Selasa, Oktober 20, 2020

Peluang Gerakan Mahasiswa Kekinian

Intelektual Cap Gedhang Goreng dalam Pusaran Piring

"Kalau kekuasaan semata-mata menindas, tidak mengerjakan apa pun selain mengatakan tidak, apakah anda sungguh-sungguh beranggapan orang akan mematuhinya? Apa yang membuat kekuasaan itu bertahan...

Mengenal Perawat

“Perawat adalah pembantu dokter”. Kalimat ini memang tidak terucap secara terang-terangan bagi tenaga kesehatan dimanapun berada, juga tidak pernah diakui oleh perawat itu sendiri....

Peranan Terbesar Manajemen Dalam Bisnis Perhotelan

Melihat fenomena sekarang ini mengenai bisnis pariwisata di Indonesia yang terus tumbuh sesuai dengan anggapan positif dunia atas stabilnya keamanan di Indonesia mendorong tumbuhnya...

Ketika Mitos Bruce Lee Dikerdilkan

"Akan lebih baik jika dia diam saja. Atau ia bisa meminta maaf atau berkata 'aku tak benar-benar tahu Bruce Lee seperti apa'," melalui wawancara...
bayuprastio
aktif di media pers mahasiswa (Lembaga Pers Mahasiswa Bhaskara) Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Mahasiswa memiliki sejarah yang tak bisa dilupakan di Indonesia, ia hadir dalam bentuk kelompok-kelompok pergerakan penentu arah politik. Dimulai dari proses kemerdekaan hingga gerakan mahasiswa yang dianggap terbesar di Indonesia yaitu tragedi 1998 yang berhasil menurunkan soeharto dari puncak kekuasaan.

Garis sejarah mahasiswa yang cukup panjang itu juga menambah kebanggaan berstatus mahasiswa. Kepercayaan bahwa mereka adalah kelompok agent of change sudah menjadi paradigma saat ini. Namun, hal itu bukan berarti gerakan mahasiswa makin meningkat kian waktu. Masih banyak hal-hal lain yang menjadi faktor pembentuk idealitasnya.

Beberapa faktor yang bisa jadi pengaruh terhadap gerakan mahasiswa adalah tingkat kepercayaan politik (political trust), kesadaran memiliki peran dalam politik atau efikasi politik (political efficacy) dan juga bisa dipengaruhi oleh perasaan memiliki identitas kelompok (collective self estem).

Ketiga hal itu harus dipahami jika ingin membangkitkan gerakan mahasiswa. Pada umumnya gerakan mahasiswa terbentuk akibat adanya penindasan atau hal-hal yang bersifat merugikan pada masyarakat yang dilakukan oleh pemerintah. seperti kejadian-kejadian silam, kita bisa mengetahui tragedi 98 meledak karena krisis ekonomi yang terjadi pada zaman itu. Juga gerakan-gerakan mahasiswa yang saat ini bergejolak seperti pada pembangunan bandara internasional Jogjakarta di Kulonprogo juga karena adanya penindasan berupa perampasan tanah milik masyarakat.

Catatan-catatan negatif sepanjang sejarah itu juga sangat berpengaruh pada tiga faktor yang disebutkan sebelumnya. Adanya ketidak percayaan politik, atau perilaku yang menganggap bahwa pemerintah gagal dalam menjalankan tanggung jawabnya sangat dipengaruhi oleh rekam jejak sejarah dari masa ke masa. Semakin rendahnya kepercayaan politik (political trust) maka gerakan sosial akan meningkat salah satunya gerakan mahasiswa. Dalam hal ini mahasiswa akhirnya menganggap harus ada perubahan di kubu pemerintah agar lebih baik.

Timbulnya perasaan mereka berperan dalam persoalan politik negeri, atau efikasi politik juga tumbuh bersamaan dengan adanya ketidakpercayaan mereka terhadap perpolitikan. Akhirnya mereka mengambil peran-peran di masyarakat dengan salah satunya membuat organisasi-organisasi mahasiswa yang berfungsi untuk pengorganisasian massa dengan tujuan yang sama.

