Minggu, Maret 7, 2021

Pendidikan Politik Puan Maharani kepada Anggota BMI

Sarjana, Prekariat, dan Neoliberalisme

Dalam literatur antropologi, neoliberalisme menunjukkan beragam konteks politik dan fenomena sosial ekonomi (Ganti 2014) serta dalam kajian antropologi, neoliberalisme dilihat sebagai suatu kekuatan struktural...

Para Pahlawan yang Tak Terlihat

Kata pahlawan mulai mengalami perluasan makna. Dulu, orang mengenal pahlawan sebagai pejuang yang dengan gagah berani melawan penjajah dan mempertahankan kemerdekaan. Pahlawan kerap diasosiasikan...

Menyoal Kartelisasi Oligarki Pasca Orde Baru

Kolapsnya rezim Soeharto menjadi babak baru bagi oligarki. Sebelum reformasi, Soeharto merupakan sosok oligark dengan kekuatan politik dan kekayaan material yang terkonsentrasi bak sultan....

Radical Grace = Hypergrace (1)

Saat ini kita hidup di suatu era dimana dunia terus berupaya menyajikan  kemudahan,kenyamanan, kepuasan dan ketentraman bagi manusia. Pada saat  yang sama, di dunia...

Tanpa Rakyat Kita Bukan Apa-apa 

(Puan Maharani)

Bagi Puan Maharani, rakyat adalah segala-galanya. Ungkapan “tanpa rakyat, kita bukan apa-apa, kita gak ada artinya” memiliki arti yang sangat dalam. Ungkapan ini meneguhkan sikap seorang yang hidup dalam dirinya jiwa yang benar-benar menjunjung prinsip-prinsip demokratis.

Demokrasi idealnya mengandaikan suatu pemerintahan yang benar-benar memperoleh kekuatan legitimasinya dari rakyat. Negara bisa tegak berdiri karena memperoleh dukungan dari rakyat. Kekuasaan sesungguhnya ada di tangan rakyat. Begitulah prinsip dari sistem demokrasi: pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Dalam sistem ini kemudian kita mengenal slogan yang terkenal: suara rakyat adalah suara tuhan. Konsensus rakyat lebih kuat daripada konsensus segelintir elit.

I

Apa konteks dari munculnya tuturan Puan Maharani ini?

Ungkapan ini disampaikan oleh Puan Maharani kepada para anggota BMI (Benteng Muda Indonesia) di Jawa Tengah yang tengah dilantik untuk periode 2017-2020. BMI merupakan salah satu sayap Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dan didirikan di Kota Semarang pada 2000. Saat itu adalah Kongres I DPP PDIP. Almarhum Taufik Kiemas yang menyarankankan dibentuknya BMI. Tujuannya guna memberi wadah generasi muda yang memiliki militansi dan daya juang yang selaras dengan ideologi Pancasila (kaskus)

Praktis didirikannya BMI adalah upaya untuk mewujudkan nilai-nilai Pancasila dalam diri kaum muda yang memiliki semangat yang tinggi. Generasi muda selalu dipilih sebab mereka adalah calon-calon pemimpin. Mereka adalah harapan bangsa di masa depan.

Bila melirik pada konteks ini, pernyataan Puan Maharani di hadapan anggota BMI adalah sebagai bagian dari pendidikan politik. Mengapa pendidikan politik penting? Saat ini, politik telah dicederai oleh berbagai kepentingan jangka pendek. Para elit politik memperlakukan politik tak ubahnya sebagai ajang untuk merebut kekuasaan. Politik seolah mengalami pemaknaan yang buruk di masyarakat.

Meskipun buruk, politik adalah sesuatu yang tak terhindarkan. Negara ini tetap membutuhkan orang-orang yang memiliki kepekaan dalam politik. Hanya saja politik dalam pengertian yang diharapkan kita semua adalah politik yang tidak semata-mata mementingkan kepentingan pribadi. Politik perjuangan atau politik yang benar-benar memiliki keberpihakan kepada rakyat, melayani rakyat bukan sekedar kekuasaan, di situlah yang diinginkan oleh setiap orang yang memiliki kesadaran politik. Intinya apa yang dilakukan oleh Puan Maharani adalah upaya untuk memberikan pendidikan kesadaran politik. Puan menginginkan agar politik benar-benar kembali ke jalurnya yang benar: untuk menegakkan keadilan sosial, mendistribusikan kesejahteraan sosial dan sebagainya.

II

Politik yang benar dalam pandangan Puan Maharani adalah politik yang memiliki keberpihakan kepada rakyat. Ungkapan “tanpa rakyat, kita bukan apa-apa, kita gak ada artinya” sama dengan kita mengatakan untuk apa berpolitik jika yang diperjuangkan bukan rakyat. Ungkapan ini mencerminkan idealisme politik Puan Maharani. Kita tahu, cucu sang proklamator ini telah mengabdi dengan baik atas negara ini. Setidaknya dengan cara bekerja dengan baik dan melayani rakyat, itu bisa dibaca sebagai bentuk sejatinya pengabdian.

