Senin, Oktober 26, 2020

Penyair Melankolis dan Sajak Sebatang Lisong

Mengantisipasi Potensi Politik Uang di Pemilu 2019

Rangkaian pelaksanaan kontestasi Pemilu 2019 kini telah memasuki fase kampanye terbuka. Hal tersebut kemudian menyebabkan tensi politik santer kian memanas. Betapa tidak, kontestasi Pemilu...

Menajamkan Mitigasi Bahaya Alam

Elisabeth Byrs dari kantor Urusan Kemanusiaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (OCHA) pernah mengatakan, Jepang adalah negara yang paling siap menghadapi bencana. Jepang salah satu negara terkaya...

Mempertanyakan Kesaktian Pancasila, Jargon Tanpa Pemaknaan

Bangsa Indonesia dikenal sebagai bangsa yang “tidak lupa” terhadap peristiwa-peritiwa penting dalam perjalanannya sebagai sebuah bangsa. Salah satu bentuknya yaitu adanya sebuah peringatan terhadap...

Merebut (Kembali) Masjid

"Dulu ke masjid kita kehilangan sandal, sekarang kita kehilangan mimbar" KH Hasyim Muzadi Kata-kata dari Kiai Hasyim ini disampaikan oleh Profesor Azyumardi dalam pelatihan mubalig...
Andika Pratama Putra
Mahasiswa yang berdiri di persimpangan kiri jalan

Menilik beberapa hari ke belakang saya merasa ada kejanggalan dengan kita, generasi muda. Saya melihat banyak sekali puisi tentang cinta dan patah hati di sosial media. Tentu, saya tidak mempermasalahkan itu, toh itu semua kegelisahan dan keresahan hati teman-teman semua yang dituangkan menjadi puisi atau tulisan.

Bahkan sejak dahulu penyair seperti Sapardi juga selalu membuat puisi bernuansa cinta. Tapi, satu kejanggalan yang membuat saya merasa harus menulis ini adalah minimnya apresiasi terhadap tulisan-tulisan yang berbau kemanusiaan, keadilan, perjuangan, ketuhanan dan lain sebagainya ketimbang dengan tulisan-tulisan cinta, galau dan patah hati. Bahkan di toko buku pun lebih laku buku cinta-cintaan dari Wattpad ketimbang buku yang memang benar-benar ditulis dengan keseriusan dan riset mendalam.

Saya merasa ini bukan masalah sekarang, tapi bisa berdampak di kemudian hari terhadap kita generasi-generasi penerus. Sekarang memang masih banyak sastrawan atau penyair senior yang masih terus mengibarkan panji kebenaran, melantunkan ayat keadilan.

Namun, mereka semua sebentar lagi akan disetubuhi oleh tanah dan bergantilah kita yang meneruskan panji serta ayat mereka. Pertanyaannya apakah kita bisa?

Melihat minimnya keinginan penyair atau penulis sekarang menulis sebuah kritik sosial membuat saya gamang, apalagi penikmat juga minim apresiasi terhadap karya-karya tersebut. Rasanya kita seperti menyia-nyiakan kepak sayap W.S Rendra yang sudah ia tulis di puisi-puisinya. Bukan hanya Rendra, tapi seluruh penyair dan penulis yang berjuang demi kemanusiaan.

Sekali lagi, saya tidak mempermasalahkan hal ini dan menyalahkan kita semua. Hanya, bagi saya hal seperti ini tidak boleh kita biarkan berlarut-larut. Karena, bukankah apa yang kita lihat, apa yang kita dengar, apa yang kita rasakan, apa yang kita baca akan membentuk jati diri kita?

Kalau setiap hari kita disuguhkan dan lebih tertarik terhadap tulisan berbau cinta, rasa galau, patah hati, kekecewaan dan sebagainya, apakah tidak mungkin kita kelihangan taring dan menjadi ‘Penyair Melankolis’ terus menerus? Apa jadinya sastra, seni & TIM kalau hanya diisi oleh kita-kita penyair jidat salon yang sibuk bersajak tentang anggur dan rembulan? (saya kutip dari puisi W.S Rendra berjudul Sajak Sebatang Lisong). Ternyata, hal-hal seperti ini pun sudah diperkirakan W.S Rendra sejak tahun 70an.

Terakhir, sebagai penutup saya akan kutip sedikit puisi W.S Rendra:

inilah sajakku

pamplet masa darurat.

apakah artinya kesenian,

bila terpisah dari derita lingkungan.

apakah artinya berpikir,

bila terpisah dari masalah kehidupan.

Semoga kita bisa menjadi generasi penerus sekaligus pelurus. Karena, seperti dikatakan oleh Roem Topatimasang, “Literasi bukan hanya sekadar membaca teks, melainkan diartikan pula sebagai kemampuan membaca keadaan sekitar.”

Bagi teman-teman yang masih tidak tergugah mari ramai-ramai kita baca sebuah puisi karya W.S Rendra, Sajak Sabatang Lisong. Tabik.

Andika Pratama Putra
Mahasiswa yang berdiri di persimpangan kiri jalan
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Membendung Hegemoni China di Asia Tenggara

Lima hari sudah Menteri Luar Negeri (Menlu) China Wang Yi berkunjung ke empat negara di Asia Tenggara (15-18 Oktober 2020). Dalam kunjungan ke Kamboja,...

Reformasi Kewenangan Legislasi DPD

Dewan Perwakilan Daerah (DPD) sebagai anak kandung reformasi telah berusia 16 tahun. Lembaga negara buah amandemen ketiga UUD 1945 mengalami banyak goncangan. Isu pembubaran...

Mencari Petunjuk Kekebalan Covid-19

Orang yang telah pulih dari Covid-19 mungkin khawatir tentang efek kesehatan yang masih ada, tetapi beberapa mungkin juga fokus pada apa yang mereka lihat...

Sastra, Dildo dan Evolusi Manusia

Paling tidak, berdasarkan catatan tertulis, kita tau bahwa sastra, sejak 4000 tahun lalu telah ada dalam sejarah umat manusia. Hari ini, catatan yang ditulis...

Benturan Antar Peradaban dan Masa Depan Politik Dunia

Di dalam buku Huntington yang 600-an halaman yang berjudul Benturan Antar Peradaban dan Masa Depan Politik Dunia mengatakan bahwasanya masa depan politik dunia akan...

ARTIKEL TERPOPULER

Pemuda Pancasila Selalu Ada Karena Banyak yang Memeliharanya

Mengapa organisasi ini masih boleh terus memakai nama Pancasila? Inikah tingkah laku yang dicerminkan oleh nama yang diusungnya itu? Itulah pertanyaan saya ketika membaca...

Tamansiswa, Ki Hadjar Dewantara, dan Sistem Pendidikan Kolonial

Setiap 2 Mei kita dihadapkan pada kesibukan rutin memperingati Hari Pendidikan Nasional. 2 Mei itu merupakan tanggal kelahiran tokoh pendidikan nasional, Ki Hadjar Dewantara,...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

“Islam Kaffah” yang Bagaimana?

Sebuah buletin baru “Buletin Dakwah Kaffah” terbit pada 18 Dzulqa’dah 1438 H/11 Agustus 2017. Judul “Islam Kaffah” mengingatkan kita kembali slogan Hizbut Tahrir Indonesia...

Di Bawah Erdogan Turki Lebih Tidak Demokratis dari Indonesia

Turki di bawah kepemimpinan Erdogan sering dibanding-bandingkan dengan Indonesia di bawah Jokowi. Perbandingan dan penghadap-penghadapan antara Erdogan dan Jokowi yang sering dilakukan oleh kelompok...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.