OUR NETWORK

Peran Tarekat untuk Mengatasi Ekstremisme-Terorisme

Implikasinya, kelompok ekstrem-teroris siap melakukan apa saja, bahkan mati sekalipun (teologi maut) untuk mempertahankan ideologi utopisnya,

Problem mendasar dari kelompok irhabis (teroris) adalah pahatan ideologi yang menggerakkan sel-sel tubuh mereka ke dalam lapangan terorisme. Itulah mengapa pendekatan lunak (soft-approach) lewat deradikalisasi ideologi mesti dikencangkan.

Sasaran antara adalah, membumihanguskan ide, sikap dan perilaku ekstrem sebagai ‘berhala baru’ bagi penganut terorisme. Sasaran akhirnya, mereka yang terpapar ekstremisme itu segera taubat nasuha, membuang ideologi kekerasan, lalu hijrah ke pangkuan ibu pertiwi.

Memang upaya melunakkan otak jahilin teroris, perlu tahapan. Mereka bukan hanya terjebak dalam ekstremitas beragama yang merusak kohesi sosial, tapi juga sangat anti Pancasila, NKRI, kebhinekaan, dan nasionalisme kebangsaan. Sangat kontras dengan ‘dunia baru’ yang mereka impikan berupa narasi kekhalifahan global, seperti jualan ISIS dan anak-anak kandung ideologis beserta jejaring terornya.

Implikasinya, kelompok ekstrem-teroris siap melakukan apa saja, bahkan mati sekalipun (teologi maut) untuk mempertahankan ideologi utopisnya, sekaligus menantang perang terhadap golongan lain. Mereka kelihatan gelisah menatap perbedaan, akhirnya mewujud intoleransi.

Dampak destruktifnya, tak ada lagi pemaknaan akan keseruan hidup ini, apalagi menikmati kebahagiaan hayati. Penampakan wajah sadisme (sabu’iyah) justru berkecamuk tiada henti, produk dari jiwa-jiwa yang gelisah. Artinya, teroris hakikatnya mengalami krisis spiritual. Walaupun secara formal-administratif, mereka memeluk institusi agama tertentu, namun sangatlah kering dari spirit ilahiyah, sehingga membentuk kekalapan tak karuan.

Kita perlu mengabarkan ‘dunia baru’ yang menyentuh titik terdalam dari keberagamaan. Dunia yang bergelimang ritus-ritus pemuas dahaga spiritual untuk menenangkan jiwa, dan menjernihkan pikiran. Dunia yang membumikan idealitas ilahiyah ke dalam realitas insaniyah. Dunia asyik seperti itulah yang ditawarkan dari pertapaan tarekat.

Tarekat adalah sebuah jalan ketuhanan yang menyediakan metode khos guna menggapai inti beragama (ihsan) yang membela kemanusiaan. Kepeloporan tarekat untuk menampilkan psikologi agama yang humanistik, merujuk pada pemikiran tasawuf atau sufisme sebagai salah satu dimensi esoterik dalam ajaran Islam, lalu dilembagakan dalam persaudaraan rohani (sufi brotherhood). Di dalamnya terdapat amalan-amalan khusus terutama dzikirullah, di bawah bimbingan seorang mursyid (guru tarekat) beserta khalifahnya.

Out-putnya adalah membumikan akhlak universal sebagai etika sufisme. Lelaku spiritual dan moral Nabi Muhammad SAW menjadi inspirasi lahirnya tarekat. Kendati pada jaman nabi, tarekat itu tak berlabel, namun praktik tarekatullah sejatinya sudah ada sejak era kerasulan. Warisan spiritual-moral Rasulullah itu, kemudian diteruskan oleh para ulama sejati (waratsatul anbiya) berdasarkan silsilah kerohanian yang turun-temurun.

Keteladanan dari guru tarekat beserta kharismanya, yang terpancar bukan saja dari keluhuran budi pekerti, tapi juga karomah kewalian sebagai nyawa dari agama. Atmosfir spiritual itu ikut mempengaruhi perilaku murid tarekat untuk merawat keadaban dan cinta kasih.

Dalam sejarah dan dinamika pergolakan pemikiran Islam, praktik pengamalan tarekat bukan tanpa sandungan. Warisan spiritual para nabi ini kemudian digerogoti oleh kelompok Wahabi yang disebut sebagai khawarij gaya baru yang gemar mengkafirkan orang lain (takfiri). Kala itu  “Wahabi Connection” berkuasa atas sokongan oligarki Dinasti Saud tahun 1924, lalu mengusir guru-guru tarekat di Jabal Qubais – Mekkah.

