Senin, Januari 25, 2021

Pentingnya Berpikir Secara Open Minded

Catatan Kecil Mengenang Kepergian Prof. Dawam

Baru saja kemarin, 30 Mei 2018 saya mempresentasikan hasil penelitian untuk strata S-1, dengan wacana utama menggunakan analisis pemikiran ekonomi Islam Prof. Dawam Rahardjo....

Potret Buram HAM: Kriminalisasi Terhadap Pembela Lingkungan

Perjuangan mempertahankan hak hidup pada periode 2020 ini mendapatkan tantangan yang cukup keras, di mana persoalan kriminalisasi pada pembela HAM di sektor lingkungan hidup...

Memaknai Pandemi, Sinyal Revolusi!

“Sebuah revolusi bukanlah taman mawar. Sebuah revolusi adalah pertarungan sampai mati antara masa depan dan masa lalu.” —Fidel Castro Sebagai seorang pejuang yang mendambakan perubahan...

Menakar Pengaturan Kearifan Lokal

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) bersama Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI) melalui tim pengacanya telah mencabut permohonan uji materil ke Mahkamah Konstitusi terhadap...
Danang Estutomoaji
Mahasiswa Sistem Informasi yang hobi bermusik, menulis, mengikuti perkembangan teknologi dan politik

Kita sejatinya sebagai manusia pasti memiliki pikiran yang masing-masing berbeda cara berpikirnya. Namun, tahukah seperti apa pikiran yang Open Minded itu?

Open Minded (pikiran terbuka) adalah ketika anda tahu bahwa anda benar, tetapi anda juga tahu anda bisa saja salah dan mau untuk mendengar opini atau sudut pandang orang lain yang berbeda maupun yang tidak sesuai dengan pemikiran anda.

Pernah tidak anda bicara dengan orang lain atau diskusi perihal satu topik yang menurut anda biasa saja, tapi buat orang lain sendiri itu merupakan hal yang aneh. Contoh, beberapa waktu lalu saya berbicara kepada beberapa kerabat saya tentang ‘Peneliti Jepang berhasil membuat makanan yang berbahan dasar kotoran manusia’.

Sontak kerabat saya memberikan respon yang jijik, geli, bahkan ada yang meminta saya untuk mengganti topik bahasan karena saat itu kebetulan dia juga sedang makan.

Padahal alasan mengapa dibuat makanan dari bahan dasar tersebut karena masalah penumpukan lumpur dari limbah kotoran pada selokan meskipun sebagian besar dari limbah tersebut telah dialirkan ke laut.

Hal ini yang membuat pemerintah Jepang harus mempunyai solusi dan melakukan terobosan baru. Negara Jepang telah memikirkan bagaimana jalan untuk mengatasi kekurangan bahan pangan yang terjadi untuk masa mendatang. Untuk itu, Jepang melakukan terobosan baru untuk menanggulangi kedua masalah tersebut.

Dalam proses pembuatannya, Mitsuyuki Ikeda, Ilmuwan dari Okayama Laboratory yakin kotoan manusia bisa diolah menjadi makanan. Dia menjelaskan banyak isi kandungan protein dan vitamin yang baik di dalam kotoran manusia yang bisa dimanfaatkan.

Penelitannya menjelaskan bahwa lumpur kotoran dari manusia mengandung banyak zat-zat yang bagus untuk kesehatan tubuh. Kandungan tersebut terdiri dari 63% protein, 25% karbohidrat, 3% vitamin, dan 9% mineral. Makanan yang berupa steak daging buatan ini memiliki rasa yang mirip sehingga konsumen tidak akan menyadari bahwa steak tersebut berasal dari kotoran.

Memang untuk menjadi orang yang berpikiran terbuka terkadang terasa susah. Menampung berbagai macam bentuk pemikiran orang lain baik itu pemikiran yang sama maupun berbeda. Akan susah untuk menampung ide – ide yang berbeda apalagi jika ide itu bertolak belakang dengan ide kita.

Open Minded sering kali menjadi salah satu karakteristik orang yang dianggap bijaksana atau dewasa secara pemikiran. Karenanya jika ditanya soal kepridadiannya, banyak orang yang mengaku memiliki pribadi Open Minded. Padahal Open Minded tidak bisa semudah itu dinilai dan ada tanda-tanda khususnya antara lain:

