Minggu, Februari 28, 2021

Pentingnya Sistem Mitigasi Pra-Bencana di Indonesia

Perempuan Bercadar, Minangkabau, dan Kearifan Lokal

Tulisan ringan ini bermaksud sebagai urun rembuk diskursus publik, merespon aturan kontroversial yang dikeluarkan rektor Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, perihal pelarangan mahasiswi...

Kiat Memilih Rumah Agar Terhindar dari Mafia Tanah

Apakah ada manusia di dunia ini yang tidak mempunyai keinginan untuk memiliki rumahnya sendiri? Mungkin bisa jadi tidak terpikirkan oleh suku nomaden asli, yang...

Konsisten Netral, Muhammadiyah Menciptakan Politik Perdamaian

Para Nabi dan Rasul diutus oleh Allah secara historis membawa paham monoteisme (Tauhid) sebagai ajaran ketuhanan lalu pembebasan sebagai ajaran sosial untuk melepaskan penindasan-penindasan...

Max Havelaar, Inspirasi Perjuangan Tanpa Lelah

Dampak dari penerbitan novel Max Havelaar bagi rakyat Indonesia (waktu itu masih bernama Hindia Belanda) bisa dikatakan sama dengan dampak yang ditimbulkan dari terbitnya novel...
Saifullah Putra
Saya Saifullah Putra, mahasiswa di jurusan S1 Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Airlanga. Seseorang yang tertarik dengan isu-isu kesehatan dan politik serta juga aktif mengikuti berbagai organisasi dan kegiatan kerelawanan di masyarakat.

Dalam kurun waktu satu tahun, Indonesia mengalami ribuan kali bencana gempa bumi, baik skala besar maupun kecil. Karena Indonesia berada di jalur gempa teraktif di dunia karena dikelilingi oleh Cincin Api Pasifik dan berada di atas tiga tumbukan lempeng benua, yakni, Indo-Australia dari sebelah selatan, Eurasia dari utara, dan Pasifik dari timur.

Kondisi geografis ini di satu sisi menjadikan Indonesia sebagai wilayah yang rawan bencana letusan gunung api, gempa, dan tsunami namun di sisi lain menjadikan Indonesia sebagai wilayah subur dan kaya secara hayati.

Tidak hanya bencana alam yang disebabkan oleh kondisi geografis negara Indonesia saja, tetapi bencana alam yang disebabkan oleh perbuatan manusia juga banyak terjadi dalam kurun waktu satu tahun terakhir.

Seperti yang dilansir oleh Data Informasi Bencana Indonesia (DIBI) yang dimiliko oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merilis data kebencanaan yang terjadi di Indonesia sepanjang tahun 2018-2019 ini telah terjadi sebanyak 5.089 jenis bencana.

Termasuk pula jenis bencana yang dimaksud yakni banjir, tanah longsor, kekeringan, putting beliung, abrasi, kebakaran hutan, gempa bumi, tsunami, dan letusan gunung berapi.

Selain itu, korban bencana alam yang meninggal dunia dalam kurun waktu setahun terakhir sebanyak 5.084 orang, 22.587 luka-luka, dan lebih dari 11 juta orang mengungsi di pengungsian.

Kerugian akibat bencana alam juga berdampak parah terhadap rumah-rumah penduduk dan fasilitas-fasiitas umum yang rusak. Tercatat oleh DIBI sebanyak 120.588 rumah rusak berat, 70.767 rusak sedang, dan lebih dari 190.000 rumah rusak ringan dalam kurun waktu satu tahun terakhir. Begitu pula dengan fasilitas yang lain seperti fasilitas pendidikan, fasilitas kesehatan dan fasilitas peribadatan yang mengalami kerusakan lebih dari 5.000 unit.

