Sabtu, Februari 27, 2021

Perjalanan Industri Otomotif Iran

Sastra sebagai prasyarat memahami Al-Qur'an

Memahami al-Qur’an di samping tidak lepas dari kaidah kebahasaan juga tidak tepas dari konteks kemasyarakatan. Kaidah kebahasaan tentu terkait dengan kesusastraan dan para pengkaji...

Penyembah Presiden Itu Kanker dalam Demokrasi

Bisingnya Pemilu 2019 sungguh-sungguh memekakan gendang telingaku. Masing-masing pihak berlaku bak para bigot yang cap itu kerap mereka tempelkan ke para radikalis agama. Mereka membabi-buta...

Pandemi, Ramalan Engels, dan Evolusi Kapitalisme

Extreme problems require extreme measures. Dikarenakan belum ditemukannya obat untuk menghentikan penetrasi Pandemi Covid-19 hingga tulisan ini dibuat (23 April 2020), masyarakat dan pemerintah...

Starbucks dan Ketakutan-Ketakutan Kita

Jika untuk mendapatkan Iphone X kita harus puasa enam bulan ngopi di Starbucks, maka ungkapan Tim Cook, COE Apple ini, sama sekali tidak berlaku...
Diautoriq Husain
Penulis isu-isu internasional

Tidak banyak yang mengetahui perkembangan industri otomotif di Iran. Dulu, produksi otomotif “negeri para Mullah” -sebutan Iran- ini pernah menguasai pasar otomotif Timur Tengah. Sebelum sanksi embargo Barat mengubahnya. Bahkan, Iran sempat hilang dari daftar produsen otomotif di pasar Asia.

Kini, industri otomotif Iran mampu bangkit di tengah sanksi embargo yang menimpanya. Selain mampu memenuhi kebutuhan otomotif dalam negerinya. Pangsa pasar otomotif Iran sudah meluas ke Venezuela, Kuba, dan beberapa negara di Asia dan Afrika. Namun, kemampuan industri otomotif Iran belum mampu sejajar dengan negara-negara produsen otomotif utama seperti Inggris, Amerika Serikat, China, dan India. Lantas, bagaimana perjalanan industri otomotif Iran?

Berbicara industri otomotif Iran menarik bila melihatnya dari sisi sejarahnya. Bermula pada awal abad 20-an, Ford, menjadi perusahaan mobil pertama yang masuk ke Iran. Pada saat itu, mobil disebut “kereta kuda rokok” karena kepulan asap knalpotnya sangat tebal bak rokok. Barulah memasuki tahun 1920, mobil buatan Inggris dan Amerika Serikat berlomba-lomba membanjiri pasar otomotif Iran. Peningkatan keran impor tersebut sejalan dengan naiknya tingkat urbanisasi disana.

Sekitar awal dekade 60-an, pemerintah dibawah rezim Shah menggalakkan sektor swasta untuk menggandeng perusahaan-perusahaan asing membangun industri perakitan mobil di Iran.

Dari situlah bermunculan perusahaan-perusahaan otomotif di bawah lisensi Jerman, Inggris, Italia, dan Jepang, diantaranya Iran Khodro (Pabrik Industri Nasional Iran), Saipa Zamiad, Pars Khodro, perusahaan industri Iran Kaveh, Leyland Motors (Shahab Khodro), Morattab Khodro, Grup Industri Timur, dan Grup Otomotif Bahman (Pabrik Otomotif Mazda). Semua pabrik tersebut memproduksi kendaraan dengan jenis beragam, seperti mobil penumpang, minibus, truk, sepeda motor, bus, dan pick up.

Pasca Revolusi Iran, dikenakannya sanksi embargo, industri otomotif Iran mengalami perubahan yang drastis. Sempat terseok-seok di awal. Akhirnya, industri otomotif berkembang dari fase perakitan bergeser ke fase desain dan produksi. Hal ini tak lepas dari peran pemerintah yang melakukan nasionalisasi perusahaan mobil di Iran. Tak mulus begitu saja, stagnasi industri otomotif sempat terjadi karena agresi Irak dibawah rezim Saddam terhadap Iran.

