Rabu, Oktober 28, 2020

Perempuan, Imaji Patriaki, dan Pemelihara Wangsa

Guru “Baik” Vs Guru “Bermasalah” Versi Siswa

Judul tulisan di atas merupakan hasil dari permenungan serta pengalaman nyata secara pribadi. Pengalaman itu saya alami ketika masih mengenyam Pendidikan Menengah Atas. Kala...

Pandemi, Ramalan Engels, dan Evolusi Kapitalisme

Extreme problems require extreme measures. Dikarenakan belum ditemukannya obat untuk menghentikan penetrasi Pandemi Covid-19 hingga tulisan ini dibuat (23 April 2020), masyarakat dan pemerintah...

Cantik Fisik Perempuan Milenial

Sebagian besar pria masih belum bisa lepas dari frame tradisional yang menggariskan bahwa kecantikan hakiki yang harus dimiliki seorang perempuan adalah cantik fisik. Hal...

Pendidikan Tinggi dan Model Pembelajaran Baru Pasca Pandemi

Sudah dua bulan terakhir ini, halaman depan kampus tampak sepi dari lalu lalang mahasiswanya. Bangku-bangku kelas kosong tanpa penghuni dan ruang kuliah tidak diisi...
Dina arifana
Kru LPM IDEA Semarang dan Mahasiswa Studi Agama-Agama UIN Walisongo Semarang

Sejarah umat manusia sebenarnya menempatkan perempuan pada posisi yang strategis dan  penting. Tetapi realitas yang terjadi, kerapkali perempuan hanya dijadikan sebagai objek dan dianggap tidak memiliki kontribusi atas peradaban.

Dalam salah satu sejarah diceritakan, sebelum Islam datang, sebut saja masa “Jahiliyah”. Perempuan tidak mempunyai harga sama sekali. Ketika terdapat bayi perempuan baru lahir, kaum laki-laki tidak segan-segan mengubur hidup-hidup bayi tersebut, dengan dalih karena anak perempuan tidak bisa diajak perang. Bahkan diceritakan pula, perempuan dapat menjadi warisan.

Dalam buku Psikologi Perempuan dalam Berbagai Perspektif menjelaskan (Eti Nurhayati: 2012), Sosok seperti Zoroaster, Budha, Socrates, Konfusius, Yeremia, mistikus Upanishad, serta Mensius dan Euripedes, menjadi teladan pada zamannya. Ajaran dan pemikiran mereka terbentuk, karena sisi keperempuanan dengan mewartakan bela rasa yang diajarkan oleh ibunya. Sama halnya dengan Isa, Musa dan Muhammad yang menjadikan perempuan sebagai tulung punggung negara. Bagi mereka, dalam suatu negara, apabila perempuannya baik. Maka, negara tersebut akan maju dan sejahtera.

Perbincangan mengenai perempuan memang tidak pernah usai. Di setiap channel televisi, media sosial, bahkan dalam kursi pemerintahan sekalipun. Tidak hanya itu, di Indonesia sendiri, pemberitaan mengenai perempuan juga tidak pernah surut. Berbagai peristiwa dan fenomena sering terjadi pada perempuan, meskipun sebenarnya tidak menutup kemungkinan hal tesebut juga bisa terjadi pada kaum laki-laki. Misalnya, kekerasan dalam  rumah tangga (KDRT), kekerasan seksual, hingga perempuan yang dijadikan sebagai komoditas dalam perdagangan manusia.

Imaji Patriarki

Bayang-bayang patriarki kiranya masih menghantui sebagian perempuan di Indoensia. Meskipun peradaban telah berjalan cepat dan telah meninggalkan jauh masa “Jahiliyah”, bahkan era-era sebelum Revolusi Prancis. Tetapi, kemajuan peradaban tidak bisa menyapulenyapkan patriarki begitu saja, justru malah menciptakan dampak baru di masyarakat.

Jika mengingat istilah dalam budaya Jawa misalnya, perempuan dianggap sebagai “Konco Wingking”, dan peran perempuan hanya diposisisikan dalam ranah domestik (masak, macak, manak). Tentu ini menunjukkan peran  perempuan yang dianggap rendah dan betapa minimnya peran perempuan terhadap keberlangsungan peradaban. Karena, hingga kini kita masih menjumpai di beberapa lingkungan, yang masih berpikir bahwa perempuan tidak perlu untuk mengenyam pendidikan terlalu jauh, karena akan kembali berkutat di ranah domestik.

Adanya patriarki ini juga menyebabkan laki-laki terkungkung pada jiwa superioritasnya. Laki-laki akan terus berpikir bahwa mereka yang paling kuat, perempuan yang paling lemah atau konstruksi-konstruksi pemikiran lain, yang terus menjadikan dirinya merasa mempunyai posisi di atas perempuan. Demikian pula sebaliknya, adanya pemikiran perempuan yang merasa lemah dan laki-laki yang superior akan menjadikan dirinya semakin sulit.

Imaji ini kiranya akan terus melekat di dalam otak dan lingkungan sekitar kita, bahkan menjadi ketakutan-ketakutan yang akhirnya tidak bisa dilawan. Sebab itu, memang perlu melakukan perlawanan terhadap budaya patriarki ini, agar terus menerus tidak melekat dan menimbulkan kesenjangan baru bahkan menimbulkan ketakutan. Tetapi perlawanan ini kiranya juga jangan sampai menimbulkan dampak baru lagi.

