Senin, November 30, 2020

Peran Tarekat untuk Mengatasi Ekstremisme-Terorisme

Indonesia Bukan Negara Assassin (2)

Indonesia dan Pesantren Tulisan ini adalah tulisan kedua. Tulisa pertama klik di sini. Pesantren memiliki posisi yang sangat strategis di Indonesia. Tidak hanya sebagai lembaga pendidikan,...

Menuju Agama Etik Transformatif

Emanuel K. Twisigiye (2007) mengatakan bahwa sebab utama mengapa agama bisa lenggeng dan diterima di muka bumi ini adalah karena setiap sosok pembawa risalah...

LGBTIQ, Religion, and Human Rights in Indonesia

IntroductionAustralia has just found the result of marriage postal survey regarding the same-sex marriage (SSM). Roughly 61,6% of Australian citizen has voted for a...

Tatanan Dunia Baru Menuju Neoproteksionisme

Oleh Muhammad Dudi Hari Saputra, MA.Tenaga Ahli Kementerian Perindustrian Republik Indonesia dan Direktur Eksekutif Moderate Institute.A. Ide Global Village dan TantangannyaSekitar 50 tahun yang...
Mawardin Sidik
Alumnus Ilmu Hubungan Internasional FISIP UNHAS, Makassar. Anggota JIMM. PB HMI. Wasekjen DPP KNPI Bidang Kerjasama dan Diplomasi ASEAN. Pernah bekerja sebagai peneliti di BNPT. Analis Politik di Charta Politika.

Problem mendasar dari kelompok irhabis (teroris) adalah pahatan ideologi yang menggerakkan sel-sel tubuh mereka ke dalam lapangan terorisme. Itulah mengapa pendekatan lunak (soft-approach) lewat deradikalisasi ideologi mesti dikencangkan.

Sasaran antara adalah, membumihanguskan ide, sikap dan perilaku ekstrem sebagai ‘berhala baru’ bagi penganut terorisme. Sasaran akhirnya, mereka yang terpapar ekstremisme itu segera taubat nasuha, membuang ideologi kekerasan, lalu hijrah ke pangkuan ibu pertiwi.

Memang upaya melunakkan otak jahilin teroris, perlu tahapan. Mereka bukan hanya terjebak dalam ekstremitas beragama yang merusak kohesi sosial, tapi juga sangat anti Pancasila, NKRI, kebhinekaan, dan nasionalisme kebangsaan. Sangat kontras dengan ‘dunia baru’ yang mereka impikan berupa narasi kekhalifahan global, seperti jualan ISIS dan anak-anak kandung ideologis beserta jejaring terornya.

Implikasinya, kelompok ekstrem-teroris siap melakukan apa saja, bahkan mati sekalipun (teologi maut) untuk mempertahankan ideologi utopisnya, sekaligus menantang perang terhadap golongan lain. Mereka kelihatan gelisah menatap perbedaan, akhirnya mewujud intoleransi.

Dampak destruktifnya, tak ada lagi pemaknaan akan keseruan hidup ini, apalagi menikmati kebahagiaan hayati. Penampakan wajah sadisme (sabu’iyah) justru berkecamuk tiada henti, produk dari jiwa-jiwa yang gelisah. Artinya, teroris hakikatnya mengalami krisis spiritual. Walaupun secara formal-administratif, mereka memeluk institusi agama tertentu, namun sangatlah kering dari spirit ilahiyah, sehingga membentuk kekalapan tak karuan.

Kita perlu mengabarkan ‘dunia baru’ yang menyentuh titik terdalam dari keberagamaan. Dunia yang bergelimang ritus-ritus pemuas dahaga spiritual untuk menenangkan jiwa, dan menjernihkan pikiran. Dunia yang membumikan idealitas ilahiyah ke dalam realitas insaniyah. Dunia asyik seperti itulah yang ditawarkan dari pertapaan tarekat.

