Senin, April 12, 2021

Pemuda dan Kebhinnekaan

Pendidikan Beda Zaman

Pendidikan menjadi persoalan yang terus dibahas mulai dari bapak-bapak di warung kopi sampai dengan pejabat tinggi negeri. Indonesia menjadi urutan ke-69 dari 72 Negara yang...

Apa Lagi yang Ditunggu DPR dalam Menciptakan Ruang Aman bagi Perempuan

Tujuan Nasional Negara Republik Indonesia yang tertulis dalam Pembukaan UndangUndang Dasar 1945, salah satunya yakni melindungi segenap Bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia. Tujuan...

Perjuangan THR Buruh

Gema takbir tetap berkumandang seantero negeri, menandakan semangat kemenangan Idul Fitri tidak berhenti walaupun sedang diterjang badai Covid-19. Namun, mirisnya semangat hari kemenangan tidak...

Hari Amal Bakti Kementerian Agama: Mendamaikan Keislaman dan Keindonesiaan

Hari ini, 3 Januari 2018, Kementerian Agama memperingati hari lahirnya yang ke-72. Saat itu, pemerintah atas usul Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) membentuk Kementerian...
Asyari Attangkeli
Alumnus Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Dosen Studi Agama & Kearifan Lokal Fakultas Ushuluddin dan Dakwah IAIN Kediri

Suatu kenyataan yang tidak dapat dibantah oleh siapa pun bahwa bumi yang hanyalah satu, namun makhluk yang menghuni di dalamnya begitu beragam, beragam suku, ras, bangsa, budaya dan agama.

Koentjaraningrat menyebutkan bahwa tidak kurang dari 151 suku bangsa yang ada di Indonesia, dari sabang hingga Merauke (1981). Dalam wikipedia.com menyebutkan ada 1340 suku yang tersebar di seluruh Indonesia. Sedangkan dalam hal aliran kepercayaan, di Jawa Tengah saja terdapat 396 aliran kepercayaan, namun yang terdaftar (mendaftarkan diri ke kemendikbud 187 aliran kepercayaan)

Kita tahu bahwa ada 6 agama yang diakui di Indonesia meskipun kita juga tahu bahwa masih banyak agama lain yang tidak terakomodir seperti agama Yuhudi, Zoroaster, Neo-Paganisme, Sikhisme, Jainisme, Baha’i, Sinto dan masih banyak yang lainnya.

Keragaman itu bukan karena manusia Indonesia ingin beragam, tapi karena memang keragaman itu merupakan karya Tuhan (QS. Al Hujurat : 13, An Nahl : 93, Asy Syura : 8), di satu sisi merupakan kekayaan yang patut dibanggakan (khususnya suku dan agama), bahkan menjadi potensi kekuatan yang positif dan konstruktif. Namun di sisi lain keragaman tersebut juga kerap menimbulkan gesekan bahkan konflik yang destruktif apabila tidak diarahkan secara positif.

Berkaitan dengan Indonesia, Negara ini setidaknya mengisyaratkan dua hal; pertama, Indonesia sudah lebih siap untuk menerima kehadiran suku, agama, ras dan antar-golongan (SARA) di Indonesia. Sehingga melangkah sedikitpun, maka kita akan segera dibenturkan dengan sesuatu yang berbeda dengan identitas SARA; kedua, kesadaran akan pentingnya mengelola realitas keberagaman  agama-agama itu baik untuk menghindari konflik maupun untuk mendorong kerjasama antar agama untuk kemajuan bangsa.

Kemajuan dan peradaban suatu bangsa selalu dipelopori oleh pemuda, begitu juga kemundurannya bahkan kehancurannya, juga merupakan hasil dari polah tingkah pemuda. Sehingga membicarakan pemuda dalam lintasan kebinnekaan menjadi tugas yang maha berat bagi siapapun.

Hakikat dualism pemuda tersebut, selaras dengan Titi Firawati, peneliti Program on Peace Building and Violent Radicalism UGM yang pernah memberikan gambaran tentang pemuda, bahwa pemuda itu seperti magma. Magma yang dikandung di perut bumi bisa membahayakan nyawa makhluk hidup jika sebuah gunung memuntahkannya dan menghujani mereka yang ada di sekitar lereng gunung berapi. Melalui magma yang sama juga bisa memberikan manfaat yang begitu besar dengan bagi kesuburan tanah.

Siapa yang tidak ingat dengan Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 1928. Yang menjadi penanda strategis kaum muda dalam mengawali perubahan berskala besar yakni semangat persamaan dan persatuan akan segala perbedaan yang ada. Siapa pula yang berani turun jalan bahkan duduk di gedung DPR di akhir era orde baru jika bukan pemuda, tahun 1998 untuk mengakhiri kepemimpinan otoriter serta melahirkan reformasi.

Sebaliknya, siapa yang paling sering terlibat tawuran, siapa yang paling mudah emosi dan gampang marah, siapa yang paling mudah direkrut kelompok-kelompok radikalis-teroris, siapa pula yang paling banyak terlibat sebagai pelaku begal? semua jawaban itu akan tertuju pada pemuda.

