Kamis, Maret 4, 2021

Pemuda di Antara Garis Revolusi

[Masih Soal] Perppu Ormas dan Masalah Pembatasan HAM – Bagian 1

Saya berasumsi, perumus draft Perppu Ormas 2017 atas nama kegentingan (?!), kondisi darurat (?!?!), dan kekosongan hukum (?!?1?!) ini, sepertinya sudah mengantisipasi bilamana ia...

Kearifan Lokal Generasi Muda di Era Milenial

Globalisasi merupakan suatu keniscayaan yang dihadapi setiap negara di dunia. Secara demografis, pesatnya kemajuan teknologi saat ini mengakibatkan lahirnya generasi milenial. Generasi milenial atau yang akrab...

UU MD3 dan Tantangan Demokrasi

"Dengan demikian, masalah pokok yang kita hadapi adalah bagaimana membatasi para pemegang kekuasaan, baik waktu maupun wewenangnya. Tanpa ada kepastian dalam hal itu, maka...

Tafsir Hukum Secara Humanis

Dari dulu sampai sekarang, permasalahan hukum di Indonesia tidak pernah absen menjadi perbincangan khalayak. Sangat kompleks permasalahanya sehingga cukup rumit untuk menentukan jalan tengahnya. Hukum...
Adib Khairil Musthafa
Tukang tidur yang banyak mimpi | Pegiat Literasi di Tasawwuf Institute Malang |

“Berikan aku 1000 orang tua niscaya akan aku cabut semeru dari akarnya, berikan aku 10 orang pemuda niscaya akan ku guncangkan dunia,” – Bung Karno

Semangat, progresif dan berapi-api, cinta bangsa dan cinta tanah air, inilah salah satu yang melatar belakangi pekikkan orasi bung Karno  dalam pidatonya. Sejarah tentu tak akan lupa dengan tinta emas yang ditorehkan para pemuda. Pemuda adalah aktor terpenting dalam cerita panjang perjuangan kemerdekaan tanah air. Pemuda selalu menjadi garda terdepan dalam fakta sejarah.

Di Yunani, semangat intelektual pemuda mewarnai peradaban kita sampai hari ini. Pemikiran-pemikiran itu berasal dari para tokoh pemuda di zamannya: Socrates, Plato dan Aristoteles.

Bahkan revolusi-revolusi besar di dunia dibangun oleh semangat dan gairah para pemuda, revolusi di Prancis misalnya, digagas dan digaungkan oleh pemuda.

Gerakan mahasiswa Prancis tahun 1968, persatuan dengan kaum buruh pada saat itu membentuk sebuah gerakan revolusioner. Peristiwa demonstrasi pada Mei 1968 itu membuktikan gerakan pemuda memang selalu mengambil peran dalam setiap gerakan revolusi.

Di Amerika, dalam kurun waktu 1955-1960, pemuda terlibat dalam perjuangan sebuah gerakan rasial, atau misal keberanian anak muda di Amerika Serikat mengusung politisi Barnie Sanders untuk menjadi presiden Amerika Serikat.

Di Spanyol, kaum muda bangkit dan mendirikan sebuah organisasi politik bernama Podemos, dipimpin tokoh politik muda bernama Pablo Iglesias.

Di Inggris, gerakan kaum muda dari berbagai lapisan kelas sosial berjuang mengusung Jeremy Corbin sebagai kandidat Perdana menteri dari partai buruh.

Yunani, Prancis, spanyol, Amerika serikat, dan Inggris merupakan gerakan pemuda yang selalu mewarnai setiap perjuangan. Di Indonesia sejak zaman penjajahan sampai reformasi, pemuda selalu berperan dalam ruang-ruang revolusi

Tahun 1908, semangat kebangkitan nasional ditandai dengan berdirinya Budi Oetomo, sebagai simbol awal pergerakan para pemuda. Tahun 1928, lahirlah sebuah sumpah sakral yang kita kenal dengan Sumpah Pemuda.

Tak berhenti di sana, pergerakan pemuda kembali menjadi aktor penting dalam persiapan proklamasi kemerdekaan Indonesia. Tak lupa tentu dalam benak kita bagaimana keberanian para pemuda menculik sang proklamator dan mendesak agar segera memroklamasikan kemerdekaan. Tak salah jika tanpa pemuda bangsa kita mungkin tak akan pernah merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945.

Perjuangan pemuda tak pernah lekang dalam sejarah. Tahun 1966, pemuda kembali menjadi aktor terpenting dalam lahirnya pemerintahan Orde Baru. Peristiwa Tritura yang dipelopori berbagai organisasi pemuda memaksa Soekarno turun dari tampuk kekuasaan. Tak berhenti begitu saja, puncak gerakan pemuda kembali meledak ditahun 1998. KKN dan krisis moneter menandai kegagalan Soeharto mengurus negara. Lagi-lagi pemuda  melengserkan tirani orde baru.

