Minggu, November 1, 2020

Penerapan Kurikulum Berbasis KKNI di Perguruan Tinggi

Menggosok Pribumi dengan lidah Non P(e)ri bumi

Taingyintha saat ini sangat populer di Myanmar. Kata ini menjadi acuan rejim yang sedang berkuasa di Myanmar untuk merujuk penolakan hak-hak sipil dan politik...

Dibalik Pengusiran Diplomat Rusia

Kritisnya mantan petugas intelijen militer Rusia, Sergei Skripal di Salisbury telah menimbulkan berbagai spekulasi di berbagai negara belahan dunia. Pasalnya, Sargei beserta putrinya, Yulia...

Gonjang-Ganjing Koalisi Adil Makmur

Pilpres 2019 sudah menyelesaikan pemungutan suara yang kemudian diikuti dengan real count yang memenangkan Jokowi Ma’ruf. Hasil real count yang sedang berjalan saat ini...

Lakukan Hal Ini Agar Sosialisasi Nyata Terjalin Lebih Intens!

Gadget, kata yang sudah sangat tidak asing lagi saat dibaca pada manusia zaman now yang kemungkinan besar menggunakannya. Karena sebagian besar yang kita lakukan...
Anna Zakiyyah Derajat
Pegiat komunitas penulis Coretan Pena, teater EKSA, PMII RCC, debater Al Motoyat Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Yogyakarta.

KKNI merupakan kerangka acuan yang dijadikan ukuran dalam pengakuan penjenjangan pendidikan. KKNI juga disebut sebagai kerangka penjenjangan kualifikasi kompetensi yang dapat menyandingkan,menyetarakan, dan mengintegrasikan antara bidang pendidikan dan pelatihan kerja serta pengalaman kerja dalam rangka pemberian pengakuan kompetensi kerja sesuai dengan struktur pekerjaan di berbagai sektor.

Menurut Perpres No. 08 tahunn 2012, KKNI merupakan perwujudan mutu dan jati diri Bangsa Indonesia terkait dengan sistem pendidikan dan pelatihan nasional yang dimiliki Indonesia. Jadi, dapat disimpulkan bahwa KKNI merupakan program studi yang mengharuskan sistem pendidikan di Perguruan Tinggi memperjelas profil lulusannya, sehingga dapat disesuaikan dengan kelayakan dalam sudut pandang analisa kebutuhan masyarakat.

Kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan menjadikan sistem yang dianut oleh setiap Perguruan Tinggi haruslah berangsur diubah. Seiring dengan kebutuhan dan tuntutan tersebut, perubahan kurikulum ini menjadi upaya untuk pengembangan inovasi terhadap suatu tuntutan tersebut. Respon terhadap perubahan kurikulum ini dapat dilihat dari banyaknya aturan yang memayungi penerapan kurikulum baru, misalnya  UU No.14 Tahunn 2005 tentang Guru dan Dosen, UU No.12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi, Peraturan Presiden No.8  tahun 2012 tentang Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia, Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 49 tahun 2014 tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi, Perpres No. 08 tahun 2012 dan Pemendikbud No. 73 tahun 2013 tentang Capaian Pembelajaran Sesuai dengan Level KKNI, UU PT No. 12 tahun 2012 pasal 29 tentang Kompetensi lulusan ditetapkan dengan mengacu pada KKNI, Permenristek dan Dikti No. 44 tahun 2015 tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi.

Kurikulum ini menuntut mahasiswa memiliki kemampuan yang memenuhi kriteria seperti:

1. Dalam aspek Attitude

2. Bidang kemampuan kerja

3. Pengetahuan

4. Managerial dan Tanggung Jawab

Dengan adanya target pencapaian ini, Perguruan Tinggi harus mampu menjabarkan sebuah capaian pembelajaran pada setiap mata kuliah yang ada sehingga tersusun sesuai kebutuhan profil kelulusan. Menurut Megawati Santoso, dosen Institute Teknologi Bandung (ITB) yang juga tergabung dalam Tim KKNI mengemukakan “Penerapan Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) di Perguruan Tinggi akan menguatkan akuntabilitas penyelenggaraan pendidikan sekaligus menjamin kualitas lulusaan”.

Selain itu, Wakil Rektor Bidang Akademik Udinus Supriadi Rustad mengemukakan, “KKNI akan memudahkan mahasiswa menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), sebab para lulusan dapat disamakan dengan lulusan dari Universitas di ASEAN. Oleh karena itu, kami  mengumpulkan para kepala program studi  dan dekan untuk membuat standar kompetensi kelulusan dan capaian pembelajaran”.

Untuk meningkatkan kualitas lulusan Perguruan Tinggi, ada beberapa hal yang patut dipenuhi sebagai berikut:

1. Learning Outcomes

2. Jumlah sks

3. Mata kuliah wajib

4. Proses pembelajaran yang berpusat pada mahasiswa

5. Akuntabilitas Asesmen

6. Waktu studi minimum

7. Perlunya Diploma Supplement

Penerapan kurikulum berbasis KKNI di Perguruan Tinggi sangatlah dibutuhkan karena dapat mengasah potensi mahasiswa untuk menjadi agen yang berwawasan luas dan memiliki skill yang memang sesuai dengan kriteria yang dibutuhkan di masyarakat. Selain itu, sistem KKNI ini lebih memudahkan pihak Perguruan Tinggi untuk menentukan tujuan akhir sebagai hasil capaian pembelajaran yang selama ini diajarkan. Dengan demikian, adanya penerapan KKNI ini menjadikan mahasiswa lebih banyak berkontribusi dalam berbagai hal.

