Minggu, Februari 28, 2021

Pergeseran Bentuk Terorisme Kontemporer

Mendorong Sinergitas SNI-TKDN

Badan Standardisasi Nasional (BSN) menyelenggarakan SNI Award. Tahun 2018, pada tanggal 21 November 2018. SNI Award ini adalah penyelenggaraan yang ke ke-14, dan diberikan...

Estetika Islam

Jika ini boleh disebut konsep, maka belum ada konsep yang baku dalam estetika Islam. Estetika Islam seringkali lebih menunjukkan kontinuitas terhadap ekspresi agama ketimbang...

Tudingan Makar dan Kampanye Terselebung

Tidak kurang dari dua orang aktivis gerakan #2019GantiPresiden telah mengalami penghadangan dan penolakan di beberapa daerah oleh masyarakat setempat ketika akan mendeklarasikan gerakan #2019GantiPresiden. Pertama,kasus...

Papua dan Krisis Nilai-Nilai Keberagaman Bangsa

Menanggapi peristiwa Dinoyo 1 Juli 2018 lalu, mahasiswa Papua yang diusir dan mengakibatkan bentrok antara warga Dinoyo, Malang dengan mahasiswa Papua, banyak media memberikan...
Agung Tri Putra
Menteri Koordinator Bidang Inovasi & Prestasi BEM UNAIR | Undergraduate Student of International Relations, Airlangga University, Surabaya, Indonesia

Berkembangnya dunia dalam globalisasi menjadikan kehidupan manusia seperti tanpa sekat satu sama lain. Globalisasi telah menjadi motor hilangnya batas antar negara, antar wilayah, antar budaya dan antar ideologi pemikiran. Termasuk dalam perjalanan tumbuh kembang aksi teror yang terjadi di dunia ini.

Tonggak awal perkembangan dari terorisme konvensional ke kontemporer adalah terjadinya serangan 9/11, karena peristiwa ini dapat mengubah paradigma pertahanan dan keamanan menjadi sebuah bentuk baru, begitu pula aksi terornya.

Secara umum terorisme kontemporer selanjutnya dibagi oleh Kurth Cronin dan James M. Ludes dalam karyanya “Attacking Terrorism: Elements of a Grand Strategy” (2004) memiliki empat ciri utama yaitu didorong oleh adanya tujuan politik, aktor yang terlibat bukanlah state (negara), penyerangan terhadap orang yang tidak bersalah dan terakhir tindakan teror berjalan menggunakan metode element of surprise.

Nilai-nilai tersebut tetap sama dimiliki oleh baik terorisme kontemporer maupun yang konvensional. Namun kemudian terdapat dua pergeseran utama tindakan teror yang terjadi, dikaji melalui dua bentuk, pola pendanaan dan faktor utama pendorong terjadinya aksi teror tersebut.

Akan tetapi pada saat ini penulis hanya akan membahas mengenai pergeseran bentuk aksi teror. Jika dilihat melalui bentuk baru, terorisme kontemporer ini mengarahkan kepada munculnya TSS, Jihadi Protostates dan Lone Wolf Attack of Terrorism.

Terrorist Semi-States (TSS) 

Untuk membahas varian perubahan pertama, penulis ingin pembaca untuk membayangkan bagaimana identitas Taliban, Houthi dan Al-Shabab dapat dikategorikan sebagai teroris. Ketiganya merupakan sebuah bentuk baru terorisme yang ada di dunia.

Dalam sebuah tulisan berjudul “A Fifth Wave of Modern Terrorism? The Emergence of Terrorist Semi-States” karya Honig dan Ido Yahel (2017), mereka mengatakan bahwa teroris jenis ini telah memiliki kontrol terhadap sebagian wilayah yang dimiliki negara, namun tetap berbeda dari kelompok insurgensi.

Kemudian meskipun telah memiliki kekuasaan terhadap sebuah wilayah tertentu, kelompok teroris ini tetap melakukan penyerangan terhadap negara, sehingga tidak dapat dikategorikan sebagai sebuah negara yang berdaulat. Contoh lainnya dari kelompok teror jenis ini adalah Jabhat Al-Nusra dan Hizbolla. Mereka melakukan kegiatan pemerintahan atas wilayah yang didudukinya tetapi tetap melakukan penyerangan terhadap warganya dan negara-negara lain.

Jihadi Proto-States (Contoh: ISIS)

Bentuk kedua adalah Jihadi Proto-States, dalam bentuk ini ISIS merupakan salah satu contoh paling kongkret. Meskipun memiliki wilayah kekuasaan dan memerintah, memungut pajak dan lain sebagainya, ISIS menggunakan pendekatan yang didasari oleh ideologi, meskipun dalam TSS juga didasari ideologi, dalam ISIS jauh lebih besar pengaruhnya.

Landasan yang digunakan adalah untuk mengubah tatanan dunia dalam sebuah kekhalifahan besar Islam, melakukan penyucian otak terhadap masyarakat yang ada agar ingin bergabung dengannya. Sehingga sangatlah berbahaya, karena anggotanya tidak lagi berasal dari sebuah daerah atau negara di Timur-Tengah, tetapi juga dari seluruh belahan dunia lainnya.

