Kamis, Oktober 22, 2020

Pentakosta Ketiga, Adakah Itu?

Ironi Tentang Pendaki Gunung

Semasa duduk di bangku sekolah menengah pertama, naik turun bukit adalah rutinitas keseharian. Jarak rumah dari sekolah sekitar satu kilometer, ditempuh selama dua puluh...

Pilkada 2020, Sulitnya Mencari Pemimpin?

Rasanya baru beberapa bulan kita melewati hiruk pikuk perpolitikan yang melelahkan dalam menentukan calon presiden beserta anggota dewan. Sekarang suhu politik akan mulai kembali...

Fenomena Pers Boneka dan Pembungkaman Digital

Ketika informasi telah diwartakan seluas-luasnya kepada masyarakat yang menjadi tuntutan saat penjatuhan rezim Orde Baru, Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers disahkan. Kini, berbagai...

Habib Pulanglah, Kami Merindukanmu!

Kasus yang sedang dihadapi Imam besar FPI Habib Raziek Syihab begitu menyita perhatian publik. Banyak kalangan yang beranggapan bahwa Habib takut pulang karena kasus...
Pdt. Musa Haisoo
El Roi Israel Sipahelut I Know God And Make Him Known

Beberapa waktu belakangan dunia maya (dumay) diramaikan dengan polemik soal “pentakosta ketiga” dan gaungnya menjadi semakin keras pasca acara Empowered21 di SICC Bogor lebih sepekan yang lalu. Tokoh utama yang disorot adalah Pdt. DR. Ir. Niko Nyotorahardjo, dan oleh karena Pdt. Niko adalah seorang tokoh penting di Gereja Bethel Indonesia (GBI) maka GBI pun tak pelak turut disorot.

Wacana pentakosta ketiga memang tidak dapat dipisahkan ketokohan Pdt. Niko, sebab beliaulah orang pertama yang menggulirkan hal itu. Dari beberapa situs yang menayangkan transkrip khotbah Pdt. Niko bisa kita telusuri dan simpulkan bahwa yang dimaksud dengan pentakosta ketiga adalah “restorasi kepenuhan Roh Kudus dengan tanda berbahasa Roh” (berjaga-jaga wordpress.com).

Tuhan berbicara kepada Pdt. Niko di awal tahun 2009, bahwa akan terjadi pencurahan Roh Kudus yang lebih dahsyat pada hari-hari terakhir dengan tanda-tanda seperti yang disebutkan di dalam Kitab Yoel 2:28-32. Dan ‘pesan Tuhan’ ini terkonfirmasi dari tahun ke tahun, sejak tahun 2010 hingga sekarang, di dalam forum-forum Empowered21 (dbr.gbi-bogor.org).

Menurut saya, jika kita bertolak dari anggapan bahwa peristiwa Azusa Street adalah “pentakosta kedua” maka kemungkinan adanya pentakosta ketiga dan seterusnya adalah sangat masuk akal. Namun harus dipahami (dan disadari pula tentunya) bahwa sebutan “pentakosta kedua” itu hanya klaim sepihak dari kaum pentakostal, bukan kesepakatan teologis secara oikoumenis.

Kemudian, jika urutan penyebutannya berdasarkan kronologi peristiwa kegerakan rohani yang melanda seantero muka bumi ini, maka peristiwa Azusa Street sebagai “pentakosta kedua” bisa jadi tidak obyektif. Ada beberapa alasan untuk mengatakan demikian.

1. Adanya kegerakan-kegerakan lain sebelum peristiwa Azusa Street Sejarah gereja merekam banyak sekali peristiwa kegerakan rohani yang terjadi dari waktu ke waktu, dan sulit untuk mengatakan bahwa terjadinya peristiwa-peristiwa tersebut bukan oleh karya atau pekerjaan Roh Kudus.

Beberapa di antaranya perlu disinggung di sini; (a) Reformasi gereja abad ke-16, (b) Kebangunan rohani di Inggris oleh John Wesley pada abad 18, (c) Gerakan kebangunan rohani besar (the great awakening) di Amerika Serikat oleh Charles Finney, pada pertengahan abad ke-19.

2. Adanya ketidak-obyektifan sejarah, dalam dalam penentuan “pentakosta kedua.” Menurut Jan Aritonang (1996:167) terdapat dua pendekatan sejaran yang berbeda di dalam menentukan peristiwa yang menandai awal gerakan pentakosta. Pendekatan pertama adalah pendekatan sejarah idealnya, mengacu pada peristiwa yang terjadi di Topeka, Kansas pada awal Januari tahun 1901 dengan tokohnya bernama Charless Parham.

