Selasa, Januari 19, 2021

Peran ASEAN dalam Konflik Kepulauan Natuna

Mengurai Debat HAM dalam Pemberantasan Terorisme

Perdebatan penting yang perlu disimak dari dua kejadian terkait terorisme—bentrok napiter di Mako Brimob dan bom bunuh diri di Surabaya—beberapa hari ini adalah bagaimana...

PK Ahok Ditolak MA: Antara Keadilan dan Ketidakadilan Hukum

Masyarakat tak begitu terkejut ketika Hakim Agung Artidjo Alkostar yang memimpin sidang peninjauan kembali (PK) mantan Gubernur Jakarta Ahok, mengetok palu usai memutuskan PK...

Tukang Parkir

Penulis pergi ke sebuah restoran sederhana di pinggiran kota Surabaya untuk membeli soto daging madura. Cuma sebentar, tidak makan ditempat namun tetap dihadang petugas...

Masih Signifikan Politik Islam?

Sejak pemilu 1999, fusi partai politik telah pecah dan bermunculan berbagai partai politik dengan platform yang beragam, termasuk partai politik islam. Dari 48 partai...
Christyn Floranita
Eat anything u want to eat as long as you're living

Indonesia merupakan salah satu negara yang sangat luas dan terbentang dengan begitu banyak pulau, oleh sebab itu Indonesia dikenal juga dengan Negara Kepulauan, salah satunya ialah wilayah di Kepulauan Natuna.

Konflik sengketa wilayah yang terjadi di Kepulauan Natuna bukanlah lagi hal baru, konflik ini sudah ada sejak lama dan masih ada hingga saat ini dimana wilayah Kepulauan Natuna ini merupakan daerah yang berbatasan langsung dengan negara tetangga,  dan terhubung dengan laut bebas sehingga sangat rawan terhadap aktifitas Illegal Fishing (Pencurian Ikan) di kawasan perairan Natuna.

Kawasan Kepulauan Natuna sering disebut sebagai pintu gerbang Natuna dimana kawasan tersebut juga merupakan salah satu jalur Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) dan menjadi salah satu lintasan laut internasional bagi kapal-kapal yang datang dari samudera Hindia memasuki negara-negara industri disekitar laut tersebut dan juga menuju Samudera Pasifik.

Di mata dunia, nama Natuna tentulah belum setenar Batam, apalagi Bali. Namun, melihat potensi yang dimiliki, bukanlah suatu ketidakmungkinan kabupaten yang beribukota di Ranai itu akan semakin mencuri perhatian dunia. Setidaknya ada empat alasan mengapa Natuna penting bagi Indonesia, khususnya Provinsi Kepulauan Riau.

Yang pertama dari sisi geostrategisnya, wilayah ini berbatasan langsung dengan Kamboja dan Vietnam di sebelah utara, Singapura maupun Malaysia di bagian Barat, dan Malaysia Timur di bagian timur.

Selain itu, wilayah ini berada di titik simpul pelayaran internasional yang menghubungkan Hong Kong, Jepang, Korea Selatan, Taiwan, dengan negara-negara lainnya. Dengan fakta itu, sudah semestinya negara “hadir” untuk menjaga pertahanan dan keamanan. Terlebih lagi pulau-pulau yang terletak di Gugusan Natuna telah dijadikan titik dasar terluar wilayah RI dalam Deklarasi Djuanda pada tahun 1957.

Yang kedua dari sisi ekonominya, Kepulauan Natuna memiliki potensi sumber daya alam yang sudah tidak diragukan lagi melimpahnya. Wilayah tersebut menyimpan cadangan gas yang diprediksi lebih dari 222 Trillion Cubic Feet (TCT) dan jika itu benar, maka dapat disebut sebagai salah satu sumber gas terbesar di Asia.

Blok Natuna D-Alpha bahkan disebut-sebut mampu memenuhi kebutuhan gas Indonesia hingga lebih dari 70 tahun ke depan. Menurut informasi yang dilansir dari berbagai sumber, dari 16 blok sumber gas yang dimiliki Natuna baru 5 yang telah berproduksi dan sisanya masih dalam tahap eksplorasi.

Lalu yang ketiga dari sisi perikanannya, wilayah ini memiliki potensi sumber daya perikanan laut yang ditaksir lebih dari 1 juga ton pertahun. Tetapi sayangnya, hanya sekitar 34 persen yang telah dimanfaatkan. Itupun Kabupaten Natuna baru menikmatinya tidak lebih dari 4,3 persen.

Tidak mengagetkan, jika wilayah perairannya dijadikan sasaran empuk pencurian ikan oleh para nelayan dari Vietnam, Tiongkok, Malaysia, hingga Thailand. Penggunaan pukat harimau secara berlebihan oleh para pencuri tersebut semakin merugikan Indonesia saja. Kemudian yang keempat yaitu dari sisi pariwisatanya, Kabupaten Natuna memiliki potensi yang tidak kalah dengan Bali, Lombok, Raja Ampat, Bunaken, Banda, Wakatobi, atau Derawan. Kondisi geografisnya yang kurang lebih 99 persen perairan menyimpan keindahan yang sangat mengagumkan.

Terlebih lagi relatif dekat jaraknya dengan hub Asia – Singapura dan Hong Kong. Sudah semestinya Kementerian Pariwisata membangun habis-habisan wilayah ini sebagai destinasi andalan baru.

