in

Bunga Terakhir Penutup 1/4 Abad Usiaku


Hujan rintik membasahi halaman rumah. Tetes demi tetes, tak terasa jatuh begitu saja. Hawa dingin kemudian bertebaran. Menambah nyaman suasana desa waktu itu. Aku hanya duduk di kursi saja. Menatap penuh kekaguman atas setiap kejatuhan air yang berasal dari langit itu. 

Aku terdiam, mendengar bisik lembut hujan sore itu. Ia seolah berbisik lirih kepadaku, lalu terdengar samar-samar. Aku mencoba mendengarkan sekali lagi. Tapi rasanya aku tak bisa memahami. Aku ulang lagi, tapi selalu saja aku gagal. Sebentar, hujan memang tak perlu dipahami. Ia hanya perlu dirasakan. Sebagaimana seribu kenangan tiba-tiba datang, menyergap, lalu menyelimuti, segenap perasaan.

Tiba-tiba, kenangan tempo itu nyata sekali terlihat kembali. Aku tak berkutik, pasrah, dan mengikuti dorongan batin untuk mengingat-ingat kembali. 

“Aku mencintaimu,”

“Apa maksudmu?”

“Apa kau benar-benar tak paham?”

Perempuan itu kemudian diam. Menatap jauh ke depan, dan rasanya ia tak berkedip satu kali saja. Entah ia kaget, atau apa. Tapi nyata sekali kalau ia tak pernah mendengar kalimat seperti itu tadi. Dan sore itu, kulitnya yang putih, dibungkus dengan jilbab berwarna ungu dan kemeja berwarna putih, sungguh menambah manis dara pujaan dewata itu.

“Aku mencintaimu,” kalimat itu terulang kembali diucapkan.


Perempuan itu mencoba untuk membalas, namun usahanya selalu saja gagal. Laki-laki yang di depannya itu, sudah empat tahun tak ia temui. Jangankan bertemu, berkirim kabar pun rasanya tak pernah. Terakhir, mereka terpisah dalam perdebatan sengit yang tak ada ujungnya. 

Baca Juga :   Lebaran Berlalu, Si Miskin tetap Pilu?

“Bolehkah aku bertanya padamu tentang beberapa hal?” perempuan itu berkata.

“Silahkan,”

“Bagaimana dengan studimu?”

“Aku telah berhasil meraih gelar master dari Sorbonne University,”

“Bukankah itu kampus terbaik?”

“Sepertinya. Barangkali itu yang akan menguatkanku untuk menemui keluargamu,”

“Kamu berani?”

Untuk pertanyaan terakhir itu, tak ada jawaban terdengar. Laki-laki itu kembali berusaha untuk menguasai diri sepenuhnya. Rencananya, jika ia mendapat sambutan yang baik oleh perempuan itu, seminggu kemudian ia menemui orang tuanya. 

“Bolehkah aku bertanya padamu?” kata perempuan itu.

“Silahkan,” 

“Apakah kau tahu, lebih dulu aku atau Ibuku yang bakal meninggal nanti?”

“Aku tak tahu.”

“Apakah kau tahu, di akhirat nanti, timbangan amalku lebih berat, ataukah dosaku lebih berat?”

“Aku tak tahu.”

“Apakah seorang yang setiap hari dihantui pertanyaan seperti itu, masih sempat memikirkan untuk berpacaran walau sebentar saja?”

Laki-laki itu diam. Kali ini ia harus ditunduk, dibawah kebesaran perempuan berjilbab itu.

“Bolehkah aku bertanya lagi padamu?”

“Tentang apa?”

“Persoalan sederhana, aku yakin aku bisa menjawab.”

“Silahkan,”

“Tuhan telah memberi akal berapa pada laki=laki dan perempuan?”

“Tuhan memberi sembilan akal pada laki-laki, dan satu untuk perempuan.”

“Tuhan telah memberi nafsu berapa pada laki-laki dan perempuan?”

“Tuhan memberi satu nafsu pada laki-laki, dan sembilan nafsu untuk perempuan,”

“Nah, kalau aku saja yang diberi sembilan nafsu bisa menahan walau dengan satu akal. Kenapa kamu yang diberi sembilan akal tidak bisa menahan satu nafsu saja?”

Baca Juga :   Filem Pengkhianatan G 30 S/PKI, Apa yang Salah?

Suasana hening kemudian. Rasanya gelar berderet-deret, ijasah lulusan Eropa, tak ada nilainya dihadapan perempuan bertubuh langsing dan tinggi itu. 

Sejak peristiwa itu, aku yakin, ia pantas dan layak diperjuangkan. Tapi tidak dengan cara yang begitu-begitu saja. Aku akan kembali, tidak dengan gelar, dan harta. Aku akan kembali dengan hati pasrah keharibaaNnya. Dan kalau memang kembaliku adalah kemustahilan, maka pantaskah kalau ibarat bunga, kau kuberi nama Bunga Terakhir Penutup Seperempat Abad Usiaku? 

 


Written by Galang Harianto

Aktivis Yayasan Rumah Peneleh, Aktivis HMI, dan Pengurus HIPMI

Tinggalkan Balasan

Loading…

TINGGALKAN KOMENTAR