Sabtu, Februari 27, 2021

Pemilu 2019: Fenomena “Strong Voters” dan Polarisasi

Ramadan dalam Perspektif Kasta Modern

Di hari-hari akhir Ramadan, rumah makan berani buka secara terang-terangan. Tidak sekadar sedikit membuka pintu atau menutupinya dengan kerai bambu. Orang yang tidak puasa,...

Pusaran Pandemi Corona Indonesia

Akhir-akhir ini Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) sedang menjadi perbincangan publik. Ada optimisme, ada pula pesimisme menyelimuti berbagai wacana mengenai perkembangan penyebaran virus ini. Bagaimana tidak,...

Kenapa Jokowi Tidak Memilih Mahfud MD?

Secara integritas mungkin Mahfud MD lebih mumpuni. Segudang prestasi beliau yang sudah pernah meduduki jabatan politik pada 3 pilar demokrasi dari mulai eksekutif, legislatif,...

Belenggu Angka Penyelesaian Sengketa Pemilukada di MK

Mahkamah Konstitusi (MK) telah memutus kurang lebih 57 kasus tentang Perselisihan Hasil Pemilihan (PHP) Kepala Daerah yang dikeluarkan pada bulan Agustus ini. Hampir seluruh...
DEKY.R.ABDILLAH
Mahasiswa Prodi Ilmu Pemerintahan Universitas Jambi, Pemuda Nahdliyin

Sudah lebih dari dua pekan masyarakat Indonesia menyalurkan hak konstitusinya dalam pesta demokrasi pemilihan umum (pemilu) serentak legislatif dan pilpres 2019. KPU, BAWASLU, DKPP sebagai lembaga penyelenggara pemilu masih bekerja keras melakukan perhitungan dan pengawalan suara masyarakat secara berjenjang sampai pada akhirnya pada tanggal 22 mei nanti, kita akan mendapatkan Presiden dan Wakil Presiden (baru).

KPU dan penyelenggara pemilu lainnya walaupun ditengah sindiran, cacian, makian dan kecurigaan mampu bekerja dengan penuh integritas, mengabaikan semua tekanan yang datang demi menjaga marwah dan wibawa sebagai penyelenggara pemilu yang baik.

Pemilu 2019 sebagai sejarah yang berhasil dilalui oleh Indonesia sebagai bangsa, bagaimana tidak untuk pertama kalinya dalam sejarah demokrasi umat manusia diadakan pemilihan umum yang menggabungkan lima tipe pemilu dalam satu waktu.

Pemilu raya seperti ini tentunya membutuhkan kemampuan dan sumber daya penyelenggara pemilu yang baik, tidak terlepas dari berbagai masalah dan kekurangan yang ada, Profesor Mahfud MD mengatakan bahwa pemilu serentak kali ini bisa dikatakan berjalan dengan lancar karena dari 813.350 TPS yang ada, tidak sampai satu persen yang bermasalah. Sekarang, mari kita lihat dan analisis kembali hal-hal menarik yang terjadi selama perhelatan pemilu 2019 yang lalu.

Fenomena ”Strong Voters”

Dari hasil hitung cepat sejumlah lembaga survey independen menempatkan pasangan nomor urut 01 unggul hampir 10 persen total suara dari  pasangan nomor urut 02, jika kita melihat bagaimana persebaran suara yang didapat oleh mereka yang berkontestasi pada pilpres kali ini akan terlihat jelas bagaimana fenoma” Strong Voters” ini terjadi.

Fenomena ”Strong Voters” oleh para pakar politik diartikan sebagai daerah dimana masyarakatnya sudah memiliki preferensi pilihan politik yang tetap dan sangat sulit diubah oleh apapun. Pada pemilu 2014, Prabowo unggul telak di daerah Aceh, Sumatera Barat, Jawa Barat, Banten dan Nusa Tenggara Barat, dan pada pemilu kali  ini hal tersebut kembali terulang.

Padahal, pihak petahana sudah melakukan segenap daya dan upaya untuk mendulang  suara di daerah yang menjadi basis suara Prabowo tersebut, di Jawa Barat misalnya dukungan terbuka Gubernur Ridwan Kamil, Dedi Mizwar, Dedi Mulyadi dan sederet tokoh berpengaruh lainnya tidak mampu mendongkrak suara dari pasangan nomor urut 01.

Fenomena politik yang terjadi di Jawa barat ini mirip dengan yang terjadi di Sumatera Barat, dimana 10 kepala daerah disana secara terbuka mendeklarasikan dukungan ke pasangan 01 namun yang terjadi kemudian adalah bukan kemenangan yang didapat, tapi justru kekalahan yang dialami Jokowi semakin telak dari pemilu sebelumnya.

Jika di Sumatera Barat dan Jawa Barat dukungan kepala daerah tidak mampu mendongkrak perolehan suara 01, di Banten dan Nusa Tenggara Barat dukungan terbuka ulama terkenal disana seakan tidak dapat mengubah preferensi politik masyarakatnya.