Oleh karena itu, banyak pihak pula yang menginginkan wilayah ini. Banyaknya pencurian dan pelanggaran yang dilakukan oleh kapal-kapal asing terjadi karena Indonesia terlambat untuk mengatur batasan lau lintas bagi kapal asing terutama terkait dengan wilayah Zona Ekonomi Eksklusifnya (ZEE), sehingga menyebabkan negara lain dengan mudahnya memanfaatkan situasi ini untuk mengambil keuntungan sumber daya laut terutama perikanan di wilayah perairan Indonesia.

Salah satu penyebab konflik ini sangat berlarut. Kasus Natuna yang berawal pada tahun 2009 ini diklaim secara sepihak oleh pemerintah Tiongkok yang mengindikasikan bahwa kekuatan dan pertahanan nasional dalam hal kedaulatan Negara masih memiliki kekurangann dan celah yang dimanfaatkan oleh negara lain.

Menurut versi Tiongkok, mereka memasukan wilayah Natuna kedalam peta wilayah mereka didasarkan pada sembilan titik garis imajiner yang biasa disebut dengan Nine dash line yang selama ini diklaim Tiongkok dan menandakan perbatasan maritimnya. Namun dari sembilan titik garis ini Indonesia tidak mengakuinya karena menurut Indonesia hal itu tidak memiliki dasar hukum internasional apapun.

Sembilan titik imaginer itu sendiri merupakan salah satu penyebab menculnya konflik di wilayah Laut Tiongkok Selatan. Dan klaim ini memancing emosi sejumlah negara yang turut mengklaim memiliki hak di wilayah yang jadi jalur perdagangan dunia itu oleh karenanya hingga sekarang masih banyak pencurian ikan yang mengatasnamakan klaim tersebut dan hal ini tidaklah boleh dibiarkan terus menerus. Bersama pemerintah Indonesia dan negara-negara tetangga, ASEAN (Association of South East Asia Nations) ikut mengambil peran untuk berusaha menyelesaikan konflik tersebut.

Banyak upaya yang telah dilakukan oleh ASEAN, diantaranya ialah memperkuat kapasitas dan ketentuan kepemimpinan bagi setiap anggota yang akan menjabat sebagai ketua ASEAN, sesuai dengan aturan rotasi jabatan yang telah ditentukan agar setiap pergantian ada penekanan upaya berkelanjutan untuk menuntaskan terhadap masalah penting bersama yang sedang dihadapi khususnya konflik sengketa wilayah tersebut.

Lalu ASEAN juga mengupayakan perubahan status DOC (Declaration on the Conduct)  menjadi COC (Code of Conduct) sehingga kesepakatan perjanjian konstruktif terkait sengketa wilayah tersebut bisa mengikat masing-masing pihak. Selain itu ASEAN lebih memaksimalkan fungsi mekanisme kerja lembaga internalnya yang telah disepakati khususnya di bidang maritim serta menimplimentasikannya dilapangan. Dan yang paling utama ASEAN memperkuat upaya kerjasama bilateral secara terus menerus dengan tujuan pemanfaatan bersama dalam potensi sumber daya alam yang ada di wilayah sengketa baik antara sesama anggota di ASEAN sendiri dan yang sedang bersengketa.

Christyn Floranita
Eat anything u want to eat as long as you're living
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Dilema Vaksinasi dalam Menghadapi Masa Transisi

Pandemi covid-19 telah membawa perubahan kebiasaan yang fundamental dalam kehidupan bermasyarakat. Selama masa pandemi, kebiasaan-kebiasaan di luar normal dilakukan dalam berbagai sektor, mulai dari...

Wacana sebagai Represifitas Tersembunyi

Dewasa ini, lumrah dipahami bahwa represifitas diartikan sebagai tindakan kekerasan yang berorientasi pada tindakan fisik. Represifitas juga acap kali dikaitkan sebagai konflik antara aparatus...

China-Indonesia, Lahir dari Rahim Bulutangkis

Olahraga bukan sekedar cara untuk menjaga kesehatan, juga bukan sebagai hobi yang dinikmati dan sebuah kewajiban rutinitas untuk mencegah berbagai penyakit. Lebih dari itu,...

Penguatan Kebijakan Pelaksanaan Akreditasi RS di Masa Covid-19

Kasus Pandemik Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) kian meningkat dan telah memengaruhi berbagai aspek kesehatan termasuk memengaruhi upaya dalam meningkatkan kualitas layanan fasilitas kesehatan....

Memaknai Syair Lagu Jika Surga dan Neraka Tak Pernah Ada

Lagu yang diciptakan oleh musisi terkenal di Indonesia yaitu Ahmad Dhani, melahirkan Sebuah mahakarya lagu yang begitu indah dan memiliki makna yang dalam. Lagu...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Mengapa Banyak Abdi Negara Muda Pamer di Media Sosial?

Apakah kamu pengguna Twitter yang aktif? Jika iya, pasti kamu pernah melihat akun @txtdrberseragam berseliweran di timeline kamu. Sebagaimana tercantum di bio akun ini,...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

penerapan etika bisnis dalam CSR dan lingkungan hidup

Di dalam perkembangan zaman yang semakin maju dan kompetitif menuntut para pembisnis untuk meningkatkatkan daya saingnya. Namun kebanyakan dari mereka masih belum mengerti bagaimana...

Perbedaan; Pendidikan Karakter, Moral dan Akhlak

Kita lihat bila Secara filosofis, terminologi pendidikan karakter, pendidikan moral, pendidikan etika, dan pendidikan akhlak memiliki perbedaan. Terminologi pendidikan moral (moral education) lebih cenderung...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.