Minggu, Januari 24, 2021

People Power Sebuah Halunisasi Amien Rais

Menanti Komitmen Jokowi untuk KPK

Kurang lebih 2 bulan lalu masyarakat Indonesia dihebohkan dengan kasus penyiraman air keras kepada penyidik senior KPK bung Novel Baswedan di Masjid kediaman rumahnya...

Ribut Sistem Zonasi?

Sudah pernah saya bahas ditulisan sebelumnya, bahwa saya termasuk orang yang masa bodoh dengan sekolah favorit, karena dari dulu saya sudah mengamalkan sekolah dengan...

Jokowi, Kaum Muda, dan Toleransi Agama

“Tidak ada tempat bagi kelompok intoleran di Indonesia”. Tidak ada tempat bagi mereka yang tidak mampu bertoleransi di negara ini. Apalagi dnegan cara-cara kekerasan”,...

Menajamkan Mitigasi Bahaya Alam

Elisabeth Byrs dari kantor Urusan Kemanusiaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (OCHA) pernah mengatakan, Jepang adalah negara yang paling siap menghadapi bencana. Jepang salah satu negara terkaya...
Raylis Sumitra
Presedium PENA 98 (Perhimpunan Nasional Aktivitis 98) Jawa Timur Mantan Jurnalis pengemar kopi

Waduh, se-ekstrimku kah situasi nasional apabila pasangan 02 kalah dalam Pilpres 2019 nanti.  Sehingga,  menjadikan Amin Rais ber-halusinasi terjadinya people power. Atau, ada kepentingan lain sehingga Amien Rais sampai mengucapkan hal itu. Terutama masa depan partai besutannya PAN (Partai Amanat Nasional)?

Ya,  hingga mendekati pelaksanaan hajat demokrasi terbesar di Republik ini. Elektabilitas PAN tidak beranjak dari zona merah 4 % ambang batas (elektoral Threshold). Dari beberapa survei yang telah dirilis. PAN hanya mampu menjauhi dari ambang batas margin error sebuah survei 3 % saja.

Partai berlambang matahari terbit ini, sangatlah penting bagi kebedaraan Amien Rais dalam konstilasi politik nasional tanah air. Punahnya, Partai Amanat Nasional sama dengan punanya dirinya dikancah politik nasional.

Kata kaum milenial, Amien Rais jadi galau dengan kenyataan itu. Sehingga berhalusinasi akan terjadi people power.

Ucapan ini, bukanlah menimbulkan ketakutan. Sebaliknya, menjadi lelucon bagi mayoritas khalayak.  Pasalnya, sosoknya sangat jauh dari pra-syarat terciptanya sebuah people power.

Amien Rais salah mempersepsikan fakta-fakta dilapangan tentang konstilasi politik kekinian. Apa yang terjadi di medsos dan kenyataan. Tidak bisa ditarik secara linear. Belum lagi mengkalkulasi variabel untuk terjadinya people power.

Sederhananya, siapa Amien Rais itu? Seberapa kekuataannya? Apa yang dimiliki untuk mengerakan masyarakat. Sementara, partainya hari ini sedang terjebak di zona ancaman tidak lolos elektoral threshold.

Sebenarnya,  publik tidak juga menghiraukan ucapan itu. Kontroversial yang dilakukan Amien telah menjadikan sikap antipati dikhalayak.  Bahkan diinternal Muhammadiyah sendiri kerap sekali Amien dikritik. Padahal Muhammadiyah adalah basis utama PAN.

Dalam konteks Pilpres,  tidak sedikit pengurus tingkat Provinsi dan Daerah yang menyeberang ke kubu pasangan nomor urut 01. Tidak hanya itu, kepala daerah dari PAN yang memberikan berseberangan dengan sikap politik Amien Rais dalam memilih calon Presiden.

People Power Versi Amien

Ucapan Amien Rais tentang people power ini. Dalam catatannya, Amien Rais sebenarnya bukan tokoh pergerakaan. Yang hidupnya disel-sel simpul massa. Amien lebih dekat dunia kampus. Yang bergelut pada teori-teori yang sifatnya tekstual.

Apakah, ucapan people power ini lebih pada teoritikal Amien Rais teksbook.  Bukan pada fakta empiris fenomena sosial masyarakat.

Memang,  kondisi sosial politik menjelang Pilpres tensinya semakin memanas.  Dengan mengguatnya polarisasi dukungan. Semakin menarik lagi saat diracik dalam perang media sosial. Tapi semuanya masih dalam kewajaraan dan terkondisikan.

Apakah ini yang menjadi rujugkan ucapakan Amien Rais? Jelas, rujugkan itu jauh dari kenyataan. Hanya halusinasi belaka. Seolah-olah akan terjadi benturan sosial. Dan mengerakan warga melaluka people power.

Sangatlah jauh dari kenyataan, apabila Amien menjadikan diskursus pilpres saat ini dengan people power. Tapi dalam kehidupan demokrasi,  ucapan Amien Rais itu sebagai kebebasan dalam berpendapat.

Raylis Sumitra
Presedium PENA 98 (Perhimpunan Nasional Aktivitis 98) Jawa Timur Mantan Jurnalis pengemar kopi
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

The Social Dilemma: Logika Eksploitatif Media Sosial

Seorang teman baru bebas dari dunia gelap. Mengkonsumsi narkoba menjadi gaya hidupnya. Padalah kehidupannya tak terlalu suram bagi ukuran kelas menengah. Tapi kehidupannya itu...

Upaya Penghapusan Kekerasan Terhadap Perempuan

Kasus KDRT khususnya terhadap perempuan masih banyak terdengar di wilayah Indonesia. Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (6/03/20) juga meluncurkan catatan tahunan (CATAHU) yang...

Capitol, Trump, dan Biden

Menjelang pelantikan Joe Biden sebagai Presiden AS, 20 Januari ini (Rabu malam waktu Indonesia), Washington kembali tegang. Penyerbuan gedung Capitol, Washington -- simbol demokrasi...

Pelantikan Joe Biden dan Pembangkangan Trump

Pelajaran Demokrasi untuk Dunia yang Terus Berubah Washington tegang menjelang pelantikan Presiden Joe Biden dan Kemala Harris, 20 Januari 2021. Kondisi ini terbentuk akibat pembangkangan...

Proyeksi OPEC, Konsumsi Migas Dunia akan Meningkat

Senin (18/1) penulis berkesempatan untuk memberikan kuliah umum secara daring dengan adik-adik di Politeknik Akamigas Cepu, Jawa Tengah. Maraknya pemberitaan mengenai kendaraan listrik dan...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Menyerupai Suatu Kaum: Hadits, Konteks Budaya, dan Tahun Baru 2018

Hanya dengan satu hadits ini, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR Abu Daud dan Ahmad), banyak ustaz yang lantang...

The Social Dilemma: Logika Eksploitatif Media Sosial

Seorang teman baru bebas dari dunia gelap. Mengkonsumsi narkoba menjadi gaya hidupnya. Padalah kehidupannya tak terlalu suram bagi ukuran kelas menengah. Tapi kehidupannya itu...

Menilik Pencekalan Panglima Gatot

Insiden diplomatik antara Amerika Serikat dan Indonesia terjadi hari Sabtu lalu, (21/10/2017) di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Kejadiannya, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo dicekal untuk...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.