Jumat, Desember 4, 2020

Pemuda dalam Pergerakan Nasional Pandemi Covid-19

Reformasi Sebagai Emansipasi

Jauh dari keriangan suatu perayaan kemenangan, Mei ini sekali lagi kita harus merefleksikan perjalanan demokrasi Indonesia kontemporer dalam keprihatinan. Setelah reformasi berusia dua puluh...

Ir. H. Joko Widodo dan Mengapa Ia Kurus

“Sederhana itu baik. Mengultuskan kesederhanaan itu buruk. Itu politik manipulatif,” kicau Rocky Gerung dalam twitterland. Pengajar filsafat Universitas Indonesia itu tentu ingin menyindir followers...

Secercah Harapan Petani Garam Rawaurip

Ditengah hiruk pikuk persiapan pertemuan IMF-Bank Dunia di Bali pada bulan Oktober nanti, petani garam di Desa Rawaurip, Kecamatan Pangenan, Kabupaten Cirebon tengah berupaya...

Santa Fest yang Mabuk dan Reuni 212 yang Bertuhan?

Sabtu malam kemarin saya berkunjung ke Santa Fest, sekadar berkeliling mencari sesuatu yang bisa dibeli dan dibawa pulang. Tentu juga tujuan utama menonton gigs...
Dinda Dwi Wijayanti
Mahasiswa Ilmu Sejarah, Universitas Airlangga

Peringatan hari Sumpah Pemuda mempunyai makna yang khusus di masa Covid-19 saat ini. Tak bisa dipungkiri bahwa negara Indonesia adalah salah satu negara yang terdampak dalam pandemi Covid 19.

Untuk itu, para pemuda memiliki kekuatan yang besar yaitu kaum muda menjadi energi pelopor pergerakan dalam melawan pandemi. Pemuda diharapkan menjadi garda terdepan dalam menghadapi setiap tantangan zaman yang semakin maju. Sebab, pada momen inilah para pemuda Indonesia yang berasal dari perbedaan suku,ras maupun agama untuk berikrar dalam sebuah nama yaitu “Persatuan dan Kesatuan”. Tak salah bila Soekarno mengatakan bahwa “Beri aku sepuluh pemuda maka akan ku guncangkan dunia”.

Namun masih ada orang yang mungkin tidak tahu apa itu Sumpah pemuda. Kita mau bilang apa kalau sampai saat ini kaum muda tidak mengetahui apa itu Sumpah Pemuda. Bisa jadi kaum pemuda sudah tidak tahu lagi bahwa negaranya Indonesia. Dia tidak mengetahui bumi yang dipijaknya dan bahasa yang dipakainya yaitu Indonesia.  Apa yang terbayang dibenak kita jika mendengar kata Sumpah Pemuda? Lantas, bagaimana generasi muda memaknai ikrar Sumpah Pemuda?

Berkaca pada ikrar Sumpah Palapa yang dikemukakan oleh Mahapatih Gajah Mada pada saat upacara pengangkatannya menjadi Patih  di Istana Majapahit tahun 1331. Sebuah sumpah untuk menyatukan wilayah yang bernama Nusantara.

Begitu juga dengan Sumpah Pemuda yang merupakan bukti bahwa betapa besarnya ikrar Sumpah Pemuda ini menjadi alat pemersatu bangsa, spirit pemuda yang harus ditanamkan dalam diri masyarakat indonesia. Semangat itu tidak hanya digunakan untuk mengingatkan kembali pentingnya persatuan, tetapi juga membangkitkan kembali keberanian para pemuda. Hingga kini ikrar Sumpa Pemuda menjadi pegangan bagi persatuan bangsa.

Belakangan ini sempat terjadi demonstrasi yang dilakukan oleh gerakan pemuda kepada pemerintah yang mengesahkan Undang – Undang Omnibus law. Pengesahan Omnibus law ini mengakibatkan berbagai elemen masyarakat untuk turun ke jalan.

Mahasiswa menyuarakan aspirasinya didepan Gedung DPR dengan meneriaki  tutntutan kepada Presiden Jokowi untuk mengeluarkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang – Undang (Perpu) guna membatalkan Undang – undang Omnibus law yang dianggap akan memberikan dampak yang buruk bagi kaum buruh. Gerakan pemuda tersebut menjadi bukti bahwa perjuangan para pemuda turut andil dalam mengakkan keadilan dan kesejateraan rakyat.

Sejarah menacatat, pada 16 Agustus 1945 sekolompok kaum muda mengamankan Soekarno dan Hatta di Rengasdengklok. Pegamanan itu tidak lepas dari kabar bahwa Jepang telah dibom oleh pasukan. Saat itu, para pemuda memiliki keyakinan bahwa kemerdekaan yang dicita- citakan akan segera terwujud. Namun, berbanding terbalik dengan golongan tua yang berargumen agar deklarasi kemerdekaan menunggu kepastian dari pemerintah Jepang.

