Senin, Oktober 26, 2020

Penyelamatan Manusia Modern dari Krisis Spiritualitas

Antara UUD ’45, Pancasila, dan SDGs

Dikatakan bahwa pembangunan yang tepat adalah tidak semata memajukan aspek ekonomi namun mampu memajukan seluruh aspek kehidupan manusia ke arah yang lebih baik (Stiglitz,...

Dekonstruksi dan Kekeliruan Wacana tentang Papua

Dekonstruksi adalah kehendak menemukan kecurigaan-kecurigaan, menuju kemungkinan interpretasi, dan kontradiksi yang disembunyikan dalam teks. Dalam bukunya yang menulis pemikiran Derida, dikatakan esensi dari dekonstruksi...

PT Freeport Adalah Kekalahan Indonesia

Semua pihak yang mengaku nasionalis pasti bingung bagaimana caranya agar pengelolaan tambang emas terbesar di dunia yang saat ini dipegang oleh PT Freeport bisa...

Onani Saat Puasa, Bagaimana Menurut Fikih?

Persoalan onani tidak membatalkan puasa menjadi polemik dan diskursus yang tidak berkesudahan. Menurut jumhur ulama, di dalam banyak kitab klasik, onani membatalkan puasa. Menurut KBBI...
Anna Zakiyyah Derajat
Pegiat komunitas penulis Coretan Pena, teater EKSA, PMII RCC, debater Al Motoyat Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Yogyakarta.

