OUR NETWORK

Perebutan Ruang Publik dan Posisi Mahasiswa

Survei CSIS yang dirilis pada awal November 2017 lalu menunjukkan bahwa hanya 2,3% dari generasi milenial yang tertarik dengan isu sosial-politik.

Perubahan zaman yang begitu cepat, membuat tidak sedikit sekelompok mahasiswa kelabakan. Hari ini, gerakan mahasiswa berada di tengah-tengah dilema. Pola gerakan lama tak lagi sesuai dengan perubahan zaman,  sedangkan reorientasi gerakan baru hingga kini masih juga belum jelas. Yang terjadi selanjutnya adalah, mahasiswa diam di tengah tuntutan.

Tak sedikit, pihak yang melontarkan kritik pedas pada  mahasiswa sekarang. Dalam artikel Rahman Sugiharti dengan judul Mahasiswa Millenial, yang dimuat Kompas pada (1/09/2018) menganggap sebagian besar mahasiswa kini menjadi bagian dari lessuer class.

Sebuah kelompok yang menampilkan gaya hidup santai, hedonis, apatis, dan lebih banyak memposisikan diri sebagai bagian dari masyarakat komsumer dari pada menjadi bagian dari civil society.

Survei CSIS yang dirilis pada awal November 2017 lalu menunjukkan bahwa hanya 2,3% dari generasi milenial yang tertarik dengan isu sosial-politik. Salah satu isu yang paling tidak diminati oleh generasi milenial. Litbang Kompas juga menunjukkan hanya 11% dari generasi milenial yang mau menjadi anggota partai politik.

kisaran usia milenial sendiri masih menjadi perdebatan. Menurut Majalah Newsweek, milenial adalah generasi yang lahir di kisaran tahun 1977-1994. PEW Research Center menyatakan lahir di atas tahun 1980. Sementara itu, Majalah TIME menilai milenial lahir pada tahun 1980 – 2000.

Begitu banyak gejala atau indikasi dalam tubuh gerakan mahasiswa yang membenarkan tudingan Rahman Sugiharti. Tak perlu terlalu muluk-muluk sampai gerakan civil society, di dalam kampus pun gerakan mahasiswa seolah telah mati.

Di sejumlah kampus negeri di Indonesia, Badaan Eksekutif Mahasiswa (BEM) maupun Senat Mahasiswa (Sema) telah tiarap dan pasrah dengan kebijakan Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang terus membumbung tinggi. Tak lagi terdengar orasi penolakan dan pengawalan yang serius pada problem yang begitu jelas di depan mata mahasiswa.

Di UIN Walisongo sendiri misalnya, Ospek dijadikan momen ‘hura-hura’. Yang ditonjolkan pada beberapa tahun terakhir adalah menciptakan konfigurasi MOB yang spektakuler, hanya demi kata meriah dan membaguskan citra kampus. Pengewalan isu lemah, bahkan di tahun ini sama sekali tidak ada.

Definisi Edward Shills (1910-1995)  yang mengatakan bahwa mahasiswa adalah kelompok minoritas masyarakat yang memiliki kecukupan paradigma pikir, analisis, dan tanggung jawab  terhadap keadaan sosial, telah dilucuti oleh mahasiswa itu sendiri.  Definisi itu kini telah terkubur dengan megah dalam sejarah. Setidaknya dalam konteks mahasiswa Indonesia.

Anak Zaman

Keberhasilan sebuah generasi, adalah ketika terdapat pemuda yang dapat menyesuaikan diri dengan tuntutan. Lalu, bergerak sesuai dengan apa yang dibutuhkan zaman.

Peran yang demikian, pernah dijalankan oleh Muhammad Hatta, ketika ia menjadi salah satu pelopor terbentuknya Indiech Vereninging. Sebuah perkumpulan pemuda Indonesai yang belajar di luar negeri. Mereka aktif meluncurkan propaganda tentang nasionalisme dan wacana kemerdekaan Indonesia, ketika negeri ini masih terjajah.

