Kamis, Februari 25, 2021

Pendidikan Karakter: Nasihat Dedi Mulyadi Kepada Jokowi

Kampus Merdesa

November tahun lalu, saya menulis buku berjudul Involusi Republik Merdesa. Buku yang berisi kumpulan gagasan sepanjang satu dekade ini berisi otokritik tentang kebijakan pemerintah...

Indonesia, Bukan Sekuler Bukan Teokrasi

Politik bagi sebagian negara tidak dapat atau enggan memisahkan diri dengan agama. Politik dapat diartikan sebagai buah pemikiran agamis untuk menciptakan ketentraman hidup berbangsa...

Gilad Atzmon: Sang Mantan Zionis yang Membenci Yahudi

Sekilas Tentang Gilad Atzmon Gilad Atzmon, lahir di Tel Aviv pada 9 Juni 1963. Ia adalah seorang pemain musik jazz papan atas di London. Gilad...

Ir. H. Joko Widodo dan Mengapa Ia Kurus

“Sederhana itu baik. Mengultuskan kesederhanaan itu buruk. Itu politik manipulatif,” kicau Rocky Gerung dalam twitterland. Pengajar filsafat Universitas Indonesia itu tentu ingin menyindir followers...
Atih Ardiansyah
Direktur Eksekutif Rafe'i Ali Institute (RAI), dosen FISIP UNMA Banten

Korupsi itu tidak memandang strata pendidikan. Beberapa oknum koruptor bahkan telah mengenyam pendidikan tinggi. Mengapa tingkat pendidikan tidak memiliki imbas terhadap perilaku koruptif? Karena selama ini, penguatan pendidikan karakter belum menjadi perhatian pemerintah. Demikian disampaikan Presiden Joko Widodo saat menutup pelatihan akbar guru PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) se-Jakarta, Rabu (20/9).

Menurut Presiden Jokowi, guru-guru PAUD merupakan kunci pembangunan. Di tangan merekalah, generasi yang berada pada usia emas, 1-12 tahun, dididik bukan hanya kecerdasannya, tetapi juga diimbangi dengan budi pekerti dan nilai-nilai karakter yang baik. 

Tetapi bagi Dedi Mulyadi, keberadaan PAUD justru telah merenggut periode emas anak-anak. Keberadaan PAUD telah membuat orang tua menyerahkan tanggung jawabnya kepada guru-guru dan melalaikan tanggung jawabnya. Makanya, kata Dedi Mulyadi, PAUD sebaiknya dibubarkan saja.

 Dedi Mulyadi memang memiliki buah pikir yang unik, eksentrik, dan kadang nyeleneh. Tetapi bila dicermati secara mendalam, pemikiran nan kontroversial itu layak untuk direnungkan oleh kita semua, terutama oleh Presiden Jokowi.

Pertama, lembaga PAUD dinilai Dedi Mulyadi telah membangkrutkan perekonomian masyarakat. Sebagai contoh, uang jajan anak Rp 10 ribu/hari, sementara uang jajan orang tua yang menunggui bisa lebih besar dari itu. Dedi Mulyadi menilainya sebagai bentuk konsumerisme yang tidak sesuai dengan budaya masyarakat, terutama masyarakat Sunda.

Kedua, PAUD telah menyalahi hakikat pendidikan karakter. Kata Dedi Mulyadi, ada pemikiran yang kurang tepat dalam benak para orang tua. Saat anak-anak berusia 3-5 tahun, para orang tua sibuk mendaftarkan anak-anaknya ke sekolah, sementara pendidikan di rumah, di keluarga, sangat minim diberikan. Padahal, pendidikan karakter itu sangat krusial dilakukan di rumah, melalui contoh baik dari orang tua.

Ketiga, PAUD telah menyelingkuhi kearifan masyarakat Indonesia. Dalam buku Kang Dedi Menyapa, Kumpulan Pemikiran (2013: 22-23), Dedi Mulyadi menulis: 

Ada kritik saya terhadap model pendidikan hari ini. Lihat Nabi Muhammad yang Allah cintai dan muliakan itu, yang para malaikat bershalawat kepadanya, untuk mendapat satu ayat Nabi harus menunggu sampai umurnya 40 tahun dulu. Sementara anak-anak kita yang masih di play group sudah harus bisa baca-tulis, bisa komputer. Apa yang terjadi? Molohok we budakna teh.

