Jumat, Desember 4, 2020

Pendidikan Profetik: Solusi Pendidikan Abad 21

Menjelang Tutup Buku DPR RI

1 Oktober, Senayan dihuni oleh wajah-wajah 'baru' yang akan bekerja hingga lima tahun ke depan. Saat seperti ini seharusnya disambut sebagai momen menggembirakan bagi...

Nyinyiran tentang Nasionalisme

Sebenarnya tulisan ini membuat penulis ragu untuk menjadikannya sebagai bahan pembicaraan. Akan tetapi, kalau ide tak dikeluarkan maka pada akhirnya akan hilang begitu saja....

Pendidikan Tinggi Tanggungjawab Siapa?

Ditulis Oleh : Asep Saepul RohmanGagal Sarjana Alvian ShagandhiMasuk awal semester Aku dapat suatu kabar Kawanku terancam cuti Karena biaya administrasiBelum hilang kabar pertama...

Dinamika Korupsi Para Elite

Baru-baru ini kita dihebohkan dengan kasus korupsi berjamaah yang dilakukan oleh anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Malang, kasus tersebut berawal dari penangkapan...
Ode Rizki Prabtama
Ketua Bidang Riset dan Pengembangan Keilmuan IMM Malang Raya, Peneliti di Center of Research in Education for Liberation (CREATION). Alumni Young Leader Peace Camp 2018.

Yang hendak dikaji dalam tulisan ini ialah profetisme sebagai satu paradigma pendidikan di abad 21. Profetisme sebagai satu paradigma layak diamini oleh semua umat beragama (agama samawi). Sebab, bagi umat yang mengaku sebagai pengikut para nabi, mewarisi nilai-nilai kenabian = prophetic dalam setiap kepercayaannya (Baca: profetisme).

Kuntowijoyo, seorang intelektual kebanggaan Indonesia telah lama menarasikan profetik dalam kajian-kajian ilmu sosial. Salah satu bukunya yang cukup populer di kalangan akademisi ialah “Islam Sebagai Ilmu”.

Di buku itu pada halaman 81-108 Kuntowijoyo sedikit banyak mengulas tentang narasi profetik. Sebetulnya, gagasan profetisme ditemukan Kuntowijoyo lewat kajian mendalam mengenai diskursus tentang islam yang dekat dengan transformasi sosial.

Baginya, maksud tuhan mengutus para nabi ke muka bumi ialah dengan visi pembebasan. Pembebasan yang dimaksud adalah yang merepresentasi spirit stransendensi dan tidak berkiblat pada sekularisme seperti pembebasan yang dikampanyekan sejak dulu di dunia Barat.

Profetik menurut Kuntowijoyo berdiri atas tiga pilar besar, yakni humanisasi, liberasi dan transendensi. Tiga pilar ini selain relevan dalam paradigma sosial, menurut hemat saya juga sangat relevan dalam paradigma pendidikan di indonesia. Sebab, dalam rangka menjawab pesoalan pendidikan nasional abad 21, para praktisi dan stakeholder pendidikan perlu berhati-hati di tengah rong-rongan kapitalisme dan neoliberalisme yang terus berubah wujud.

Pendidikan profetik tidak dengan sederhana dipahami sebagai pendidikan yang di dalamnya terkandung nilai-nilai moral agama. Tetapi lebih dari itu, pendidikan yang berangkat dari paradigma hingga praksis gerakan yang menyeru pada pembebasan umat manusia. Artinya, pendidikan pofetik yang dimaksud adalah yang melingkupi secara keseluruhan pendidikan mengenai orientasi dan praktik kebijakan.

Sebab, pendidikan adalah proses trasformasi etis yang membangkitkan akal budi dan tindakan manusia yang humanis. Maksud ini kiranya sejalan dengan tujuan pendidikan nasional, terkandung dalam BAB II Pasal 3 UU SISDIKNAS No.20 tahun 2003.

Bahwa, Pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warganegara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Dalam konteks pendidikan profetik, pertama, humanisasi berarti pendidikan semestinya berorientasi pada proses memanusiakan manusia. Menempatkan peserta didik sebagai subjek pendidikan bukan sebagai objek. Artinya, pendidikan tidak mencetak peserta didik sebagai robot pekerja. Di samping itu, pendidikan juga resisten terhadap bentuk bentuk dehumanisasi.

Kedua, liberasi berarti pendidikan adalah proses pembebasan manusia dari cengkraman kebodohan dan dari segala bentuk penindasan. Bahwa, pendidikan semestinya adalah upaya sistematis untuk meretas ketimpangan sosial dan kesenjangan ekonomi di masyarakat. Olehnya itu, peserta didik dilatih berfikir secara kritis supaya sadar akan persoalan di sekitarnya dan kreatif merumuskan jalan keluar.

