OUR NETWORK

Pemikiran dan Sikap Intelektual Buya Syafii

Sekolah Kebudayaan dan Kemanusiaan Ahmad Syafii Maarif

Ketokohan Buya Syafii—panggilan akrab Ahmad Syafii Maarif—sudah tidak perlu diragukan lagi. Terlebih melalui gelar yang sering dialamatkan kepadanya, yakni “guru bangsa”. Pemikiran Buya Syafii yang mendalam dan luas terkait tiga tema besar: kemanusiaan, keislaman, dan kebangsaan kini terus ‘ditularkan’ pada generasi muda. Proses penularan yang paling ditunggu-tunggu itu adalah SKK-ASM (Sekolah Kebudayaan dan Kemanusiaan Ahmad Syafii Maarif) yang diselenggarakan oleh Maarif Institute.

Bisa menjadi salah satu peserta SKK-ASM periode III, penulis merasa sangat beruntung. Bukan saja karena bisa sharing pengetahuan dan pengalaman dengan 24 peserta lain yang datang dari berbagai latar daerah, pendidikan, dan agama di Indonesia, namun juga mendapatkan fasilitas yang sangat mendukung. Mulai dari transportasi, akomodasi termasuk berbagai buku penting selama kegiatan (berlangsung di Depok dari 13-19 Desember 2019), dan para pemateri yang expert serta mempunyai nama besar di bidangnya.

Semenjak Acara ini dibuka oleh Prof. Dr. Muhadjir Efendy sebagai Menko PMK (13/12), sampai hari ini (15/12) terbilang sudah terdapat tiga pemateri utama yang memberikan pandangan komprehensif terkait cara membaca pemikiran Buya Syafii. Mulai dari Prof. Dr. Abdul Munir Mulkan, Prof. Sumanto al-Qurtuby, Ph.D, dan Prof. Dr. Amin Abdullah. Selain  terdapat juga pemateri lain yang memberikan perspektif lebih luas untuk memahami pesan kemanusiaan, keislaman, dan kebangsaan Buya Syafii.

Mengangkat judul seminar “Membumikan Pesan-pesan Keislaman, Kemanusiaan, dan Kebangsaan Ahmad Syafii Maarif dalam Konteks Pemikiran Islam Kontemporer”, Sumanto al-Qurtuby menjelaskan “adanya kecenderungan antroposentris yang kuat dalam diri Buya Syafii. Maksudnya—lanjut Sumanto al-Qurtuby yang seorang dosen di King Fahd Universiry Arab Saudi—“agama (Islam) dalam karakter pemikiran Buya Syafii tidak melulu soal Tuhan.

Sebab agama termasuk segala hal yang ada di dalamnya seperti kitab suci dan bahkan Nabi, adalah untuk manusia, bukan untuk Tuhan. Berbeda dengan sikap kebanyakan muslim yang masih sangat teosentris, yakni segala hal dalam agama hampir selalu masalah Tuhan sedangkan perihal manusia jadi terlupakan.”

Pada titik itulah—masih menurut Sumanto al-Qurtuby—mengapa dalam pemikiran keagamaan Buya Syafii tidak bisa dilepaskan dengan tema kemanusiaan dan kebangsaan. “Hal itu juga yang menjadikan Buya Syafii diterima dan dihormati tidak saja oleh kalangan Muhammadiyah, namun juga NU dan yang lainnya, termasuk kalangan non-muslim.”

Diskusi menjadi sangat menarik, sebab Munir Mulkan sebagai pembicara lain dalam forum itu, mempunyai pandangan dan istilah yang berbeda. Menurutnya, “membaca pemikiran dan sikap intelektual Buya Syafii, harus dimulai dengan membedakan antara jalan kebudayaan dan jalan politik. Buya Syafii sendiri adalah seorang intelektual muslim, yang mengaku pernah menjadi seorang fundamentalis. Namun setelah berguru kepada Fazlur Rahman di Chicago University, terlihat lebih memilih jalan kebudayaan.”

Sebagai pembanding, Munir Mulkan mengambil contoh Amien Rais, “keduanya sama-sama disebut pendekar dari Chichago, sama-sama pernah memimpin Muhammadiyah, namun Amien Rais lebih memilih jalan politik. Pilihan jalan yang ditempuh keduanyalah yang menunjukkan sekaligus menjelaskan bagaimana seorang Buya Syafii menjadi Buya Syafii yang sekarang. Dan begitu juga dengan Amien Rais.”

