Rabu, Maret 3, 2021

Pendidikan Islam Sebagai Penangkal Isu Sara

Federalisme dan Pandemi Covid-19 di Australia, Sebuah Refleksi

Sekilas tentang Federasi Australia Federalisme diadopsi di Australia pada tanggal 1 Januari 1901, ketika enam koloni Australia yang berpemerintahan sendiri di New South Wales (NSW),...

Membunuh Hoaks: Rekonstruksi Nalar Manusia Era Post-Truth

Kamus Oxford menempatkan kata post-truth sebagai “Word of The Year” pada tahun 2016 karena kata tersebut begitu banyak digunakan oleh umat manusia, terlebih pada...

Menemukan Keadilan Agraria dari Nagari

Masyarakat pedesaan yang umumnya adalah masyarakat adat mengalami penghilangan sumber-sumber kekayaan agraria akibat ketimpangan distribusi yang mengakibatkan kekuasaan atas tanah dan sumber daya alam...

Sejarah Diplomasi dalam Bernegara

Politik adalah alat mengemudi untuk mencapai kekuasaan, untuk mencapai suatu arah yang akan ditempuh. Maka, seorang politisi harus memakan dan mempunyai cara tersendiri untuk...
munir
Pengamat politik amatiran, tukang ngopi sana-sini, gak suka rasan-rasan

Sara adalah berbagai pandangan dan tindakan yang didasarkan pada sentimen identitas yang menyangkut keturunan, agama, kebangsaan atau kesukuan dan golongan. Setiap tindakan yang melibatkan kekerasan, diskriminasi dan pelecehan yang didasarkan pada identitas diri dan golongan dapat dikatakan sebagai tidakan Sara. Tindakan ini mengebiri dan melecehkan. 

Pondok pesantren diakui sebagai salah satu pilar pendidikan Indonesia dengan ciri yang khusus dan kuat, budaya dan jiwa mereka seakan menyatu dengan negeri sehingga dalam perebutan kemerdekaan bangsa ini tidak bisa lepas dari pejuang yang dipelopori oleh kyai dan santri demi membela negeri. Keyakinan terhadap pembelaan negeri dianggap lebih dari doktrin, tapi sebuah amaliyah yang harus dilaksanakan sehingga menampis rasa keraguan yang ada.

Islam di Indonesia merupakan mayoritas terbesar umat muslim di dunia. Data sensus penduduk pada tahun 2010 menunjukkan 87,18% atau 207 juta jiwa dari total 238 juta jiwa penduduk beragama islam. Hal ini tidak lantas membuat umat islam yang dominan berlaku semena-mena karena kekuatan jumlah massa yang ada, namun justru nilai-nilai keislaman nusantara ini memberikan warna dan mengilhami latar belakang berdirinya negeri ini, dimulai dari beberapa simbul dan falsafah kenegaraan yang memakai identitas keagamaan dengan pemaknaan yang lebih majemuk.

Madrasah Ibtidaiyah, Tsanawaiyah juga Aliyah bisa dikatakan sebagai pengembangan dari pesantren agar para santri tidak hanya bisa baca kita kuning saja melainkan agar mampu sejajar dan seimbang dalam penguasaan ilmu umum dan sains lainnya, perkembangan madrasah ini juga massif dan beraneka; mulai yang masih mempertahankan model salafi (Tradisional atau kuno) hingga yang sudah inklud dengan manajemen internasional seperti ICP dan sebagainya.

Permasalahan yang dihadapi bangsa ini adalah disparitas pendidikan, yakni kesesuaian antara apa yang dipelajari di kelas dengan praktik dikehidupan nyata. Kualitas pendidikan Indonesia masih tertinggal meski dibandingkan dengan Negara-negara yang lebih miskin sekalipun. Hal ini juga di kuatkan dengan membludaknya jumlah angkatan kerja yang didominasi lulusan SLTA. Lantas hal apakah yang masih kita banggakan ?

Fakta-fakta diatas tak bisa kita pungkiri sebagai gambaran bagaimana kondisi rendahnya kualitas sumber daya manusia Indonesia, meski dalam ajang olimpiade pendidikan dan keagamaan ada beberapa prestasi bergengsi yang diraih, namun itu akan terlihat kecil jika dibandingkan dengan usia bangsa kita, apalagi jika dilihat dari jumlah populasi penduduk yang ada. Keadaan ini jelas juga akan berdampak pada pola pikir dalam menfilter sumber informasi dan berita yang tidak bertanggungjawab dengan tujuan hanya untuk mencari pembenaran sementara dengan pencitraan serta rekayasa. Potensi mudahnya dipengaruhi ini, menciptakan para komunitas atau kelompok penyedia jasa ujaran kebencian untuk sang lawan atau pencitraan positif bagi yang memesan seperti kita lihat dewasa ini diberbagai media Indonesia.

