Banner Uhamka
Kamis, Oktober 1, 2020
Banner Uhamka

Pentingnya Sistem Mitigasi Pra-Bencana di Indonesia

Kata Maaf Menjadi “Baper”di Zaman Now!

Baru-baru ini ungkapan “Baper” menjadi trending di masyarakat zaman now. Setiap percakapan antara teman sebaya yang saya temui, dan juga di dunia entertain melantunkan...

Taatilah Hukum, Pak Rizieq Shihab Pulanglah…

Seluruh Warga Negara Indonesia (WNI) sama derajatnya di mata hukum. Siapapun wajib mempertanggungjawabkan perbuatan hukumnya, baik dalam tatanan hukum positif yang berlaku di Indonesia...

Bunga Terakhir Seperempat Abad

Bersyukurlah menjadi orang-orang baik. Sepertinya hanya mereka yang pantas menderaskan narasi tentang kebaikan. Mereka pun seolah berhak menentukan nasib dan celaka kawan-kawannya. Yang paling...

Menilik Kompensasi Korban Kecelakaan Lion Air JT610

Dalam beberapa hari terakhir, pemberitaan di berbagai media dipenuhi oleh peristiwa jatuhnya pesawat Lion Air JT610 rute Jakarta - Pangkalpinang di perairan Teluk Karawang....
Saifullah Putra
Saya Saifullah Putra, mahasiswa di jurusan S1 Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Airlanga. Seseorang yang tertarik dengan isu-isu kesehatan dan politik serta juga aktif mengikuti berbagai organisasi dan kegiatan kerelawanan di masyarakat.

Dalam kurun waktu satu tahun, Indonesia mengalami ribuan kali bencana gempa bumi, baik skala besar maupun kecil. Karena Indonesia berada di jalur gempa teraktif di dunia karena dikelilingi oleh Cincin Api Pasifik dan berada di atas tiga tumbukan lempeng benua, yakni, Indo-Australia dari sebelah selatan, Eurasia dari utara, dan Pasifik dari timur.

Kondisi geografis ini di satu sisi menjadikan Indonesia sebagai wilayah yang rawan bencana letusan gunung api, gempa, dan tsunami namun di sisi lain menjadikan Indonesia sebagai wilayah subur dan kaya secara hayati.

Tidak hanya bencana alam yang disebabkan oleh kondisi geografis negara Indonesia saja, tetapi bencana alam yang disebabkan oleh perbuatan manusia juga banyak terjadi dalam kurun waktu satu tahun terakhir.

Seperti yang dilansir oleh Data Informasi Bencana Indonesia (DIBI) yang dimiliko oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merilis data kebencanaan yang terjadi di Indonesia sepanjang tahun 2018-2019 ini telah terjadi sebanyak 5.089 jenis bencana.

Termasuk pula jenis bencana yang dimaksud yakni banjir, tanah longsor, kekeringan, putting beliung, abrasi, kebakaran hutan, gempa bumi, tsunami, dan letusan gunung berapi.

Selain itu, korban bencana alam yang meninggal dunia dalam kurun waktu setahun terakhir sebanyak 5.084 orang, 22.587 luka-luka, dan lebih dari 11 juta orang mengungsi di pengungsian.

Kerugian akibat bencana alam juga berdampak parah terhadap rumah-rumah penduduk dan fasilitas-fasiitas umum yang rusak. Tercatat oleh DIBI sebanyak 120.588 rumah rusak berat, 70.767 rusak sedang, dan lebih dari 190.000 rumah rusak ringan dalam kurun waktu satu tahun terakhir. Begitu pula dengan fasilitas yang lain seperti fasilitas pendidikan, fasilitas kesehatan dan fasilitas peribadatan yang mengalami kerusakan lebih dari 5.000 unit.

Dengan kondisi seperti ini, nampaknya Indonesia harus berbenah diri dalam menerapkan sistem mitigasi pra-bencana di semua wilayah di Indonesia. Dosen sekaligus peneliti kebencanaan Universitas Padjadjaran, Bevaola Kusumasari menyampaikan, di banyak negara, bencana belum menjadi prioritas dalam pengelolaan kegiatan pemerintah.

