Rabu, Januari 27, 2021

Pemerintahan, Kekuasaan, dan Kekerasan

Seragam Sekolah, Macam-Macam Bully, dan Kekerasan

Pada umumnya anak-anak pengguna seragam sekolah selalu identik dengan kaum yang berpendidikan dan terpelajar, mempunyai akhlak yang baik, hormat dan patuh kepada yang lebih...

Menyoal Agama dan Pancasila Dari Mata DN Aidit, Bagian #1

Sososk Aidit selalu populer setiap peristiwa Gestok/65 digulirkan dalam pertarungan wacana. Di tingkat akar rumput banyak yang menilai dan menghakiminya tanpa mengenal sejarah dan...

Corona dan Parodi Masyarakat

"Gara gara corona arek sekolah prei, dodolanku sepi, gak onok sing tuku, aku wes gak nduwe duwek. Yow opo iki lur". (Karena corona anak...

Dinamika UU Terorisme di Tahun Politik

Beberapa waktu lalu, wacana atasi hoax dengan UU Terorisme bukan hanya menyulut perdebatan di tengah masyarakat, tapi juga menuntut logika tersirat. Menyulut perdebatan karena...
Daniel Jeremia
Sosiologi Pembangunan UNJ'15

Seringkali kita mendengar kata kekerasan dan kekuasaan, yang menjadi asumsi perbuatan buruk dalam hidup manusia. Namun, bukankah kekerasan dan kekuasaan diperlukan untuk mencapai kesetaraan dan kebebasan dari manusia agar tetap hidup? Tocqueville dengan lantang menjelaskan bahwa, manusia tidak pernah lahir dengan kondisi setara dengan manusia lainnya. Menurutnya, konsep kebebasan dan kesetaraan dapat dirusak dengan tindakan suatu pemerintahan. Konteks Kesetaraan sendiri merupakan sebuah solusi alternatif dari bentuk pertahanan diri masyarakat yang tidak dapat mewujudkan emansipatoris.

Tiap-tiap individu di dalam suatu negara mempunyai modal untuk hidup yang terpolarisasi dalam bentuk kekerasan, kekuasaan, kesetaraan, dan kebebasan. Kompleksitas poin tersebut dapat dijelaskan dalam kerangka konseptual Pierre Bordieu. Ada 3 konsep yang dijelaskan Bordieu dalam siklus kehidupan dari  manusia. Habitus, Modal, dan Arena.

Habitus merupakan sebuah fenomena kolektif yang terjadi dalam kehidupan sosial manusia. Terjadinya Habitus ini dibentuk oleh subjek secara tidak sadar. Subjek dapat membentuk penguasaan dalam kehidupannya dengan habitus yang dilakukannya. Alhasil, dari habitus ini seorang subjek mendapat keuntungan dalam bentuk kelas sosial.

Keuntungan ini disebut Modal. Modal tersebut digunakan sebagai alat metafisis seorang subjek, agar dapat mendominasi kelas lainnya. Modal dapat berupa selera, pengetahuan, pengalaman, dan aspek-aspek lainnya. Konstelasi antara Modal dan Habitus dari seorang subjek terealisasi di dalam Arena (Field). Di dalam Arena tersebut terjadilah pertarungan subjek dengan subjek lainnya, dalam kondisi sadar/tidak sadar. Ada beberapa Arena yang dapat kita telaah lebih realistis, seperti arena kesenian, arena politik, dan kebudayaan. Antara subjek dan subjek lainnya saling mendominasi tanpa disadari, melalui kekerasan simbolis.

Negara merupakan wadah nyata dari pertautan kompleksitas konsep-konsep yang dicetuskan Bordieu tadi. Suatu Pemerintahan mempunyai Modal lebih untuk dapat mengatur rakyatnya dengan berbagai kekerasan. Kekerasan tidak serta merta melalui fisik dan verbal. Kekerasan kultural dan Kekerasan struktural merupakan 2 bentuk lain yang dijelaskan oleh Johan Galtung. Para pemerintah dapat menggunakan suatu hukum (modal) untuk merepresi tindakan rakyat-nya. Suatu struktur pemerintahan dapat mengeluarkan regulasi untuk mempertahankan tempo keuntungan dalam bentuk kebudayaan.