Pasca agresi Irak usai, Iran menetapkan kebijakan baru kemandirian industri otomotif dengan tidak melakukan impor. Prioritas kebijakan ini fokus terhadap kualitas, penghematan bahan bakar, pengurangan emisi, dan penetapan harga yang wajar. Oleh sebab itu, di tengah ketatnya persaingan internasional, mereka justru mampu memperluas pangsa pasar dengan mengekspor ke negara-negara lain.

Dilansir dari Xinhua, salah satu perusahaan mobil Iran, Khodro, mampu mengekspor 40 ribu unit mobil dan turut berkontribusi dalam ekspor otomotif Iran ke 30 negara bagian selama tahun 2011. Selain peningkatan produktivitas, Iran lewat perusahaan ini juga telah memproduksi mesin mobil berbasis gas secara massal.

Tahun 2011, peluncuran Dena, mobil pabrikan Iran yang diproduksi oleh Khodro, menjadi pembuktian kemajuan industri otomotif. Ditargetkan oleh CEO Khodro, Javad Najmeddin, akan meningkatkan produksi menjadi 730 ribu unit kendaraan per tahun pada akhir tahun 2011. Bahkan, pada tahun 2016, volume ekspor akan ditingkatkan lebih dari 600 ribu mobil.

Selain Dena, para peneliti Iran juga telah menciptakan mobil listrik, Quadro, yang didesain dan dikembangkan dari komponen dan sistem-sistem utama motor listrik. Nama komersil Quadro sendiri adalah Yooz. Mobil ini memiliki berat 400 kilogram dengan masa pengisian daya sekitar 3 jam dengan jarak tempuh sejauh 200 km kecepatan 80 km/jam.

Diautoriq Husain
Penulis isu-isu internasional
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Antara Kecerdasan Buatan, Politik, dan Teknokrasi

Di masa lalu, politik dan teologi memiliki keterkaitan erat. Para pemimpin politik sering mengklaim bahwa politik juga merupakan bentuk lain dari ketaatan kepada Tuhan;...

Perempuan dalam Isi Kepala Mo Yan

Tubuh perempuan adalah pemanis bagi dunia fiksi. Kadang diperlakukan bermoral, kadang sebaliknya, tanpa moral. Naluri bebas dari perempuan yang manusiawi, memendam dengki dan membunuh...

Kenapa Saya Mengkritik Mas Anies?

Dua hari yang lalu saya mengkritik Gubernur DKI Jakarta Mas Anies Baswedan melalui unggahan akun Instagram. Soalnya Mas Anies melempar kesalahan pada curah hujan dan...

Berpegangan Tangan dengan Leluhur

Oleh: Arlita Dea Indrianty, SMAN 36 Jakarta Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Bicara tentang Indonesia tidak akan membawa seseorang pada titik...

Penguatan Kultur Demokrasi di Indonesia

Sebagian persoalan dalam praktik demokrasi di Indonesia muncul dari kalangan elite yang membajak sistem. Masyarakat sebagai pemilik sah kedaulatan tertinggi dalam demokrasi hanya dijadikan...

ARTIKEL TERPOPULER

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Perempuan dalam Isi Kepala Mo Yan

Tubuh perempuan adalah pemanis bagi dunia fiksi. Kadang diperlakukan bermoral, kadang sebaliknya, tanpa moral. Naluri bebas dari perempuan yang manusiawi, memendam dengki dan membunuh...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Kenapa Saya Mengkritik Mas Anies?

Dua hari yang lalu saya mengkritik Gubernur DKI Jakarta Mas Anies Baswedan melalui unggahan akun Instagram. Soalnya Mas Anies melempar kesalahan pada curah hujan dan...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.