Sabtu, Februari 27, 2021

Pengajaran yang Benar Pembentukan Karakter Siswa Secara Holistik

Thierry Henry, Antara Pengkhianatan dan Kepahlawanan

Sepakan keras Kevin De Bruyne membawa Timnas Belgia meraih kemenangan fantastis ketika melawan Brazil pada babak delapan besar Piala Dunia 2018 pada Sabtu dini...

Pemuda, Dana Desa dan Urbanisasi

Aldi dan Yanto, dua pemuda desa, memperhatikan spanduk yang berjudul Alokasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa tahun 2017 yang terpasang di pojok gang lingkungan...

Livi Zheng dan Fenomena Intermedia Agenda Setting

Nama Livi Zheng mendadak jadi perbincangan publik sedari pertengahan Agustus 2019. Perbincangan netizen berkisar pada klaim-klaim filmnya yang menembus Hollywood, sampai latar belakang keluarganya. Dirunut...

Ihwal Sains Populer di Indonesia

Sains atau biasa disebut dengan pengetahuan alam merupakan hasil perpaduan antara panca indera manusia dengan bentangan alam semesta yang sangat begitu luas ini. Hasrat...

Undang-Undang No 20 tahun 2003 tentang Sisten Pendidikan Nasional menyebutkan bahwa fungsi pendidikan adalah mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdasakan kehidupan bangsa.

Sedangkan tujuan pendidikan adalah berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab (pasal 3).

Oleh karena itu, usaha dalam bidang pendidikan bukan usaha yang berlangsung dan berlalu tanpa rencana. Dalam hal ini Undang-Undang tersebut juga memberikan batasan pengertian yang jelas. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara (pasal 1 ayat 1).

Jika diungkapkan kembali sejak mulai dari definisi, tujuan, dan fungsi pendidikan yang diberlakukan di Indonesia semua mempunyai titik tekan pada pembentukan akhlak mulia, pembentukan kepribadian atau watak bagi peserta didik. Akhlak mulia dan kepribadian yang penuh tanggung jawab menjadi bagian yang penting dalam dunia pendidikan di Indonesia.

Ilmu pengetahuan yang dipelajari dan dikembangkan bukan ilmu pengetahuan yang bebas nilai, melainkan sarat dengan muatan-muatan untuk mewujudkan kepribadian yang berperadaban sekaligus mempunyai nilai kompetitif dari segala aspek.

Berkembangnya perilaku menyimpang bangsa ini seperti, kolusi, korupsi, lemahnya disiplin, serta hilangnya rasa tanggung jawab barang kali merupakan manifestasi dari terkikisnya integritas kepribadian yang sesungguhnya diharapkan dimiliki oleh setiap warga negara Indonesia.

Banyaknya perilaku buruk ini mungkinkah merupakan salah satu bukti bahwa pendidikan telah gagal dalam menanamkan nilai-nilai integritas kepribadian atau memang merupakan penyakit yang justru sudah dipelihara sejak anak bangsa ini mengenyam dunia pendidikan?

Gejala-gejala buruk dalam dunia pendidikan
Munculnya gejala-gejala perilaku buruk yang terjadi pada peserta didik sering kali kita sebut dengan istilah kenakalan. Oleh karena mereka masih pada usia remaja maka sebut saja dengan kenakalan remaja. Sejatinya, kenakalan remaja sudah menjadi bagian dari masalah yang dihadapi oleh dunia pendidikan itu sendiri.

Pada satu sisi mereka sedang berupaya untuk menemukan jati dirinya, sementara di sisi lain pengaruh lingkungan dan pergaulan cenderung menjauhkan dari tertanamnya nilai-nilai integritas kepribadian. Upaya menanamkan nilai inilah yang kemudian menjadi tugas bapak dan ibu guru di sekolah.

Bapak dan ibu guru tidak hanya sekedar memberikan contoh tetapi juga harus bisa menjadi contoh atau suri teladan kepada peserta didik. Sederet masalah yang dihadapi oleh bapak dan ibu guru dalam dunia pendidikan yang bersumber dari peserta didik dapat dilihat dari miniatur dunia pendidikan, yaitu masalah-masalah yang muncul di dalam kelas.

