OUR NETWORK

Pènèkan

Bagi kami, pohon adalah singgasana

“Minuman berasal dari pucuk tangkai daun yang dipetik di pegunungan, kemudian dikeringkan, diseduh dengan air panas dalam sebuah teko. Dinikamati dengan menambah sedikit gula, itulah yang terbayang dalam sebuah pikiran kita ketika mendengar kata teh,” tulis Fitriasari dalam karangannya berjudul Teh (Ngombe, 2018).

Teh adalah gambaran kenikmatan sebuah pohon berdasar sudut pandang manusia. Kenangan manis tempo dulu terhadap pohon tercermin pada masa kecilku. Umur sepuluh sampai empat belas tahun menjadi masa kejayaan bagiku.

Bermain, belajar dan bereksperimen, itulah beragam hal yang berlangsung dalam skenario keseharianku. Kegiatan kegemaranku dengan sekelompok teman kampung agak nyeleneh, memanjat pohon jamblang atau jambu monyet dan bersantai-santai nangkring di dahan-dahannyaKami menyebutnya dengan pènèkan.

Bagi kami, pohon adalah singgasana ternyaman kala siang menjelang sore dengan kepenatan hati sewaktu jenuh bermain di pelataran halaman dan malas untuk tidur siang.

Pohon itu hidup. Dahannya yang bergoyang diterpa angin seolah menunjukkan tarian moleknya dengan iringan gemuruh angin nan manja. Ia akan merasa sakit saat disakiti, meskipun tak mengaduh kesakitan dengan lukanya. Ia merasa subur saat kenyang, dan kering saat dahaga. Ia mendengar pujian atau sumpah serapah yang dilontarkan kepadanya. Ia punya rasa.

“Saya punya pengalaman. Ada dua pohon kelengkeng di rumah. Satu pohon kelengkeng saya puji setiap hari dan sampai saat ini tumbuh subur dan rindang sedangkan satu pohon kelengkeng lainnya saya cemooh habis-habisan. Alhasil, kelengkeng tersebut kurus dan kering kerontang,” tutur Amara, mahasiswa semester akhir salah satu perguruan tinggi Yogyakarta.

Pohon itu rumah. Rumah bagi setiap makhluk yang menemukan rasa nyaman tinggal di sekitarnya. Hewan-hewan tinggal atau sekedar hinggap sejenak setelah seharian sibuk mencari makanan. Konstruksi rumah manusia tak terlepas dari kayu pohon, apapun jenisnya. Pohon adalah rumah bagi dirinya sendiri.

Saat hujan dan panas melanda, Ia tetap teguh berdiri dirumahnya. Saat bencana bahkan kejahatan menyerang, ia tak bisa lari. Jika saja mampu melawan, maka kemungkinan ia akan menyingkirkan para pembabat hutan ganas yang memotong dan membiarkan tubuhnya dilahap si jago merah.

Dilansir dari harian Kompas.com hari Selasa, 30 Agustus 2016 melaporkan bahwa setiap tahun, hutan di Indonesia hilang seluas 684.000 hektar. Raibnya lahan hutan tersebut disebabkan oleh pembalakan liar, kebakaran hutan, perambahan hutan dan alih fungsi lahan. Situasi demikian menempatkan Indonesia di peringkat kedua dunia tertinggi kehilangan hutan. Persis di bawah Brasil yang menempati urutan pertama.

Pohon terkesan menyedihkan, menderita dan mengenaskan. Sejatinya, lebih dari itu pohon mengantongi kultur-kultur unik serta menyimpan beragam makna. Pertama, secara otomatis bocah-bocah sekolah dasar akan menambahkan pepohonan untuk melengkapi pemandangan alam yang mereka gambarkan.

Lukisan rumah pun rasanya tak lengkap jika tanpa dibumbui dengan tambahan pohon. Dipulas dengan warna hijau sebagai daun dan coklat sebagai batang seolah membenarkan bahwa pohon itu dekat dengan kehidupan segala jenis makhluk hidup. Kedua, kebiasaan ndeso seperti “pètan” (mencari kutu di kepala orang) dan perburuan uban dilakukan dengan memilih tempat strategis, di bawah pohon. Lambaian ranting-rantingnya menggoda dan meyakinkan bahwa di bawah tubuhnya lah, para pemburu kutu dan uban dapat menangkap semakin banyak objek buruannya.

Ketiga, batas-batas tanah dalam masyarakat tertentu kadang ditandai dengan pohon-pohon yang ditanam dan tumbuh besar seiring berjalannya waktu. Ya, pohon bukan lagi hanya sebatas kayu bakar, namun telah mewakili simbol kearifan lokal di berbagai daerah.

“Kebutuhan makhluk hidup terhadap air seperti kebutuhan hidup terhadap oksigen: dua hal yang tidak bisa dilepaskan sebagai hakikat makhuk hidup,” jelas Eka Riowati dalam karyanya berjudul AKUa (Ngombe, 2018).

Rasa-rasanya air dan oksigen tidak terlepas dari keberadaan pohon. Kontribusi pohon terhadap dua unsur tersebut sangat besar dan menggambarkan satu kesatuan hukum alam yang memiliki hubungan positif. Mustahil untuk tidak mengakui bahwa pohon itu sumber kehidupan yang menghidupi hidup.

Pèneèkan dalam tradisiku dan sekelompok teman bermainku menjadi salah satu cara untuk berkomunikasi dan menjalin relasi khusus dengan pohon. Cara kami menghargai adalah dengan menyatu dan berbaur dengannya. Berjam-jam nangkring tak berfaedah disertai gelak tawa sesekali, kiranya telah menunjukkan kepada pohon bahwa tubuhnya adalah rumah ramah bagi setiap makhluk.

Kepentingan oknum-oknum tertentu tak bertanggungjawab kerap melukai hak-hak pohon. Terkadang lucu memang untuk menghargai hak-hak pohon karena hak manusia di negara ini saja sering terabaikan. Gerakan-gerakan cinta pohon disuarakan dan menggema di seantero jagad raya, sebagian besar hanya gemanya saja yang terdengar meriah tak sampai berpikir pada hasilnya.

Sejatinya, pohon itu citra sebuah bangsa dan negara. Menghargai pohon berarti menghargai tanah air ini. Ia bernilai dan menumbuhkan harapan bagi segala makhuk. Satu istilah menyebutkan “orang Atheis bisa hidup tanpa Tuhan, tetapi tak bisa hidup tanpa pohon.”  Pohon, makhluk hidup berguna sepanjang masa dan hanya bisa diam seribu bahasa saat dienyahkan.

S1 Program Studi Ekonomi Fakultas Ekonomi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…