Yang tak kalah penting, Puan Maharani mampu menjaga integritasnya sebagai pejabat negara. Dia tidak pernah mendapatkan celah yang bisa merugikan nama baiknya. Setidaknya perilaku-perilaku yang tidak dibenarkan secara hukum, misalnya korupsi, tak pernah menempel dalam dirinya. Dia benar-benar mampu menghindari label buruk itu.

Seorang pejabat publik yang mampu menjaga dirinya dari terlibat dari hal itu memberikan kesan yang baik bagi rakyat. Dengan cara ini, rakyat tidak kehilangan kepercayaan sama sekali kepada para pejabat publik yang sejatinya adalah pelayan bagi kepentingan mereka (rakyat).

III

Pesan penting yang disampaikan oleh Puan Maharani kepada BMI adalah mereka (kaum muda) harusnya bergerak merangkul rakyat. Mereka perlu mengambil peran dalam pembangunan. Sebagai kaum muda, apa yang disampaikan oleh Puan Maharani adalah suatu kemestian. Kaum muda memiliki beribu-ribu bahkan berjuta-juta ambisi dan gairah yang mungkin tidak dimiliki oleh kaum tua.

Saat ini memang (semakin) banyak sayap partai. Jika kian banyaknya sayap partai berarti adalah banyaknya kaum muda yang sadar politik dan mau merangkul rakyat bawah, tentu ini adalah perkembangan yang baik. Itu sebabnya, BMI sendiri, menurut Puan Maharani haruslah mengambil peran itu: turun ke lapangan. Lakukan kegiatan yang benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat. Dengan cara ini, keberadaan sayap partai dan kaum muda yang berkiprah di dalamnya benar-benar terasa di dalamnya.

Keberpihakan kepada rakyat harus diwujudkan dalam suatu kegiatan yang benar-benar bersentuhan dengan rakyat sehingga bisa merasakan apa yang sungguh-sungguh diharapkan oleh rakyat. Politik yang sesungguhnya tidak menjaga jarak dari rakyat. Politik yang sesungguhnya merangkul kepentingan mereka.

Politik sesungguhnya adalah berpihak kepada rakyat. Tanpa rakyat yang diperjuangkan, maka politik tak memiliki makna apa-apa. Tanpa rakyat, politik berhenti sekedar seremoni perebutan kekuasaan belaka. Dan dalam pendidikan politik yang disampaikan kepada anggota BMI oleh Puan Maharani, sangatlah dihindari politik yang sekedar ambisi kekuasaan itu.

Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Ranking Kampus Dunia: Jangan Salah Kaprah

Baru-baru ini dunia pendidikan tinggi kita mendapatkan gabar gembira. Lima perguruan tinggi (PT) asal Indonesia menempati 10 universitas Islam terbaik dunia. Bahkan salah satunya...

Rock and Roll, Budaya yang Terusir

Penyebaran virus Rock and roll tidak hanya datang dari radio luar negeri, tapi juga dari rekaman piringan hitam yang dibawa dari luar negeri dan...

Cantik Hemat dari Dapur

Cantik adalah impian bagi setiap perempuan. Sejak umat manusia tercipta, kecantikan menjadi sebuah patok keindahan. Terbukti dari kisah dua orang putra nabi Adam yang...

Apa Hubungannya Toleransi dan Kearifan Lokal?

“Hai seluruh manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya...

Lubang Hitam Narasi Teroris Selama Pandemi

Sudah lima hari sejak saya terkonfirmasi positif Covid-19. Rasanya begitu berat, alih-alih sekedar menyerang fisik, rupanya virus ini juga menyerang mental. Untuk itu, saya...

ARTIKEL TERPOPULER

Pendidikan yang Berkebudayaan, Mencipatakan Manusia Kreatif dan Otonom

Review Buku: Yudi Latif, Pendidikan yang Berkebudayaan: Histori, Konsepsi dan Aktualisasi Pendidikan Transformatif, (Jakarta: Gramedia Pustaka, 2020). Pendidikan nasional sudah seharusnya tidak meninggalkan akar-akar...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Serial Non-Muslim Bisa Masuk Surga. Siapa Mereka?

Apa pendapat para ulama dan cendekiawan dulu dan sekarang tentang keselamatan penganut agama-agama selain syariat Nabi Muhammad Saw? Apakah orang yang biasa disebut “non-Muslim”...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Perbedaan; Pendidikan Karakter, Moral dan Akhlak

Kita lihat bila Secara filosofis, terminologi pendidikan karakter, pendidikan moral, pendidikan etika, dan pendidikan akhlak memiliki perbedaan. Terminologi pendidikan moral (moral education) lebih cenderung...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.