Modernisme adalah faham tentang hal-hal yang bersifat modern. Sebagian orang beranggapan bahwa Islam dan modernisme adalah suatu kata yang tidak tepat untuk disandingkan. Menurut mereka, modernisme adalah pintu utamanya bid’ah, dan bid’ah adalah virusnya agama. Masyarakat modern umumnya lebih mempergunakan rasio mereka untuk memecahkan setiap masalahnya. Sedangkan Islam mempunyai konsep bahwa manusia tetap menggunakan dalil naqli disamping dalil aqlinya. Sehingga konsep diri yang ada pada masyarakat modern adalah hedonisme yang mengakibatkan kemerosotan akhlak. Kehidupan masyarakat modern identik dengan mendewakan ilmu pengetahuan dan teknologi, juga adanya pengagungan terhadap nilai-nilai yang bersifat materi dan meninggalkan unsur-unsur yang sifatnya spiritual. Kemajuan IPTEK telah banyak membawa perubahan bagi masyarakat, terutama dalam cara berpikir, bersikap dan bertingkah laku dalam berbagai aspek kehidupan, seperti bidang politik, pluralisme agama, spiritual dan etika. Jika manusia tidak mampu mengantisipasi cepatnya perkembangan ilmu pengetahuan tersebut, maka akan menimbulkan ketidak seimbangan antara aspek jasmaniah dan aspek rohaniah. Ketidak seimbangan itu dapat dijumpai dalam realitas, dimana banyak manusia yang sudah hidup dalam lingkup peradaban modern dengan menggunakan berbgai teknologi, tetapi dalam menempuh kehidupan terjadi distorsi-distorsi nilai kemanusiaan, terjadi dehumanisasi yang disebabkan oleh kapasitas intelektual, mental dan jiwa yang tidak siap untuk mengarungi samudera peradaban modern. Akibat yang ditimbulkan dari gaya hidup modern yang lebih mementingkan dunia materi dan mengabaikan aspek-aspek batiniah yaitu terjadinya gangguan kejiwaan, seperti kecemasan, kesepian, kebosanan, perilaku menyimpang, psikosomatis dan lain sebagainya.Dalam bahasa Indonesia, pada dasarnya kata MODERNISASI adalah “pembaruan”, berasal dari kata “baru” yang bermakna belum pernah ada sebelumnya Dapat disimpulkan bahwa manusia modern merupakan orang-orang yang hidup dalam dunia modern, yang selalu berfikir rasional materialisme. Mereka tidak mempercayai adanya spirit yang ada pada dirinya, karena hal tersebut secara meteri tidak pernah ada. Ketergantungan manusia yang semakin meningkat kepada rasio secara pencapaian ilmu dan teknologi yang ketergantungan kemampuan usahanya sendiri tanpa bantuan kekuatan super natural. Dengan demikian, yang memegang peranan utama dari ciri-ciri masyarakat modern adalah ilmu pengetahuan dan teknologi modern. Urgensi moral atau budi pekerti dalam kehidupan masyarakat sudah tidak diragukan lagi. Bahkan moral dapat dijadikan ukuran atau barometer untuk mengetahui sampai dimana kualitas hidup serta kebudayaan suatu masyarakat, bangsa ataupun sebuah negara. Memang tidak selamanya budaya barat berdampak negatif semua. Dalam hal kemajuan teknologi, misalnya barat lebih maju dan hal itu terus ditiru, karena ajaran Islam memang memerintahkan untuk menguasai teknologi. Munculnya istilah pergaulan bebas seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi dalam peradaban umat manusia, kita patut bersyukur dan bangga terhadap hasil ciptaan karya manusia, karena dapat membawa perubahan yang positif bagi perkembangan atau kemajuan industri masyarakat. Tetapi perlu disadari bahwa tidak selamanya perkembangan membawa kepada kemajuan, mungkin bisa saja kemajuan itu dapat membawa kepada kemunduran. Sudah menjadi wacana umum, bahwa dekadensi moral yang terjadi pada kawula muda telah mencapai titik mengkhawatirkan. Terjadinya pelanggaran norma-norma sosial yang dilakukan oleh para muda-mudi merupakan masalah terpenting bangsa ini dalam rangka perbaikan sumber daya manusianya. Karena, ketika sebuah etika sosial masyarakat tidak diindahkan lagi oleh kaum muda, maka laju lokommotif perbaikan bangsa dan negara akan mengalami hambatan. Proses modernisasi yang dijalankan oleh dunia barat sejak zaman renaissance, disamping membawa dampak positif, juga telah menimbulkan dampak negatif. Dampak positifnya modernisasi telah membawa kemudahan-kemudahan dalam kehidupan manusia, sedangkan dampak negatifnya modernisasi telah menimbulkan krisis makna kehidupan, kehampaan spiritual dan tersingkirnya agama dalam kehidupan manusia. Manusia modern memperlakukan alam sama dengan pelacuran, mereka menikmati dan mengeksploitasi kepuasan darinya tanpa rasa kewajiban dan tanggungjawab apapun. Inilah yang menciptakan berbagai krisis dunia modern, tidak hanya krisis dalam kehidupan spiritual tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari. Problema paling besar yang dihadapi manusia modern, tidak muncul dari situasi pembangunan yang terbelakang, tetapi justru dari pembangunan yang berlebihan. Manusia modern yang memberontak melawan Tuhan, telah menciptakan sebuah sains yang tidak berlandaskan cahaya intellec, jadi berbeda dengan yang kita saksikan di dalam sains-sains Islam tradisional tetapi berlandaskan kekuatan akal (rasio) manusia semata untuk memperoleh data melalui indera. Sebagaimana yang telah disinyalir oleh para sosiolog kontemporer bahwa arus globalisasi akan mengakibatkan dunia ini terbentuk dalam satu Global Village (desa buana) yang mensyaratkan adanya desa-desa yang dikotakan. Di seluruh pelosik dunia akan menjadi kota atau metropolis dengan gebyar kemodernan yang dipoles wajah teknikalisasi dan berlanjut dengan urbanisasi serta industrialisasi.Agama hanya sekedar sebagai instrumen kehidupan serta alat legitimasi dari apa yang diperbuat. Dalam wacana politis, ini sangatlah efektif sebagai pengokoh status quo. Agama menjadi alat justifikasi kepentingan pribadi dan kelompok. Sehingga dalam realitas kehidupan masyarakat perkotaan banyak terjadi fenomena kemunculan organisasi sekuler yang berlabe keagamaan. Mental disorder yang muncul pada jiwa masyarakat perkotaan tersebut banyak disebabkan karena belum mampunya mereka untuk menyingkronkan antara nilai-nilai baru yang dimunculkan oleh gejala modernisasi dan teknologisasi yang semakin maju, dengan ajaran aga secara esensif yang bersifat religio-perennis. Akibatnya masyarakat perkotaan mengalami apa yang dinamakan hampa akan makna. Nilai hampa makna inilah yang membuat masyarakat perkotaan yang notabene mewakili manusia modern cenderung untuk mencari apa saja yang dapat dijadikan sebagai way of life. Kasus-kasus seperti ini mengakibatkan munculnya orang-orang yang merasa kecewa, putus asa dan stres. Karena kekecewaan dan keputusasaan ini terkait dengan jiwa serta hati nurani, maka tasawuf sangat dibutuhkan dan bermanfaat dalam rangka memelihara hati dari gangguan-gangguan tersebut, terutama di era modern ini. Dalam hal ini Nasrh menegaskan”tarikat” atau “jalan rohani” yang biasanya dikenal dengan tasawuf atau sufisme adalah merupakan dimensi kedalaman dan kerahasiaan dalam Islam. Sebagaimana syariat berakar pada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Ia menjadi jiwa dan risalah Islam, seperti hati yang ada pada tubuh tersembunyi jauh dari pandangan luar. Intisari ajaran tasawuf bertujuan memperoleh hubungan langsung dan disadari dengan Tuhan, sehingga seseorang merasa dengan kesadarannya itu berada di hadirat-Nya.Selanjutnya tasawuf melatih manusia agar memiliki ketajaman batin dan kehalusan budi pekerti. 

