Senin, Oktober 26, 2020

Penyerangan di Lidwina, Fenomena Hedonistik Spiritual

Obrolan Warung, #KitaAgni, dan Pendidikan Seks di Indonesia

Salah satu bentuk interaksi yang cukup merekatkan relasi pertemanan saya dengan orang-orang di perkuliahan tentu saja adalah ‘obrolan warung’, yang dinamai demikian karena obrolan-obrolan...

—–

----

Papua itu Luka

Siang itu, lepas shalat Jumat, 17 Agustus 2019, massa berkumpul di Jalan Kalasan, Pacar Keling, Tambaksari, Surabaya. Mereka bergerak setelah mendengar kabar bahwa bendera...

Keteledoran dan Duka Asian Para Games

Di penghujung tahun 2018 ini, Indonesia menjadi tuan rumah dua ajang olahraga terbesar di Asia, yaitu Asian Games 2018 dan Asian Para Games 2018....
Wawan Kuswandi
Pemerhati komunikasi massa, founder blog INDONESIAComment, mantan editor Newsnet Asia (NNA) Jepang dan penyuka sambal

Kekhusyukan perayaan misa di gereja Katolik Santa Lidwina, Bedog, Desa Trihanggo, Kecamatan Gamping, Sleman, Yogyakarta, Minggu (11/2/2018) lalu, berubah menjadi ritual keagamaan yang sangat mengerikan.

Seorang pria bernama Suliono, tiba-tiba menerobos masuk ke gereja dan langsung membacok sejumlah umat yang sedang beribadah. Akibatnya, Pastor Karl-Edmund Prier yang memimpin misa dan seorang anggota polisi terluka. Suliono yang merupakan warga Banyuwangi, Jawa Timur, akhirnya terkapar setelah ditembak polisi.

Peristiwa tragis dan memilukan di atas merupakan fenomena hedonistik spiritual yang sedang dialami sebagian umat muslim di Indonesia. Pelaku (seorang muslim) merasa senang dan puas (hedon) ketika agama yang dianutnya berhasil menganiaya non muslim. Kalau kejadian ini tidak segera ditumpas tuntas oleh aparat hukum, maka riak-riak konflik antarumat beragama akan dengan mudah pecah dan bisa merusak nilai-nilai  toleransi dan universalitas ketuhahan.

Ketika egoisme ketuhanan mulai berpihak kepada hedonisme subjektif, maka perbedaan agama menjadi sesuatu yang sangat menakutkan. [Mohon Maaf] Dalam pandangan saya, saat ini sebagian umat muslim di Indonesia, mulai terjebak dalam sikap dan perilaku hedonisme spiritual  ‘akulah yang paling benar’.

Disadari atau tidak, perilaku hedosnistik ini telah menggiring umat muslim untuk menghancurkan eksistensi Islam, melalui tindakan kekerasan dan sadistik terhadap penganut agama lain. Sebagian umat muslim meyakini kebenaran absolut spiritual secara individualistik, tanpa mau menerima atau menghormati adanya keyakinan atau agama lain yang sudah menjadi takdir Tuhan.

Plautus Asinaria (195M)  dalam karyanya  ‘Lupus Est Homo Homini’ menggambarkan bahwa manusia menjadi serigala bagi manusia lainnya (Homo Homini Lupus). Pesan yang tersirat dalam karya Plautus ini secara gamblang menyoroti bahwa hedonistik spiritual bisa menghancurkan derajat mulia manusia yang telah digariskan Tuhan.

Sejumlah penganut muslim acapkali melakukan tindak kekerasan dan perusakkan, terhadap keberadaan agama lain. Perilaku hedonistik ini telah menggoyahkan hati nurani dan melunturkan nalar spiritual umat muslim. Akhirnya, lahirlah perilaku anarkisme dan radikalisme.

