Kamis, Desember 3, 2020

Perang dan Cerita

Fans Aktivisme: Digital Monster yang Menguasai Media Sosial

Masih ingat dengan kasus demo yang dilakukan untuk menolak UU Ciptaker beberapa waktu lalu? Demo besar-besaran ini turut ramai diperbincangkan di media sosial khususnya...

Menakar Tugas dan Kewajiban Presiden

Pemilu dilaksanakan secara periodik dalam rangka sirkulasi kekuasaan. Salah satu lompatan “fantastis” pascareformasi terkait hal ini ialah perubahan sistem pemilihan Presiden. Jika sebelumnya Presiden...

penerapan etika bisnis dalam CSR dan lingkungan hidup

Di dalam perkembangan zaman yang semakin maju dan kompetitif menuntut para pembisnis untuk meningkatkatkan daya saingnya. Namun kebanyakan dari mereka masih belum mengerti bagaimana...

Tikungan Berbahasa Indonesia

Kehadiran Muhadjir Effendy di Solo hari-hari lalu merupa bahasa. Sambutannya pada acara formil bertajuk Semiloka dan Deklarasi Penggunaan Bahasa Negara yang digelar di Auditorium Universitas...
Muhamad Reza Hasan
Mahasiswa, tidak tinggal di Singapura.

Demonstrasi tolak RUU Cipta Kerja terjadi pada 8 Oktober 2020. Seperti aksi-aksi lainnya, kita barangkali bisa mulai menebak, bahwa sepulangnya nanti, hal-hal yang menarik dikisahkan justru adalah aspek lain di luar subtansi aksi. Pasca aksi, poin-poin terkait tuntutan-tuntutan bahkan sering kali tak lagi menarik. Justru yang lainnya: hal-hal yang bersifat heroistik dan penuh dengan adegan perang seperti menghindari serangan lawan (petugas), upaya melawan balik, kemencengkaman, dan hal-hal serupa lainnya.

Kita mengecam peperangan, tapi juga masih terobsesi akan hal itu. “Banyak yang cinta damai, tapi perangai semakin ramai,” kata Bukhori Masruri dalam sebuah lagu. Itu adalah satu dari sekian banyak paradoks yang terjadi dalam kehidupan spesies kita.

Nampaknya, akal budi kita tak banyak berubah dari leluhur-leluhur di masa lalu, dan justru sebaliknya, bahkan kita mewarisinya dalam hal peperangan. Dalam sejarah umat manusia, perang adalah adegan unggulan yang selalu muncul. Mulai dari kisah-kisah nasionalistik hingga kisah-kisah keagamaan yang dianggap suci sekalipun, perang selalu ditampilkan sebagai upaya perjuangan.

Mudah bagi kita memahami fenomena demikian. Evolusi, sayangnya, menganjurkan aturan zero-sum, terutama dalam relasi manusia dengan organisme lainnya: Saya untung, Anda buntung. Untuk bertahan hidup, kita perlu memangsa spesies lainnya, mulai dari hewan hingga tumbuh-tumbuhan. Maka, akal budi kita sejak awal memang sudah terbentuk untuk menerima penaklukan. Kita menaklukan organisme lainnya, karenanya kita survive.

Namun kita musti sadar, bahkan antara manusia satu dengan yang lainnya pun, hukum persaingan, mau tidak mau, harus terjadi. Di depan saya ada satu rusa gemuk yang enak untuk disantap, namun, ternyata bukan hanya saya yang melihat rusa tersebut. Maka, persaingan untuk mendapatkannya mulai terjadi.

Dalam hal ini, saya tidak hanya harus berperang dan menyusun siasat terhadap rusa, tapi juga, pertama-tama, saya harus berperang dan menyusun siasat terhadap manusia lainnya yang hendak berupaya mendapatkannya. Hal semacam itulah, yang untuk waktu sekian lama, akhirnya mendasari peperangan antar-manusia: perebutan sumber daya.

Kekaisaran Persia, pada zamannya, adalah peradaban yang sangat besar dengan kekuatan militer yang luar biasa hebatnya. Pada 330 SM, Mekadonia, di bawah kepemimpinan Alexander Agung, akhirnya mengalahkan Persia. Tentu, hal itu dilakukan dengan kekuatan militer yang besar dalam satu peperangan yang hebat.

Sejarah Islam pun tak lepas dari adegan peperangan pada proses penyebarannya. Hal itu, tak hanya terkait dengan penaklukan, namun juga sebagai upaya resistensi masyarakat muslim. Dengan kata lain, obsesi terkait peperangan juga ada pada musuh-musuh Islam. Pada periode selanjutnya, peperangan tak pernah berhenti, dan kita melihat Perang Dunia sebagai satu lagi adegan perang dalam sejarah kita. Pendeknya, sejarah masyarakat manusia adalah sejarah peperangan yang tak pernah berhenti.

Kendati pada pertengahan abad ke-20 kita akhirnya mulai perlahan-lahan sepakat untuk menyudahi perang, namun sesungguhnya obsesi perang tidak benar-benar hilang dalam spesies kita. Selain perang dalam definisi yang sesungguhnya, kita juga bisa melihat obsesi tersebut pada adegan yang dilakoni pendemo tiap kali melakukan aksi. Dan oleh karenanya, kisah yang dibawa pulang dari peristiwa demonstrasi adalah kisah-kisah heroistik yang bernuansa perang: menghindari serangan lawan (petugas), upaya melawan balik, kemencengkaman, dan hal-hal serupa lainnya.