Anak muda itu tidak lebih sebagai pembuat onar bahkan dari segerombolan kecil pemuda, sebut saja misalnya Konflik Poso, dimulai dari tawuran antar pemuda lah, akhirnya berembet pada perang antar suku bahkan agama yang sampai merenggut ratusan nyawa anak bangsa juga ikut melayang.

Dalam penelitiannya, Prof. Dr. bambang Pranowo, guru besar UIN Syarif Hidayatullah, pada Oktober 2010 hingga Januaiari 2011 mengungkapkan bahwa hamper 50 persen pelajar setuju dengan tindakan radikal. Data itu menyebutkan bahwa 25 persen siswa dan 221 persen guru menyatakan pancasila sudah tidak relevan lagi.

Sementara 84,8 persen siswa dan 76,2 persen guru setuju dengan penerapan Syariat Islam di Indonesia. Selain itu, siswa yang yang menyatakan setuju dengan kekerasan untuk solidaritas agama mencapai 52,3 persen dan bahkan yang paling mengejutkan bahkan ada 14, 2 persen ada yang membenarkan serangan bom.

Penulis seringkali bertanya-tanya, mengapa Bung Karno membutuhkan 1000 orang dewasa hanya untuk mencabut gunung dari akarnya namun hanya membutuhkan 10 pemuda untuk menggoncang, mengubah dunia.

Dari 10 pemuda meskipun dalam skala yang cukup kecil dan terbatas, namun karena kekuatan dalam membangun perdamaian dalam lingkup makro memang harus dimulai dengan mengungkap kekuatan-kekuatan kecil bahkan yang masih tersembunyi.

Kekuatan-kekuatan kecil ini kemudian diikat melalui peneguhan kembali komitmen semua elemen yang sadar akan pembangunan sebuah bangsa. Pengikatan ini pernah didengungkan oleh bung Karno; “samen bundeling van alle krachten van de natie” (pengikatan bersama seluruh kekuatan bangsa). Soekarno paham betul bahwa Indonesia merupakan bangsa yang besar, namun tetap terbelakang karena potensi-potensi kecil yang selalu tercerai-berai.

Selain itu, dalam rangka menunjukkan bahwa bangsa ini adalah bangsa yang besar dengan segala keeanekaragaman yang ada namun cenderung untuk tidak adanya saling mengakui satu sama lain. Dalam risalah Demokrasi Kita-nya, Bung Hatta mengatakan bahwa, “barangkali sekarang ini pun Indonesia adalah Negara yang besar yang hanya menemukan orang-orang yang kerdil”.

Jelas memang, bahwa pikiran kecil tidak akan menghasilkan tindakan besar sehingga Negara yang besar akan “tong kosong nyaring bunyinya” jika tidak dibarengi dengan minimal melalui pikiran-pikiran besar.

Semuanya beraneka ragam, tidak bisa dipaksakan untuk seragam, namun hakikatnya satu juga. Sebab tidak ada jalan kebaikan yang mendua tujuan, kira-kira itulah tafsir Bhinneka Tunggal Ika, Tan Hana Dharma Mangroa.

Asyari Attangkeli
Alumnus Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Dosen Studi Agama & Kearifan Lokal Fakultas Ushuluddin dan Dakwah IAIN Kediri
Berita sebelumnyaBianglala Pembangunan Desa
Berita berikutnyaPesta Demokrasi?
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Bertahan Disegala Kondisi

Pandemi COVID-19 membawa beragam nilai positif. Bagi dunia pendidikan, selain orangtua mengetahui betapa susahnya Pendidik (guru/dosen) mengajar anak didik, pendidik juga bisa belajar secara...

Bagaimana Cara Mengatasi Limbah di Sekitar Lahan Pertanian?

Indonesia merupakan negara agraris yang mayoritas warganya bermata pencaharian sebagai petani. Pada bidang pertanian terutama pertanian konvensional terdapat banyak proses dari penanaman hingga pemanenan,...

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Kebebasan Berpendapat Masih Rancu

Kebebasan berpendapat merupakan sebuah bentuk kebebasan yang mutlak bagi setiap manusia. Tapi belakangan ini kebebasan itu sering menjadi penyebab perpecahan. Bagaimana bisa kebebasan yang...

Laporan Keuangan? Basi?

Berbicara soal laporan keuangan, tentu sudah tidak asing lagi di telinga orang ekonomi, apalagi yang bergelut dalam dunia akuntansi. Secara singkat, laporan keuangan adalah...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Jihad Versi Kristen?

Kamus Besar Bahasa Indonesia menuliskan arti kata jihad sebagai usaha dengan segala upaya untuk mencapai kebaikan. Mengamati definisi ini paling tidak kita memiliki pengertian...

Umat Kristiani Bukan Nashara [Kaum Nasrani]

Dalam bahasa Arab, kata "nashara" merupakan bentuk jamak dari "nashrani". Sebutan "umat Nasrani" secara salah-kaprah digunakan untuk merujuk pada umat Kristiani, penganut agama Kristen....

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Mengenang Hans Küng (1928-2021), Tokoh Dialog Antar Agama

Bagi para pegiat dialog antar agama, sosok dan pemikiran Hans Küng tak asing lagi. Namanya kerap disebut seiring dengan pemikirannya tentang upaya mewujudkan perdamaian...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.