Jumat, Maret 5, 2021

Pelembagaan Kecurangan dalam Sistem Bibliometrik Indonesia

PROFESI MULIA tapi HATI BAK NERAKA

Di Indonesia ada banyak profesi yang bisa dikategorikan sebagai profesi mulia, salah satunya adalah Dokter. Dokter adalah salah satu pekerjaan yang bertugas untuk menyembuhkan...

PT Freeport Adalah Kekalahan Indonesia

Semua pihak yang mengaku nasionalis pasti bingung bagaimana caranya agar pengelolaan tambang emas terbesar di dunia yang saat ini dipegang oleh PT Freeport bisa...

Kementerian Agama Berwajah Militer?

Tepat pada tanggal 23 Oktober kemarin presiden Jokowi memperkenalkan sekaligus melantik Kabinet Indonesia Maju yang baru. Terlihat santai sambil duduk rileks di undak-undakan istana...

Hapus Pasal Karet UU ITE Solusi Tuntas Bebaskan Baiq Nuril

Mahkamah Agung (MA) menolak permohonan Peninjauan Kembali (PK) terpidana Baiq Nuril Maknun dengan Nomor 83 PK/Pid.Sus/2019. Penolakan ini membuat keputusan kasasi MA yang menghukum...
Surya Dalimunthe
Surya adalah anggota Tim Sains Terbuka.

Para pembuat kebijakan pendidikan tinggi di Indonesia tampaknya bingung bagaimana cara mencapai status kelas dunia untuk universitas mereka. Mereka tampaknya menyamakan status ini dengan publikasi penelitian dalam bahasa Inggris dan penerbitan dalam jurnal yang diindeks secara internasional.

Keputusan untuk memasukkan indeks komersial (Scopus) sebagai unsur utama dari sistem bibliometrik Indonesia, Science and Technology Index, disingkat SINTA, merupakan indikasi kebingungan ini. Scopus dimiliki oleh penerbit ilmiah, Elsevier, salah satu penerbit yang praktik bisnisnya paling banyak dikritik di dunia ilmiah internasional.

Dalam salah satu dokumen langka yang tersedia untuk publik yang menjelaskan alasan di balik penciptaan SINTA, dinyatakan bahwa ‘… Skor-S mungkin merupakan contoh metrik yang baik untuk mengukur kinerja para peneliti, lembaga, dan jurnal di negara yang sebagian besar jurnalnya tidak diindeks oleh Scopus.”(1) Namun, indikator utama yang digunakan untuk skor-S (S = SINTA) adalah “… berdasarkan pada publikasi dan sitasi penelitian dalam Scopus…”

Tampaknya ada disonansi kognitif di benak para pembuat kebijakan ini. Bagaimana suatu metrik yang dimaksudkan sebagai alternatif sebuah produk (Scopus) kemudian menggunakan produk tersebut sebagai indikator pengukuran?

Setelah SINTA diterapkan, sejumlah ilmuwan Indonesia yang tidak bertanggung jawab dengan cepat menemukan celah di dalamnya. Ternyata prosiding yang terindeks Scopus tidak perlu menjalani proses peninjauan sejawat seperti yang biasa ditemukan di jurnal terindeks Scopus.

Para ilmuwan ini menggunakan celah ini untuk mempublikasikan hingga ratusan artikel dalam waktu yang sangat singkat untuk meningkatkan skor SINTA mereka secara instan. Lebih buruk lagi, mereka melakukan apa yang dinyatakan para pembuat kebijakan sendiri, meskipun dari divisi berbeda dari yang menciptakan SINTA, sebagai ‘masturbasi publikasi’. Artinya, para ilmuwan ini mengutip karya mereka sendiri secara berlebihan (self-citation), mengutip di antara mereka sendiri (kartel sitasi), dan meminta dengan bujukan atau paksaan kepada kolega ilmuwan atau mahasiswa mereka untuk mengutip karya mereka.

Tidak mengherankan jika kemudian mereka mendapatkan posisi-posisi teratas dalam pemeringkatan SINTA. Posisi otoritas palsu ini dengan cepat mereka manfaatkan menjadi bisnis yang sangat menguntungkan. Mereka beriklan secara nasional melalui grup-grup media sosial dosen dan jurnal Indonesia tentang cara mempublikasikan prosiding yang terindeks Scopus dengan cepat dan mudah, serta cara mendapatkan ratusan kutipan dengan cepat dan mudah juga. Syaratnya adalah membayar
biaya jutaan rupiah.

Praktek ini tidak lain tidak bukan adalah kecurangan ilmiah. Selain sedikit atau kurangnya peninjauan sejawat yang dilakukan, pemeriksaan terhadap artikel yang diterbitkan para ilmuwan-ilmuwan yang tidak bertanggung jawab ini menunjukkan praktik publikasi yang sangat tidak layak.

Karya-karya yang dikutip sering tidak ada hubungannya dengan judul dan topik makalah yang diterbitkan. Ketiadaan hubungan semacam ini berlanjut hingga ke penerbit prosiding mereka. Misalnya, penerbit khusus dalam bidang fisika dan ilmu pengetahuan alam terlihat menerbitkan makalah dari disiplin ilmu yang tidak ada kaitan dengan fisika atau cabang ilmu pengetahuan alam manapun. Scopus juga tidak terlihat melakukan pengawasan apapun untuk mencegah perilaku kecurangan semacam ini.