Sementara pendekatan kedua adalah pendekatan sejarah menurut kenyataannya, mengacu pada peristiwa Azusa Street, yang terjadi pada tahun 1906 dengan tokohnya bernama William Seymour. Selanjutnya mayoritas kalangan pentakostal mengacu pada pendekatan yang kedua ini sebagai awal pergerakan pentakosta. Entah berdasarkan apa?

Jika berdasarkan manifestasi bahasa roh, sebenarnya orang pertama yang mengalami manifestasi itu bernama Agnes Ozman dalam peristiwa di Topeka, Kansas. Jika kita mau jujur dan obyektif terhadap sejarah, maka seharusnya peristiwa Azusa Street itu merupakan peristiwa gerakan pentakosta yang kesekian puluh, bahkan mungkin kesekian ratus.

Sebagai seorang pentakostal saya bisa memahami apa yang dikatakan oleh Pdt. Niko, bahwa akan terjadi restorasi kepenuhan Roh Kudus menjelang tiba waktunya Parousia (rapture). Tetapi menggunakan istilah “pentakosta ketiga” untuk menjelaskan maksudnya tersebut, apalagi disampaikan dengan introduksi: “Tuhan berbicara kepada saya” menjadi kontraproduktif.

Introduksi semacam ini terkesan sangat otoritatif, sama nilai otoritatifnya dengan perkataan para nabi di zaman PL: “berfirmanlah Tuhan” atau “demikian firman Tuhan.” Siapakah yang berani membantah ataupun melawan apa yang Tuhan katakan? Masalahnya, para pengkhotbah yang suka menggunakan introduksi tersebut harus menyadari bahwa mereka berbicara dalam alam pikiran bahwa Alkitab itu bersifat cukup (sufficienti), dan oleh karena itu semua yang mereka katakan harus selaras dengan Alkitab. Semoga bermanfaat. Tuhan Yesus memberkati.

Pdt. Musa Haisoo
El Roi Israel Sipahelut I Know God And Make Him Known
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Vaksin Demi Kesehatan Rakyat

Pemerintah berjuang penuh demi kesehatan rakyat. Keseriusan untuk menemukan vaksin Covid-19 adalah langkah yang sangat tepat. Karena vaksin merupakan solusi yang menjadi harapan rakyat...

Wabah, Membela Eksistensi Tuhan di Hadapan Ateisme (Habis)

Covid-19 Sebagai Fakta Kehidupan  Terlepas dari apakah Covid-19 adalah akibat dari ulah manusia, dan karena itu sebagai bagian dari kehendak bebas manusia, penderitaan kita hari ini pada...

Membereskan Pembukuan Tanpa Menguras Kantong

Pernahkah Anda mengalami sulitnya membereskan pembukuan dengan cepat dan mendapatkan laporan keuangan berhari-hari? Seringkali pebisnis hanya fokus cara meningkatkan omset bisnisnya saja, namun tidak menyadari cara...

Mengenal Sosok Tjokroaminoto

Tjokroaminoto merupakan orang yang pertama kali meneriakkan Indonesia merdeka, hal ini membuatnya sosok yang ditakuti oleh pemerintah Hindia-Belanda. De Ongekroonde Van Java atau Raja...

Mengapa Banyak Abdi Negara Muda Pamer di Media Sosial?

Apakah kamu pengguna Twitter yang aktif? Jika iya, pasti kamu pernah melihat akun @txtdrberseragam berseliweran di timeline kamu. Sebagaimana tercantum di bio akun ini,...

ARTIKEL TERPOPULER

Tanggapan Orang Biasa terhadap Demo Mahasiswa dan Rakyat 2019

Sudah dua hari televisi dihiasi headline berita demonstrasi mahasiswa, hal yang seolah mengulang berita di TV-TV pada tahun 1998. Saya teringat kala itu hanya...

Cara Mahasiswa Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Teknologi selalu mengalami perubahan-perubahan seakan tidak pernah ada ujungnya. Seperti halnya saat ini teknologi sudah sangat berkembang dengan pesat terutama dalam bidang teknologi informasi...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Hitam Putih Gemerlap Media Sosial

“Komunikasi adalah inti dari masyarakat kita. Itulah yang menjadikan kita manusia.” Setidaknya begitulah yang dikatakan Jan Koum, pendiri aplikasi Whatsapp yang kini telah mencapai...

Jangan Bully Ustazah Nani Handayani

Ya, jangan lagi mem-bully Ustazah Nani Handayani “hanya” karena dia salah menulis ayat Al-Qur’an dan tak fasih membacakannya (dalam pengajian “Syiar Kemuliaan” di MetroTV...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.