Indonesia ini mengadopsi pola Barat seenaknya saja. “Play” itu artinya bermain, group itu adalah kelompok. Kelompok bermain. Orang-orang kelas menengah itu mengadopsi dari negara-negara maju. Kenapa? Mereka tidak punya tetangga dan saudara, anak-anaknya tidak ada yang mengurus, tidak punya sahabat. Individual. Karena tidak punya sahabat, maka dibuatlah ruang bermain.

Di urang, di lembur rek nyieun bangunan, playgroup, kumaha? Apan budak euceu mah geus boga babaturanna, geus aya kelompokna. Kelompok ngojay, kelompok maling bonteng, eta teh playgroup. (Di kita, di kampung mau bikin Play Group bagaimana? Kan anak ibu sudah punya banyak teman, sudah ada kelompoknya. Kelompok berenang di sungai, kelompok maling bonteng, itu sama saja dengan Play Group).

Kalau di kampung sudah ada play group seperti itu maka ada degradasi pemikiran, membuat mundur bangsa ini yang sebetulnya sudah maju.

Kecenderungan manusia itu memang berkelompok. Sekarang dibuat kelompok berdasarkan hobi, ada juga kelompok politik. Jadi anak kita dari dulu sudah punya kelompok, kelompok bermain play group. Ada yang pekerjaannya main bola, dam-daman, halma, bancakan, kecor, sorodot gaplok, gampuh. Ini kelompok, tidak boleh diintervensi, biarkan secara alami.

Saya katakan, berbicara PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) maka bukan berarti kemudian sekolah PAUD. Itu hanya untuk anak-anak yang orang tuanya tidak pernah ada di rumah. Agar diurus oleh orang-orang yang sudah digaji, anaknya lalu dititip ke guru PAUD. Yang di kota lahannya memang terbatas, sedangkan di desa tanahnya luas, ada sawah, burung-burung berbunyi merdu, dan lain-lain.

Pendidikan karakter itu, menurut Dedi Mulyadi, menuntut adanya peran orang tua dalam mengawal tumbuh-kembang anak yang akan menjadi generasi penerus. Bagi masyarakt desa, pesan Dedi Mulyadi di atas secara tersirat menagih kedekatan manusia dengan alam (hutan, sawah, sungai, permainan tradisional). 

Nah, Pak Jokowi, bagaimana dengan ide genuine dari Dedi Mulyadi ini? 

Atih Ardiansyah
Direktur Eksekutif Rafe'i Ali Institute (RAI), dosen FISIP UNMA Banten
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Sejarah Palestina dan Hubungannya dengan Kita

Usai Kekalahan Ottoman pada perang dunia 1 yakni pada (1914 - 1918) wilayah Palestina - Israel sejak 1922 berada di bawah mandat Inggris. Peluang...

Asesmen dan Metode Wawancara dalam Psikologi Klinis

Seperti yang kita tahu, bahwa psikologi merupakan sesuatu yang sangat identik dengan kehidupan manusia, karena psikologi berpengaruh terhadap kehidupan seseorang. Psikologi yang kurang baik...

Kajian Anak Muda Perspektif Indonesia

Sejak awal, perkembangan kajian anak muda dalam perspektif Indonesia telah menjadi agenda penting dan strategis. Sebagai bidang penelitian yang relatif baru, tidak dapat dipungkiri...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Polemik Pernikahan Dini Masa Pandemi

Menyebarnya virus covid 19 di Indonesia sangat cepat dan menyeluruh ke berbagai wilayah dari kota besar sampai daerah pelosok desa. Virus ini terjadi mulai...

ARTIKEL TERPOPULER

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Kajian Anak Muda Perspektif Indonesia

Sejak awal, perkembangan kajian anak muda dalam perspektif Indonesia telah menjadi agenda penting dan strategis. Sebagai bidang penelitian yang relatif baru, tidak dapat dipungkiri...

Revitalisasi Bahasa Daerah Melalui Tradisi Santri

Bahasa daerah merupakan bahasa awal yang digunakan manusia dalam berkomunikasi. Melihat bahasa daerah di Indonesia sangat banyak ragamnya dan merupakan kekayaan budaya Indonesia, seiring...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Menilik Pencekalan Panglima Gatot

Insiden diplomatik antara Amerika Serikat dan Indonesia terjadi hari Sabtu lalu, (21/10/2017) di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Kejadiannya, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo dicekal untuk...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.