Jumat, Januari 15, 2021

Peran Cheng Ho

Hukum yang Ditegakkan dalam Kasus Pelanggaran Hak Cipta

Pelanggaran hak cipta yang marak terjadi di masyarakat bukan baru-baru ini saja melainkan sudah dari waktu yang lama. Pelanggaran yang terjadi bukanlah sesuatu yang...

Overcrowded Lapas dan Revitalisasi

“Tantangan-tantangan yang dihadapi Pemasyarakatan ialah setinggi gunung, seringkali bersifat kejam, dan kadangkala mencekam perasaan” sekilas sambutan Menteri Kehakiman Ali Said pada peringatan Hari Pemasyarakatan...

Kemerdekaan di Tengah Pagebluk Covid-19

Bulan agustus selalu berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Karena bulan ini begitu spesial bagi masyarakat Indonesia. Gedung, rumah, dan jalan-jalan yang kita temui disetiap penjuru...

Haruskah ar-Ruju’ ila Al-Qur’an wa As-Sunnah?

“Bapak dan ibu sekalian, segala kemaksiatan dan kemunduran umat islam saat ini tidak lain dan tidak bukan, disebabkan oleh kelalaian kita terhadap perintah-perintah Allah...
Redaksi
Redaksi

Pelayaran Cheng Ho atau disebut juga Zheng He pada 1403-1433 M menunjukkan peradaban China telah maju dan memiliki pandangan ke depan dalam konstelasi global pada masanya.

Perjalanannya ke Jawa, Asia Tengah, dan Afrika beserta 400 perahu mengukuhkan dirinya—dan China—sebagai tonggak yang penting. Tonggak ini berupa China sebagai sebuah kesatuan kerajaan yang terkuat pada masa itu di kawasan yang membentang di Asia; tonggak konsolidasi para migran China; dan tonggak penyebaran Islam di kawasan Nusantara (Asia Tenggara).

Pada abad 15 adalah masa peralihan yang penting di kawasan Nusantara.  Masa ini ditandai dengan meredupnya Majapahit di kawasan Selat Malaka dan dampaknya wilayah-wilayah yang selama ini berada dalam jangkauan kekuasaan Majapahit mencari patron baru. Pada saat yang sama China di bawah Dinasti Ming menjalankan kebijakan muhibah atau perjalanan laut ke pelbagai wilayah manca dengan kepemimpinan Cheng Ho.

Perjalanan Cheng Ho selama tiga dekade ini membawa dampak yang besar pada kawasan yang di- datanginya. Perjalanan ini bukan perjalanan biasa melainkan sebagai misi kebudayaan, politik, ekonomi. Dalam misi ini tidak terdapat misi militer yang berati sebuah penaklukan yang tipikal Barat.

Dalam sejarahnya Barat selalu dilatari ambisi penaklukan disertai penindasan ketika bersentuhan den- gan wilayah di luar barat pada abad-abad setelah muhibah Cheng Ho. Misi Cheng Ho adalah per- damaian dunia. Dan misi ini—yang sering tidak dicermati—berupa penyebaran agama Islam di kawasan Nusantara.

Adalah Dr. Tan Ta Sen yang telah menunjukkan pada kita melalui riset yang mendalam peran Cheng Ho ini di kawasan Asia Tenggara (Nusantara). Beliau menyatakan dalam perjalanan Cheng Ho inilah terjadi intensifikasi dan sistematisasi para orang China muslim di tanah perantauan.

Para migran Chi- na sebagian adalah muslim. Perkembangan Islam pesat di China setelah  dikuasai oleh orang-orang Mongol. Pada masa kekuasaan Mongol ini orang Islam memperoleh peran yang besar dalam struktur pemerintahan Dinasti Ming. Dengan masuknya orang-orang Islam di birokrasi kerajaan China berdampak pada meluasnya perkembangan di China.

Seiring dengan migrasi orang-orang China ke kawasan “bawah” mengalirlah gagasan Islam ke kawasan Asia Tenggara. Pada awalnya, Islam tidak menyebar ke penduduk lokal, melainkan di kalan- gan pedang China Muslim  di kawasan perdagangan di Kanton, Yunan, Palembang, Perlak. Kelompok sosial ini sifatnya ekslusif di antara para warga China Muslim.