Haluan ultra-ortodoks yang bersifat ekstrem dari wahabisme inilah yang menjadi sumber degradasi dunia Islam. Bukah hanya anti-sufisme, kelompok wahabi-radikal juga anti-intelektualisme, mengharamkan filsafat, dan gagap kebudayaan, sehingga menimbulkan kegersangan spiritual sekaligus kekerasan berpikir, lantas yang berdosis tinggi menjalar ke dalam rupa kekerasan terorisme.

Dalam konteks itu, maka tak heran terjadi ketegangan antara sufisme versus wahabisme hingga saat ini. Wahabi sebagai mindset beragama memang terbatas pada “radikalis gagasan”, namun dalam wajahnya yang ekstrem, selangkah lagi berpotensi mengarah ke tindakan terorisme. Sebab ideologi wahabisme memberikan inspirasi untuk melakukan kekerasan terhadap golongan yang mereka sertifikasi sebagai thagut.

Namun demikian, hal yang menggembirakan adalah eksistensi lembaga-lembaga tarekat di Indonesia, tak bisa diabaikan pula, antara lain Tarekat Naqsyabandiyah, Tarekat Khalwatiyah, Tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah, dan lain-lain dengan berjuta-juta pengikut. Hanya saja bergerak melalui ‘revolusi sunyi’. Para sufi pun terlibat dalam proses sosial, politi, budaya dan kenegaraan, tapi sufi sebagai individu enggan menampakkan identitas ketarekatannya.

Maka, sufi luput dari pantauan khalayak ramai, karena memang mereka lebih mementingkan isi ketimbang kulit, bukan hanya dalam frame pemikiran Islam, tapi juga dalam bermuamalah, berpakaian, dan bernegara. Mereka cukup menginjeksi nilai-nilai kebajikan universal dalam kehidupan bermasyarakat sesuai prinsip-prinsip Islam yang substantif.

Kalau kita selami otak teroris, lazimnya karena kekakuan dalam beragama, cenderung berpikir formal-legalistik tanpa mengaktifkan radar kebatinan. Mereka juga membaca kitab suci secara rigid tanpa memahami konteks situasi zaman yang terus berubah, akhirnya tertimpa kegalauan kala melihat perbedaan.

Sejarah telah mencatat bahwa awal persebaran agama Islam di Indonesia dibawa oleh para ulama sufi. Para pengelana sufi justru lebih mengedepankan substansialisme-akhlak ketimbang formalisme-fikih, seperti dakwah Walisongo. Dakwah ala sufi itulah yang membuat keadaban lokal diberi ruang sewajarnya, termasuk musik sebagai sarana meditasi sufistik.

Mata air filsafat pun membasuh dunia sufi, disebut sebagai tasawuf falsafi yang menghargai akal sehat dan pengetahuan intuitif yang tercermin pada Hamzah Fansuri. Sementara dunia humor begitu melekat pada kosakata sufi, manakala ditransfer ke kalangan ekstremis-teroris, bisa saja mereka melakukan re-thinking, bahwa dunia ini tak kaku-kaku amat. Koleksi humor Nasrudin Hoja hingga Gus Dur layak ditengok kembali.

Dalam tasawuf-akhlaqi, bertarekat adalah jihad spiritual bagaimana meredam amarah, dendam, dan kesombongan. Lalu diganti dengan ketawadhu’an (rendah hati), cinta kasih, dan bijaksana. Formulasi akhlak sufistik secara apik diartikulasikan oleh Buya Hamka dalam bukunya Tasawuf Modern. Dalam sufi berwajah sastra, kita bisa menyerap tetes-tetes hikmah dari Jalaluddin rumi guna melembutkan perasaan.

Sementara tasawuf amali, orang-orang tarekat memfokuskan perhatian pada capaian hati yang kudus lewat pengamalan dzikirullah yang intensif. Kekudusan hati mengalirkan ion positif bagi jalinan cinta lintas iman. Sebagai tradisi mistisisme Islam, para sufi dalam fase tertentu bisa bertatap jiwa dengan beragam keyakinan. Al-hasil, mereka pun berperilaku inklusif dan toleran.

Dus, tarekat dapat dimaksimalkan sebagai gerakan kultural untuk mengatasi ekstremisme-terorisme. Hal ini sejurus dengan Pancasila sebagai titik pertemuan (kalimatun sawa’) lintas agama di Indonesia, dalam menghadirkan perdamaian paripurna.

Alumnus Ilmu Hubungan Internasional FISIP UNHAS, Makassar. Pernah bekerja sebagai peneliti di BNPT. Analis Politik di Charta Politika.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…