OUR NETWORK

Pemuda di Antara Garis Revolusi

Pemuda selalu menjadi garda terdepan dalam fakta sejarah.

“Berikan aku 1000 orang tua niscaya akan aku cabut semeru dari akarnya, berikan aku 10 orang pemuda niscaya akan ku guncangkan dunia,” – Bung Karno

Semangat, progresif dan berapi-api, cinta bangsa dan cinta tanah air, inilah salah satu yang melatar belakangi pekikkan orasi bung Karno  dalam pidatonya. Sejarah tentu tak akan lupa dengan tinta emas yang ditorehkan para pemuda. Pemuda adalah aktor terpenting dalam cerita panjang perjuangan kemerdekaan tanah air. Pemuda selalu menjadi garda terdepan dalam fakta sejarah.

Di Yunani, semangat intelektual pemuda mewarnai peradaban kita sampai hari ini. Pemikiran-pemikiran itu berasal dari para tokoh pemuda di zamannya: Socrates, Plato dan Aristoteles.

Bahkan revolusi-revolusi besar di dunia dibangun oleh semangat dan gairah para pemuda, revolusi di Prancis misalnya, digagas dan digaungkan oleh pemuda.

Gerakan mahasiswa Prancis tahun 1968, persatuan dengan kaum buruh pada saat itu membentuk sebuah gerakan revolusioner. Peristiwa demonstrasi pada Mei 1968 itu membuktikan gerakan pemuda memang selalu mengambil peran dalam setiap gerakan revolusi.

Di Amerika, dalam kurun waktu 1955-1960, pemuda terlibat dalam perjuangan sebuah gerakan rasial, atau misal keberanian anak muda di Amerika Serikat mengusung politisi Barnie Sanders untuk menjadi presiden Amerika Serikat.

Di Spanyol, kaum muda bangkit dan mendirikan sebuah organisasi politik bernama Podemos, dipimpin tokoh politik muda bernama Pablo Iglesias.

Di Inggris, gerakan kaum muda dari berbagai lapisan kelas sosial berjuang mengusung Jeremy Corbin sebagai kandidat Perdana menteri dari partai buruh.

Yunani, Prancis, spanyol, Amerika serikat, dan Inggris merupakan gerakan pemuda yang selalu mewarnai setiap perjuangan. Di Indonesia sejak zaman penjajahan sampai reformasi, pemuda selalu berperan dalam ruang-ruang revolusi

Tahun 1908, semangat kebangkitan nasional ditandai dengan berdirinya Budi Oetomo, sebagai simbol awal pergerakan para pemuda. Tahun 1928, lahirlah sebuah sumpah sakral yang kita kenal dengan Sumpah Pemuda.

Tak berhenti di sana, pergerakan pemuda kembali menjadi aktor penting dalam persiapan proklamasi kemerdekaan Indonesia. Tak lupa tentu dalam benak kita bagaimana keberanian para pemuda menculik sang proklamator dan mendesak agar segera memroklamasikan kemerdekaan. Tak salah jika tanpa pemuda bangsa kita mungkin tak akan pernah merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945.

Perjuangan pemuda tak pernah lekang dalam sejarah. Tahun 1966, pemuda kembali menjadi aktor terpenting dalam lahirnya pemerintahan Orde Baru. Peristiwa Tritura yang dipelopori berbagai organisasi pemuda memaksa Soekarno turun dari tampuk kekuasaan. Tak berhenti begitu saja, puncak gerakan pemuda kembali meledak ditahun 1998. KKN dan krisis moneter menandai kegagalan Soeharto mengurus negara. Lagi-lagi pemuda  melengserkan tirani orde baru.

28 Oktober diperingati sebagai Hari Sumpah Pemuda. Sejarah menjadi saksi  setiap titik perjalanan perjuangan. Kesadaran Revolusi dalam kelompok-kelompok pemuda di berbagai dunia dan Indonesia sendiri, tumbuh ketika mereka menyaksikan fenomena pemiskinan sistematis oleh negara. Menandai tumpulnya fungsi negara dalam mengurus negara dan berpihak pada  rakyat. Semangat berapi-api dari kaum muda menyebabkan persekutuan mereka dengan kaum tertindas.

Di era reformasi menjadi keniscayaan pemuda harus tetap berada diantara garis-garis revolusi, ditengah carut-marutnya politik negeri ini, memaknai sumpah pemuda tentu menjadi keharusan.

Fenomena bangsa hari ini sedang dilanda kegaduhan, konflik dan pertentangan yang cenderung memecah belah menjadi faktor dibutuhkannya sebuah instrumen perekat, seperti gerakan sumpah pemuda 1928.  Sumpah pemuda adalah pemersatu bangsa, bait sumpah pemuda sebenarnya telah mampu memberikan solusi kebangsaan, bahwa kita hanya bersatu dalam tanah air, bangsa, dan bahasa, bukan yang lain.

Reformasi yang telah berjalan, masih tak mampu memberikan hasil signifikan dari persoalan-persoalan bangsa. Mulai dari kesenjangan, pembangunan yang tak bisa menunjukkan perkembangan progresif, hingga pendidikan yang sejatinya mencerdaskan kehidupan bangsa, justru semakin memiskinkan kehidupan bangsa.

Kekayaan bangsa yang masih saja digerus dan dinikmati bangsa lain, dinamika politik yang semakin kacau tak bersubstansi dan cenderung sensasional, hingga persoalan etika tata krama yang semakin jauh dari kata santun. Masihkan ikrar sumpah pemuda 1928 kita tanamkan dalam hidup bernegara? Atau semangat sumpah pemuda hanya akan menjadi kenangan saja?

Penting memaknai sumpah pemuda  tak hanya pada argumentatif yang normatif, akan tetapi lebih dari itu. Menerapkannya dalam tindakan dan sikap sebagai warga negara menjadi sebuah keniscayaan, pemuda terkhusus sebagai generasi yang akan berperan dalam mengawal atau bahkan terjun langsung dalam dinamika negara.

Di zaman milenial ini, pemuda tentu harus mampu menempatkan posisinya, sebagai pemantapan dari gerakan pemuda. Sikap kritisme pemuda sebagai nafas sebuah gerakan, harus tetap dipupuk dan dirawat, agar tak tergerus oleh perkembangan teknologi. Hal itu bisa diaplikasikan dengan tetap memiliki sikap desentralis dan independen, sehingga fungsi-fungsi gerakan tak mati hanya karena kebutuhan pragmatisme.

Akhirnya harapan kita tentu arwah gerakan pemuda segera dibangunkan dari tidur yang panjang, rekonstruksi desentralisasi gerakan tentu menjadi keharusan, agar peran pemuda yang sejatinya sebagai oposisi yang harus selalu kritis tak dibungkam atau sengaja membungkamkan diri hanya karena pemuda itu sendiri terlibat dalam transaksi politik elektoral.

Tukang tidur yang banyak mimpi | Pegiat Literasi di Tasawwuf Institute Malang |

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

    Processing files…