sama lainya.

Saya sangat yakin tokoh sekelas Jokowi dan Prabowo sangat bisa mengambil makna dan pesan dari sejarah diatas. Terlebih keduanya kerap mengaku paling negerawan atau paling NKRI.

Dengan mengikuti penjanjian Kuno, Palas Pena. Jokowi dan Prabawo bisa menjalin sebuah ikatan persaudaraan yang kuat seperti Said Perintah dan Thomas Matulessi. Mereka tak usah lagi saling berseteruh atau saling menilai siapa pemimpin terbaik.

Karena setelah perjanjian itu mereka sejatinya harus saling melindungi atau saling mendukung satu sama lain. Ini menjadi sebuah harapan besar untuk Jokowi dan Prabowo bisa bersama-sama membangun dan menyatukan Indonesia kembali.

AmryAl
Masyarakat Sipil I Penggiat Seni
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Mengapa RUU Minol Harus Disahkan

Pada zaman yang serba modern seperti sekarang ini apa saja dapat dilakukan dan didapatkan dengan mudah karena teknologi sudah semakin canggih. Dahulu untuk mendapatkan...

Pay It Forward Merespon Dampak Pandemi Covid-19

Sinopsis Film Pay It Forward Pay It Forward merupakan sebuah film asal Amerika Serikat yang sarat pesan moral. Film ini dirilis pada tahun 2000, yang...

Senyum Ekonomi di Tengah Pandemi

Pandemi tak selamanya menyuguhkan berita sedih. Setidaknya, itulah yang disampaikan Menteri Keuangan Sri Mulyani. Berita apa itu? Sri Mulyani, menyatakan, kondisi ekonomi Indonesia tidak terlalu...

Dubes Wahid dan Jejak Praktek Oksidentalisme Diplomat Indonesia

Pada 5 Oktober 2000 di Canberra dalam forum Australian Political Science Association, pakar teori HI terkemuka Inggris, Prof. Steve Smith berpidato dengan judul, “The...

Gejala ‌Depresi‌ ‌Selama‌ ‌Pandemi‌ ‌Hingga‌ ‌Risiko‌ Bunuh Diri

Kesehatan mental seringkali diabaikan dan tidak menjadi prioritas utama seseorang dalam memperhatikan hal yang di rasakannya. sementara, pada kenyataannya kesehatan mental sangat mempengaruhi banyak...

ARTIKEL TERPOPULER

Luasnya Kekuasaan Eksekutif Menurut Undang-Undang

Proses demokrasi di Indonesia telah memasuki tahap perkembangan yang sangat penting. Perkembangan itu ditandai dengan berbagai perubahan dan pembentukan institusi atau lembaga baru dalam...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.