Senin, Januari 25, 2021

Pemotongan Salib di Yogyakarta, Hasil Politik SARA?

Siapakah Penentu Dinamika Politik Pilgub Jabar?

Dinamika politik menjelang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Jawa Barat semakin menarik untuk diikuti. Situasi politik yang begitu cair dan isu-isu yang muncul sedikit berbeda...

Persoalan Masa Depan, Lulusan SMA/K, dan Upaya-Upaya Solutif

 Setelah anak-anak mampu dalam membaca, menulis, dan menghitung, maka jenjang pendidikan yang ditempuh berikutnya akan memiliki standar kompetensi yang lebih tinggi; mereka meneruskan ke...

Menjaga Muruah Diri di Tahun Politik

Awal tahun 2019 menjadi awal tahun yang begitu riak dengan hiruk pikuk aktifitas politik. Tahun ini akan menjadi tahun yang terasa begitu "bising" dengan...

Ketika Golkar Kembali Mendengar Suara Rakyat

Sejak kemarin malam masyarakat dan warganet mendapatkan hadiah ‘kejutan’ tentang pencabutan rekomendasi untuk Ridwan Kamil dan Daniel Muttaqien menjadi Gubernur-Wakil Gubernur yang diusung Partai...
Raja Rogate Mangunsong
Semua info ada di instagram @RajaRogate

Tentu sebagian besar dari kita pernah mendengar salah satu kalimat legendaris dari seorang Gusdur yang berbunyi seperti ini “Tidak penting apa pun agama atau sukumu. Kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang tidak pernah tanya apa agamamu.” Beliau dengan jelas ingin menyampaikan bahwa yang terpenting adalah berbuat baik, suku dan agama adalah nomor sekian.

Baru-baru ini kita dikejutkan dengan sebuah peristiwa yang menurut saya sangat tidak pantas dilakukan di negara yang menganut ideologi Pancasila ini. Peristiwa penolakan warga terhadap simbol-simbol keagamaan tertentu di daerah Istimewa Yogyakarta. Tentu ini akan menjadi sebuah pukulan telak bagi Yogyakarta yang mempunyai slogan sebagai daerah Toleran.

Peristiwa itu terjadi pada sebuah keluarga Khatolik, yang merupakan minoritas di daerah tersebut, mereka hendak memakamkan keluarganya di sebuah komplek pemakaman yang hampir seluruhnya diisi oleh penganut Muslim. Warga sebenarnya mengizinkan keluarga tersebut memakamkan keluarga mereka di komplek kuburan tersebut, tapi warga memberikan syarat – syarat tertentu yang harus dipenuhi, yaitu makam harus berada di pinggir komplek, tidak boleh ada simbol agama yang keluarga tersebut anut, dan juga tidak boleh ada prosesi doa – doa.

Kemudian, keluarga tersebut menuruti semua permintaan warga, mereka memakamkan keluarga mereka di pinggir komplek pemakaman tersebut. Nisan salib yang sudah dipesan terpaksa (walaupun menurut warga tidak ada paksaan) dipotong bagian atasnya, sehingga bentuknya kemudian menyerupai huruf T. Lalu kemudian mereka juga menuruti permintaan warga untuk meniadakan proses doa-doa, yang pada akhirnya keluarga tersebut melakukan prosesi doa di sebuah gereja yang berada di daerah tersebut.

Sungguh miris melihat peristiwa seperti ini masih terjadi, warga minoritas kembali direnggut hak kebebasan beragamanya. Saya bertanya dalam hati, apa sebenarnya yang mereka takutkan dari sebuah makam? Apa yang mereka takutkan dari sebuah simbol salib? Apa yang mereka takutkan dari sebuah doa?

Sebuah makam non-muslim yang ditempatkan ditengah-tengah makam warga muslim sekalipun, tidak akan membuat seluruh makam warga muslim berubah agamanya menjadi non-muslim atau mayatnya berubah jadi non-muslim atau warga sekitarnya berubah jadi non-muslim, yang ada malah akan menunjukan bahwa Jogja benar-benar kota yang sangat toleran, masyarakat akan berkata “wah keren ada sebuah makam orang non-muslim di tengah-tengan makam orang-orang muslim” , itu yang terjadi!