Tarekat adalah sebuah jalan ketuhanan yang menyediakan metode khos guna menggapai inti beragama (ihsan) yang membela kemanusiaan. Kepeloporan tarekat untuk menampilkan psikologi agama yang humanistik, merujuk pada pemikiran tasawuf atau sufisme sebagai salah satu dimensi esoterik dalam ajaran Islam, lalu dilembagakan dalam persaudaraan rohani (sufi brotherhood). Di dalamnya terdapat amalan-amalan khusus terutama dzikirullah, di bawah bimbingan seorang mursyid (guru tarekat) beserta khalifahnya.

Out-putnya adalah membumikan akhlak universal sebagai etika sufisme. Lelaku spiritual dan moral Nabi Muhammad SAW menjadi inspirasi lahirnya tarekat. Kendati pada jaman nabi, tarekat itu tak berlabel, namun praktik tarekatullah sejatinya sudah ada sejak era kerasulan. Warisan spiritual-moral Rasulullah itu, kemudian diteruskan oleh para ulama sejati (waratsatul anbiya) berdasarkan silsilah kerohanian yang turun-temurun.

Keteladanan dari guru tarekat beserta kharismanya, yang terpancar bukan saja dari keluhuran budi pekerti, tapi juga karomah kewalian sebagai nyawa dari agama. Atmosfir spiritual itu ikut mempengaruhi perilaku murid tarekat untuk merawat keadaban dan cinta kasih.

Dalam sejarah dan dinamika pergolakan pemikiran Islam, praktik pengamalan tarekat bukan tanpa sandungan. Warisan spiritual para nabi ini kemudian digerogoti oleh kelompok Wahabi yang disebut sebagai khawarij gaya baru yang gemar mengkafirkan orang lain (takfiri). Kala itu  “Wahabi Connection” berkuasa atas sokongan oligarki Dinasti Saud tahun 1924, lalu mengusir guru-guru tarekat di Jabal Qubais – Mekkah.

Haluan ultra-ortodoks yang bersifat ekstrem dari wahabisme inilah yang menjadi sumber degradasi dunia Islam. Bukah hanya anti-sufisme, kelompok wahabi-radikal juga anti-intelektualisme, mengharamkan filsafat, dan gagap kebudayaan, sehingga menimbulkan kegersangan spiritual sekaligus kekerasan berpikir, lantas yang berdosis tinggi menjalar ke dalam rupa kekerasan terorisme.

Dalam konteks itu, maka tak heran terjadi ketegangan antara sufisme versus wahabisme hingga saat ini. Wahabi sebagai mindset beragama memang terbatas pada “radikalis gagasan”, namun dalam wajahnya yang ekstrem, selangkah lagi berpotensi mengarah ke tindakan terorisme. Sebab ideologi wahabisme memberikan inspirasi untuk melakukan kekerasan terhadap golongan yang mereka sertifikasi sebagai thagut.

Namun demikian, hal yang menggembirakan adalah eksistensi lembaga-lembaga tarekat di Indonesia, tak bisa diabaikan pula, antara lain Tarekat Naqsyabandiyah, Tarekat Khalwatiyah, Tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah, dan lain-lain dengan berjuta-juta pengikut. Hanya saja bergerak melalui ‘revolusi sunyi’. Para sufi pun terlibat dalam proses sosial, politi, budaya dan kenegaraan, tapi sufi sebagai individu enggan menampakkan identitas ketarekatannya.

Maka, sufi luput dari pantauan khalayak ramai, karena memang mereka lebih mementingkan isi ketimbang kulit, bukan hanya dalam frame pemikiran Islam, tapi juga dalam bermuamalah, berpakaian, dan bernegara. Mereka cukup menginjeksi nilai-nilai kebajikan universal dalam kehidupan bermasyarakat sesuai prinsip-prinsip Islam yang substantif.

Kalau kita selami otak teroris, lazimnya karena kekakuan dalam beragama, cenderung berpikir formal-legalistik tanpa mengaktifkan radar kebatinan. Mereka juga membaca kitab suci secara rigid tanpa memahami konteks situasi zaman yang terus berubah, akhirnya tertimpa kegalauan kala melihat perbedaan.

Sejarah telah mencatat bahwa awal persebaran agama Islam di Indonesia dibawa oleh para ulama sufi. Para pengelana sufi justru lebih mengedepankan substansialisme-akhlak ketimbang formalisme-fikih, seperti dakwah Walisongo. Dakwah ala sufi itulah yang membuat keadaban lokal diberi ruang sewajarnya, termasuk musik sebagai sarana meditasi sufistik.