Secara umum, beberapa negara maju yang memiliki pengalaman dan kesadaran atas risiko bencana mengalokasikan dana dalam jumlah besar untuk kegiatan mitigasi dan reparasi, disamping kegiatan respons dan recovery bencana.

Bagi negara maju, meminimalisasi jumlah korban menjadi hal penting, dibandingkan kerusakan yang ditimbulkan. Hal ini berbeda dengan negara berkembang yang lemah terhadap mitigasi dan preparasi” Ungkap Bevaola

Perlu adanya keseriusan pemerintah dalam menanggapi kondisi kebencanaan di Indonesia. Hal-hal yang perlu dibenahi dalam menerapkan sistem mitigasi pra-bencana di Indonesia yakni dengan menyediakan jumlah anggaran yang lebih dalam menyiapkan sistem mitigasi di semua wilayah Indonesia.

Kemudian, meningkatkan relasi dan kerjasama antar lembaga kebencanaan nasional maupun swasta dalam menerapkan sistem mitigasi bencana untuk mengurangi dampak/risiko bencana yang terjadi, lalu meningkatkan pengetahuan masyarakat dalam menghadapi serta mengurangi dampak/risiko bencana.

Saifullah Putra
Saya Saifullah Putra, mahasiswa di jurusan S1 Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Airlanga. Seseorang yang tertarik dengan isu-isu kesehatan dan politik serta juga aktif mengikuti berbagai organisasi dan kegiatan kerelawanan di masyarakat.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pancasila dan Demokrasi Kita Hari Ini

Perjalanan demokrasi di Indonesia tidak selamanya sejalan dengan ideologi negara kita, Pancasila. Legitimasi Pancasila secara tegas tercermin dalam Undang-Undang Dasar 1945, dan difungsikan sebagai...

PKI, HMI, dan NU

Saya pernah membuka kliping koran Kedaulatan Rakyat (KR) tahun 1965-an, dari Januari sampai 30 September di Perpus DIY, Malioboro, tahun 2018. Waktu itu saya...

Dua Perwira di Bawah Pohon Pisang (Kenangan Kekejaman PKI di Yogya)

Yogya menangis. Langit di atas Kentungan muram. Nyanyian burung kutilang di sepanjang selokan Mataram terdengar sedih. What's wrong? Ono opo kui? Rakyat Ngayogyakarta risau, karena sudah...

Pilkada dan Pergulatan Idealisme

Invasi Covid-19 memang tak henti-hentinya memborbardir aspek kehidupan manusia secara komprehensif. Belum usai kegamangan pemerintah terkait preferensi mitigasi utama yang harus didahulukan antara keselamatan...

Menimbang Demokrasi di Tengah Pandemi

Dibukanya pendaftaran peserta pilkada dari tanggal 4 – 6 September lalu diwarnai oleh pelbagai pelanggaran yang dilakukan oleh bakal calon peserta pilkada. Pelanggaran yang...

ARTIKEL TERPOPULER

Lebih Baik Dituduh PKI daripada PKS

Ini sebenarnya pilihan yang konyol. Tetapi, ketika harus memilih antara dituduh sebagai (kader, pendukung/simpatisan) Partai Komunis Indonesia (PKI) atau Partai Keadilan Sejahtera (PKS), maka...

Pengakuan Pak Harto: Malam Jahanam itu Bernama Kudeta

RAUT wajah Presiden Sukarno tampak menahan kesal teramat sangat. Sambil duduk, ia dihadapkan pada selembar kertas yang harus ditandatangani. Di sisi kanan Bung Besar,...

Narasi – Narasi Seputar G-30S 1965

Hingga hari ini, masih banyak masyarakat awam yang percaya bahwa dalang utama dibalik peristiwa G30S adalah PKI. Kepercayaan tersebut tidak bisa dilepaskan dari kampanye...

PKI, HMI, dan NU

Saya pernah membuka kliping koran Kedaulatan Rakyat (KR) tahun 1965-an, dari Januari sampai 30 September di Perpus DIY, Malioboro, tahun 2018. Waktu itu saya...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.