Perilaku saling menghormati dan menjaga nilai-nilai sosial universal agama, dalam konteks Homo Homini Socius’ (teman antar sesama manusia) yang dicetuskan filsuf Lucius Annaeus Seneca (65 M), juga hancur oleh sebagian umat muslim yang mengidolakan hedonistik spiritual. Akibatnya, sikap toleransi dan saling menghormati antarsesama penganut agama menjadi sebuah barang ‘haram’.

Allah SWT berfirman, “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”. (QS. Al Hujurat ayat 13)

Ayat di atas memiliki penafsiran yang sangat jelas soal perbedaan, yaitu seluruh manusia berasal dari seorang laki-laki, yaitu Nabi Adam dan seorang perempuan yakni Siti Hawa. Artinya, semua manusia di muka bumi, sejak dahulu sampai sekarang berawal dari percampuran seorang laki-laki dan seorang perempuan melalui persetubuhan.

Di dalam ayat tersebut juga ditegaskan bahwa terjadinya berbagai bangsa dan suku dan juga agama, bukan untuk membuat manusia saling bermusuhan, melainkan supaya mereka saling kenal mengenal karena berasal dari nenek moyang yang sama. 

Pada hakekatnya, manusia berasal dari keturunan yang satu. Tidak ada perbedaan di antara yang satu dengan yang lainnya serta tidak perlu membangkit-bangkitkan perbedaan.

Wawan Kuswandi
Pemerhati komunikasi massa, founder blog INDONESIAComment, mantan editor Newsnet Asia (NNA) Jepang dan penyuka sambal
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Membendung Hegemoni China di Asia Tenggara

Lima hari sudah Menteri Luar Negeri (Menlu) China Wang Yi berkunjung ke empat negara di Asia Tenggara (15-18 Oktober 2020). Dalam kunjungan ke Kamboja,...

Reformasi Kewenangan Legislasi DPD

Dewan Perwakilan Daerah (DPD) sebagai anak kandung reformasi telah berusia 16 tahun. Lembaga negara buah amandemen ketiga UUD 1945 mengalami banyak goncangan. Isu pembubaran...

Mencari Petunjuk Kekebalan Covid-19

Orang yang telah pulih dari Covid-19 mungkin khawatir tentang efek kesehatan yang masih ada, tetapi beberapa mungkin juga fokus pada apa yang mereka lihat...

Sastra, Dildo dan Evolusi Manusia

Paling tidak, berdasarkan catatan tertulis, kita tau bahwa sastra, sejak 4000 tahun lalu telah ada dalam sejarah umat manusia. Hari ini, catatan yang ditulis...

Benturan Antar Peradaban dan Masa Depan Politik Dunia

Di dalam buku Huntington yang 600-an halaman yang berjudul Benturan Antar Peradaban dan Masa Depan Politik Dunia mengatakan bahwasanya masa depan politik dunia akan...

ARTIKEL TERPOPULER

Pemuda Pancasila Selalu Ada Karena Banyak yang Memeliharanya

Mengapa organisasi ini masih boleh terus memakai nama Pancasila? Inikah tingkah laku yang dicerminkan oleh nama yang diusungnya itu? Itulah pertanyaan saya ketika membaca...

Tamansiswa, Ki Hadjar Dewantara, dan Sistem Pendidikan Kolonial

Setiap 2 Mei kita dihadapkan pada kesibukan rutin memperingati Hari Pendidikan Nasional. 2 Mei itu merupakan tanggal kelahiran tokoh pendidikan nasional, Ki Hadjar Dewantara,...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

“Islam Kaffah” yang Bagaimana?

Sebuah buletin baru “Buletin Dakwah Kaffah” terbit pada 18 Dzulqa’dah 1438 H/11 Agustus 2017. Judul “Islam Kaffah” mengingatkan kita kembali slogan Hizbut Tahrir Indonesia...

Di Bawah Erdogan Turki Lebih Tidak Demokratis dari Indonesia

Turki di bawah kepemimpinan Erdogan sering dibanding-bandingkan dengan Indonesia di bawah Jokowi. Perbandingan dan penghadap-penghadapan antara Erdogan dan Jokowi yang sering dilakukan oleh kelompok...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.