  1. Tidak pernah mengatakan bahwa dirinya seorang yang Open Minded, berpikir secara terbuka     artinya paham bahwa ada banyak orang dengan banyak segala macam pemikirannya, termasuk orang-orang yang tidak bisa menerima suatu hal secara positif. Jika anda tidak cukup santai dengan fakta itu, berarti anda bukan orang yang Open Minded. Apalagi kalau sampai anda membutuhkan pengakuan dengan mengatakannya secara berulang kali.
  2. Tidak dengan mudah menilai dan menyimpulkan segala sesuatu begitu saja, inilah inti dari Open Minded, melihat dari berbagai kemungkinan dan segala hal melalui sudut pandang, bukan dari sudut pandang anda sendiri saja. Oleh karena itu, anda kemudian bertindak sesuai “benang merah” dari berbagai sudut pandang tersebut.
  3. Tidak dengan mudah terpengaruh apa kata orang lain, apapun yang orang katakan tentang sesuatu, anda tidak akan menerimanya begitu saja, tapi anda tampung semuanya terlebih dahulu. Lalu anda akan mencari pendapat dari sudut pandang lain dan menjadikan itu semua sebagai sebuah hasil informasi. Bila anda seperti itu kecil kemungkinan anda termakan hoaks.
  4. Tidak menyukai sesuatu dan membencinya secara berlebihan, karena anda adalah orang yang terbuka dengan segala berbagai kemungkinan. Anda percaya bahwa ada kemungkinan sedikit kebaikan di dalam banyaknya keburukan dan ada kemungkinan sedikit keburukan di dalam banyaknya kebaikan. Jadi misalnya ada sebuah informasi terbukti bahwa ada hal buruk dari apa yang anda sukai ataupun sebaliknya ada hal baik dari apa yang anda benci, anda tidak akan menyangkal dan akan menerimanya. Contohnya, jika tokoh idola yang anda idam-idamkan ternyata melakukan tindak kejahatan atau negatif.
  5. Cenderung objektif terutama yang menyangkut kepentingan bersama, anda tidak memandang siapa yang mengatakan atau terlibat ataupun dari golongan mana dia berasal. Bagi anda data apapun adalah informasi selama bisa dipertanggungjawabkan. Anda rela menghabiskan lebih banyak waktu untuk riset dan diskusi untuk bisa mengajukan solusi atau masukan demi terwujudnya kepentingan bersama.
  6. Tidak terlalu pesimis dan optimis juga dalam benak anda, Diluar dari bahasan hal yang religius, anda akan terbuka dengan segala kemungkinan yang ada dan tidak mengontrol pikiran anda hanya berdasarkan ilmu atau pengalaman anda sendiri. Anda akan bisa mewadahi ide dan masukan orang lain seperti apapun, tanpa berkomentar yang menjatuhkan terhadap orang tersebut.

Bila anda sudah berpikir sama dengan hal diatas, itu tandanya anda sudah berpikir secara Open Minded. Anda lebih bisa melepaskan kontrol, merasakan perubahan, memperkuat diri, semakin percaya diri dan menjadi sosok yang lebih jujur.

Danang Estutomoaji
Mahasiswa Sistem Informasi yang hobi bermusik, menulis, mengikuti perkembangan teknologi dan politik
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Warna, Nada, dan Keberagaman Bangsa

Rifa Rosydiana Ratal SMAN 24 Jakarta Pemenang Lomba Menulis Esai “Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita”. Sahabat Khatulistiwa. Desember 2020 Berbagai kontras yang dimiliki warna dan berbagai...

Kebiri Kimia Amputasi HAM

Pada 7 Desember 2020 lalu, Presiden Jokowi menandatangani Peraturan Pemerintah No. 70 Tahun 2020 tentang Tata Cara Pelaksanaan Tindakan Kebiri Kimia, Pemasangan Alat Pendeteksi...

Sastra dan Jalan Lain Filsafat

Persinggungan eksistensial manusia dengan beragam realitas peradaban tidak mengherankan melahirkan berbagai pertanyaan fundamental – filosofis. Mempertanyakan, membandingkan, dan memperdebatkan beragam produk peradaban, salah satunya...

Ujian Konsistensi Penanganan Konsistensi Sengketa Hasil Pilkada

Jelang sengketa hasil pemilihan kepala daerah di Mahkamah Konstitusi kerap timbul bahasan atau persoalan klasik yang selalu terjadi. Sebagai lembaga peradilan penyelesai sengketa politik,...

Larry King, Wawancara dengan Sejarah

Oriana Fallaci beruntung. Ia seakan mendapat wangsit mendadak untuk menjuduli bukunya dengan cemerlang, "Intervista con la storia", himpunan interviunya dengan para pemimpin dunia yang...

ARTIKEL TERPOPULER

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Larry King, Wawancara dengan Sejarah

Oriana Fallaci beruntung. Ia seakan mendapat wangsit mendadak untuk menjuduli bukunya dengan cemerlang, "Intervista con la storia", himpunan interviunya dengan para pemimpin dunia yang...

Pandji yang Sedikit Tahu, tapi Sudah Sok Tahu

Siniar (podcast) komedian Pandji Pragiwaksono kian menegaskan bahwa budaya kita adalah sedikit tahu, tapi sudah merasa sok tahu. Sedikit saja tahu tentang gambaran FPI...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

The Social Dilemma: Logika Eksploitatif Media Sosial

Seorang teman baru bebas dari dunia gelap. Mengkonsumsi narkoba menjadi gaya hidupnya. Padalah kehidupannya tak terlalu suram bagi ukuran kelas menengah. Tapi kehidupannya itu...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.