Beberapa stasiun pertelevisian Indonesia merupakan bentuk nyata dari kekerasan struktural dan kultural yang telah bertransformasi. Mayoritas kepemilikan stasiun oleh aktor politik, dapat digunakan untuk menyalurkan konten politis kepada para penonton. Pembentukan opini dan unsur ideologis dapat mempengaruhi para penonton. Represi ini berhasil, apabila argumen dalam proses komunikasi langsung para kelas yang di dominasi ini (penonton) sesuai dengan yang diharapkan oleh pemilik stasiun pertelevisian tersebut.

Kekerasan sesungguhnya dapat “dibenarkan” melalui produk-produk kebudayaan yang berfungsi terutama untuk mentransformasi nilai-nilai moral dan ideologis agar masyarakat dapat melihat praktik kekerasan tersebut sebagai kejadian yang normal atau alamiah.[1] Alhasil, konteks kekerasan tersebut menjadi klise dari masyarakat dalam melegitimasi.

Legitimasi dalam Arena tersebut, melahirkan sebuah produk-produk kebudayaan yang sifatnya simbolis. Hegemoni yang diproduksi semakin bertransformasi, sehingga masyarakat pun tidak lagi hidup dengan kondisi kesadaran kognitif dan afektifnya sendiri. Melainkan kesadaran yang diperoleh dari perilaku konsumtif, melalui instrumen-instrumen redistribusi politik sebuah pemerintahan. Publik dapat sadar apabila mereka mempunyai suatu bentuk counter hegemony. Dalam konteks konsumsi publik terhadap media massa, publik dapat mencari media alternatif lain yang mengedukasi.

 

 

 

[1] Wijaya Herlambang, Kekerasan Budaya Pasca 1965 (Tangerang : Marjin Kiri, 2013) 333. 37

Daniel Jeremia
Sosiologi Pembangunan UNJ'15
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Roman Abramovich, Alexei Navalny, dan Premier League

Industri olahraga, khususnya sepakbola, telah mengalami perkembangan pesat. Mulai dari segi teknis maupun non-teknis. Mulai dari aktor dalam lapangan hingga pemain-pemain di belakang layar....

Perempuan dan Politik

Politik selalu identik dengan dunia laki-laki, dengan dunia kotor, tidak pantas untuk perempuan masuk kedalam ranah tersebut. Politik selalu identik dengan sesuatu yang aneh...

Karakteristik Milenial di Era Disrupsi

Dewasa ini, pemakaian istilah Disrupsi masih terdengar asing oleh kaum muda atau generasi milenial sekarang. Lalu apa sebenarnya yang dimaksud dengan disrupsi?. Jika kita...

Hak Cipta dan Perlindungan Kekayaan Intelektual

Hak atas Kekayaan Intelektual (HAKI) merupakan terjemahan dari Intellectual Property Right (IPR), sebagaimana diatur dalam undang-undang No. 7 Tahun 1994 tentang pengesahan Agreement Establishing...

Pengalaman Mantan Pasien Wisma Atlet

Ibu Mawar ingin memberi cerita pengalamannya yang dialami ia dan keluarga dalam menghadapi karena mengidap Covid 19 yang sempat dirawat di Wisma Atlet serta...

ARTIKEL TERPOPULER

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Larry King, Wawancara dengan Sejarah

Oriana Fallaci beruntung. Ia seakan mendapat wangsit mendadak untuk menjuduli bukunya dengan cemerlang, "Intervista con la storia", himpunan interviunya dengan para pemimpin dunia yang...

Pandji yang Sedikit Tahu, tapi Sudah Sok Tahu

Siniar (podcast) komedian Pandji Pragiwaksono kian menegaskan bahwa budaya kita adalah sedikit tahu, tapi sudah merasa sok tahu. Sedikit saja tahu tentang gambaran FPI...

Towards Success: Re-evaluating Indonesia Ecological Development

Indonesia has long been an active participant of the environmental policy formation and promotion. Ever since 1970, as Dr Emil Salim appointed as the...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.