Seperti yang terjadi masa-masa sekarang, salah-kaprah dalam mendefinisikan kesetaraan. Pemaknaan terhadap kesetaraan hanya sampai pada tataran normatif dan tidak mendalam. Akibatnya, kita melihat fenomena, perempuan-perempuan yang pada akhirnya merasa lebih superior dibanding laki-laki, sehingga nilai-nilai kesetaraan justru tidak didapatkan.

Memaknai Pemelihara Wangsa

Peter Carey, pernah menyitir salah sau peribahasa dalam bukunya yang berjudul perempuan-perempuan perkasa. Bahwa, tangan yang menggoyang ayunan menggerakkan dunia. Betapa, makna peribahasa tersebut cukup dalam. Di mana, perempuan (red: yang sudah menjadi ibu) dan mengasuh anaknya, menjadi bagian penting, yang ikut menciptakan perubahan dunia. Karena di era-era dulu, seorang ibu yang memang lebih banyak mengasuh anak. Artinya, hal tersebut bukan menunjukkan bahwa kodrat perempuan memanglah mengurus anak, tetapi menjadi pertanda bahwa, posisi perempuan sejak dari dulu penting.

Bahkan, dalam sejarah Jawa era pra kolonial, terdapat tokoh perempuan yang justru menjadi pengabsah wangsa, yaitu Ken Dedes dan Dewi Mundingsari. Kekuatan mereka dianggap mampu mengabsahkan kekuasaan suaminya sebagai seorang raja. Sehingga, trah kerajaan bisa terus diwariskan kepada generasi penerusnya.

Selain itu, Peter Carey juga menjelaskan bahwa dahulu, fungsi utama putri raja dan bangsawam keraton adalah sebagai pemelihara pertalian wangsa (dinasti), serta sebagai wadah untuk berprokeasi. Bahkan, dahulu antar kerajaan kerapkali melakukan perjodohan untuk meluaskan wilayah kekuasaan atau memang digunakan untuk menjaga keturunan kerajaan.

Perempauan sebagai pemelihara wangsa (dinasti) tidak bisa dimaknai secara normatif, misalnya hanya demi menjaga trah kerajaan semata. Tetapi, lebih dalam lagi, perempuan sebagai pemelihara wangsa ialah bahwa perempuan mempunyai peran penting, karena ia yang akan melahirkan generasi penerus bangsa.

Di sini, kecerdasan dan keterampilan perempuan dalam mendidik anak menjadi poin utamanya, dan tentu kecerdasan ini dibangun melalui pendidikan bagi perempuan. Karena ketika seorang perempuan membiasakan mendidik anak sejak kecil, misalnya dengan membiasakan untuk melakukan tindakan-tindakan yang memiliki value kesetaraan dan keadilan (anti-patriarki).

Sehingga, kebiasaan tersebut akan berdampak pula pada anak ketika dewasa nanti. Maka dari itu, tidak mustahil bukan, jika budaya patriarki bisa hilang seiring berkembangnya zaman, melalui campur tangan perempuan dalam mendidik anak?

Dina arifana
Kru LPM IDEA Semarang dan Mahasiswa Studi Agama-Agama UIN Walisongo Semarang
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

KDRT Saat Pandemi

Severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) atau yang lebih dikenal dengan nama COVID-19 adalah jenis baru dari coronavirus yang menular ke manusia. Virus ini...

Politik dan Monopoli Media Sosial

Saat ini, kita hidup di era cyberspace (dunia maya). Era yang pertama kali diperkenalkan oleh William Gibson dalam buku Neuromancer itu, dimaknai sebagai suatu...

Candu Media Sosial, Kajian Filosofis dan Psikologis

Bermain ria di “alam medsos” terkadang meng-asyikkan. Tapi akhirnya menganggap dunia nyata jadi tak menarik untuk bersosialisasi dan mengemban hidup secara hakiki. Untuk melihat...

Membendung Hegemoni China di Asia Tenggara

Lima hari sudah Menteri Luar Negeri (Menlu) China Wang Yi berkunjung ke empat negara di Asia Tenggara (15-18 Oktober 2020). Dalam kunjungan ke Kamboja,...

Reformasi Kewenangan Legislasi DPD

Dewan Perwakilan Daerah (DPD) sebagai anak kandung reformasi telah berusia 16 tahun. Lembaga negara buah amandemen ketiga UUD 1945 mengalami banyak goncangan. Isu pembubaran...

ARTIKEL TERPOPULER

Pemuda Pancasila Selalu Ada Karena Banyak yang Memeliharanya

Mengapa organisasi ini masih boleh terus memakai nama Pancasila? Inikah tingkah laku yang dicerminkan oleh nama yang diusungnya itu? Itulah pertanyaan saya ketika membaca...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Tamansiswa, Ki Hadjar Dewantara, dan Sistem Pendidikan Kolonial

Setiap 2 Mei kita dihadapkan pada kesibukan rutin memperingati Hari Pendidikan Nasional. 2 Mei itu merupakan tanggal kelahiran tokoh pendidikan nasional, Ki Hadjar Dewantara,...

Cara Mahasiswa Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Teknologi selalu mengalami perubahan-perubahan seakan tidak pernah ada ujungnya. Seperti halnya saat ini teknologi sudah sangat berkembang dengan pesat terutama dalam bidang teknologi informasi...

Mengenal Dua Tokoh Ateisme: Feuerbach dan Marx

Ludwid Feuerbach (1804-1872) dan Karl Marx (1818-1883) menjadi dua tokoh besar ateisme dalam sejarah peradaban manusia. Keduanya digolongkan filsuf materialistis karena bagi mereka pemikiran...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.