Mata air filsafat pun membasuh dunia sufi, disebut sebagai tasawuf falsafi yang menghargai akal sehat dan pengetahuan intuitif yang tercermin pada Hamzah Fansuri. Sementara dunia humor begitu melekat pada kosakata sufi, manakala ditransfer ke kalangan ekstremis-teroris, bisa saja mereka melakukan re-thinking, bahwa dunia ini tak kaku-kaku amat. Koleksi humor Nasrudin Hoja hingga Gus Dur layak ditengok kembali.

Dalam tasawuf-akhlaqi, bertarekat adalah jihad spiritual bagaimana meredam amarah, dendam, dan kesombongan. Lalu diganti dengan ketawadhu’an (rendah hati), cinta kasih, dan bijaksana. Formulasi akhlak sufistik secara apik diartikulasikan oleh Buya Hamka dalam bukunya Tasawuf Modern. Dalam sufi berwajah sastra, kita bisa menyerap tetes-tetes hikmah dari Jalaluddin rumi guna melembutkan perasaan.

Sementara tasawuf amali, orang-orang tarekat memfokuskan perhatian pada capaian hati yang kudus lewat pengamalan dzikirullah yang intensif. Kekudusan hati mengalirkan ion positif bagi jalinan cinta lintas iman. Sebagai tradisi mistisisme Islam, para sufi dalam fase tertentu bisa bertatap jiwa dengan beragam keyakinan. Al-hasil, mereka pun berperilaku inklusif dan toleran.

Dus, tarekat dapat dimaksimalkan sebagai gerakan kultural untuk mengatasi ekstremisme-terorisme. Hal ini sejurus dengan Pancasila sebagai titik pertemuan (kalimatun sawa’) lintas agama di Indonesia, dalam menghadirkan perdamaian paripurna.

Mawardin Sidik
Alumnus Ilmu Hubungan Internasional FISIP UNHAS, Makassar. Anggota JIMM. PB HMI. Wasekjen DPP KNPI Bidang Kerjasama dan Diplomasi ASEAN. Pernah bekerja sebagai peneliti di BNPT. Analis Politik di Charta Politika.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Nostalgia Dinasti Politik Pemimpin Negara

Pasca bergulirnya reformasi 1998, khususnya dengan terbitmya UU No. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah dan Pemerintahan Daerah serta peraturan-peraturan pemerintah yang...

Tebet, Megamendung, dan Petamburan

Pandemi corona makin liar. Jika sebelumnya cluster penyebaran corona menyeruak di rumah sakit, perkantoran, sekolah, pesantren, perumahan, restoran, dan RT/RW -- kini tengah ramai...

Messi Adalah Nabi dan Maradona Adalah Tuhan

Paus Francis tersenyum. Ia juga berasal dari Argentina. Saat itu Ia mengunjungi klub sepokbola di Buienes Aires, Argentina: the Sportivo Pereyra de Barracas FC. Di...

Pentingnya Vitamin bagi Tubuh Di Era New Normal

Daya tahan tubuh atau imunitas menjadi benteng untuk mencegah virus masuk dan menyerang tubuh kamu. Dengan dimulainya aktivitas di luar rumah lagi di masa...

Saatnya Mempertanyakan Amatiran Politik Sumatera Barat

..."Kami simpulkan sedikit inti tulisan sebelumnya. Menurut data BPS, Sumatera Barat hari ini memiliki kue ekonomi kecil, produktivitasnya rendah, dan kesejahteraannya yang tidak sedang...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Luasnya Kekuasaan Eksekutif Menurut Undang-Undang

Proses demokrasi di Indonesia telah memasuki tahap perkembangan yang sangat penting. Perkembangan itu ditandai dengan berbagai perubahan dan pembentukan institusi atau lembaga baru dalam...

Bukankah Allah Menegaskan Dunia Ini Tak Akan Pernah Sama?

Kenapa ada orang yang bersikeras mengharuskan umat manusia berada di bawah satu panji atau berprilaku dengan satu cara (manhaj). Apakah demikian yang diajarkan Al-Quran?...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.