Menurut Tan Ta Sen kedatangan Cheng Ho berperan besar dalam pembentukan persekutuan sosial yang disebut sebagai Biro China Perantauan. Adanya Biro ini memberi mandat yang sifatnya formal dalam kelompok sosial ini untuk memperoleh akses dan wewenang dari pusat kekuasaan China di bawah Dinasti Ming.

Padahal, dalam kebijakan Dinasti Ming ini dilarang untuk melakukan perdagan- gan, apalagi tinggal di luar negeri China. Pelanggarnya diyatakan salah dan disebut sebagai tindakan kriminal yang berat.

Kebijakan ekonomi-politik ini tidak sepenuhnya memadai sebab terlalu banyak perantauan China yang telah menetap di luar negeri. Berkat Cheng Ho perantauan China ini memper- olah semacam legalitas atas keperantauannya. Dan, atas peran dan bimbingan Cheng Ho ini, perantauan yang sudah muslim ini semakin kuat keberadaanya dalam hal beragama Islam dan peran China di perantauan.

Adanya Cheng Ho pula yang membuat China non Muslim tergeser atas pelbagai tindak perompakan dan kriminal lainnya di kawasan Selat Malaka dan Palembang. Misi Cheng Ho yang menjadi legenda dalam kisah lisan di antara generasi China di perantauan di kawasan Nusantara adalah kukuhnya pe- ran Cheng Ho ini. Cheng Ho menjadi legenda setengah dewa dan dipuja di klenteng-klenteng sepan- jang pesisir utara Jawa, pesisir timur Sumatra, dan pesisir Malaysia.

Secara politik, peran Cheng Ho jelas di kawasan Asia tenggara ketika masuknya penguasa lokal Malaka masuk Islam. Peralihan kesultanan dari kerajaan Melaka yang didirikan oleh Prameswara dari Palembang merupakan unjuk dada Malaka atas Majapahit yang selama ini membawahi Selat Malaka dan sekitarnya.

Akses ke China membuat keberadaan Malaka semakin diperhitungkan oleh kekuasaan-kekuasaan lokal di sekitarnya, khususnya berhadapan dengan Majapahit. China pada masa Dinasti Ming ini be- berapa kali melakukan veto Kerajaan Siam agar Kesultanan Malaka tidak diserang.

Pembacaan atas peta politik saat itu membuat Malaka merapat ke Dinasti Ming. Dalam perkembangan sejarah Malaka ternyata benar. Berkat kedekatan ke China melalui Cheng Ho, keberadaan Malaka menjadi jembatan emas penyebaran Islam di Asia Tenggara. Utamanya pada saat Malaka menyatakan menjadi Kesultanan Melaka dan mendapat restu Dinasti Ming. Semenjak ini penyebaran Islam mem- peroleh legitimasi dan patron yang kuat di kawasan Nusantara.

Berdirinya Kesultanan Malaka ini menjadi faktor penting strategi penyebaran. Islam hadir di wilayah nusantara jauh sebelum Malaka. Di Barus sudah ditemukan nisan bercirikan Islam bertarikh 7 M. Se- mentara di Gresik ditemukan makam Fatimah binti Maimun bin hibat Allah pada 1082 M. Artinya, Islam sudah ada jauh sebelum Cheng Ho melakukan muhibah.

Hanya saja, kenapa Islam tidak meluas saat itu sebab banyak catatan sejarah yang menyatakan pen- duduk Jawa masih memeluk Budha, Hindu, dan kepercayaan setempat? Jawabanya pada tiadanya pa- tronase dan penggerak yang memiliki basis kekuatan setara dengan Dinasti Ming. Baru kemudian pada abad 15 M momentum itu ada pada Cheng Ho dan Kesultanan Malaka. Dari situlah kemudian gagasan tentang Islam meluas di wilayah Nusantara.