Setelah terbentuknya efikasi politik, mereka pun melangkah pada tahap selanjutnya yaitu perasaan berkelompok (collective self esteem). Hal ini membuat mereka saling bekerja sama, membantu dalam pergerakan dan membuat sebuah gerakan tersebut semakin kuat sampai bahkan pada titik tertentu mereka mampu mengubah 180 derajat keadaan sebelumnya, sampai mampu menggulingkan penguasa lalim.

Lalu yang menjadi persoalan mahasiswa kini adalah cara bagaimana membentuk sebuah pergerakan jadi ideal setidaknya dari pengaruh-pengaruh yang telah disebutkan. Disini kesadaran kritis juga perlu ditumbuhkan pada mahasiswa. tidak tumbuhnya kesadaran kritis, seperti yang disebutkan oleh Paulo Freire dalam bukunya, pedagogy of the oppressed juga disebabkan oleh sistem pendidikan yang seolah-olah sengaja mencegah pembelajar mendapatkan kesadaran kritis. Hal tersebut, ia katakan memiliki tujuan untuk mempertahankan kekuasaan kaum borjuis agar tetap berada pada kedudukan tertinggi.

Pergerakan mahasiswa haruslah bisa mendobrak batas itu agar kesadaran kritis mampu diraih. Berkaitan dengan political trust, Ada dua kemungkinan yang terjadi ketika seseorang mengalami rendahnya kepercayaan politik terhadap pemerintah.

Pertama, ia menjadi seorang yang apatis, tak peduli pada apa yang terjadi pada lingkungannya. Kedua, timbulnya kemauan untuk mengubah keadaan menjadi lebih baik. Pada titik inilah kesadaran kritis diperlukan agar nantinya ketika penguasa politik sudah tidak bisa dipercaya, mahasiswa akan memiliki tekad untuk mengubahnya dengan berbagai bentuk pergerakan.

karena itu, banyak organisasi mengadakan pendidikan dan pelatihan analisis sosial yang diharapkan mampu membuat para kadernya menjadi lebih peka terhadap keadaan sekitar dengan tumbuhnya kesadaran kritis. Jika kesadaran kritis telah terbentuk, maka baik itu pengaruh dari political trust, Political efficacy maupun collective self esteem terhadap pergerakan akan lebih positif.

Namun kita patut akui sebuah pergerakan dari masa ke masa tentulah menghadapi situasi yang berbeda. Pada masa kini, mahasiswa masih didominasi oleh kaum milenial akhir (generasi y) yang dalam waktu 5 tahun ke depan akan digantikan oleh generasi Z yang juga memiliki potensinya sendiri. hadirnya media sosial tentu jadi salah satu potensi berbagai gerakan bisa maju. keterbukaan akses media sosial membuatnya mampu menyebarkan informasi secara luas dan bahkan dengan basis massa menjangkau seluruh dunia.

Di indonesia saja, berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh salah satu perusahaan Inggris, We Are Social berjudul “essential insights into internet, social media, mobile, and E-commerce use around the world”, terdapat 130 juta pengguna aktif media sosial di indonesia dengan penetrasi 49 persen per januari 2018.

Besarnya pengguna media sosial akan memudahkan generasi masa kini dalam berinteraksi dan berbagi pendapat mengenai suatu hal. Jika kekuatan ini bisa digunakan oleh mahasiswa untuk memperluas pergerakannya maka akan jadi pertimbangan pemerintah dalam mengatasi suatu permasalahan.

Salah satu studi kasus yang bisa kita ambil ialah terciptanya laman petisi online Change.org yang mampu mewadahi aspirasi masyarakat dan menggalang kekuatan massa untuk suatu permasalahan. Di tahun 2018, Change.org meraih banyak kemenangan petisi, salah satunya soal pengesahan UU MD3 (undang-undang tentang MPR, DPR, DPRD, DPD) yang makin membuat mereka kebal kritik dan hukum menimbulkan banyaknya penolakan. Massa yang tergolong dalam koalisi UU MD3 membuat petisi online di change.org dan berhasil mendapatkan 240 ribu petisi.