Begitu pula dengan simbol salib, seharusnya tidak ada yang harus di takutkan, salib hanya sebuah sebuah simbol, oleh karena itu pihak keluarga tersebut juga mau menuruti warga untuk memotong simbol salib tersebut yang pada awalnya akan di taruh tepat di kuburan tempat dimakamkannya keluarga mereka, karena mereka mengerti bahwa salib hanya sebuah simbol, dipotong pun tidak akan menjadikan mereka keluar dari agama yang mereka anut.

Dan begitu pula sebaliknya, adanya simbol salib di sebuah makam muslim tidak akan menjadikan warga di sekitar komplek kuburan tersebut murtad, tidak sama sekali, yang ada lagi-lagi adalah sebuah pertunjukan toleransi yang sangat indah!

Dan kemudian yang paling membuat hati saya miris adalah penolakan warga terhadap prosesi doa, doa adalah sebuah proses sakral antara manusia dengan Tuhannya, apa yang kemudian ditakutkan warga sehingga menolak prosesi doa?

Apakah lagi-lagi mereka takut apabila ada sebuah prosesi doa non-muslim maka warga di sekitar akan menjadi warga non-muslim atau akan menjadi kafir, atau warga takut akan terjadi bencana bila ada doa-doa non-muslim di sekitar mereka? Lagi-lagi saya katakan bahwa itu adalah sebuah ketakutan yang sangat tidak mungkin terjadi, bahkan terkesan sangat lucu dan menggemaskan.

Sebenernya jika iman kita kuat, dan kita yakin akan apa yang kita anut dan percaya, kita tidak akan pernah menolak hal-hal seperti yang telah kita lihat ini. Jadi begini, mau kamu Muslim, Kristen, Buddha, atau agama lainnya, jika iman kamu kuat, ada orang yang berbeda agama dan kemudian berdoa di depan mata kepalamu pun kamu tidak akan tidak akan takut, kamu tidak akan melarang, kamu tidak akan kemudian hanya karena melihat orang tersebut berdoa di hadapanmu lantas kamu berpindah agama.

Berbeda jika imanmu lemah atau otakmu dipenuhi ketakutan yang amat sangat, segala sesuatu yang di lakukan oleh orang yang tidak seagama denganmu pasti akan kau amati dengan seksama, kau jaga gerak-geriknya, di dalam otakmu penuh ketakutan. Takut bahwa apa yang dilakukan oleh orang yang berbeda agama denganmu tersebut menjadi perhatian warga, takut apa yang dilakukan oleh orang yang berbeda agama denganmu membuat warga tertarik mempelajari.

Sebenarnya bukan hal-hal seperti diatas yang seharusnya dilarang, tetapi iman dan ilmu agama kalian masing-masing lah yang harus diperkuat dan diperdalam. Jika sudah, maka sangat sulit untuk melakukan proses pindah agama. Karena proses pindah agama itu biasanya melalui proses yang panjang, bukan ujug-ujug karena ada warga Kristen yang dimakamkan di komplek pemakaman muslim lalu kemudian kamu pindah agama setelahnya.

Tidak juga secara tiba-tiba ketika ada orang muslim menggambar sebuah kaligrafi di bagian luar tembok rumahnya, yang sebagian besar tetangganya adalah penganut Kristen kemudian warga sekitar beralih agama menjadi Muslim, tentu tidak, sangat tidak mungkin terjadi. Dan kemudian tidak juga secara ajaib ketika seorang penganut agama Buddha membaca doa ditengah warga yang sebagian besar tidak beragama atau ateis, kemudian semua warga yang tidak beragama tersebut menjadi pemeluk agama Buddha, tentu sangat mustahil.

Jadi sebenarnya apa yang kalian takutkan? Apakah karena kalian merasa bahwa memang iman dan ilmu agama kalian masih sangat rendah?

Entah ini adalah hasil dari sebuah politik SARA yang banyak berkembang akhir-akhir ini di pentas politik nasional kita, atau memang murni sebuah pertunjukan intoleransi dari warga masyarakat kita yang katanya toleran dan menjungjung Pancasila ini.