28 Oktober diperingati sebagai Hari Sumpah Pemuda. Sejarah menjadi saksi  setiap titik perjalanan perjuangan. Kesadaran Revolusi dalam kelompok-kelompok pemuda di berbagai dunia dan Indonesia sendiri, tumbuh ketika mereka menyaksikan fenomena pemiskinan sistematis oleh negara. Menandai tumpulnya fungsi negara dalam mengurus negara dan berpihak pada  rakyat. Semangat berapi-api dari kaum muda menyebabkan persekutuan mereka dengan kaum tertindas.

Di era reformasi menjadi keniscayaan pemuda harus tetap berada diantara garis-garis revolusi, ditengah carut-marutnya politik negeri ini, memaknai sumpah pemuda tentu menjadi keharusan.

Fenomena bangsa hari ini sedang dilanda kegaduhan, konflik dan pertentangan yang cenderung memecah belah menjadi faktor dibutuhkannya sebuah instrumen perekat, seperti gerakan sumpah pemuda 1928.  Sumpah pemuda adalah pemersatu bangsa, bait sumpah pemuda sebenarnya telah mampu memberikan solusi kebangsaan, bahwa kita hanya bersatu dalam tanah air, bangsa, dan bahasa, bukan yang lain.

Reformasi yang telah berjalan, masih tak mampu memberikan hasil signifikan dari persoalan-persoalan bangsa. Mulai dari kesenjangan, pembangunan yang tak bisa menunjukkan perkembangan progresif, hingga pendidikan yang sejatinya mencerdaskan kehidupan bangsa, justru semakin memiskinkan kehidupan bangsa.

Kekayaan bangsa yang masih saja digerus dan dinikmati bangsa lain, dinamika politik yang semakin kacau tak bersubstansi dan cenderung sensasional, hingga persoalan etika tata krama yang semakin jauh dari kata santun. Masihkan ikrar sumpah pemuda 1928 kita tanamkan dalam hidup bernegara? Atau semangat sumpah pemuda hanya akan menjadi kenangan saja?

Penting memaknai sumpah pemuda  tak hanya pada argumentatif yang normatif, akan tetapi lebih dari itu. Menerapkannya dalam tindakan dan sikap sebagai warga negara menjadi sebuah keniscayaan, pemuda terkhusus sebagai generasi yang akan berperan dalam mengawal atau bahkan terjun langsung dalam dinamika negara.

Di zaman milenial ini, pemuda tentu harus mampu menempatkan posisinya, sebagai pemantapan dari gerakan pemuda. Sikap kritisme pemuda sebagai nafas sebuah gerakan, harus tetap dipupuk dan dirawat, agar tak tergerus oleh perkembangan teknologi. Hal itu bisa diaplikasikan dengan tetap memiliki sikap desentralis dan independen, sehingga fungsi-fungsi gerakan tak mati hanya karena kebutuhan pragmatisme.

Akhirnya harapan kita tentu arwah gerakan pemuda segera dibangunkan dari tidur yang panjang, rekonstruksi desentralisasi gerakan tentu menjadi keharusan, agar peran pemuda yang sejatinya sebagai oposisi yang harus selalu kritis tak dibungkam atau sengaja membungkamkan diri hanya karena pemuda itu sendiri terlibat dalam transaksi politik elektoral.

Adib Khairil Musthafa
Tukang tidur yang banyak mimpi | Pegiat Literasi di Tasawwuf Institute Malang |
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Idealisme Mati Sejak Mahasiswa, Apa Jadinya Bangsa?

Hidup mahasiswa! Hidup rakyat Indonesia! Tampaknya sudah sangat sering mahasiswa mendengar slogan perjuangan tersebut. Apalagi mahasiswa dengan cap "organisatoris" dan "aktivis". Organisatoris dan aktivis adalah...

Demitologisasi SO 1 Maret

Menarik bahwa ada kesaksian dari Prof. George Kahin tentang SO 1 Maret 1949. Menurutnya, SO 1 Maret bukanlah serangan balasan pertama dan terbesar dari...

Polwan Yuni Purwanti yang Terjebak Mafia Narkoba

Publik terkejut. Jagad maya pun ribut. Ini gegara Kapolsek Astana Anyar, Kota Bandung, Kompol Yuni Purwanti Kusuma Dewi terciduk tim reserse antinarkoba Polda Jabar....

Stop Provokasi, Pelegalan Miras? Mbahmu!

Lampiran Perpres yang memuat izin investasi miras di daerah tertentu, baru saja dicabut oleh Presiden. Ini disebabkan karena banyak pihak merasa keberatan. Daripada ribut...

Beragama di Era Google, Mencermati Kontradiksi dan Ironi

Review Buku Denny JA, 11 Fakta Era Google: Bergesernya Pemahaman Agama, dari Kebenaran Mutlak Menuju Kekayaan Kultural Milik Bersama, 2021 Fenomena, gejala, dan ekspresi...

ARTIKEL TERPOPULER

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Artidjo Alkostar, Sebuah Kitab Keadilan

Gambaran apa yang muncul di benak Anda setiap mendengar profesi pengacara dan kepengacaraan? Apapun citra itu, Artidjo Alkostar menghancurkannya berkeping-keping. Sebagai pengacara hingga akhir 1990an,...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.