Penerapan kurikulum berbasis KKNI ini  bukanlah hanya secarik kertas yang bisa dengan mudah dihapus dan disusun ulang mengikuti format terbaru. Tetapi ia merupakan seperangkat alat pembelajaran yang mengintegrasikan berbagai sumber daya untuk mengolah masukan menjadi luaran yang memiliki nilah lebih, sehingga ada konsekuensi di dalam pemberlakuannya. Apakah kita semua bisa menjawab bahwa dengan pemberlakuan kurikulum baru maka akan meningkatkan daya serap lulusan oleh lapangan pekerjaan ? Ataukah, dapat menaikan Indeks Prestasi Kumulatif lulusan mahasiswanya ? Ataukah, dapat memetakan posisi perguruan tinggi kita dengan rumpun ilmu sejenis ? Tentu semua pertanyaan tersebut akan sulit kita jawab, karena tidak ada patokan resmi untuk mengukurnya secara numeris. Yang ada hanyalah patokan normatif yang tertera pada butir penilaian borang akreditasi perguruan tinggi.

Tidak semua Perguruan Tinggi berhasil menerapkan kurikulum ini, dan kemudian menjadikannya sebagai acuan keberhasilan yang akan dicapai sebagai profil lulusan.

Akibat pergantian kurikulum pendidikan yang terus menerus dapat mengakibatkan kebingungan bagi mahasiswa. Karena dengan ketidak konsistennya sistem akademik ini, lebih menyusuhkan mahasiswa dalam belajar karena ketidak jelasan kurikulum yang ada. Jika ditilik dari setiap karakter mahasiswa, KKNI tidaklah sesuai digunakan di perguruan tinggi. Karena mahasiswa memiliki hak dan kebebasan fokus mana yang akan digelutinya walaupun tidak terpaki dengan kurikulum yang ada.

Pengembangan skill pada setiap mahasiswa dapat dilakukan dengan beberapa cara, tidak hanya melalui pendidikan yang berbasis KKNI untuk menciptakan lulusan-lulusan aktif dan dapat berkontribusi di masyarakat. Kebebasan berpikir ini sebenarnya membantu mahasiswa untuk menentukan berbagai perihal terkait problematika yang ada. Terlebih terkait masalah calon-calon kontributor yang sesuai kriteria masyarakat.

Anna Zakiyyah Derajat
Pegiat komunitas penulis Coretan Pena, teater EKSA, PMII RCC, debater Al Motoyat Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Yogyakarta.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Menjaga Kesehatan Tubuh dari Covid-19

Menjaga kesehatan menjadi hal yang penting dilakukan semua kalangan. Apalagi dengan kondisi alam yang semakin merabahnya virus covid 19. Terkadang hal sederhana yang rutin...

Kesehatan Mental dan Buruh

Kerja adalah cerminan kesehatan jiwa. Semakin baik tempat kerja, semakin kecil kemungkinan kita mengalami masalah kejiwaan. Adam Smith dalam bukunya Wealth of Nation secara...

Charlie Hebdo, Emmanuel Macron, dan Kartun Nabi Muhammad

Majalah satir Charlie Hebdo (CH) yang berkantor di Paris kembali membuat panas dunia. CH merilis kartun Nabi Muhammad untuk edisi awal September 2020. Padahal...

Imajinasi Homo Sapiens Modern dalam Menguasai Dunia

  Foto diatas ini mewakili spesies lainnya yang bernasib sama, tentu bukan hanya Komodo, masih ada dan masih banyak lagi hewan yang bernasib sama sebut...

TBC Mencari Perhatian di Tengah Pandemi

Pada awal Maret, Indonesia melaporkan kasus Coronavirus Disease-2019 yang dikenal sebagai COVID-19, terkonfirmasi muncul setelah kejadian luar biasa di Wuhan, Cina. Penyakit ini disebabkan...

ARTIKEL TERPOPULER

Sandiwara Dibalik Pernikahan Raja Majapahit Bali

Belakangan di Bali ramai pemberitaan mengenai acara pertunangan Raja Majapahit Bali bernama lengkap Abhiseka Ratu Dr Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Pandangan 2 Mazhab Hukum Terhadap Putusan MA Soal Eks Napi Koruptor

Pertengahan tahun 2018 ini publik dikagetkan dengan hadirnya PKPU No. 20/2018 yang dalam Pasal 4 ayat (3) menyatakan bahwa Pengajuan daftar bakal calon anggota...

Charlie Hebdo, Emmanuel Macron, dan Kartun Nabi Muhammad

Majalah satir Charlie Hebdo (CH) yang berkantor di Paris kembali membuat panas dunia. CH merilis kartun Nabi Muhammad untuk edisi awal September 2020. Padahal...

Menyerupai Suatu Kaum: Hadits, Konteks Budaya, dan Tahun Baru 2018

Hanya dengan satu hadits ini, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR Abu Daud dan Ahmad), banyak ustaz yang lantang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.