Sabtu, Oktober 31, 2020

Peluk Cium Saat Puasa, Bagaimana Fikih Menjelaskan?

Haidar Bagir, Rumi, dan Tasawuf

Bagi penulis, Pak Haidar Bagir adalah guru. Beliau juga merupakan idola. Penulis belajar melalui buku, tulisan, video, sosial media, dan forum diskusi secara langsung...

Pentingnya Berbicara dengan Benda-Benda

Berawal dari pencarian atas satu hal yang pasti terjadi selain mati. Lalu pertemuan dengan tulisan Ninni Holmqvist berjudul The Unit. Hingga perkenalan dengan ilmu...

Menilai 3 Tahun kerja Puan Maharani, Luar Biasa!

Semua penjelasan ini berdasarkan data, sebuah fakta, sebagai bagian dari membangun manusia dan kebudayaan Indonesia, yang telah dilakukan oleh Puan Maharani sebagai Kemenko PMK,...

Arab Dulu, Kini, dan Indonesia Sekarang

Zaman dahulu kala, khususnya pada zaman Nabi Muhammad, kondisi alam arabia gersang dan tandus karena terdiri dari padang pasir dan bebatuan. Air merupakan kebutuhan...
Rusdi El Umar
Rusdi El Umar lahir dan besar di Sumenep, alumni PP Annuqayah, sebagai pengajar di SMP Negeri 1 Batang-Batang dan MTs. Darul Ulum Batuputih. Beberapa artikel sudah dimuat di mass media seperti Majalah MPA, Surabaya Pos, Banjarmasin Pos, Radar Banyuwangi, Majalah Edukasi, Radar Madura, dll. Beberapa buku tunggal dan antologi bersama juga sudah diterbitkan. Buku terakhir yang diterbitkan tunggal adalah antologi puisi “Setajam Rindu Abandira.”

Berpelukan dan berciuman di siang hari bulan Ramadan —saat melaksanakan ibadah puasa— menjadi sebuah kajian fikih ibadah puasa. Pada dasarnya, berpelukan maupun berciuman antara suami-istri adalah perbuatan mubah, bahkan menjadi sunah. Pada saat demikian terdapat jalinan ikatan batin antara seorang suami dengan seorang istri.

Namun, pada saat (ber)puasa, terdapat aturan-aturan khusus yang harus dipahami oleh umat muslim. Sebab, pelaksanaan ibadah puasa terdapat aturan fikih tersendiri sebagai dasar hukum dalam pelaksanaan ibadah ini.

Peluk dan Cium

Berpelukan dan berciuman merupakan hal yang (sangat) wajar dilakukan oleh suami-istri. Dalam sebuah penelitian, berpelukan dan berciuman akan mempererat ikatan batin serta berdampak kedamain terutama bagi seorang istri. Karena istri merasa terlindungi dan diperhatikan ketika suaminya memeluk dan menciumnya.

Ikatan batin antara suami dan istri dibangun atas dasar kejujuran dan keikhlasan. Beberapa di antara manfaat berpelukan, seperti dilansir dari webMD adalah dapat menghilangkan stress. Kemudian juga bisa membuat hati suami-istri lebih bahagia. Termasuk juga dapat menyehatkan jantung serta mampu menghilangkan pilek dan mengatasi penyakit insomnia (kesulitan tidur).

Tidak perlu dipandang remeh bahwa berpelukan dan berciuman (halal) adalah perbuatan sederhana –dapat dilakukan oleh siapa saja (suami-istri) tanpa budget atau biaya mahal–, maka sebaiknya lelaku ini sering-sering dilakukan. Tentu saja selama tidak dalam keadaan puasa di siang hari bulan Ramadan. Terkait ini, ada hukum syariat (fikih) yang harus dipahami dan diperhatikan.

Fikih Puasa Berpelukan dan Berciuman

Dalam sebuah hadis dijelaskan, Aisyah ra meriwayatkan bahwa Rasulullah saw mencium salah satu istrinya.  Kemudian Nabi pergi sholat tanpa mengambil wudhu lebih dulu.

“Aisyah RA meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW mencium salah seorang istrinya dan kemudian pergi untuk sholat tanpa lebih dulu mengambil wudhu. Urwa mengatakan kepada Aisyah, “Pasti itu Anda?” (Setelah mendengar pertanyaan ini) Aisyah tersenyum.” (HR. Tirmidzi, Abu Dawud, dan an-Nasa’i)

Secara umum –tidak pada saat sedang melakukan puasa di bulan Ramadan– berciuman (juga berpelukan?) adalah perbuatan sunah yang dianjurkan di dalam Islam.

Berbeda halnya apabila dalam keadaan puasa di bulan Ramadan, dalam hal ini dijelaskan di dalam kitab Al-Bajuri oleh Syeh Ibrahim al-Bajuri di dalam bab “Ahkamul al-Shiyam” bahwa mencium dan memeluk (meremas, mengelus, dkk) selama tidak menimbulkan syahwat, itu tidak membatalkan puasa.

Dalam keterangan lain, Imam Syafi’i mengatakan bahwa berpelukan dan berciuman di siang hari bulan Ramadan (sedang puasa) termasuk makruh. Karena perbuatan ini cenderung menimbulkan syahwat. Sementara kalau sampai menimbulkan syahwat, hingga inzal (keluar sperma), atau melakukan jimak meski tidak sampai klimaks, maka hal tersebut haram, berdosa, dan harus membayar kafarah (denda).