Ketiga. Transendensi berarti, pendidikan sebagai locus atau sarana yang menjembatani peserta didik dengan tuhannya. Sebab, sisi transendental dalam pendidikan itulah yang menjadi tenaga masyarakat modern untuk “melawan” arus kapitalisme dan neoliberalisme. Nilai transendensi juga berupaya menanamkan moralitas dan budi pekerti kepada peserta didik.

Situasi pendidikan kita hari ini menyimpan banyak persoalan yang perlu diselesaikan. Di balik semangat perubahan abad 21, tersimpan paradigma kapitalistik dan noeliberal yang diderifasi menjadi kebijakan di lingkungan pendidikan.

Sebagai contoh misalnya, kebijakan standarisasi dan poin penilai akreditasi perguruan tinggi yang mengukur seberapa banyak sebaran lulusan sebuah kampus yang bekerja di korporasi-korporasi ternama.

Jelas, bahwa standarisasi semacam ini menghamba pada kekuatan kapitalis. Sehingga peserta didik dilatih di kampus-kampus hanya bagaimana hidup sebagai seorang pekerja yang melayani kepentingan pasar industri di kemudian hari. Bukan menjadi manusia yang kreatif, mandiri dan berahlak mulia.

Di samping itu, lembaga-lembaga pendidikan terjebak pada logika pasar, bahwa semakin mahal tarif pendidikan maka semakin bagus pula kualitas pendidikan tersebut. oleh karenanya banyak lembaga pendidikan berlomba-lomba menaikkan biaya pendidikan.

Padahal, sebetulnya bukan berarti tarif pendidikan murah bahkan gratis identik dengan kualitas pendidikan rendah. Persoalan ini menampakkan pendidikan sebagai momok bagi kaum papa dan tren bagi kaum berada. Akibatnya, ketimpangan semakin nyata.

Di lingkungan yang berbeda, di sekolah dasar dan menengah, masih banyak persoalan yang nyata. Misalnya, baru-baru ini kasus penganiyayaan Audrey di Kalimantan dan Pencabulan oleh guru terhadap siswa di salah satu SD Negeri di Kota Malang. Hal ini menjelaskan, bahwa dinding moralitas dan ketuhanan semakin keropos pada bangunan pendidikan nasional kita, tidak hanya terhadap peseta didik pun juga para guru dan pelaku kebijakan stakeholder.

Tentu, masalah pendidikan di atas tidak terlepas dari persoalan paradigmatik. Artinya kerangka berfikir pendidikan hari ini perlu dievaluasi secara menyeluruh supaya ancaman dehumanisasi dan gejala disrupsi abad 21 tidak lagi merong-rong tubuh pendidikan kita.

Oleh karena itu, Profetisme sebagai paradigma pendidikan dapat menjadi solusi. Sebab, Pendidikan profetik adalah pendidikan yang humanis (memanusiakan), liberatif (membaskan) dan transenden (berketuhanan) serta sejalan dengan amanah pendidikan nasional Indonesia.

Ode Rizki Prabtama
Ketua Bidang Riset dan Pengembangan Keilmuan IMM Malang Raya, Peneliti di Center of Research in Education for Liberation (CREATION). Alumni Young Leader Peace Camp 2018.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Meneguhkan Keindonesiaan di Tengah Pandemi

Sejak diumumkannya kasus pertama covid 19 di Indonesia pada bulan Maret 2019 silam, perjalanan kasus ini tidak pernah surut. Memasuki bulan Oktober 2020 justru...

Upah Minimum atau Upah Maksimum?

Belakangan ini demo buruh tentang upah minimum mulai sering terdengar. Kenaikan upah minimum memang selalu menjadi topik panas di akhir tahun. Kini menjadi semakin...

Menjatuhkan Ganjar-Jokowi dengan Satu Batu

Saya sebenarnya kasihan dengan Jokowi. Sejak beberapa hari yang lalu organ di bawahnya terlihat tidak bisa kerja. Misalnya soal kasus teroris di Sigi, tim...

Mengapa RUU Minol Harus Disahkan

Pada zaman yang serba modern seperti sekarang ini apa saja dapat dilakukan dan didapatkan dengan mudah karena teknologi sudah semakin canggih. Dahulu untuk mendapatkan...

Pay It Forward Merespon Dampak Pandemi Covid-19

Sinopsis Film Pay It Forward Pay It Forward merupakan sebuah film asal Amerika Serikat yang sarat pesan moral. Film ini dirilis pada tahun 2000, yang...

ARTIKEL TERPOPULER

Luasnya Kekuasaan Eksekutif Menurut Undang-Undang

Proses demokrasi di Indonesia telah memasuki tahap perkembangan yang sangat penting. Perkembangan itu ditandai dengan berbagai perubahan dan pembentukan institusi atau lembaga baru dalam...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

“Pilkada Pandemi” dan Pertanyaan Soal Substansi Demokrasi

Pilkada sebagai sebuah proses politik di negara demokrasi adalah salah satu wujud terpenuhinya hak politik warga negara, selain terjadinya sirkulasi elite penguasa. Namun di...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.