Kaum muda lantas menolak mentah – mentah usulan dari golongan tua. Meskipun secara de jure Jepang sudah menyerah kepada sekutu, tetapi secara de facto bala tentara Jepang masih menghunus senjatanya karena dianggap bisa saja Jepang siap melakukan tindakan cepat bila dipandang darurat. Namun, meski di pandang alot dan saling bersitegang antara golongan muda dan golongan tua, keesokan harinya pada tanggal 17 Agustus 1945 dilangsungkan deklarasi kemerdekaan.

Salah satu contoh pemuda Indonesia yang patut kita contoh yaitu Presiden ketiga Republik Indonesia yaitu  B.J Habibie. Sosok yang biasa dipanggil Rudi ini mempunyai semangat yang tinggi dan tak kenal kata menyerah. Keinginannya yang tak pernah berhenti belajar sampai tutup usianya.

Pada masa mudanya ia banyak menorehkan prestasinya untuk Indonesia hingga diakui dunia. Sewaktu menempuh pendidikannya Habibie muda mendapatkan banyak penghargaan dari pemerintah Jerman. Cita-citanya yang mengiginkan Indonesia untuk mempunyai pesawat terbang buatannya akhirnya bisa terwujud hingga ia menemukan rumus keretakan. Rumusnya yang bernama “Faktor Habibie” ini akhirnya sukses dan bisa diakui oleh dunia penerbangan. Banyaknya prestasi Habibie bisa dijadikan panutan bagi para pemuda milenial untuk saling bahu – membahu dalam mengharumkan nama bangsa Indonesia.

Kaum pemuda memiliki peran yang begitu penting untuk bangsa dimasa depan. Penerus bangsa harus bisa menjadi tongkat estafet dari generasi–generasi terdahulunya. Di atas pundak seorang pemuda terdapat banyak harapan. Diatas pundak para pemuda terbukanya kesempatan dan optimalnya sebuah energi perjuangan.

Hal–hal yang perlu diperjuangkan bukan untuk kepentingan dirinya sendiri maupun kelompok melainkan demi kepentingan kesejahteraan rakyat,bangsa dan negara. Maka dari itu, diharapkan pemuda senantiasa inovatif,kritis, dan kreatif dalam menempatkan peranannya. Namun satu hal yang harus diingat bahwa  dari peristiwa ini adalah generasi muda sangat menentukan  pergerakan sejarah dari suatu bangsa.

Dinda Dwi Wijayanti
Mahasiswa Ilmu Sejarah, Universitas Airlangga
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Kerusakan Lingkungan Kita yang Mencemaskan

Menurut data dari BPS, pada tahun 2018 jumlah kendaraan bermotor di Indonesia mencapai 146.858.759 unit, jumlah tersebut meliputi mobil pribadi, mobil barang, bis dan...

Pilkada yang Demokratis

Tidak terasa pergelaran pemilihan kepada daerah yang akan dilaksankan pada 9 Desember mendatang sebentar lagi akan dijalankan. Pilkada serentak dilaksanakan di 270 daerah di...

DPRD DKI; Kembalilah Menjadi Wakil Rakyat!

Saya terhenyak ketika mendapat informasi perihal naiknya pendapatan langsung dan tidak langsung anggota DPRD DKI Jakarta tahun anggaran 2021. Berdasarkan dokumen Rencana Kerja Tahunan...

Meneguhkan Keindonesiaan di Tengah Pandemi

Sejak diumumkannya kasus pertama covid 19 di Indonesia pada bulan Maret 2019 silam, perjalanan kasus ini tidak pernah surut. Memasuki bulan Oktober 2020 justru...

Upah Minimum atau Upah Maksimum?

Belakangan ini demo buruh tentang upah minimum mulai sering terdengar. Kenaikan upah minimum memang selalu menjadi topik panas di akhir tahun. Kini menjadi semakin...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Luasnya Kekuasaan Eksekutif Menurut Undang-Undang

Proses demokrasi di Indonesia telah memasuki tahap perkembangan yang sangat penting. Perkembangan itu ditandai dengan berbagai perubahan dan pembentukan institusi atau lembaga baru dalam...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

“Pilkada Pandemi” dan Pertanyaan Soal Substansi Demokrasi

Pilkada sebagai sebuah proses politik di negara demokrasi adalah salah satu wujud terpenuhinya hak politik warga negara, selain terjadinya sirkulasi elite penguasa. Namun di...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.