Dr. Tan Ta Sen menelusuri leluhur Cheng Ho yang berasal dari generasi masuknya Muslim di China pada abad 7 M ke China. Dalam diri Cheng Ho telah meresap keyakinan Islam kuat yang tumbuh dari keluarganya kala Islam masuk ke China. Dan ketika para orang Mongol berkuasa atas China, peranan orang Muslim menjadi besar, termasuk para kasim muslim. Mereka berada dalam lingkaran kekuasaan kaisar Dinasti Ming. Jaringan luar negeri kerajaan ini diserahkan kepada para kasim ini. Ini menjawab kenapa Cheng Ho yang muslim diberi tanggung jawab memimpin ribuan orang dalam per- jalanan laut ke penjuru dunia.

Dr. Tan Ta Sen berpendapat Islam masuk ke Nusantara tidak lepas dari para saudagar China. Baru kemudian akses langsung ke Arab dilakukan masa sesudahnya, terutama setelah berakhirnya ekspedisi Cheng Ho dan berhentinya kebijakan muhibah laut Kerajaan China. Namun, dengan datangnya Cheng Ho memantapkan keberadaan China Muslim di perantauan.

Perjalanan tujuh kali Cheng Ho keliling dari Asia Tenggara, Timur Tengah hingga Afrika membawa dampak kuat pada persebaran Islam. Persebaran ini terutama di kawasan Asia Tenggara. Menurut Dr. Tan Ta Sen jejak-jejak Cheng Ho dapat ditemukan di sepanjang pantai utara Jawa, yaitu Banten, Cire- bon, Semarang, Lasem, Tuban, hingga Gresik.

Jejak itu terekam dalam kisah lisan maupun dalam bentuk penghormatan oleh orang China yang di lakukan di klenteng-klenteng. Sosok Cheng Ho dipuja sebagai orang yang banyak berjasa baik untuk orang China Muslim maupun non Muslim. Dituliskan bahwa orang China non muslim diperkejakan pada galangan-galangan kapal di Semarang. Kecakapan.

Redaksi
Redaksi
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Menilik Proses Pembentukan Hukum Adat

Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dikaruniai Tuhan Yang Maha Kuasa kekayaan yang begitu melimpah di segala bidang. Segala jenis tumbuhan maupun binatang...

Milenial Menjawab Tantangan Wajah Baru Jatim

Tahun berganti arah berubah harapan baru muncul. Awal tahun masehi ke-2021 terlihat penuh tantangan berkelanjutan bagi Jawa Timur setelah setahun penuh berhadapan dengan Covid-19...

Menghidupkan Kembali Pak AR Fachruddin

Buku Pak AR dan jejak-jejak bijaknya merupakan buku biografi yang ditulis oleh Haidar Musyafa. Buku ini dicetak pertama kali pada bulan April 2020 dengan...

Menata Kinerja Buzzer yang Produktif

  Buzzer selalu hadir membingkai perdebatan carut-marut di ruang media sosial atau paltform digital lainnya. Seperti di twitter, facebook, instagram, dan media lainnya. Buzzer memiliki...

Lika-Liku Ganja Medis di Indonesia

Setiap manusia berhak sehat dan setiap yang tidak sehat berhak dapat pengobatan. Alam semesta telah menyediakan segala jenis obat untuk banyaknya penyakit di dunia...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Narkoba Menghantui Generasi Muda

Narkoba telah merajalela di Indonesia .Hampir semua kalangan masyarakat positif menggunakan Narkoba. Bahkan lebih parahnya lagi adalah narkoba juga telah merasuki para penegak hukum...

Bagaimana Menjadi Muslim Moderat

Pada tahun 2017 saya pernah mengikuti Halaqah Ulama ASEAN yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama. Kampanye yang digaungkan Kemenag masih seputar moderasi beragama. Dalam sebuah diskusi...

PKI, Jokowi, dan Tertusuknya Syekh Jaber

Syekh Ali Jaber ditusuk AA, Ahad malam (13/9/2000) di Lampung. Siapa AA? Narasi di medsos pun gonjang-ganjing. Konon, AA adalah kader PKI. Partai yang berusaha...

Our World After The Pandemic: The Threat of Violent Ekstremism and Terrorism, The Political Context

Pandemic C-19: Disruptions Personal and public health with rapid spread of the pandemic globally, more than 90 millions infected and almost two million death...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.