OUR NETWORK

Pendidikan Beda Zaman

Lantas dengan semua itu kita semua harus pesimis atas keadaan ini?

Pendidikan menjadi persoalan yang terus dibahas mulai dari bapak-bapak di warung kopi sampai dengan pejabat tinggi negeri.

Indonesia menjadi urutan ke-69 dari 72 Negara yang dilaporkan oleh PISA yang dimana Indonesia mempunyai posisi paling bawah dari Negara yang di teliti oleh PISA, pantas saja perbincangan soal pendidikan tidak pernah habis dibahas. Lantas dengan semua itu kita semua harus pesimis atas keadaan ini?

Selama masih diperdebatkan dan terus di gelorakan pendidikan Indonesia akan terus berkembang seiring dengan zaman, karena masih banyak kepedulian tentang dunia pendidikan mulai komunitas berorietnasi kepada pendidikan hingga semangat pelajar Indonesia yang terus ingin menimba ilmu. Perbincangan pendidikan akan selesai apabila sekolah bukan lagi tempat strategis menempuh jalan intelektual.

Pelajar atau sering dikenal dengan peserta didik di abad ini telah mengalamai pergeseran tentang pemanfaatan soal pendidikan tersebut. Ada banyak tempat menempuh pendidikan dengan flatform yang canggih dan bagus bisa dicerna oleh peserta didik.

Itulah tantangan ke depan tentang bagaimana Indonesia bisa maju dalam teknologi melalui pendidikan dan tidak hanya di perkotaan melainkan di pedesaan sehingga akses pendidikan bisa di rasakan oleh semua kalangan.

Lalu bagaimana bisa peserta didik bisa mengembangkan kemampuan akademik dan non akademiknya dengan melawan arus globalisasi ini, ada bebera hal yang coba saya uraikan.

Berorientasi kepada karakter, mengapa demikian menurut David Elkind & Freddy Sweet Ph.D mengatakan bahwa “pendidikan karakter adalah upaya yang di sengaja untuk membantu orang memahami,peduli dan bertindak berdasarkan nilai-nilai etika inti”.

Oleh sebab itu pendidikan karakter menjadi inti dari semua pencapaian yang ada, kalau berorientasi kepada angka maka bisa saja para peserta didik mendapatkan angka (nilai) melalui cara yang tidak benar.

Sesuai minat dan bakat, peserta didik di arahkan sesuai apa yang dia inginkan bukan di arahkan kepada menajdi satu cetakan yang sama, minat bakat peserta didik sangat beragam dan tidak semua sama bahkan sekarang ada yang menyebutkan tentang kemampuan/keterampian abad 21 atau yang dikenal 21st Century Skill.

Bukan menjadikan peserta didik mempunyai keterampilan yang sama melainkan mengembangkan minat dan bakat untuk di eksplor sehingga menjadi pribadi sesuai dengan diri mereka sendiri.

Hidden Curriculum yang berbasis kemajuan, kurikulum tersembunyi atau hidden curriculum biasanya tidak terjabarkan melalui tulisan melainkan penanaman nilai-nilai yang tidak diketahui para peserta didik secara langsung tapi mereka dapat sadari dengan tindakan, konsep ini biasanya tidak dijalankan di berbagai sekolah.

Seolah sekolah cuman menjalkan roda pabrik dengan siklus masuk kelas-belajar-istirahat-belajar kembali-kemudian pulang. Dalam proses belajar mengajar tidak menempatkan penanaman tentang nilai-nilai yang baik kepada peserta didik.

Lantas, kita masih punya harapan soal pendidikan di Indonesia. Mengutip dari Cathy N.Davidson “simplenya, kita tak bisa terus menyiapkan genreasi muda dengan cara yang sama di dunia yang udah mulai berubah”.

Aku membaca,maka aku ada

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…