Obsesi peperangan juga dapat kita liat dalam cerita-cerita yang beredar di masyarakat, baik baik dalam kesusastraan, maupun dalam bentuk film. Hingga hari ini, cerita perang tetap mendapatkan minatnya tersendiri di dalam masyarakat kita. Mulai dari kisah-kisah mitologi dewa-dewa, kisah-kisah dalam pewayangan, hingga kisah-kisah yang paling modern pun, kehadiran unsur perang tetap masih bisa kita nikmati.

Kisah Harry Potter, misalnya, adegan perang antara Harry Potter dengan Voldemort disajikan Rowling untuk kita nikmati sebagai puncak pengisahan. Dalam satu epik terkenal dari Mesopotamia juga misalnya, pertempuran antara Enkidu dengan Gilgamesh menjadi adegan yang monumental dan kita nikmati bersama.

Kisah Robin Hood yang terkenal pun demikian, menjadikan adegan perang sebagai bagian yang penting dalam kisahnya. Dalam versi Indonesia yang paling terkenal, adegan perang semacam itu bisa kita temukan dalam kisah Si Pitung. Dan benar, kisah-kisah tersebut adalah kisah-kisah yang sepanjang sejarah, kita nikmati bersama.

Kita bisa menduga, dalam dunia yang cenderung mengarahkan pada peperangan, seleksi alam akhirnya memenangkan orang-orang yang membawa gen “perang”. Sebagai konsekuensi, orang-orang dengan gen “anti-perang”, akhirnya kalah dalam pertandingan seleksi alam. Ketika suatu permasalahan terjadi, orang-orang dengan gen “anti-perang” tentunya menolak terlibat dalam hal tersebut. Oleh karenanya, lebih mudah bagi orang-orang dengan gen “perang” untuk menumpas habis orang-orang penuh kasih yang menolak peperangan.

Dengan begitu, orang-orang yang membawa gen “perang” akhirnya mewarisi gen tersebut kepada generasi selanjutnya, hingga generasi kita hari ini–dan sebaliknya, orang-orang dengan gen “anti-perang” yang tak lulus seleksi alam gagal mewariskan gen tersebut. Itulah mengapa, hingga periode yang secara deklaratif amat menolak peperangan, obsesi semacam itu masih dapat ditemukan.

Ada dua hal yang bisa kita cek. Pertama, kita tau kecenderungan untuk melakukan peperangan–umumnya untuk konflik-konflik kecil–seperti imajinasi kebanyakan orang pada saat unjuk rasa, terjadi dalam masyarakat modern. Selain itu, kita juga tau peperangan besar masih terjadi, yang pada umumnya, di negara-negara Timur Tengah. Bahkan, kemarahan di masyarakat Muslim–khususnya di Indonesia, negara yang tak terlibat perang–atas apa yang terjadi di Palestina, diwujudkan dalam obsesi untuk membalas dengan peperangan atas nama jihad.

Kedua, sebagaimana kita ketahui bersama, cerita-cerita perang masih menjadi adegan yang disukai sepanjang sejarah hingga hari ini. Kerap kali, saya pribadi, merasa tergolak semangat juangnya manakala membaca atau menonton kisah-kisah peperangan, dan terobsesi untuk terlibat dalam peperangan tersebut di bawah kobaran semangat yang heroistis.

Hal itu terjadi, akibat dari adanya kecenderungan akan obsesi peperangan dari leluhur kita yang menang dalam seleksi alam sehingga terwariskan hingga generasi selanjutnya. Sebagaimana, biasa kita temukan dalam penjelasan evolusi leher jerapah di mana jerapah dengan leher lebih panjang lulus dalam seleksi alam sehingga gen-gen tersebut terwariskan hingga jerapah generasi masa kini–sebaliknya, jerapah dengan leher lebih pendek yang kalah dalam seleksi alam gagal mewariskan gen-gen tersebut sehingga hari ini tidak dapat kita temukan struktur anatomi yang demikian.

Muhamad Reza Hasan
Mahasiswa, tidak tinggal di Singapura.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Menjatuhkan Ganjar-Jokowi dengan Satu Batu

Saya sebenarnya kasihan dengan Jokowi. Sejak beberapa hari yang lalu organ di bawahnya terlihat tidak bisa kerja. Misalnya soal kasus teroris di Sigi, tim...

Mengapa RUU Minol Harus Disahkan

Pada zaman yang serba modern seperti sekarang ini apa saja dapat dilakukan dan didapatkan dengan mudah karena teknologi sudah semakin canggih. Dahulu untuk mendapatkan...

Pay It Forward Merespon Dampak Pandemi Covid-19

Sinopsis Film Pay It Forward Pay It Forward merupakan sebuah film asal Amerika Serikat yang sarat pesan moral. Film ini dirilis pada tahun 2000, yang...

Senyum Ekonomi di Tengah Pandemi

Pandemi tak selamanya menyuguhkan berita sedih. Setidaknya, itulah yang disampaikan Menteri Keuangan Sri Mulyani. Berita apa itu? Sri Mulyani, menyatakan, kondisi ekonomi Indonesia tidak terlalu...

Dubes Wahid dan Jejak Praktek Oksidentalisme Diplomat Indonesia

Pada 5 Oktober 2000 di Canberra dalam forum Australian Political Science Association, pakar teori HI terkemuka Inggris, Prof. Steve Smith berpidato dengan judul, “The...

ARTIKEL TERPOPULER

Luasnya Kekuasaan Eksekutif Menurut Undang-Undang

Proses demokrasi di Indonesia telah memasuki tahap perkembangan yang sangat penting. Perkembangan itu ditandai dengan berbagai perubahan dan pembentukan institusi atau lembaga baru dalam...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

“Pilkada Pandemi” dan Pertanyaan Soal Substansi Demokrasi

Pilkada sebagai sebuah proses politik di negara demokrasi adalah salah satu wujud terpenuhinya hak politik warga negara, selain terjadinya sirkulasi elite penguasa. Namun di...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.