Sabtu, Januari 16, 2021

Perang Narasi Politik dan Pilpres 2019

Menjaga Kearifan Lokal yang Mulai Punah

Indonesia saat ini berada pada masa modernisasi dan globalisasi. Globalisasi terjadi melalui sistem jaringan informasi dan komunikasi, tidak ada batas teritorial, negara, bangsa, suku...

Inkonsistensi Larangan Mudik

Kejadian timbulnya antrean panjang terjadi di Terminal 2 Bandara Udara Soekarno-Hatta buntut dari pelonggaran kebijakan larangan mudik. Antrean diisi oleh banyaknya orang yang sudah...

Menyambut Santri Multimanfaat

Tahun 2004, publik Indonesia terpesona oleh jalinan cerita novel Ayat Ayat Cinta (AAC), yang hingga kini sudah terjual lebih dari 500 ribu eksemplar. Saat...

Hujan dan Segala Kemungkinan

Saat ini kita sedang memasuki musim hujan. Ingatan kita akan hujan tidak terlepas dari bahaya alam yang akan terjadi. Seperti banjir, tanah longsor dan...
Deki.R. Abdillah
Mahasiswa Prodi Ilmu Pemerintahan Universitas Jambi, Intelektual Muda Nahdlatul Ulama

Jika kita membahas mengenai Pemilihan Presiden tahun 2019 yang akan datang, banyak sekali perspektif yang dapat kita sampaikan dan diskusikan. Pilpres tahun depan menjadi menarik karena banyak sekali dinamika yang terjadi menjelang proses tersebut, menjadi lebih menarik karena didalamnya disisipkan branding-branding politik oleh rezim yang hari ini berkuasa dan pihak oposisi.

Pada tulisan ini penulis akan menarasikan mengapa narasi politik akan menjadi kunci kemenangan bagi para pasangan calon yang berlaga tahun depan.

Narasi Keagamaan Petahana

Selama 4 tahun kepemimpinan Jokowi-JK isu keagamaan menjadi salah satu masalah yang cukup penting bagi pemerintah, pada masa Jokowi-JK banyak tuduhan yang menyatakan bahwa pemerintah saat ini adalah pemerintah yang jauh terhadap ulama dan nilai-nilai islam hal ini ditandai dengan pembubaran ormas HTI dan kriminalisasi terhadap ulama-ulama tertentu.

Isu keagamaan ini juga menjadi gorengan empuk bagi pihak oposisi untuk menyerang pemerintah, tidak heran jika kemudian hasil survey dari LSI menyatakan bahwa sebaiknya calon wakil presiden Jokowi berasal dari kalangan ulama dan faham akan persoalan keummatan.

Walaupun mengejutkan, penunjukan Rais Aam PBNU KH Maruf Amin menjadi cawapres Jokowi sebenarnya sudah dapat diprediksi sejak lama, petahana pasti akan memilih pendamping yang dianggap mampu untuk menetralkan isu yang selama ini menyersang pemerintah.

KH Maruf Amin merupakan ulama sepuh dan dihormati di Indonesia, selain sebagai Rais Aam PBNU, KH Maruf Amin juga merupakan ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), berasal dari ormas islam terbesar yakni Nahdalatul Ulama pastinya beliau akan mampu memberikan suntikan elektoral dan politik identitas yang sangat kuat bagi Jokowi.

Narasi politik yang dibangun oleh pasangan petahana pastinya mengenai narasi keagamaan dan keummatan, KH Maruf Amin dianggap sebagai representasi dari umat islam moderat yang dianggap mampu untuk menyatukan masyarakat yang hari ini terjebak dalam polarisasi pandangan politik yang sangat kuat selain itu beliau juga mempunyai pengalaman panjang dibidang ekonomi syariah dan ekonomi keummatan.

Penulis menganggap bahwa penunjukkan KH Maruf Amin sebagai Cawapres Jokowi merupakan counter attack sempurna kepada pihak oposisi, dengan keadaan ini Gerindra Cs harus menemukan alasan dan narasi politik yang lebih rasional dan meyakinkan sehingga  dapat diterima oleh masyarakat dari pada isu keagamaan dan tagar 2019 ganti presiden.

Narasi  Ekonomi dan Partai Emak-Emak Oposisi

Setelah calon petahana memilh ulama menjadi cawapresnya, Prabowo Subianto secara mengejutkan mendeklarasikan Sandiaga Uno sebagai Cawapresnya. Penunjukan Sandiaga yang saat itu masih menjadi wakil gubernur aktif DKI Jakarta boleh dibilang adalah kejutan besar dari pihak oposisi, selama ini seperti yang kita ketahui Gerindra selalu bersama-sama berkoalisi dengan PKS dan PKS pun telah menyodorkan 9 nama kader terbaiknya untuk mendampingi Prabowo namun kenyataannya tidak satupun dari nama tersebut yang dipilih oleh Prabowo.

Dipilihnya Sandiaga Uno mendampingi Prabowo membuat narasi politik yang dibangun menjadi berbeda, isu ekonomi menjadi fokus dari pihak oposisi untuk ”berjualan” kepada masyarakat.