Dan lagi, orang-orang yang paling mudah untuk dimanipulasi otaknya dengan politik SARA yang bertujuan memecah belah demi kepentingan sesaat ini adalah orang – orang yang tidak kuat imannya dan rendah ilmu agamanya. Tinggal beri mereka semacam rasa takut berbumbu agama atau ke-Tuhan-an maka mereka akan meresponnya dengan sangat baik dan cepat , misalnya “Hei, kalau si kafir itu yang menang pasti Tuhan akan mengirimkan bencana ke tempat ini!” atau “Wahai kalian orang – orang Muslim , jika kalian memilih penganut agama Buddha sebagai kepala desa kalian, maka kalian akan masuk neraka!”

Tapi bila benar ini adalah sebuah hasil dari politik SARA maka ini bisa menjadi sebuah peringatan dini bagi kita semua untuk berjaga-jaga dan berhati-hati, karena ternyata dampaknya sudah sampai kepada hal-hal semacam itu (simbol dan doa), kalau menurut saya ini sudah berada pada level yang sangat serius dan berbahaya.

Oleh karena itu Kita harus sama-sama melawan politik SARA yang bertujuan memecah belah bangsa hanya demi sebuah kepentingan politik semata, kita harus menceritakan hal-hal yang indah tentang toleransi kepada anak kita, keluarga kita, teman kita, tetangga kita, tukang parkir, penjaga toko, pengamen dan semua manusia.

Jangan sampai kemudian ada lagi peristiwa seperti ini terjadi di kemudian hari, jangan sampai ada simbol-simbol keagamaan lagi yang di potong, dan doa-doa yang dilarang. Dan yang terpenting adalah jangan biarkan orang-orang yang memakai politik SARA sebagai kendaraannya MENANG!

Karena jika itu terjadi, maka saya yakin itu adalah awal dari sebuah kehancuran terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Juga Pancasila.

Sumber foto: google.com 

Raja Rogate Mangunsong
Semua info ada di instagram @RajaRogate
Berita sebelumnyaNegara Punah Ala Prabowo
Berita berikutnyaBom, Bir, Babak-belur
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Warna, Nada, dan Keberagaman Bangsa

Rifa Rosydiana Ratal SMAN 24 Jakarta Pemenang Lomba Menulis Esai “Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita”. Sahabat Khatulistiwa. Desember 2020 Berbagai kontras yang dimiliki warna dan berbagai...

Kebiri Kimia Amputasi HAM

Pada 7 Desember 2020 lalu, Presiden Jokowi menandatangani Peraturan Pemerintah No. 70 Tahun 2020 tentang Tata Cara Pelaksanaan Tindakan Kebiri Kimia, Pemasangan Alat Pendeteksi...

Sastra dan Jalan Lain Filsafat

Persinggungan eksistensial manusia dengan beragam realitas peradaban tidak mengherankan melahirkan berbagai pertanyaan fundamental – filosofis. Mempertanyakan, membandingkan, dan memperdebatkan beragam produk peradaban, salah satunya...

Ujian Konsistensi Penanganan Konsistensi Sengketa Hasil Pilkada

Jelang sengketa hasil pemilihan kepala daerah di Mahkamah Konstitusi kerap timbul bahasan atau persoalan klasik yang selalu terjadi. Sebagai lembaga peradilan penyelesai sengketa politik,...

Larry King, Wawancara dengan Sejarah

Oriana Fallaci beruntung. Ia seakan mendapat wangsit mendadak untuk menjuduli bukunya dengan cemerlang, "Intervista con la storia", himpunan interviunya dengan para pemimpin dunia yang...

ARTIKEL TERPOPULER

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Larry King, Wawancara dengan Sejarah

Oriana Fallaci beruntung. Ia seakan mendapat wangsit mendadak untuk menjuduli bukunya dengan cemerlang, "Intervista con la storia", himpunan interviunya dengan para pemimpin dunia yang...

Pandji yang Sedikit Tahu, tapi Sudah Sok Tahu

Siniar (podcast) komedian Pandji Pragiwaksono kian menegaskan bahwa budaya kita adalah sedikit tahu, tapi sudah merasa sok tahu. Sedikit saja tahu tentang gambaran FPI...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

The Social Dilemma: Logika Eksploitatif Media Sosial

Seorang teman baru bebas dari dunia gelap. Mengkonsumsi narkoba menjadi gaya hidupnya. Padalah kehidupannya tak terlalu suram bagi ukuran kelas menengah. Tapi kehidupannya itu...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.