OUR NETWORK

Penundukkan Mahasiswa atas Kuasa Tuannya

“Guru yang tak tahan kritik boleh masuk keranjang sampah. Guru bukan dewa dan selalu benar. Dan murid bukan kerbau.” – Soe Hok Gie.

Sebuah ucapan dari seorang aktivis mahasiswa yang kritis yaitu Soe Hok Gie, kekritisannya sering ia tuangkan ke dalam bentuk sebuah tulisan. Sebuah tamparan bagi mahasiswa yang memperjual-belikan idealismenya demi kepentingan dan kemaslahatan untuk dirinya sendiri.

Memasuki Agustus yang di mana banyak siswa sedang menjajaki langkah pendidikan selanjutnya dalam status ‘mahasiswa.’ Mahasiswa baru diibaratkan sebagai ‘lambang kesucian’ yang jarang mengetahui isu maupun problema perkembangan di kampusnya sendiri.

Awal mula memasuki dunia kampus dengan membawa semangat yang bergelora, setiap insan yang terpilih menjadi bagian dari kaum intelektual atau mahasiswa mengemban labelling Agent of Change dan Iron Stock dalam bangku perkuliahan.

Hak otoritas dari seorang pendidik yang terkesan “membenarkan” setiap alibi yang dipercayainya, lalu kalimat demi kalimat dalam sebuah pembicaraan sebagai alat propaganda untuk mengadu domba setiap mahasiswa (baru) dengan isu-isu yang bertentangan dengan keyakinannya.

Beragam permasalahan yang tidak masuk akal dibuat untuk menyiasati penundukkan mahasiswa (baru) agar mengikuti rules yang mereka buat. Mahasiswa dipaksa secara tidak sadar meninggalkan Agent of Change dan Iron Stock yang diembannya.

Dalam KPK pandangan Romo Mangun yang tertera dalam buku Kata-kata Terakhir, mahasiswa era sekarang tak ubahnya seperti rombongan bebek yang patut dan tidak berani melawan terhadap tuannya.

Kenapa mereka tak berani melawan? Karena IPK. IPK bagi mahasiswa sekarang menjadi seperti “Tuhannya” dalam bidang akademik. Mengikuti kemauan yang diinginkan oleh tuannya agar selesai dalam bangku perkuliahan, hingga akhirnya mahasiswa melupakan tugasnya sebagai kaum intelektual yang katanya memiliki sikap kritis.

Pengetahuan sebagai Bentuk Kekuasaan oleh Michel Foucault

“Schools serve the same social functions as prisons and mental institutions- to define, classify, control, and regulate people.” ― Michel Foucault

Karya-karya Foucault menunjukkan bahwa persoalan kekuasaan telah menjadi pokok perhatian sepanjang karier intelektualnya. Foucault selama ini dikenal sebagai seorang filsuf, juga sebagai sejarawan. Namun, pemikirannya memiliki pengaruh yang luas terhadap ilmu-ilmu sosial lainnya termasuk antropologi dan sosiologi. Foucault melakukan kajian sejarah tentang masa kini (History of the present).

Dalam karya Discipline and Punish, Foucault berbicara mengenai pergeseran bentuk penghukuman, lahirnya institusi penghukuman modern (penjara), tetapi fokus analisisnya adalah relasi kekuasaan-pengetahuan yang tertanam dalam tubuh, yang menundukkannya dan menjadikannya sebagai objek pengetahuan.

Pengetahuan dan kekuasaan, serta institusi sosial sebagai media beroperasinya mekanisme kekuasaan dan bentuk pengetahuan yang mengkonsolidasikannya.

“Kalian harus mengikuti kata-kata saya,” “Buat apa kalian membuat atau mengikuti acara tersebut,” “Saya ini lebih tau daripada anda.” Tiga kata tersebut secara halus di reproduksi untuk membuat ketakutan mahasiswa agar menjadi tunduk.

Rasa-rasanya sekali lagi di mana mahasiswa mengemban Agent of Change dan Iron Stock menjadi omongan belaka. Ketika dosen memaksa mahasiswa untuk melakukan yang diinginkan oleh “beliau,” mahasiswa pun mengikutinya tanpa berpikir panjang, lantas dimanakah letak “kritis dan intelektualis” yang selalu mereka agungkan?.