Melihat kapasitas sang wakil, rasanya isu ekonomi bisa menjadi senjata yang cukup efektif untuk melawan petahana yang telah didukung oleh kekuatan politik elektoral dan identitas yang sangat kuat. Di tengah semakin melemahnya mata uang rupiah terhadap dolar Amerika Serikat, meningkatnya harga barang pokok serta semakin menggunungnya utang negara membuat posisi tawar oposisi dalam hal ini lebih kuat dibandingkan petahana.

Isu ekonomi yang dibawa oleh oposisi membuat mereka mengklam sebagai partai emak-emak, hal ini tidak mengherankan karena isu ekonomi biasanya berkaitan dengan urusan dapur yang sewajarnya dilakukan oleh ibu rumah tangga. Kekuatan emak-emak ini tentunya juga harus diperhatikan oleh pemerintah.

Branding politik menjadi kunci untuk memenangkan pertarungan dalam pilpres tahun depan, pihak mana yang mampu mengolah dan meyakinkan masyarakat dengan narasi politik yang mereka buat akan mampu menguasai jalannya pertandingan.

Masing-masing pasangan calon sudah memiliki basis pemilih yang cukup jelas, pasangan petahana pastinya akan di back up penuh oleh warga nahdiyin dan badan otonom NU lainnya namun yang perlu menjadi catatan adalah warga nahdiyin perlu memastikan bahwa kejadian pada pilpres 2004 tidak terulang ketika itu Ketum PBNU alm.

KH Hasyim Muzadi yang berpasangan dengan Megawati dikalahkan oleh pasangan SBY-JK. Prabowo-Sandi dapat menggunakan isu ekonomi sebagai narasi politik utama yang dapat mereka sampaikan kepada masyrakat tentunyai disertai dengan visi dan solusi yang nyata karena selama ini narasi yang ditawarkan oleh pihak oposisi hanyalah sebatas narasi untuk menyerang petahana.

Apapun pilihannya tentulah kita semua berharap bahwa pemilihan presiden tahun depan dapat berjalan dengan baik sesuai dengan asas-asas demokrasi yang ada di negara kita ini, kita sebagai masyarakat mempunyai tugas dan tanggung jawab moral untuk memastikan bahwa proses pesta demokrasi kita ini benar-benar menjadi pesta untuk kita semua bukan hanya menjadi pesta untuk elit politik dan golongan tertentu saja.

Akhirnya, menjadi harapan penulis dan kita semua tentunya bahwa nantinya dalam proses demokrasi yang akan berlangsung nanti akan lahir pemimpin bangsa yang mau bekerja untuk rakyat dan benar-benar faham akan persoalan bangsa ini serta akan membawa bangsa ini ke arah yang lebih baik.

Deki.R. Abdillah
Mahasiswa Prodi Ilmu Pemerintahan Universitas Jambi, Intelektual Muda Nahdlatul Ulama
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Menilik Proses Pembentukan Hukum Adat

Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dikaruniai Tuhan Yang Maha Kuasa kekayaan yang begitu melimpah di segala bidang. Segala jenis tumbuhan maupun binatang...

Milenial Menjawab Tantangan Wajah Baru Jatim

Tahun berganti arah berubah harapan baru muncul. Awal tahun masehi ke-2021 terlihat penuh tantangan berkelanjutan bagi Jawa Timur setelah setahun penuh berhadapan dengan Covid-19...

Menghidupkan Kembali Pak AR Fachruddin

Buku Pak AR dan jejak-jejak bijaknya merupakan buku biografi yang ditulis oleh Haidar Musyafa. Buku ini dicetak pertama kali pada bulan April 2020 dengan...

Menata Kinerja Buzzer yang Produktif

  Buzzer selalu hadir membingkai perdebatan carut-marut di ruang media sosial atau paltform digital lainnya. Seperti di twitter, facebook, instagram, dan media lainnya. Buzzer memiliki...

Lika-Liku Ganja Medis di Indonesia

Setiap manusia berhak sehat dan setiap yang tidak sehat berhak dapat pengobatan. Alam semesta telah menyediakan segala jenis obat untuk banyaknya penyakit di dunia...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Bagaimana Menjadi Muslim Moderat

Pada tahun 2017 saya pernah mengikuti Halaqah Ulama ASEAN yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama. Kampanye yang digaungkan Kemenag masih seputar moderasi beragama. Dalam sebuah diskusi...

Narkoba Menghantui Generasi Muda

Narkoba telah merajalela di Indonesia .Hampir semua kalangan masyarakat positif menggunakan Narkoba. Bahkan lebih parahnya lagi adalah narkoba juga telah merasuki para penegak hukum...

PKI, Jokowi, dan Tertusuknya Syekh Jaber

Syekh Ali Jaber ditusuk AA, Ahad malam (13/9/2000) di Lampung. Siapa AA? Narasi di medsos pun gonjang-ganjing. Konon, AA adalah kader PKI. Partai yang berusaha...

Our World After The Pandemic: The Threat of Violent Ekstremism and Terrorism, The Political Context

Pandemic C-19: Disruptions Personal and public health with rapid spread of the pandemic globally, more than 90 millions infected and almost two million death...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.