Sayangnya, saat ini, kecurangan ini sepertinya terlembagakan dalam SINTA. Ilmuwan-ilmuwan yang memperoleh peringkat-peringkat teratas dalam SINTA secara curang malah diberikan penghargaan dalam sebuah acara yang bernama SINTA Awards pada bulan Juli 2018 lalu.

Pada saat inilah protes dari para ilmuwan Indonesia lain bermunculan di media sosial dan blog-blog ilmuwan. Para pemrotes ini menyelidiki para ilmuwan yang diduga memperoleh penghargaan SINTA secara curang dan menyimpulkan dengan berbagai bukti bahwa memang ada kecurangan yang terjadi dalam ratusan artikel dan kutipan ilmiah mereka yang terbit dan terhasil dalam waktu sangat singkat.

Beberapa bulan kemudian, ada laporan bahwa para pembuat kebijakan SINTA sadar tentang terjadinya kecurangan ilmiah ini. Mereka pun mengatur pertemuan dengan para pelaku kecurangan.

Namun, tidak terlihat perubahan apapun dalam sistem SINTA dan di antara para pelaku kecurangan. Mereka tetap menduduki peringkat-peringkat teratas dalam SINTA, dan terus mengiklankan otoritas palsu dan menyebarkan kecurangan-kecurangan ilmiah mereka kepada para ilmuwan lain di seluruh Indonesia, tentunya dengan sejumlah biaya.

Bahkan jika prosiding yang menjadi sumber kecurangan pun dihapus dari SINTA, masih ada masalah ketergantungan SINTA pada Scopus. Satu kasus khusus dapat dilihat pada salah seorang ilmuwan yang menduduki salah satu peringkat teratas SINTA. Ilmuwan ini berhasil menerbitkan banyak makalah dalam jurnal-jurnal yang diindeks Scopus, bukan prosiding.

Namun, ketika kemudian ditemukan bahwa jurnal-jurnal ini tidak lagi diindeks oleh Scopus, sistem SINTA tidak dapat mendeteksi dan menyinkronkan hal ini sehingga ilmuwan tersebut masih lagi tercatat sebagai pemilik salah satu peringkat teratas SINTA.

Kesalahan di sini sangat mungkin tergantung pada ketergantungan kepada sumber data tertutup seperti Scopus. Sistem serupa yang menggunakan basis data Scopus, SCImago Journal Rank, juga menghadapi masalah ini, karena mereka terus memberikan penilaian terhadap jurnal yang telah dikeluarkan dari Scopus.

Temuan-temuan ini memiliki implikasi nasional yang sangat serius. SINTA dimaksudkan untuk “[menjadi] referensi kinerja penelitian dan ilmuwan di Indonesia.” Namun, sekarang SINTA menjadi alat pelembagaan kecurangan ilmiah, seperti yang telah dijelaskan di atas. Untuk mencegah kecurangan, sistem SINTA dengan basis data Scopus harus diubah. Jika tidak, kecurangan ilmiah akan terus terlembagakan secara nasional. Alternatif lainnya adalah pembuat kebijakan yang merancang, menyetujui, dan terus menggunakan SINTA dengan harus diganti!.

Catatan:

(1) Lukman dkk., Proposal of the S-score for measuring the performance of researchers, institutions, and journals in Indonesia, https://www.escienceediting.org/journal/view.php?doi=10.6087/kcse.138

Surya Dalimunthe
Surya adalah anggota Tim Sains Terbuka.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Apa Hubungannya Toleransi dan Kearifan Lokal?

“Hai seluruh manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya...

Lubang Hitam Narasi Teroris Selama Pandemi

Sudah lima hari sejak saya terkonfirmasi positif Covid-19. Rasanya begitu berat, alih-alih sekedar menyerang fisik, rupanya virus ini juga menyerang mental. Untuk itu, saya...

Pendidikan yang Berkebudayaan, Mencipatakan Manusia Kreatif dan Otonom

Review Buku: Yudi Latif, Pendidikan yang Berkebudayaan: Histori, Konsepsi dan Aktualisasi Pendidikan Transformatif, (Jakarta: Gramedia Pustaka, 2020). Pendidikan nasional sudah seharusnya tidak meninggalkan akar-akar...

Tanah dan Transmigrasi

Peliknya urusan pertanahan dipadukan dengan samarnya transmigrasi di Indonesia menjadikan perpaduan masalah yang sulit diurai. Pasalnya permasalahan terkait tanah bukan sekedar konflik kepemilikan dan...

Idealisme Mati Sejak Mahasiswa, Apa Jadinya Bangsa?

Hidup mahasiswa! Hidup rakyat Indonesia! Tampaknya sudah sangat sering mahasiswa mendengar slogan perjuangan tersebut. Apalagi mahasiswa dengan cap "organisatoris" dan "aktivis". Organisatoris dan aktivis adalah...

ARTIKEL TERPOPULER

Pendidikan yang Berkebudayaan, Mencipatakan Manusia Kreatif dan Otonom

Review Buku: Yudi Latif, Pendidikan yang Berkebudayaan: Histori, Konsepsi dan Aktualisasi Pendidikan Transformatif, (Jakarta: Gramedia Pustaka, 2020). Pendidikan nasional sudah seharusnya tidak meninggalkan akar-akar...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.