Pada malam harinya, SKK-ASM III, mendatangkan narasumber Amin Abdullah yang memberikan materi dalam judul yang masih sama dengan forum yang diselenggarakan di Institut Teknologi dan Bisnis Ahmad Dahlan tadi siang.

Berbeda dengan dua pemateri pada forum sebelumnya, Amin Abdullah memberikan jalan masuk untuk memahami pemikiran dan posisi intelektual Buya Syafii, justru melalui tokoh-tokoh yang disebutnya kunci. “Memahami Buya, termasuk perkembangan Islam kontemporer, tanpa memahami karya Fazlur Rahman, Abdullah Saeed, dan mungkin sekali Jaseer Auda, akan menemui kesulitan atau ketidakutuhan pemahaman.”

Sebagai tokoh yang menggagas integrasi-interkoneksi dalam konteks pendidikan Islam di Indonesia, Amin Abdullah menyampaikan empat isu dalam pemikiran Islam kontemporer. Human dignity (kemanusiaan), dialog antara umat beragama, negara-bangsa, dan gender equality (kesetaraan/keadilan gender).

“Uniknya, posisi intelektual Buya beririsan dalam empat hal tadi, sehingga tercermin dan dapat kita lihat dalam slogan Maarif, yakni egaliter, non-diskriminasi, toleran, dan inklusif. Hal itulah yang perlu terus dijaga dan dikembangkan oleh generasi kalian (anak muda).”

Memahami problem keagamaan—terutama ketika membaca teks suci agama—tanpa memperhatikan empat isu krusial di era kontemporer, akan rentan terjebak pada apa yang disebut we have religion but no spiritual (punya agama tapi tidak ada nilai spiritualitas keagamaan).

Terlebih di era serba cepat seperti sekarang, rentan pula terjebak pada apa yang disebut we have speed but no direction (punya kecepatan tapi tidak tahu arah mau kemana). Pembacaan atau upaya pemahaman atas teks keagamaan yang disertai ilmu (science-modern) serta menimbang isu-isu keislaman kontemporer, menjadi jalan keluar menjanjikan dari problem pemahaman keagamaan yang cenderung parsial-dangkal-emosional yang banyak terjadi hari ini, ungkap mantan rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta itu.

Adapun beberapa hari ke depan, acara sejenis short course ini akan diisi oleh pemateri  seperi, Prof. Dr. Azyumardi Azra, dengan tema “Peta Pemikiran Islam Indonesia: Sejarah, Karakteristik dan Perkembangannya”; Prof. Dr. Musdah Mulia, dengan tema “Islam, HAM, dan Perempuan”; Prof. Dr. Siti Ruhaini Dzuhayatun, dengan tema “Gender, Agama, dan Kebudayaan”; dan intelektual lain seperti Budhy Munawar Rachman, Luthfi Assyaukanie, Abd. Moqsith Ghozali, dan lainnya.

Program penularan ide tokoh-tokoh bangsa kepada generasi muda perlu terus dikembangbiakkan secara serius. Terus terang saja, penulis sering kali mengikuti kegiatan yang hampir serupa, namun praktiknya banyak yang hanya sekadar formalitas belaka. Apalagi ketika menjelang akhir tahun seperti ini.

Salah satu faktornya bisa dilacak dari tidak adanya konsep dan visi output yang jelas dari program-program baik itu pelatihan kepenulisan, sekolah pemikiran, dan lainnya. SKK-ASM yang diselenggarakan Maarif Institute, layak dijadikan contoh model dan parameter keseriusan dalam upaya marketing pemikiran kemanusiaan, keislaman, dan kebangsaan  kepada generasi muda.

Alumni Sekolah Kemanusiaan dan Kebudayaan Ahmad syafii Maarif III. Alumni Pesantren PERSIS no.76 Tarogong. Salah seorang pendiri dan pengajar SMK Muhammadiyah Tarogong Kidul Garut. Mahasiswa Studi al-Qur'an Hadis UIN Sunan Kalijaga.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.