Indonesia termasuk Negara berkembang, meski telah berada di era modernisasi, isu Sara kini muncul lagi di nusantara, dan berdampak sangat signifikan dalam mencuci otak masyarakat untuk kepentingan kelompok tertentu, seakan menjadi sebuah senjata rahasia pencuci otak massal yang efektif menggiring opini publik. Tentunya ini menjadi keprihatinan kita semua sebagai umat islam terbesar di dunia, dan sangat berbahaya bila digunakan untuk melemahkan kesatuan bangsa dalam bingkai NKRI.

Amerika adalah Negara maju yang sangat dihormati Negara-negara lainnya karena kekuasaanya, bahkan dikatakan sebagai pijakan perkembangan demokrasi dunia, dengan berbagai keunggulan dan sumber dayanya, meletakkan Amerika di atas Indonesia dari rangking pendidikan dunia. Hal yang cukup mengherankan adalah saat kemenangan presiden terpilih Donald Trump pada pemilu lalu adalah soal isu Sara yang diusung pada masa kampanye, logika dunia seakan terbalik bahwa tidak ada satu system yang benar-benar demokrasi meski lahir di negeri sendiri, bahkan tingkat kualitas pendidikan juga masih belum mampu mengahalau gempuran isu yang berjalan.

Maka, untuk mengatasi perkembangan isu itu, pendidikan Islam punya solusi jitu yakni dengan melaksanakan prinsip asas pendidikan islam bersandarkan ajaran yang melibatkan aspek pembangunan akidah, yaitu sesuatu yang tidak boleh dikompromikan. Ia merupakan satu arahan yang perlu dipatuhi tanpa alasan dan diterima tanpa syak (kemamangan) dan waham (keyakinan sesorang yang berdasarkan penilaian realitas yang salah) pada setiap zaman dan dalam keadaan apapun.

Langkah agar wawasan pendidikan islam bisa terealisasi dengan baik dalam praktiknya, maka setiap stokeholder harus memperhatikan dan berupaya melaksanakan beberapa hal dibawah ini :

  •  Memastikan ilmu pengetahuan yang diperoleh digabungkan dengan aspek pertanggungjawaban dan amanah.
  • Mendidik masyarakat supaya menyeimbangkan antara tuntutan keduniaan dan kerohanian secara serentak dan seimbang.
  • Memastikan ilmu yang diajar bermanfaat kepada pembangunan dan tranformasi umat serta masyarakat
  • Senantiasa meningkatkan ilmu pengetahuan sesuai dengan keperluan manusia
  • Mengambil faedah setiap ilmu yang diajar dan mendorong manusia untuk melakukan amal.

Negara yang damai, aman dan sejahtera menjadi tujuan setiap bangsa, ditengah perkembangan pendidikan dan teknologi diharapkan akan mampu mengurai krisis antar suku, adat, ras, dan agama  pada masyarakat atau golongan, namun hal ini tampaknya tak sejalan dengan kemajuan pendidikan dan teknologi, maka sebagai suatu jalan menuju kearah perbaikan itu, kesadaran melaksnakan aturan dan nilai-nilai agama yang baik (Islamic compliance) menjadi penentu atas semua persoalan yang ada yang dijalankan semua elemen masyarakat, tentunya kita mulai dari diri sendiri.

munir
Pengamat politik amatiran, tukang ngopi sana-sini, gak suka rasan-rasan
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Artijo dan Nurhadi di Mahkamah Agung

In Memoriam Artijo Alkostar Di Mahkamah Agung (MA) ada dua tokoh terkenal. Artijo Alkostar, Hakim Agung di Kamar Pidana dan Nurhadi, Sekjen MA. Dua tokoh MA...

Gangguan Jiwa Skizofrenia

Kesehatan jiwa adalah kondisi dimana individu dapat berkembang secara fisik, mental, spiritual dan social sehingga individu tersebut menyadari kemampuan diri sendiri. Dapat mengatasi tekanan,...

Mencermati Inflasi Menjelang Ramadhan

Beberapa pekan lagi, Bulan Ramadhan akan tiba. Bulan yang ditunggu-tunggu sebagian umat muslim ini adalah bulan yang istimewa karena masyarakat muslim berusaha berlomba-lomba dalam...

Kasus Khashoggi Makin Mendunia

Hari ini, 1 Maret 2021, Biden mau umumkan resmi di Washington keterlibatan MBS dalam pembunuhan Kashoggi. Menarik. KAS pasti meradang. Ini konflik pertama, yg sulit...

Jujur Itu Hebat, Artidjo Personifikasi dari Semua Itu

Satu demi satu orang tumbang dibekap covid, penyakit lain atau karena usia. Pagi ini saya kembali dikejutkan oleh berpulangnya Artidjo Alkostar, kawan lama yang...

ARTIKEL TERPOPULER

Artidjo Alkostar, Sebuah Kitab Keadilan

Gambaran apa yang muncul di benak Anda setiap mendengar profesi pengacara dan kepengacaraan? Apapun citra itu, Artidjo Alkostar menghancurkannya berkeping-keping. Sebagai pengacara hingga akhir 1990an,...

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.