Sejarah terus berjalan. Pasca kemerdekaan, ketika Soekarno di  masa tuanya dianggap telah mengianati semangat kemerdekaan, mahasiswa bergerak memunculkan gerakan konfrontatif dengan pemerintahan. Sehingga,  Soekarno bersama Orde Lama diruntuhkan pada 1966. Berkibarlah tokoh angkatan 66 yang di  antaranya Soe  Hok Gie, Cosmas Batubara, Sofyan Wanandi, dan Akbar Tanjung.

Terciptanya rezim baru tak membuat mahasiswa berpangku tangan dengan keadaan. Ketika pemerintah dianggap telah dlolim dan menyensarakan rakyat, gerakan mahasiswa pun berkibar kembali dengan serangkaian tragedi yang tercipta di Orde Baru. Di antaranya peristiwa Malari, Cimanggis, Tragedi Trisakti, tragedi Semanggi I, dan sebagainya. Hasilnya adalah Orde Baru tumbang pada 21 Mei 1998 dan menobatkan tonggat gerakan angkatan 98.

Mereka bisa disebut sebagai anak zaman. Terlepas setelah itu, tak sedikit dari generasi mereka, melepaskan idealismenya ketika masih menjadi mahasiswa, itu soal lain.

Reorientasi Gerakan

Tantangan menghadapi rezim otoriter adalah masalah  yang telah  selesai sejak lama. kita dihadiahi sebuah zaman yang lebih cair hari ini; hasil pergolakan sejarah yang alot. Lalu, pada Indonesia yang sekarang, apakah masih dibutuhkan peran mahasiswa?

Pertanyaan ini, pada akhirnya memunculkan pelbagai jawaban. Jika mahasiswa yang dimaksud adalah mereka yang tidak mampu lagi membaca zaman, tentu jawabannya tidak. Hanya membuat macet jalanan tanpa  hasil yang berarti. Hanya pamer eksistensi. Jika mahasiswa  yang dimaksud adalah mereka yag lebih suka menjadi event organizer, jawabannya juga tidak.

Jika mahaiswa ingin tetap mengunakan difinisi yang dikemukakan oleh Erward Shills, maka mereka harus keluar dari zona nyaman; melawan apatisme. Hal pertama yang perlu dilakukan adalah menyelesaikan problem yang ada di  dalam kampus terlebih dahulu, di antara yang paling krusial adalah masalah biaya kuliah yang tinggi.

Kedua, merebut kembali ruang publik yang hari ini tidak didominasi oleh mahasiswa. Sebagai bagian dari digital natives, kans mahasiswa untuk mengontrol dunia digital sangat terbuka lebar.  Ada lebih dari 7 juta mahasiswa yang tersebar di penjuru  Indonesia.  Dengan jumlah yang sebegitu banyaknya, mahasiswa dapat melakukan pengawalan terhadap problem lokal  maupun nasional melalui dunia digital.

Dunia digital  yang sekarang menjadi ruang publik baru bagi masyarakat, harus dilihat sebagai wadah reorientasi gerakan mahasiswa. sudah terlalu lama ruang publik kita diisi oleh orang-orang yang tidak mempunyai idealisme tentang Indonesia yang lebih baik. Hanya dipenuhi sampah visual—meminjam istilah  Baudillard.

Pertentangan kampret dan cebong misalkan, telah menciptakan konflik horizontal  di dunia digital. Secara tidak langsung memecahkan belah masyarkat dalam kotak-kotak yang disengaja untuk kepentingan politik praktis. Keberadaan buzzer politik dan saracen yang terorganisir dengan rapi menjadi ancaman serius bagi demokrasi kita.

Sejak dulu, mahasiswa selalu terlibat aktif dalam gerakan civil society. Ketika gerakan sudah tak lagi berperan dalam civil society, yang terjadi adalah masalah seperti hari ini. Karena praktis, selain mahasiswa hanya kepentingan politik yang bertarung.

Jadi, kapan mahasiswa akan bergerak kembali?

Sigit Aulia Firdaus Pemimpin Redaksi Surat Kabar Mahasiswa (SKM) Amanat UIN Walisongo Semarang

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

    Processing files…