 

Anna Zakiyyah Derajat
Pegiat komunitas penulis Coretan Pena, teater EKSA, PMII RCC, debater Al Motoyat Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Yogyakarta.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Membendung Hegemoni China di Asia Tenggara

Lima hari sudah Menteri Luar Negeri (Menlu) China Wang Yi berkunjung ke empat negara di Asia Tenggara (15-18 Oktober 2020). Dalam kunjungan ke Kamboja,...

Reformasi Kewenangan Legislasi DPD

Dewan Perwakilan Daerah (DPD) sebagai anak kandung reformasi telah berusia 16 tahun. Lembaga negara buah amandemen ketiga UUD 1945 mengalami banyak goncangan. Isu pembubaran...

Mencari Petunjuk Kekebalan Covid-19

Orang yang telah pulih dari Covid-19 mungkin khawatir tentang efek kesehatan yang masih ada, tetapi beberapa mungkin juga fokus pada apa yang mereka lihat...

Sastra, Dildo dan Evolusi Manusia

Paling tidak, berdasarkan catatan tertulis, kita tau bahwa sastra, sejak 4000 tahun lalu telah ada dalam sejarah umat manusia. Hari ini, catatan yang ditulis...

Benturan Antar Peradaban dan Masa Depan Politik Dunia

Di dalam buku Huntington yang 600-an halaman yang berjudul Benturan Antar Peradaban dan Masa Depan Politik Dunia mengatakan bahwasanya masa depan politik dunia akan...

ARTIKEL TERPOPULER

Pemuda Pancasila Selalu Ada Karena Banyak yang Memeliharanya

Mengapa organisasi ini masih boleh terus memakai nama Pancasila? Inikah tingkah laku yang dicerminkan oleh nama yang diusungnya itu? Itulah pertanyaan saya ketika membaca...

Tamansiswa, Ki Hadjar Dewantara, dan Sistem Pendidikan Kolonial

Setiap 2 Mei kita dihadapkan pada kesibukan rutin memperingati Hari Pendidikan Nasional. 2 Mei itu merupakan tanggal kelahiran tokoh pendidikan nasional, Ki Hadjar Dewantara,...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

“Islam Kaffah” yang Bagaimana?

Sebuah buletin baru “Buletin Dakwah Kaffah” terbit pada 18 Dzulqa’dah 1438 H/11 Agustus 2017. Judul “Islam Kaffah” mengingatkan kita kembali slogan Hizbut Tahrir Indonesia...

Di Bawah Erdogan Turki Lebih Tidak Demokratis dari Indonesia

Turki di bawah kepemimpinan Erdogan sering dibanding-bandingkan dengan Indonesia di bawah Jokowi. Perbandingan dan penghadap-penghadapan antara Erdogan dan Jokowi yang sering dilakukan oleh kelompok...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.