Siapa kemudian yang meragukan pengaruh keagamaan KH Maruf Amin di Banten dan Tuan Guru Bajang (TGB) di NTB? Hasil survey dari LSI juga mengatakan bahwa preferensi pilihan politik masyarakat tidak terpengaruh secara signifikan oleh pilihan politik ulama yang mereka ikuti, masyarakat cenderung akan mengikuti fatwa keagamaan dari pada fatwa politik.

Fenomena “Strong Voters” seperti ini juga dialami pasangan 02, tidak peduli berapapun posko kemenangan yang mereka dirikan di Jawa Tengah dan Jawa Timur tetap saja pasangan 02 kalah telak di dua daerah tersebut, bahkan lebih banyak dari pemilu 2014 yang lalu.

Dari fenomena seperti ini dapat disimpulkan bahwa memang pembangunan infrastruktur dan pilihan politik kepala daerah atau tokoh tertentu tidak dapat kemudian dengan serta merta mengubah pilihan politik yang ada di tengah masyarakat. Dari sisi positif dapat kita maknai bahwa sekarang, masyarakat semakin cerdas dan mandiri dalam menentukan pilihan politiknya sendiri, tidak tergantung dengan arah politik tokoh elit tertentu. Namun, fenomena  ini juga dapat dilihat dari sisi negatif.

Strong Voters dan Polarisasi

Dalam analisis penulis, menyikapi fenomena Strong Voters ini sebagai akibat polarisasi yang sangat masif kita rasakan menjelang pilres yang lalu, bahkan polarisasi ini belum juga bisa menghilang sepenuhnya setelah pilpres itu berlangsung.

Jika kita lihat kembali, bagaimana pasangan 01 unggul telak di daerah basis pemilih beragama non muslim seperti Bali, Nusa Tenggara Timur, Papua, Sulawesi Utara, Sulawesi Barat, Papua Barat dan Kalimantan Barat.

Tentunya ini menjadi preseden buruk bagi kebangsaan kita, bagaimana kemudian sebagai akibat polarisasi yang muncul ini, faham keagamaan memberikan celah yang perbedaan yang begitu besar antara pasangan 01 atau 02.

Pemilih minoritas seakan lebih nyaman dan aman untuk dipimpin oleh pasangan 01, alasannya kemudian jelas karena kelompok muslim yang diwakili pasangan 01 adalah kelompok yang selama ini mereka anggap dapat menjadi pelindung bagi mereka yang dikelompokkan sebagai minoritas.

Apapun sekarang, pemilu telah usai dan seharusnya semua polarisasi, disparitas yang selama ini kita alami ini juga berakhir. Semua  pihak mulai dari elit politik, tokoh masyarakat, pemuka agama, kalangan mahasiswa dan masyarakat harus mulai menyadari bahwa kepentingan negara dan kebangsaan harus kita letakkan di tempat yang paling utama diatas kepentingan yang lain.

Soal bagaimana hasil pemilu ini nanti akan diumumkan oleh lembaga yang memang diberikan kewenangan oleh  konstitusi untuk melaksanakannya, jika tidak puas dengan hasil pemilu, jika menganggap terjadi banyak kecurangan dan sebagainya silahkan diselesaikan melalui jalur konstitusional yang sah.

Sesungguhnya, kebangsaan dan persatuan kita terlalu mahal dan indah jika harus di korbankan untuk kepentingan politik pragmatis elit tertentu.

DEKY.R.ABDILLAH
Mahasiswa Prodi Ilmu Pemerintahan Universitas Jambi, Pemuda Nahdliyin
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Kenapa Saya Mengkritik Mas Anies?

Dua hari yang lalu saya mengkritik Gubernur DKI Jakarta Mas Anies Baswedan melalui unggahan akun Instagram. Soalnya Mas Anies melempar kesalahan pada curah hujan dan...

Berpegangan Tangan dengan Leluhur

Oleh: Arlita Dea Indrianty, SMAN 36 Jakarta Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Bicara tentang Indonesia tidak akan membawa seseorang pada titik...

Penguatan Kultur Demokrasi di Indonesia

Sebagian persoalan dalam praktik demokrasi di Indonesia muncul dari kalangan elite yang membajak sistem. Masyarakat sebagai pemilik sah kedaulatan tertinggi dalam demokrasi hanya dijadikan...

Buntara Kalis

Oleh: Queen Vega Latiefah, SMAN 76 Jakarta Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Seperti cahaya rembulan di malam hari, seperti itu bayangan orang orang...

Sejarah Palestina dan Hubungannya dengan Kita

Usai Kekalahan Ottoman pada perang dunia 1 yakni pada (1914 - 1918) wilayah Palestina - Israel sejak 1922 berada di bawah mandat Inggris. Peluang...

ARTIKEL TERPOPULER

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Kenapa Saya Mengkritik Mas Anies?

Dua hari yang lalu saya mengkritik Gubernur DKI Jakarta Mas Anies Baswedan melalui unggahan akun Instagram. Soalnya Mas Anies melempar kesalahan pada curah hujan dan...

Penguatan Kultur Demokrasi di Indonesia

Sebagian persoalan dalam praktik demokrasi di Indonesia muncul dari kalangan elite yang membajak sistem. Masyarakat sebagai pemilik sah kedaulatan tertinggi dalam demokrasi hanya dijadikan...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.