Senin, April 12, 2021

Pentingnya Pendidikan Karakter Era Milenial

Petuah Ernest Hemingway yang Perlu Didengar Jokowi dan Prabowo

Mari berandai-andai. Seseorang bernama Agus adalah kader PKS. Tanpa tedeng aling-aling, jauh-jauh hari Agus mendeklarasikan bahwa di Pilpres 2019 nanti dirinya akan seratus persen...

Ali Syariat Sebagai Pendidik

Bagi kita sang pembelajar,  berguru kepada seseorang yang masih hidup dan sezaman merupakan hal yang lumrah. Kita bisa Bertemu, mendengarkan, bertanya , berdiskusi atau...

Rektor UIN Sunan Kalijaga, Hukum Bercadar, dan Kemaslahatan

Akhir-akhir ini masyarakat cukup dihebohkan dengan pemberitaan media bahwa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta melarang cadar bagi para mahasiswinya. Hal ini disambut dengan pro-kontra, bahkan...

Giring “Nidji” dan Pembajakan Identitas Pemuda

Anies Baswedan (AB) pernah mengeluarkan sebuah kalimat bijak. Kalimat yang cukup ampuh memainkan psikologi anak muda, sehingga di antara mereka ada yang mengimani keampuhan...
Deni
Saya seorang mahasiswa Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS) jurusan Teknik Elektro Industri Kelas Kerja Sama PLN berasal dari Banyuwangi

Setiap tanggal 2 Mei diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional atau Hardiknas. Hari Pendidikan Nasional ditetapkan pemerintah Indonesia untuk memperingati kelahiran Ki Hadjar Dewantara. Ki Hadjar Dewantara merupakan tokoh pelopor pendidikan di Indonesia dan pendiri lembaga pendidikan Taman Siswa.

Dia dikenal karena berani menentang kebijakan pendidikan pemerintah Hindia Belanda pada masa itu, yang hanya memperbolehkan anak-anak kelahiran Belanda atau orang kaya yang bisa mengenyam bangku pendidikan.

Kita ketahui pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara adalah tuntutan di dalam hidup tumbuhnya anak-anak, adapun maksudnya, pendidikan yaitu menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya.

Tentunya dalam proses pendidikan perlunya penanaman sebuah nilai karakter atau yang sering dikenal pendidikan karakter. Pendidikan karakter sendiri merupakan suatu usaha manusia secara sadar dan terencana untuk mendidik dan memberdayakan potensi peserta didik guna membangun karakter pribadinya sehingga menjadi invidu yang bermanfaat bagi diri sendiri dan lingkungannya.

Pendidikan karakter sangat erat hubungannya dengan pendidikan moral dimana tujuannya adalah untuk membentuk dan melatih kemampuan individu secara terus-menerus guna penyempurnaan diri kearah hidup yang lebih baik.

Jika kita bandingkan pendidikan karakter dulu dengan pendidikan karakter pada era milenial. Orientasi pendidikan jaman dulu dimaksudkan untuk membentuk sebuah karakter yang berakhlah tinggi dan mulia dalam diri anak .

Lembaga pendidikan pada jaman dulu sangat mengajarkan budi pekerti, etika, saling mengalah dan mendulukan kepentingan umum diatas kepentingan pribadi. Hal ini sering kali diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, baik keluarga maupun masyarkat. Sehingga apabila seorang anak sedang berinteraksi kepada orang lain, dia dapat memahami bagaimana cara bertingkah laku dan berkomunikasi dengan benar.

Tidak hanya pada jaman dahulu guru merupakan suatu profesi yang sangat terhormat, karena dianggap memiliki pengetahuan lebih daripada masyarakat setempat. Masyarakat juga menuntut para guru mengajarkan nilai moral kepada anak-anak meraka, disamping pengetahuan baca tulis dan berhitung

Guru memiliki hak otoriter sebagai pengganti orang tua bila anak berada di sekolah. Cara mendidik mereka lebih banyak menggunakan pendekatan pribadi yang membuat interaksi guru dengan murid lebih erat. Penanaman kekeluargaan sangat ditanamkan kepada seluruh siswa bertujuan untuk saling memiliki rasa empati, hormat dan saling rendah hati.

Melihat pada era milenal. Pendidikan merupakan suatu ajang yang digunakan bagaimana untuk meningkatkan kecerdasan, prestasi, ketrampilan, dan menghadapi persaingan. Pendidikan bukan lagi soal tentang moral dan karakter sebagai tumpuan utama untuk diajarkan kepada seorang anak.

Lembaga pendidikan berlomba menonjolkan kurikulum yang dipercaya bisa menciptakan generasi muda super dari usia sedini mungkin. Salah satu yang mengubah pendidikan karakter adalah peran para orang tua yang masing-masing ingin anaknya tidak dipandang sebelah mata oleh orang lain dengan prestasi yang anak buat.

