Jumat, Januari 22, 2021

Penyair Melankolis dan Sajak Sebatang Lisong

Bisakah Generasi Milenial Berantas Korupsi?

Menjadi pejabat publik seperti anggota dewan, birokrat, maupun pegawai negeri tak lagi menjadi profesi prestisius bagi kalangan milenial. Peran mereka tergeser oleh para influencer baru....

Debat Kedua Capres: Prabowo Berjanji, Jokowi Berbukti

Fakta membuktikan bahwa debat kedua capres yang digelar Minggu malam 17 Februari 2019, jauh lebih menarik dan berkualitas dibandingkan dengan debat perdana capres 17...

Beda Tipis Palak dan Pajak: Antara Norma dan Keterpaksaan

Anda pernah dipalak preman? Syukur jika belum pernah. Amit-amit jabang bayi. Biarpun begitu, pemalakan bukan hal yang asing dalam masyarakat kita. Bahkan bisa dikatakan bahwa...

Upah Minimum Regional (UMR), Tidak Berlaku Lagi

Akhir pekan ini upah minimum regional jogja menjadi trending topik di twitter. Banyak cuitan-cuitan dengan tagar #UMRJogja. Padahal sejak terbitnya Keputusan Menteri Tenaga Kerja...
Andika Pratama Putra
Mahasiswa yang berdiri di persimpangan kiri jalan

Menilik beberapa hari ke belakang saya merasa ada kejanggalan dengan kita, generasi muda. Saya melihat banyak sekali puisi tentang cinta dan patah hati di sosial media. Tentu, saya tidak mempermasalahkan itu, toh itu semua kegelisahan dan keresahan hati teman-teman semua yang dituangkan menjadi puisi atau tulisan.

Bahkan sejak dahulu penyair seperti Sapardi juga selalu membuat puisi bernuansa cinta. Tapi, satu kejanggalan yang membuat saya merasa harus menulis ini adalah minimnya apresiasi terhadap tulisan-tulisan yang berbau kemanusiaan, keadilan, perjuangan, ketuhanan dan lain sebagainya ketimbang dengan tulisan-tulisan cinta, galau dan patah hati. Bahkan di toko buku pun lebih laku buku cinta-cintaan dari Wattpad ketimbang buku yang memang benar-benar ditulis dengan keseriusan dan riset mendalam.

Saya merasa ini bukan masalah sekarang, tapi bisa berdampak di kemudian hari terhadap kita generasi-generasi penerus. Sekarang memang masih banyak sastrawan atau penyair senior yang masih terus mengibarkan panji kebenaran, melantunkan ayat keadilan.

Namun, mereka semua sebentar lagi akan disetubuhi oleh tanah dan bergantilah kita yang meneruskan panji serta ayat mereka. Pertanyaannya apakah kita bisa?

Melihat minimnya keinginan penyair atau penulis sekarang menulis sebuah kritik sosial membuat saya gamang, apalagi penikmat juga minim apresiasi terhadap karya-karya tersebut. Rasanya kita seperti menyia-nyiakan kepak sayap W.S Rendra yang sudah ia tulis di puisi-puisinya. Bukan hanya Rendra, tapi seluruh penyair dan penulis yang berjuang demi kemanusiaan.

Sekali lagi, saya tidak mempermasalahkan hal ini dan menyalahkan kita semua. Hanya, bagi saya hal seperti ini tidak boleh kita biarkan berlarut-larut. Karena, bukankah apa yang kita lihat, apa yang kita dengar, apa yang kita rasakan, apa yang kita baca akan membentuk jati diri kita?

Kalau setiap hari kita disuguhkan dan lebih tertarik terhadap tulisan berbau cinta, rasa galau, patah hati, kekecewaan dan sebagainya, apakah tidak mungkin kita kelihangan taring dan menjadi ‘Penyair Melankolis’ terus menerus? Apa jadinya sastra, seni & TIM kalau hanya diisi oleh kita-kita penyair jidat salon yang sibuk bersajak tentang anggur dan rembulan? (saya kutip dari puisi W.S Rendra berjudul Sajak Sebatang Lisong). Ternyata, hal-hal seperti ini pun sudah diperkirakan W.S Rendra sejak tahun 70an.

Terakhir, sebagai penutup saya akan kutip sedikit puisi W.S Rendra:

inilah sajakku

pamplet masa darurat.

apakah artinya kesenian,

bila terpisah dari derita lingkungan.

apakah artinya berpikir,

bila terpisah dari masalah kehidupan.

Semoga kita bisa menjadi generasi penerus sekaligus pelurus. Karena, seperti dikatakan oleh Roem Topatimasang, “Literasi bukan hanya sekadar membaca teks, melainkan diartikan pula sebagai kemampuan membaca keadaan sekitar.”

Bagi teman-teman yang masih tidak tergugah mari ramai-ramai kita baca sebuah puisi karya W.S Rendra, Sajak Sabatang Lisong. Tabik.

Andika Pratama Putra
Mahasiswa yang berdiri di persimpangan kiri jalan
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Capitol, Trump, dan Biden

Menjelang pelantikan Joe Biden sebagai Presiden AS, 20 Januari ini (Rabu malam waktu Indonesia), Washington kembali tegang. Penyerbuan gedung Capitol, Washington -- simbol demokrasi...

Pelantikan Joe Biden dan Pembangkangan Trump

Pelajaran Demokrasi untuk Dunia yang Terus Berubah Washington tegang menjelang pelantikan Presiden Joe Biden dan Kemala Harris, 20 Januari 2021. Kondisi ini terbentuk akibat pembangkangan...

Proyeksi OPEC, Konsumsi Migas Dunia akan Meningkat

Senin (18/1) penulis berkesempatan untuk memberikan kuliah umum secara daring dengan adik-adik di Politeknik Akamigas Cepu, Jawa Tengah. Maraknya pemberitaan mengenai kendaraan listrik dan...

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Towards Success: Re-evaluating Indonesia Ecological Development

Indonesia has long been an active participant of the environmental policy formation and promotion. Ever since 1970, as Dr Emil Salim appointed as the...

ARTIKEL TERPOPULER

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Pandangan Mochtar Lubis Terhadap Kemunafikan Manusia Indonesia

Pernyataan Mochtar Lubis dalam naskah pidato Manusia Indonesia (kemudian diterbitkan menjadi buku) sampai sekarang pidato ini masih relevan untuk dibahas, baik kalangan awam maupun...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Menyerupai Suatu Kaum: Hadits, Konteks Budaya, dan Tahun Baru 2018

Hanya dengan satu hadits ini, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR Abu Daud dan Ahmad), banyak ustaz yang lantang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.