Selama masih mampu menahan timbulnya syahwat, berpeluk-cium di saat puasa adalah boleh. Namun kebolehan ini dipandang sebagai kebolehan makruh. Bahkan ada yang mengatakan sebagai makruhtahrim, jauh lebih baik ditinggalkan untuk keabsahan ibadah puasa.

Menghindari Syahwat

Demi mengangungkan bulan Ramadan, maka kita diwajibkan menghindari sayhwat. Menghindar dari syahwat tidak saja melulu berpelukan dan berciuman. Lebih dari itu, ada banyak hal yang harus dihindari untuk terhindar dari kerusakan nilai ibadah puasa.

Seperti menonton film porno, melihat gambar yang menimbulkan hasrat, maupun memandang lawan jenis yang mengkhawatirkan. Maka segala jenis perbuatan yang akan menimbulkan syahwat harus kita hindari.

Berhati-hati dalam membangun ibadah yang berkualitas termasuk perbuatan baik. Maka seharusnya agar terhindar dari yang dilarang agama (syahwat), kita perbanyak zikir, baca Alquran, dan amaliyah-amaliyah sunah lainnya. Seperti menyibukkan diri dalam melakukan amal sosial.

Kesimpulan 

Melakukan hubungan suami-istri di siang hari bulan Ramadan sudah jelas. Yaitu haram, harus meng-qadha puasa, serta membayar kafarah (denda).

Sementara melakukan peluk-cium di saat (ber) puasa adalah termasuk perbuatan makruh. Yaitu makruh-tahrim yang harus benar-benar dijauhi atau dihindari agar tidak jatuh ke dalam perbuatan dosa.

Berpelukan, berciuman, dan bahkan melakukan hubungan badan suami-istri di bulan Ramadan, masih bisa dilakukan. Yaitu dilakukan saat waktu buka puasa tiba.

Allah swt masih memberikan kesempatan (waktu) yang cukup luas untuk melakukan ibadah jimak. Sejak terbenamnya matahari hingga terbitnya fajar adalah waktu yang disediakan untuk melakukan kewajiban suami-istri (jinak, peluk, cium, meremas, mengelus, dll).

“Dihalalkan bagimu pada malam hari puasa bercampur dengan istrimu. Mereka adalah pakaian bagimu, dan kamu adalah pakaian bagi mereka.” (QS. Al-Baqarah: 187)

Rusdi El Umar
Rusdi El Umar lahir dan besar di Sumenep, alumni PP Annuqayah, sebagai pengajar di SMP Negeri 1 Batang-Batang dan MTs. Darul Ulum Batuputih. Beberapa artikel sudah dimuat di mass media seperti Majalah MPA, Surabaya Pos, Banjarmasin Pos, Radar Banyuwangi, Majalah Edukasi, Radar Madura, dll. Beberapa buku tunggal dan antologi bersama juga sudah diterbitkan. Buku terakhir yang diterbitkan tunggal adalah antologi puisi “Setajam Rindu Abandira.”
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Kesehatan Mental dan Buruh

Kerja adalah cerminan kesehatan jiwa. Semakin baik tempat kerja, semakin kecil kemungkinan kita mengalami masalah kejiwaan. Adam Smith dalam bukunya Wealth of Nation secara...

Charlie Hebdo, Emmanuel Macron, dan Kartun Nabi Muhammad

Majalah satir Charlie Hebdo (CH) yang berkantor di Paris kembali membuat panas dunia. CH merilis kartun Nabi Muhammad untuk edisi awal September 2020. Padahal...

Imajinasi Homo Sapiens Modern dalam Menguasai Dunia

  Foto diatas ini mewakili spesies lainnya yang bernasib sama, tentu bukan hanya Komodo, masih ada dan masih banyak lagi hewan yang bernasib sama sebut...

TBC Mencari Perhatian di Tengah Pandemi

Pada awal Maret, Indonesia melaporkan kasus Coronavirus Disease-2019 yang dikenal sebagai COVID-19, terkonfirmasi muncul setelah kejadian luar biasa di Wuhan, Cina. Penyakit ini disebabkan...

Pemuda dalam Pergerakan Nasional Pandemi Covid-19

Peringatan hari Sumpah Pemuda mempunyai makna yang khusus di masa Covid-19 saat ini. Tak bisa dipungkiri bahwa negara Indonesia adalah salah satu negara yang...

ARTIKEL TERPOPULER

Sandiwara Dibalik Pernikahan Raja Majapahit Bali

Belakangan di Bali ramai pemberitaan mengenai acara pertunangan Raja Majapahit Bali bernama lengkap Abhiseka Ratu Dr Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Pandangan 2 Mazhab Hukum Terhadap Putusan MA Soal Eks Napi Koruptor

Pertengahan tahun 2018 ini publik dikagetkan dengan hadirnya PKPU No. 20/2018 yang dalam Pasal 4 ayat (3) menyatakan bahwa Pengajuan daftar bakal calon anggota...

KDRT Saat Pandemi

Severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) atau yang lebih dikenal dengan nama COVID-19 adalah jenis baru dari coronavirus yang menular ke manusia. Virus ini...

Menyerupai Suatu Kaum: Hadits, Konteks Budaya, dan Tahun Baru 2018

Hanya dengan satu hadits ini, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR Abu Daud dan Ahmad), banyak ustaz yang lantang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.