Dalam pandangan Foucault, kekuasaan itu tidak beroperasi secara negatif melalui aparatus yang koersif, menekan dan menindas. Melainkan, kekuasaan beroperasi secara positif dan produktif, artinya karena wujud kekuasaan itu tidak nampak, maka beroperasinya kekuasaan menjadi tidak disadari dan memang tidak dirasakan oleh individu sebagai praktik kekuasaan yang sebenarnya mengendalikan tubuh individu. Kekuasaan dapat diketahui dan dirasakan melalui efek-efeknya.

Makna intelektualis mahasiswa pun sekarang sudah bergeser, krisis etika moral yang terjadi pada mahasiswa akibat dari pergeseran kultur yang selalu terjadi dari tahun ke tahun, sehingga berakibat banyaknya mahasiswa yang berfikir praktis bahkan menjadi apatis dalam menyiasati penyelesaian masalah bersama dosen untuk rembuk bersama atau negosiasi.

Struktur pengetahuan yang otoritatif dan legitimate ini mempengaruhi praktik-praktik sosial individu, baik cara berpikir, berbicara, maupun bertindak sebagai sebuah rezim pengetahuan. Secara implisit, Foucault ingin mengatakan bahwa rezim wacana itu merupakan bentuk dari kekuasaan.

Wacana dapat berwujud sebagai praktik-praktik yang mengorganisasikan dan terorganisasikan sehingga mengubah konstelasi sosial dan menghasilkan wacana sebagai pemilik otonomi klaim atas kebenaran dan kontekstualisasi sebuah pengetahuan.

Rezim wacana yang bersandar pada definisi-definisi ilmiah menggambarkan disposisi suatu pengetahuan pada masa tertentu yang berimplikasi terhadap praktik sosial. Perhatian Foucault bukan dalam rangka menunjukkan terjadinya pergeseran disposisi pengetahuan tersebut, melainkan bagaimana beroperasinya kekuasaan dalam membentuk suatu disposisi pengetahuan tertentu.

Keinginan cepat lulus agar tidak terkendala dengan tuannya rasanya sangat tidak masuk akal, idealisnya dilacurkan agar bisa melangkah ke tahap selanjutnya. Mengambil kalimat dari Tan Malaka, “Idealisme adalah kemewahan terakhir yang dimiliki oleh pemuda.” Jangankan berbicara sebuah idealisme, bahkan sebagian dari mereka tidak paham mengenai sebuah idealisme, beberapa kali diperjual-belikan untuk mengentungkan kepentingan tuannya dan menyelamatkan dirinya pribadi.

Foucault menunjukkan minat secara lebih besar pada persoalan kekuasaan, bukan sekedar pembentukkan sebuah pengetahuan dan kebenaran sebagai episteme. Melainkan bahwa dalam dunia modern relasi antara kekuasaan dan pengetahuan berimplikasi terhadap tubuh individu dalam kaitannya dengan suatu bentuk kontrol sosial. Dalam Discipline and Punish, Foucault menunjukkan bentuk kekuasaan sebagai disciplinary power, dan teknologi kekuasaan beroerasi melalui pendisiplinan tubuh.

Daftar Pustaka

Foucault, Michel.1982. Technology of The Self. In The Essential Foucault. New York: The New Press.

Foucault, Michel. 1982. The Subject of The Self. In The Essential Foucault. New York: The New Press.

Foucault, Michel. 1980. Power/Knowledge: Selected Interviews and Other Writings, 1972-1977. New York: Phanteon Books.

Foucault, Michel. 1977. Discipline and Punish: The Birth of The Prison, New York: Vintage Books.

Fatubun, Benediktus. 2018. Mahasiswa: Sikap Kritis yang Terkikis. https://www.kpk.go.id/id/berita/publik-bicara/340-mahasiswa-sikap-kritis-yang-terkikis. Diakses pada 13 Agustus 2019.

Di Atas Secarik Kertas Tidak Seindah Implementasinya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…