Hal itu telah memperkuat pergerakan mereka yang akhirnya mampu memenangkan advokasi tersebut dengan dilaksanakannya uji materi dan pembatalan UU MD3 yang telah disahkan. Ada banyak contoh lainnya yang telah berhasil dari penggalangan petisi online, penggunanya pun sudah lebih dari 200 juta pengguna di 196 negara. Bahkan berdasarkan laman change.org, terdapat satu kemenangan petisi setiap jamnya dalam lingkup dunia.

Hal ini perlu jadi perhatian mahasiswa, di samping pergerakan massa secara langsung dengan mengadakan demonstrasi, audiensi dan bentuk aksi lainnya, juga sangat direkomendasikan menggalang massa dengan media sosial ataupun petisi online untuk memperluas peluang kemenangan. Dengan adanya media sosial dan petisi online, orang-orang yang belum memiliki kemauan untuk bergerak secara langsung, mampu memberikan suaranya untuk membantu penyelesaian.

bayuprastio
aktif di media pers mahasiswa (Lembaga Pers Mahasiswa Bhaskara) Universitas Muhammadiyah Purwokerto
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Flu Indonesia

“Indonesia sedang sakit, tapi cuma flu biasa....” Di pojok gemerlapnya kota metropolitan, jauh dari bising suara knalpot kendaraan, dan bingar-bingar musik dugem, tentu ada masyarakat...

K-Pop dalam Bingkai Industri Budaya

Budaya musik Korea atau yang biasa kita sebut K-Pop selalu punya sisi menarik di setiap pembahasannya. Banyak stigma beredar di masyarakat kita yang menyebut...

Hitam Putih Gemerlap Media Sosial

“Komunikasi adalah inti dari masyarakat kita. Itulah yang menjadikan kita manusia.” Setidaknya begitulah yang dikatakan Jan Koum, pendiri aplikasi Whatsapp yang kini telah mencapai...

Mahasiswa Dibutakan Doktrin Aktivisme Semu?

Aktivisme di satu sisi merupakan “alat” yang bisa digunakan oleh sekelompok orang untuk melakukan reformasi atau perbaikan ke arah baru dan mengganti gagasan lama...

Prekariatisasi Global dan Omnibus Law

"Setuju", dengan intonasi panjang penuh kebahagiaan peserta sidang secara serentak merespons pimpinan demi ketukan palu UU Cipta Kerja atau akrab dikenal sebagai Omnibus Law. Tok,...

ARTIKEL TERPOPULER

Tanggapan Orang Biasa terhadap Demo Mahasiswa dan Rakyat 2019

Sudah dua hari televisi dihiasi headline berita demonstrasi mahasiswa, hal yang seolah mengulang berita di TV-TV pada tahun 1998. Saya teringat kala itu hanya...

Hitam Putih Gemerlap Media Sosial

“Komunikasi adalah inti dari masyarakat kita. Itulah yang menjadikan kita manusia.” Setidaknya begitulah yang dikatakan Jan Koum, pendiri aplikasi Whatsapp yang kini telah mencapai...

Cara Mahasiswa Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Teknologi selalu mengalami perubahan-perubahan seakan tidak pernah ada ujungnya. Seperti halnya saat ini teknologi sudah sangat berkembang dengan pesat terutama dalam bidang teknologi informasi...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Legacy Jokowi, UU Cipta Kerja dan Middle Income Trap

“Contohlah Jokowi. Lihatlah determinasinya. Visinya. Ketegasannya ketika berkehendak menerapkan UU Cipta Kerja. Ia tak goyah walau UU itu ditentang banyak pihak. Ia jalan terus...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.