Dengan kondisi seperti ini, nampaknya Indonesia harus berbenah diri dalam menerapkan sistem mitigasi pra-bencana di semua wilayah di Indonesia. Dosen sekaligus peneliti kebencanaan Universitas Padjadjaran, Bevaola Kusumasari menyampaikan, di banyak negara, bencana belum menjadi prioritas dalam pengelolaan kegiatan pemerintah.

Secara umum, beberapa negara maju yang memiliki pengalaman dan kesadaran atas risiko bencana mengalokasikan dana dalam jumlah besar untuk kegiatan mitigasi dan reparasi, disamping kegiatan respons dan recovery bencana.

Bagi negara maju, meminimalisasi jumlah korban menjadi hal penting, dibandingkan kerusakan yang ditimbulkan. Hal ini berbeda dengan negara berkembang yang lemah terhadap mitigasi dan preparasi” Ungkap Bevaola

Perlu adanya keseriusan pemerintah dalam menanggapi kondisi kebencanaan di Indonesia. Hal-hal yang perlu dibenahi dalam menerapkan sistem mitigasi pra-bencana di Indonesia yakni dengan menyediakan jumlah anggaran yang lebih dalam menyiapkan sistem mitigasi di semua wilayah Indonesia.

Kemudian, meningkatkan relasi dan kerjasama antar lembaga kebencanaan nasional maupun swasta dalam menerapkan sistem mitigasi bencana untuk mengurangi dampak/risiko bencana yang terjadi, lalu meningkatkan pengetahuan masyarakat dalam menghadapi serta mengurangi dampak/risiko bencana.

Saifullah Putra
Saya Saifullah Putra, mahasiswa di jurusan S1 Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Airlanga. Seseorang yang tertarik dengan isu-isu kesehatan dan politik serta juga aktif mengikuti berbagai organisasi dan kegiatan kerelawanan di masyarakat.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Generasi Muda di Antara Agama dan Budaya

Oleh: Bernadien Pramudita Tantya K, SMA Santa Ursula Jakarta Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Indonesia adalah negara yang kaya akan bahasa, budaya,...

Antara Kecerdasan Buatan, Politik, dan Teknokrasi

Di masa lalu, politik dan teologi memiliki keterkaitan erat. Para pemimpin politik sering mengklaim bahwa politik juga merupakan bentuk lain dari ketaatan kepada Tuhan;...

Perempuan dalam Isi Kepala Mo Yan

Tubuh perempuan adalah pemanis bagi dunia fiksi. Kadang diperlakukan bermoral, kadang sebaliknya, tanpa moral. Naluri bebas dari perempuan yang manusiawi, memendam dengki dan membunuh...

Kenapa Saya Mengkritik Mas Anies?

Dua hari yang lalu saya mengkritik Gubernur DKI Jakarta Mas Anies Baswedan melalui unggahan akun Instagram. Soalnya Mas Anies melempar kesalahan pada curah hujan dan...

Berpegangan Tangan dengan Leluhur

Oleh: Arlita Dea Indrianty, SMAN 36 Jakarta Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Bicara tentang Indonesia tidak akan membawa seseorang pada titik...

ARTIKEL TERPOPULER

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Perempuan dalam Isi Kepala Mo Yan

Tubuh perempuan adalah pemanis bagi dunia fiksi. Kadang diperlakukan bermoral, kadang sebaliknya, tanpa moral. Naluri bebas dari perempuan yang manusiawi, memendam dengki dan membunuh...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Kenapa Saya Mengkritik Mas Anies?

Dua hari yang lalu saya mengkritik Gubernur DKI Jakarta Mas Anies Baswedan melalui unggahan akun Instagram. Soalnya Mas Anies melempar kesalahan pada curah hujan dan...

Antara Kecerdasan Buatan, Politik, dan Teknokrasi

Di masa lalu, politik dan teologi memiliki keterkaitan erat. Para pemimpin politik sering mengklaim bahwa politik juga merupakan bentuk lain dari ketaatan kepada Tuhan;...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.