OUR NETWORK

“Perang Jenderal” di Pilgub Jabar

Pemilihan gubernur di Jawa Barat merupakan pilgub yang paling menarik dan dinamis yang akan terjadi pada tahun 2018 yang sudah dekat. Calon yang diusung oleh partai merupakan figur-figur luar biasa.

Ada Mayjen (Purn) Sudrajat yang diusung oleh PKS, Jendral Nagabonar yang di usung Demokrat, Inspektur Jenderal Polisi Anton Charliyan yang ramai akan diusung oleh PDIP. Dan yang terakhir ada Djendral Dedi Mulyadi.

Khusus untuk Dedi Mulyadi, kenapa dia disebut Djendral?

Ini merupakan sebutan bagi orang-orang yang mengaguminya. Gagasan, visi maupun pandangan politiknya tidak kalah oleh para jenderal hebat lainnya dari kalangan militer yang sesungguhnya.

Mayjen (Purn) Sudrajat memang tidak terlalu dikenal secara umum oleh masyarakat Jawa Barat. Selain pernah menjadi Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) ABRI diera Panglima ABRI Laksamana TNI Widodo AS, beliau juga mantan duta besar untuk negera China, Jadi pengalaman dan pandangan politiknya secara umum tidak diragukan lagi.

Tetapi kalau memimpin jawa barat, publik masih mempertanyakan kapasitasnya. Hanya Ketua Umum Partai Gerindra Letnan Jenderal (Purn) Prabowo Subianto yang tahu, karena bukan tanpa alasan Prabowo mengusungnya menjadi calon Gubernur Jawa Barat.

Jendral Nagabonar, tokoh rekaan layar lebar yang fenomenal. Sosok legendaris yang menginspirasi banyak orang karena perjuangannya untuk mempertahankan kemerdekaan.

Jangan lihat karena dia mantan copet, tapi lihatnya kecintaan pada negerinya. Dia lebih baik jiwanya yang hancur lebur daripada masyarakatnya yang hancur. Beliau sosok ahli setrategi tidak perlu di tanyakan lagi.

Inspektur Jenderal Polisi Anton Charliyan namanya mulai populer semenjak menjadi Kapolda Jawa Barat. Anton berani berhadapan dengan kelompok yang sering disebut –sebut sebagai kaum intoleran.

Semenjak saat itu, nama Anton mulai dikenal dikalangan masyarakat perkotaan. Terakhir, Djendral Dedi Mulyadi. figur yang sangat paham dengan kondisi Jawa Barat maupun kondisi psikologis masyarakat Jawa Barat.

Jam terbangnya hampir 20 tahun di pemerintahan menjadikannya figur yang sangat berpengalaman dan matang untuk memimpin Jawa Barat. Pemahaman kebudayaan sangat dibutuhkan mengingat identitas kultural Jawa Barat mulai tergerus karena kencangnya arus kebudayaan luar yang masuk tak terkendali.

Semangat Nasionalismenya tidak usah di pertanyakan lagi, mengingat Dedi oleh banyak pihak kerap disebut-sebut sebagai  anak Ideologis Soekarno yang berhasil menerapkan ajaran-ajaran Marhaenisme Soekarno dalam bentuk dalam gagasan maupun kebijakan yang ia terapkan di Purwakarta.

Kita nantikan saja para jenderal tersebut dalam meramu strategi untuk merebut Jawa Barat. Jenderal sejati bukan hanya memenangkan peperangan, tetapi pasca itu mereka harus mampu memberikan kontribusi nyata kepada masyarakat Jawa Barat. Salam hormat untuk para Jenderal yang hebat.

Pegiat Media Sosial

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

    Processing files…