Minggu, Maret 7, 2021

Peran Ormas Mendidik Mualaf Nasionalis

Jangan Grusa-Grusu, Saran untuk Kemendikbud

Percepatan penularan Covid-19 di negeri ini masih tinggi. Namun, Presiden Jokowi telah memberi sinyal akan hadirnya kehidupan normal baru sebagai bentuk penyesuaian atas pandemi...

Pilkada, Perlombaan atau Pertandingan?

Pemilihan kepala daerah atau yang sering disebut dengan pilkada memang sebuah isu yang selalu menarik untuk diperbincangkan. Menjadi orang nomor satu di masing-masing daerah,...

Demokrasi Prosedural dan Alam Politik Dinasti

Politik dinasti dapat dimaknai sebagai sebuah sistem kekuasaan politik yang dijalankan oleh sekelompok orang yang masih terkait dalam hubungan keluarga. Politik dinasti lebih identik...

Islam Kontemporer: Harmoni Kebenaran dan Perbedaan

  Dalam tesisnya yang berjudul The Clash of Civilizations and the Remaking of World Order, Huntington mencoba menganalisa bagaimana bentuk baru dari kondisi dunia, didalam...
Bagus Supriadi
Suka menulis apa saja sejak menempuh pendidikan di Pesantren Nurul Jadid Probolinggo. Sejak 2002 hingga 2012. Sekarang tinggal di Jember, menyelesaikan studi pascasarjana IAIN Jember.

Organisasi kemasyarakatan maupun keagamaan memiliki peran penting dalam mewujudkan mualaf yang nasionalis. Memahami nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila dan mengamalkannya dalam perilaku sehari-hari.

Sebab, salah satu yang dilakukan oleh organisasi keagamaan hanya bergembira ketika banyak mualaf. Mereka menuntut membacakan syahadat, namun tidak dibina dengan baik sehingga kehilangan arah. Padahal, ormas memiliki tanggungjawab agar mualaf itu tak hanya menjadi muslim yang baik, tetapi juga menjadi warga negara yang cinta tanah air berdasarkan ajaran agamanya.

Sebut saja ormas Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah, ormas dengan pengikut yang cukup besar di Indonesia. Seberapa besar peran dua organisasi tersebut dalam pembinaan terhadap muallaf. Selama ini, para ustaz di sejumlah daerah belum memiliki konsep yang pasti.

Mualaf sendiri pindah agama karena berbagai alasan, selain konflik jiwa, juga karena faktor ekonomi dan keluarga. Perbedaan latar belakang itu perlu ditangkap dengan cara yang berbeda.

Cara yang dilakukan mualaf dengan mendatangi kiai untuk meminta petunjuk. Sedikit yang datang pada organisasi NU atau Muhamadiyah. Namun datang pada kiai dan mengikrarkan diri.

Sang kiai pun membina dan mengajari muallaf tentang ilmu dasar Islam. Seperti rukun iman dan rukun Islam. Mengajari cara melakukan ibadaha salat, wudhu’ puasa dan cara mengaji. Muallaf datang ke tempat kiai untuk belajar.

Dalam proses pembelajaran itu, materi yang disampaikan seputar agama. Tidak menyentuh materi tentang pandangan Islam menjadi warga negara yang baik. Tidak ada pembahasan tentang pancasila.

Untuk itulah, ormas perlu hadir mendampingi para mualaf yang terus meningkat ini. Bila tidak, mereka bisa menjadi warga negara yang memahami Islam secara tekstual dan tidak mengakui Pancasila dan NKRI karena tidak terdapat dalam ajaran Islam.

Pembinaan terhadap mualaf agar menjadi warga yang mengamalkan pancasila ditangkap oleh PITI Jember. Yakni ingin  mewujudukan Islam Rahmatan Lil alamien. Islam yang menerbarkan perdamain bagi semua makhluk, menciptakan kerukunan di tengah keberagaman.

Wadah ini menjadi tempat berdiskusi untuk memahami Islam nusantara. Nilai-nilai pancasila dijadikan pedoman dalam pelaksanaan kegiatan. Misal, menjalin silaturahim dengan berbagai agama yang berbeda.

Ada sekitar 200 mualaf yang aktif dalam organisasi ini. Mereka yang ingin bergabung harus mencintai dan mempartahankan NKRI. Hal itu selalu disampaikan pada muallaf. Sebab, rasa cinta tanah air merupakan bagian dari Islam Rahmatan Lil alamin.

Apalagi, tak semua keluarga Muslim Tionghoa beragama Islam. Ada diantara mereka yang satu keluarga, namun berbeda agama. Perbedaan agama di dalam keluarga itulah yang harus disikapi dengan bijaksana. Yakni dengan menunjukkan dengan akhlak yang baik.

Bagus Supriadi
Suka menulis apa saja sejak menempuh pendidikan di Pesantren Nurul Jadid Probolinggo. Sejak 2002 hingga 2012. Sekarang tinggal di Jember, menyelesaikan studi pascasarjana IAIN Jember.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Toxic Masculinity dalam Patriarki

Sebelumnya, saya ingin menghimbau bahwa topik ini merupakan pembahasan yang sensitif dan masih dipandang tabu dari beberapa kalangan. Tulisan ini berupa opini saya mengenai...

Ranking Kampus Dunia: Jangan Salah Kaprah

Baru-baru ini dunia pendidikan tinggi kita mendapatkan gabar gembira. Lima perguruan tinggi (PT) asal Indonesia menempati 10 universitas Islam terbaik dunia. Bahkan salah satunya...

Rock and Roll, Budaya yang Terusir

Penyebaran virus Rock and roll tidak hanya datang dari radio luar negeri, tapi juga dari rekaman piringan hitam yang dibawa dari luar negeri dan...

Cantik Hemat dari Dapur

Cantik adalah impian bagi setiap perempuan. Sejak umat manusia tercipta, kecantikan menjadi sebuah patok keindahan. Terbukti dari kisah dua orang putra nabi Adam yang...

Apa Hubungannya Toleransi dan Kearifan Lokal?

“Hai seluruh manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya...

ARTIKEL TERPOPULER

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Perbedaan; Pendidikan Karakter, Moral dan Akhlak

Kita lihat bila Secara filosofis, terminologi pendidikan karakter, pendidikan moral, pendidikan etika, dan pendidikan akhlak memiliki perbedaan. Terminologi pendidikan moral (moral education) lebih cenderung...

Serial Non-Muslim Bisa Masuk Surga. Siapa Mereka?

Apa pendapat para ulama dan cendekiawan dulu dan sekarang tentang keselamatan penganut agama-agama selain syariat Nabi Muhammad Saw? Apakah orang yang biasa disebut “non-Muslim”...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Beberapa Kesalahan Berpikir Kita

Proses berpikir merupakan salah satu komposisi dari pola aktifitas manusia dalam kehidupan, sekaligus menjadikan nya sebagai prestise seseorang agar terhindar dari segala bentuk keterasingan...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.