Bila dilihat dari tenaga pendidik jaman sekarang. Perekrutan tenaga pendidik sekarang lebih mengutamakan nilai kelulusan dan sertifikasi yang dimiliki guru. Guru era milenial sering dituntut dengan ekonomi sehingga membuat dedikasi mengajar sebagai suatu pelayanan menjadi berkurang.

Cara mendidik guru era milenial sangat jarang menggunakan pendekatan untuk mengetahui peserta didiknya. Sehingga kebanyakan murid memandang guru hanya sebatas menjalankan suatu kewajiban. Murid datang ke kelas mendengarkan apa yang diterangkan lalu mereka pulang waktu jam pelajaran habis. Interaksi guru-siswa terbatas pada jam sekolah saja.

Masyarakat sekarang lebih mengarah ke individualis masing-masing. Mereka hanya ingin tenar dengan apa yang diperoleh dari prestasi anaknya maupun prestasi dirinya sendiri. Interaksi pun semakin personal, diambil contoh satu keluarga yang saling main gadget sendiri-diri. Mereka lebih cenderung berinteraksi dengan orang jauh dibanding dengan orang disekelilingnya.

Tentu ini akan berdampak pada pendidikan karakter anak yang semestinya dapat melatih komunikasi kepada orang lain. Bagaimana cara menghormati, cara memiliki rasa empati dan lainnya. Seorang anak yang bertumbuh kembang dalam nuansa tanpa pendidikan karakter, dia akan cenderung merenung dan menyendiri untuk memainkan segala sesuatu yang membuatnya senang tanpa berinteraksi dengan orang lain.

Pendidikan karakter yang semestinya harus ditanamkan sedini mungkin. Karena dengan pendidikan karakter anak dapat mengembangkan potensi dasar dalam dirinya sehingga menjadi individu yang berpikiran baik, berhati baik, dan berperilaku baik.

Sesuai dengan Undang-Undang (UU) Republik Indonesia (RI) No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional merumuskan fungsi dan tujuan pendidikan nasional yang harus digunakan dalam mengembangkan upaya di Indonesia

Pasal 3 UU SIKDIKNAS menyebutkan: ”Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan dan membantu watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan bangsa”. Kalimat mencerdaskan bangsa sendiri tidak mengacu pada prestasi seorang anak melainkan kecerdasan bagaimana anak dapat berperilaku dengan baik antara sesama.

Disinilah peran orang tua yang semestinya. Anak belajar paling banyak dari apa yang dilihat dan didengarnya, oleh sebab itu sangat penting menempatkan anak di lingkungan yang bisa membina dan mendidik anak untuk menjadi seorang manusia yang dewasa, penuh kasig sayang, cerdas, mampu bermpati dengan orang lain serta berhati nurani.

Semoga pendidikan era milenial di Indonesia tidak hanya mengajarkan bagaimana seorang anak berprestasi tapi mengajarkan bagaimana seorang anak dapat berinteraksi kepada orang lain dengan benar melalui tingkah laku, rasa empati, menghormati. Aamiin

Deni
Saya seorang mahasiswa Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS) jurusan Teknik Elektro Industri Kelas Kerja Sama PLN berasal dari Banyuwangi
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Bertahan Disegala Kondisi

Pandemi COVID-19 membawa beragam nilai positif. Bagi dunia pendidikan, selain orangtua mengetahui betapa susahnya Pendidik (guru/dosen) mengajar anak didik, pendidik juga bisa belajar secara...

Bagaimana Cara Mengatasi Limbah di Sekitar Lahan Pertanian?

Indonesia merupakan negara agraris yang mayoritas warganya bermata pencaharian sebagai petani. Pada bidang pertanian terutama pertanian konvensional terdapat banyak proses dari penanaman hingga pemanenan,...

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Kebebasan Berpendapat Masih Rancu

Kebebasan berpendapat merupakan sebuah bentuk kebebasan yang mutlak bagi setiap manusia. Tapi belakangan ini kebebasan itu sering menjadi penyebab perpecahan. Bagaimana bisa kebebasan yang...

Laporan Keuangan? Basi?

Berbicara soal laporan keuangan, tentu sudah tidak asing lagi di telinga orang ekonomi, apalagi yang bergelut dalam dunia akuntansi. Secara singkat, laporan keuangan adalah...

ARTIKEL TERPOPULER

Jihad Versi Kristen?

Kamus Besar Bahasa Indonesia menuliskan arti kata jihad sebagai usaha dengan segala upaya untuk mencapai kebaikan. Mengamati definisi ini paling tidak kita memiliki pengertian...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Umat Kristiani Bukan Nashara [Kaum Nasrani]

Dalam bahasa Arab, kata "nashara" merupakan bentuk jamak dari "nashrani". Sebutan "umat Nasrani" secara salah-kaprah digunakan untuk merujuk pada umat Kristiani, penganut agama Kristen....

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Mengenang Hans Küng (1928-2021), Tokoh Dialog Antar Agama

Bagi para pegiat dialog antar agama, sosok dan pemikiran Hans Küng tak asing lagi. Namanya kerap disebut seiring dengan pemikirannya tentang upaya mewujudkan perdamaian...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.