Gejala-gejala ini menjadi tantangan dalam pengelolaan kelas. Menurut Bowo Sugiharto Gejala-gejala itu dapat bermula dari masalah yang bersifat individual. Gejala yang bersifat individual dapat dibedakan menjadi:

1) Attention getting behaviours (tingkah laku untuk menarik perhatian orang lain). Kadar masalah ini dapat dianggap masalah yang ringan. Bentuknya bermacam-macam yang intinya adalah ingin menunjukkan eksistensi diri dari siswa yang bersangkutan. Perhatian orang lain baik dari teman sebayanya dalam kelas maupun dari guru merupakan hal yang didambakan oleh peserta didik tersebut karena menjadi kebutuhan hidupnya.

Hal ini dapat dimaklumi karena salah satu kebutuhan manusia menurut Maslow adalah kebutuhan untuk diakui eksistensinya. Contoh dari tingkah laku ini misalnya dengan berpendapat atau bersuara yang aneh-aneh pada saat pelajaran misalnya nyeletuk, membuat lelucon, dan sebagainya. Pada tataran ini sebagai indikasinya adalah guru merasa terganggu oleh perbuatan seorang siswa.

2) Power seeking behaviours (tingkah laku untuk menguasai orang lain). Tingkah laku ini mempunyai kadar yang lebih tinggi dari pada tingkah laku yang pertama. Adanya keinginan untuk menguasai orang lain maka peserta didik yang mempunyai masalah cenderung tidak menghargai pendapat orang lain, selalu mendebat, emosional, marah-marah, cenderung lupa terhadap aturan-aturan penting di kelas. Indikasi bahwa peserta didik mengalami masalah ini adalah guru merasa dikalahkan atau terancam.

3) Revenge seeking behaiviours (perilaku untuk membalas dendam), Perilaku yang
ketiga ini mempunyai kadar yang paling tinggi dibandingkan jenis perilaku pertama dan kedua. Indikasinya adalah guru merasa tersinggung atau sakit hati dengan perbuatan seorang siswa di dalam kelas.

Masalah-masalah yang terjadi pada proses belajar mengajar membawa tenaga pendidik harus mengerti apa yang menjadi fungsi dan tujuan pendidikan. Pendidikan butuh proses dan transformasi pengetahuan. Pembentukan karakter dilakukan secara holistik dalam proses pembelajaran. Memahami kemungkinan perilaku yang terjadi, membawa pendidik tahu benar apa yang harus di transfer kepada anak didiknya.

Perilaku itu bisa di redam dengan menanamkan nilai kebenaran bagi siswa dan diberikan kebebasan yang terkontrol untuk membentuk akhlak yang sejati. Guru dan komponen sekolah harus memberikan pengetahuan yang benar dan menjadi teladan untuk siswanya. Sesuai dengan fungsi dan tujuan pendidikan pembentukan akhlak sangat penting untuk membawa anak pada pengetahuan yang benar.

Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Kenapa Saya Mengkritik Mas Anies?

Dua hari yang lalu saya mengkritik Gubernur DKI Jakarta Mas Anies Baswedan melalui unggahan akun Instagram. Soalnya Mas Anies melempar kesalahan pada curah hujan dan...

Berpegangan Tangan dengan Leluhur

Oleh: Arlita Dea Indrianty, SMAN 36 Jakarta Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Bicara tentang Indonesia tidak akan membawa seseorang pada titik...

Penguatan Kultur Demokrasi di Indonesia

Sebagian persoalan dalam praktik demokrasi di Indonesia muncul dari kalangan elite yang membajak sistem. Masyarakat sebagai pemilik sah kedaulatan tertinggi dalam demokrasi hanya dijadikan...

Buntara Kalis

Oleh: Queen Vega Latiefah, SMAN 76 Jakarta Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Seperti cahaya rembulan di malam hari, seperti itu bayangan orang orang...

Sejarah Palestina dan Hubungannya dengan Kita

Usai Kekalahan Ottoman pada perang dunia 1 yakni pada (1914 - 1918) wilayah Palestina - Israel sejak 1922 berada di bawah mandat Inggris. Peluang...

ARTIKEL TERPOPULER

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Kenapa Saya Mengkritik Mas Anies?

Dua hari yang lalu saya mengkritik Gubernur DKI Jakarta Mas Anies Baswedan melalui unggahan akun Instagram. Soalnya Mas Anies melempar kesalahan pada curah hujan dan...

Penguatan Kultur Demokrasi di Indonesia

Sebagian persoalan dalam praktik demokrasi di Indonesia muncul dari kalangan elite yang membajak sistem. Masyarakat sebagai pemilik sah kedaulatan tertinggi dalam demokrasi hanya dijadikan...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.