Serangan terorisme di Surabaya disinyalir adalah perbuatan yang dilakukan oleh ISIS, mereka mengklaim bahwa serangan tersebut adalah ulah mereka. Jaringan teror dalam Jihadi Proto-States diikat melalui pemikiran atau ideologi, sehingga tidak terbatas ruang dan waktu, perekrutan dapat dimana saja, bahkan pelaku bom di Surabaya tersebut tidak pernah mengunjungi Suriah sama sekali, namun telah terbai’at secara ideologis.

Ideologi sangatlah berbahaya jika dimainkan dalam pola pikir manusia, hari ini kita telah membuktikan bahwa ideologi dalam Jihadi Proto-States telah mengaburkan tali kasih sayang, kekeluargaan dan simbol-simbol kebersamaan.

Satu keluarga meledakkan diri di tiga tempat berbeda, seorang ayah, ibu dan empat orang anak yang masih belia terjerembab masuk ke dalam lingkaran ideologis teroris Jihadi Proto-States. Padahal keluarga merupakan benteng utama dan paling berguna dalam menangkal pemikiran radikal tersebut, kasih sayang dan kedekatan emosional antar anggota keluarga seharusnya sangat mumpuni untuk memberikan dampak positif.

Akhirnya terbalik sudah, bergeser sama sekali nilai-nilai kekeluargaan tersebut termakan oleh ideologi. Perekrutan yang biasanya terjadi secara perorangan tanpa mengenal struktur nantinya akan bergeser menjadi lebih kompleks.

Bukan lagi anak muda yang ingin belajar segalanya, dihancurkan melalui satu pemahaman pokok tanpa diberikan perspektif lain untuk membentengi diri, saat ini cukup secara perlahan, berdurasi tahunan, menunggu hingga berkeluarga, lantas ideologi tersebut disebarkan ke dalam lingkup tersempit kehidupan sosial, yaitu keluarga.

Lone Wolf Attack of Terrorism

Sekaligus fenomena ledakan bom di Surabaya menggeser pola serangan bom yang berbentuk lone wolf attack menjadi penyerangan kolektif kelompok kecil tapi dalam koridor lone wolf attack. Pada beberapa literasi disebutkan bahwa penyerangan paling susah untuk dicegah dan diantisipasi adalah penyerangan teror oleh perseorangan yang tidak jelas jaringan dan motifnya.

Penyerangan yang dilakukan secara perorangan ini sangat sulit untuk dideteksi, karena jaringan yang ada tidak dapat menjelaskan bagaimana orang tersebut dapat melakukan tindakan yang demikian. Biasanya teror jenis ini, peneror mempelajari sebuah ideologi melalui sebuah perantara media, tanpa berhubungan langsung dengan jaringan teroris. Penulis mengatakan terjadi pergeseran didalam tren teror bom karena yang biasanya dilakukan secara perorangan, saat ini sudah menjadi kolektif, dalam satu keluarga.

Agung Tri Putra
Menteri Koordinator Bidang Inovasi & Prestasi BEM UNAIR | Undergraduate Student of International Relations, Airlangga University, Surabaya, Indonesia
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Generasi Muda di Antara Agama dan Budaya

Oleh: Bernadien Pramudita Tantya K, SMA Santa Ursula Jakarta Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Indonesia adalah negara yang kaya akan bahasa, budaya,...

Antara Kecerdasan Buatan, Politik, dan Teknokrasi

Di masa lalu, politik dan teologi memiliki keterkaitan erat. Para pemimpin politik sering mengklaim bahwa politik juga merupakan bentuk lain dari ketaatan kepada Tuhan;...

Perempuan dalam Isi Kepala Mo Yan

Tubuh perempuan adalah pemanis bagi dunia fiksi. Kadang diperlakukan bermoral, kadang sebaliknya, tanpa moral. Naluri bebas dari perempuan yang manusiawi, memendam dengki dan membunuh...

Kenapa Saya Mengkritik Mas Anies?

Dua hari yang lalu saya mengkritik Gubernur DKI Jakarta Mas Anies Baswedan melalui unggahan akun Instagram. Soalnya Mas Anies melempar kesalahan pada curah hujan dan...

Berpegangan Tangan dengan Leluhur

Oleh: Arlita Dea Indrianty, SMAN 36 Jakarta Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Bicara tentang Indonesia tidak akan membawa seseorang pada titik...

ARTIKEL TERPOPULER

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Perempuan dalam Isi Kepala Mo Yan

Tubuh perempuan adalah pemanis bagi dunia fiksi. Kadang diperlakukan bermoral, kadang sebaliknya, tanpa moral. Naluri bebas dari perempuan yang manusiawi, memendam dengki dan membunuh...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Kenapa Saya Mengkritik Mas Anies?

Dua hari yang lalu saya mengkritik Gubernur DKI Jakarta Mas Anies Baswedan melalui unggahan akun Instagram. Soalnya Mas Anies melempar kesalahan pada curah hujan dan...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.